← Beranda
Fenomena Teror Pocong: Saat Mitos Lama Bertemu Media Sosial dan Menebar Ketakutan
Novia HerawatiMinggu, 31 Mei 2026 | 14.21 WIB
Warga Tapos, Depok, Jawa Barat, baru-baru ini digegerkan oleh isu "teror pocong" yang viral di media sosial. (Dok warga Depok)

JawaPos.com - Dalam beberapa pekan terakhir, teror pocong kembali menimbulkan ketakutan kolektif. Sosok yang identik dengan jasad berbalut kain putih itu berkeliaran pada malam hari di gang-gang permukiman. 

Berbagai narasi yang menyertai kemunculannya menyebar luas di media sosial dalam hitungan hari. Salah satu yang bikin heboh adalah sosok pocong yang disebut-sebut meneror warga sambil membawa senjata tajam. 

Penelusuran pihak kepolisian di lapangan, fenomena teror pocong di berbagai daerah, seperti Jawa Timur adalah hoax, hasil rekayasa AI, dan ulah usil anak muda membuat konten media sosial agar viral. 

Namun, terlepas dari benar atau tidaknya teror pocong, sosok ini sejatinya bukan cerita baru. Ia telah lama hidup dalam mitos dan kepercayaan masyarakat Indonesia yang diwariskan secara turun-temurun. 

Pocong, Hantu yang Hidup dalam Imajinasi Kolektif Masyarakat

Berdasarkan buku "Kumpulan Kisah Nyata Hantu di 13 Kota" karya Argo Wikanjati (2019), secara etimologis istilah pocong berasal dari bahasa Jawa yang merujuk pada sesuatu yang terbungkus atau jasad yang dililit kain putih. 

Bagi sebagian masyarakat, kemunculan pocong tidak hanya dipandang sebagai makhluk gaib. Sosok ini juga sering dikaitkan dengan simbol kematian, pertanda buruk, atau pesan tertentu yang diyakini berasal dari alam lain. 

Urban legend tentang pocong juga dihubungkan dengan arwah yang belum tenang alias gentayangan karena meninggal secara tragis, seperti akibat kecelakaan lalu lintas, korban pembunuhan, dan alasan tragis lainnya. 

Orang-orang meyakini bahwa jika melihat pocong, itu dapat menjadi tanda buruk atau malapetaka. Masyarakat pun melakukan ritual atau upacara untuk membantu arwah pocong menemukan ketenangan. 

Di berbagai daerah, kisah tentang pocong terus hidup dan diwariskan. Beragam mitos yang menyertainya menjadikan sosok pocong sebagai salah satu hantu paling populer di masyarakat Indonesia. 

Di Balik Teror Pocong, Ada Mitos Lama yang Dipercaya Turun-Temurun

Mengacu pada penelitian yang ditulis Zulkifli dan Risa Pramita Wilda Fitria dalam artikel ilmiah berjudul "Mistisisme Pocong Sebagai Representasi Arwah Gentayangan (Studi Tipologi Clifford Geertz)", pocong merupakan salah satu figur mistis yang paling dikenal dalam tradisi masyarakat Indonesia. 

Dalam kepercayaan yang berkembang secara turun-temurun, pocong digambarkan sebagai jenazah yang masih terbungkus kain kafan lengkap dengan ikatan pada bagian kepala, leher, dan kaki. 

Sebagian orang percaya bahwa roh seseorang masih berada di sekitar kita selama 40 hari setelah meninggal dunia. Karena itu, kemunculan sosok ini kerap dikaitkan dengan arwah yang gentayangan. 

Keyakinan tersebut kemudian melahirkan berbagai urban legend tentang pocong. Salah satu mitos yang populer menyebut sosok tersebut muncul karena ikatan kain kafannya belum dilepas ketika jenazah dimakamkan. 

Gambaran fisik pocong pun beragam. Ada yang meyakini sosok ini memiliki wajah pucat dengan mata tertutup kapas, sementara versi lain menggambarkannya berwajah gosong dengan sorot mata merah menyala. 

Menariknya, citra pocong yang melompat-lompat justru lebih banyak dipengaruhi budaya populer, seperti film horor. Padahal dalam cerita rakyat, sosok pocong digambarkan bergerak melayang. 

Seiring berjalannya waktu, mitos tentang pocong berkembang mengikuti konteks sosial di berbagai daerah. Masing-masing wilayah memiliki versi yang diwariskan melalui cerita lisan dari generasi ke generasi. 

Krisis Etika di Balik Fenomena Teror Pocong

Dosen Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Radius Setiyawan, menilai fenomena teror pocong yang belakangan marak tidak lagi dipahami semata sebagai persoalan mistis. 

Menurutnya, sosok mistis yang dulu hanya dikenal sebagai urban legend kini mengalami pergeseran makna. Ketakutan kolektif masyarakat justru dimanfaatkan sebagai alat kriminalitas hingga komoditas digital. 

"Kemunculan hantu memberikan daya kejut di masyarakat. Mereka sangat mungkin panik dan kehilangan nalar rasionalnya. Di situlah hantu sengaja digunakan sebagai instrumen teror," ujar Radius di Surabaya, Jumat (30/5). 

Di sisi lain, isu teror pocong berkembang cepat di media sosial. Sosok pocong dan berbagai narasi horor dimanfaatkan dalam konten prank, rekayasa visual, maupun tayangan hiburan yang dirancang untuk menarik perhatian publik. 

Apalagi, algoritma media sosial bekerja sederhana: semakin sering sebuah konten dibahas di ruang maya, semakin besar pula peluangnya menjadi viral dan masuk FYP (For Your Page). 

Kondisi tersebut membuat konten horor memiliki nilai ekonomi tinggi. Tingginya jumlah viewers, followers, dan engagement membuka peluang bagi kreator untuk memperoleh keuntungan dari konten yang diungggah.

Namun, cara-cara manipulatif ini telah melampui batas kemanusiaan. "Kalau motifnya prank atau begal, ini sudah beda cerita. Berarti pembuat konten mengalami krisis etika dan krisis empati. Ini persoalan sosial yang serius," tegasnya.

Belum Ada Laporan Resmi, Polisi Sebut Teror Pocong Masih Sebatas Narasi Medsos

Fenomena teror pocong yang belakangan ramai dibicarakan di berbagai daerah, mendapat perhatian serius dari Polda Jawa Timur. Sebab, isu ini telah menimbulkan keresahan di masyarakat. 

Menyikapi fenomena tersebut, Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Jules Abraham Abast meminta masyarakat agar tetap tenang sekaligus meningkatkan kewaspadaan, terutama pada malam hari. 

”Segera laporkan apabila menemukan hal mencurigakan ke layanan 110 atau kantor kepolisian terdekat. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah percaya dengan isu di media sosial," ujarnya. 

Kombes Pol Jules mengatakan hingga kini,  kepolisian belum menerima laporan resmi dari masyarakat terkait fenomena teror pocong. Sejauh yang diketahui, isu tersebut masih sebatas perbincangan di media sosial. 

”Setahu saya tidak ada (laporan), jadi hanya isu di media sosial. Karena itu, masyarakat tetap tenang namun waspada saat malam hari. Jangan takut melapor apabila menemukan hal mencurigakan tentang itu (teror pocong)," pungkas Jules.

EDITOR: Bintang Pradewo