← Beranda
Kematian Prajurit TNI AL di KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992 Dinilai Janggal, TNI AL Beri Penjelasan
Syahrul YunizarSelasa, 5 Mei 2026 | 01.07 WIB
Kematian Kelasi Dua Ghofirul Kasyi pada Minggu (26/4) menuai pertanyaan dari pihak keluarga.

 

JawaPos.com - Kematian Kelasi Dua Ghofirul Kasyi pada Minggu (26/4) menuai pertanyaan dari pihak keluarga. Mahbub Madani, ayah prajurit TNI AL yang bertugas di KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992 tersebut, merasa janggal dengan kepergian putranya. Dia lantas buka suara melalui media sosial (medsos). Mahbub curiga ada yang disembunyikan oleh Angkatan Laut.

Kecurigaan Mahbub dan keluarga semakin kuat setelah melihat langsung jenazah putranya pada Senin (27/4) dini hari. Jenazah Ghofirul tiba di kampung halamannya, Bangkalan, Madura. Saat peti dibuka oleh pihak keluarga untuk keperluan pemeriksaan wajah dan fisik, Mahbub menemukan banyak luka yang tidak konsisten penyebab kematian yang disebutkan, yakni bunuh diri.

”Yang pertama, saya sampai sekarang ingat, saya sempat foto, di sini lebam,” kata dia dalam keterangan yang diterima oleh awak media pada Senin (4/5).

Selain luka fisik, pihak keluarga juga mencurigai letak jerat tali pada leher korban yang berada pada bagian bawah, bukan di atas jakun seperti lazim ditemukan pada jenazah korban gantung diri. Selain itu, ada luka lebam yang tampak pada bagian dada, dahi, hingga lutut. Keluarga juga menyebut muncul pendarahan di daerah selangkangan.

Atas kecurigaan tersebut, TNI AL melalui Komando Armada (Koarmada) I memberikan penjelasan. Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Koarmada I Kolonel Laut (P) Ary Mahayasa menyampaikan bahwa pihaknya sekali lagi turut berduka atas meninggalnya Ghofirul. Pihaknya mendoakan almarhum dan keluarga yang ditinggalkan.

Berkaitan dengan informasi yang disampaikan oleh pihak keluarga, Kolonel Ary menjelaskan, pihaknya sudah melihat dan memeriksa hasil Visum et Repertum resmi yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit Pusat Angkatan Laut (RSPAL) dr. Mintohardjo Jakarta pada 26 April lalu. Dokumen itu menunjukkan tidak ditemukan lebam akibat kekerasan benda tumpul pada tubuh almarhum.

”Tidak ditemukan pendarahan pada area selangkangan sebagaimana informasi yang beredar. Pemeriksaan visum tersebut, juga dihadiri oleh pihak keluarga almarhum,” kata dia saat dikonfirmasi oleh awak media.

Menurut Ary, luka pada bagian leher merupakan luka tekan yang melingkar. Luka tersebut disertai pengelupasan kulit ari yang pola dan karakteristiknya secara medis identik dengan luka gantung. Karena itu, berdasar hasil pemeriksaan medis disimpulkan bahwa penyebab kematian Ghofirul adalah murni akibat gantung diri, bukan karena tindakan kekerasan.

”Almarhum telah dimakamkan di kampung halamannya secara militer pada tanggal 27 April 2026 di TPU Kemayoran, Bangkalan,” ujarnya.

Ary juga menyampaikan bahwa pada 30 April lalu, pihak keluarga yang diwakili oleh ibu kandung Ghofirul menolak tindakan otopsi dalam rangka proses hukum lebih lanjut. Penolakan itu sudah dituangkan dalam dokumen pernyataan resmi. Soal luka lebam pada jenazah yang terlihat sesaat sebelum dimakamkan, dia menyebutkan bahwa itu adalah livor mortis.

”Yang merupakan salah satu tanda pasti kematian yang disebabkan oleh berhentinya sirkulasi darah, sehingga sel darah merah (eritrosit) mengendap ke bagian tubuh terendah akibat pengaruh gaya gravitasi,” bebernya.

Ary juga membeber alasan kedatangan personel TNI AL ke rumah Ghofirul sebelum ditemukan meninggal dunia. Menurut dia, itu dilakukan karena pengecekan personel di kapal, almarhum tidak hadir beberapa kali, sehingga pihak KRI meminta bantuan kepada Lanal Batuporon. Dia pun menegaskan, TNI AL dan Koarmada I berkomitmen pada transparansi dan kebenaran fakta.

EDITOR: Estu Suryowati
Tags:tni al