JawaPos.com-Marak beredar konten “Timpa Teks” yang tersebar di berbagai platform media sosial, mulai dari twitter, threads, facebook, sampai instagram.
Awalnya, Timpa Teks sendiri menjadi bagian dari aktivitas di komunitas internet yang memanfaatkan kreativitas dengan mengedit judul berita, video, atau gambar dengan memakai teks humor atau satir.
Konten ini dibuat sebagai media hiburan yang pada umumnya hanya dipahami oleh sesama anggota komunitas yang mengetahui konteks dari teks editan tersebut.
Namun, persoalan muncul saat konten tersebut keluar dari komunitas dan tersebar di berbagai platform media sosial. Tanpa disertai penjelasan bahwa konten tersebut hanyalah lelucon editan.
Tidak sedikit yang akhirnya menganggap informasi tersebut sebagai fakta kareena tampilan editan dan visualnya yang sangat mirip dengan unggahan asli.
Berdasarkan jurnal yang diterbitkan oleh Jurnal Media Akademik karya karya Rizky Haikal Pradana, yang dikutip pada (9/7), Timpa Teks merupakan kegiatan mengedit video atau foto asli atau yang dikenal sebagai “doksli”, tanpa mengubah visual asli, makna dari judul konten kemudian digeser melalui penambahan teks provokatif yang ditimpa (ditumpangkan) di atas gambar, berita, atau video yang diunggah.
Di dalam komunitas internet, timpa teks masih dianggap sebagai bentuk hiburan. Namun, saat konten tersebut menyebar ke masyarakat luas tanpa disertai penjelasan dan konteks, dampaknya dapat memicu misinformasi dan menyesatkan banyak orang.
Sebagaimana yang dikutip dari radarkudus.jawapos.com, fenomena timpa teks ini bahkan pernah menyebabkan sekelompok jamaah pengajian datang ke lokasi yang keliru setelah beredar poster acara yang telah diedit dengan mencantumkan alamat palsu.
Ditambah dengan efek confirmation bias, yakni kecenderungan untuk lebih mudah percaya pada informasi yang sesuai keyakinan, pandangan, atau preferensi yang dimiliki seseorang, membuat informasi yang telah dimanipulasi lebih mudah diterima tanpa melalui proses pengecekan ulang.
Di tengah derasnya arus informasi, jangan sampai konten timpa teks justru merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Kreativitas dalam membuat konten adalah hal yang diperbolehkan, namun setiap pengguna perlu bijak dalam memilih,memilah, memverifikasi, dan memberikan informasi supaya tidak merugikan sesama.
Supaya tidak mudah terkecoh oleh informasi yang beredar, pastikan bahwa anda sudah menerapkan prinsip 5S sebelum mempercayai maupun memberikan informasi kepada orang lain.
-
Stop
Tahan jari anda saat sejenak saat hendak menyebarkan informasi. Di tengah distrupsi informasi yang semakin marak, tidak terburu-buru menyebarkan kabar merupakan langkah sederhana yang dapat mencegah anda menyebarkan informasi palsu. Luangkan waktu untuk berpikir sebelum share, sehingga anda tidak ikut memperluas konten misinformasi di tengah masyarakat.
-
Screening
Banyak orang memiliki kebiasaan hanya membaca judul berita. Jangan hanya mempercayai sebuah informasi hanya berdasarkan headline. Tidak sedikit, akun media yang menggunakan judul clickbait untuk menarik perhatian. Oleh karena itu, bacalah isi berita secara utuh agar anda tidak salah memahami konteks dan terhindari dari misinformasi.
-
Source
Pilah dan pilih tempat anda mencari berita. Pastikan informasi dan berita yang anda berasal dari media kredibel, terverifikasi oleh dewan pers, dan memiliki rekam jejak yang baik saat menghadirkan informasi. Selain itu, periksa dengan teliti logo media, alamat domain, serta sumber yang dapat dipercaya. Informasi dari akun-akun media anonim biasanya telah dipotong, diedit, dan diunggah berulang kali tanpa ada sumber yang jelas. Sehingga berpotensi mengandung hoaks dan dapat merugikan banyak pihak.
-
Support
Selain membaca isi berita, periksa pula data pendukungnya. Pastikan gambar, video, narasi, kutipan, maupun angka berasal dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Lakukan pula pengecekan dengan media atau sumber resmi lain agar kebenarannya pasti.
-
Share
Terakhir, jangan buru-buru membanjiri diri dengan membagikan seluruh informasi yang belum terverifikasi. Terutama jika memicu kepanikan atau narasi provokasi. Sebaiknya, bagikan informasi-informasi yang bermanfaat dan memberikan dampak positif bagi sesama.
***