← Beranda
Prabowo Tanyakan Program MBG saat Pidato di Hadapan Buruh: Bermanfaat atau Tidak?
Dimas ChoirulSabtu, 2 Mei 2026 | 03.45 WIB
Presiden Prabowo Subianto menghadiri perayaan hari buruh di Jakarta, Jumat (1/5). (Istimewa)

 

JawaPos.com — Presiden Prabowo Subianto menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat peringatan Hari Buruh Internasional di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Jumat (1/5). Di hadapan para buruh, ia menekankan pentingnya program tersebut bagi masa depan anak-anak Indonesia.

Dalam sambutannya, Prabowo bahkan sempat bertanya langsung kepada para buruh mengenai manfaat MBG. 

“Kita juga memberi MBG (Makan Bergizi Gratis), saya bertanya kepada saudara-saudara, MBG bermanfaat atau tidak?,” sahut Prabowo. Sambut sorak sorai para buruh.

Prabowo menyoroti masih adanya persoalan gizi pada anak-anak yang berdampak pada pertumbuhan. Menurutnya, kekurangan gizi membuat perkembangan tubuh dan sel anak tidak optimal, sehingga perlu intervensi yang konkret.

"MBG itu sangat penting untuk anak-anak kita

Prabowo juga mengaitkan program MBG dengan pergerakan ekonomi nasional. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan bahan pangan seperti telur, daging, sayur, susu, hingga ikan akan meningkat seiring pelaksanaan program tersebut.

“Dengan MBG ekonomi kita hidup di mana-mana, saudara-saudara sekalian,” katanya.

Lebih lanjut, ia menilai program ini memberi efek berantai bagi sektor produksi dalam negeri, terutama bagi petani dan pelaku usaha pangan. Permintaan yang meningkat disebut akan membuka peluang penghasilan bagi masyarakat.

“Rakyat butuh telur, rakyat butuh daging, rakyat butuh sayur, susu, ikan. Ekonomi kita hidup, petani-petani kita dapat penghasilan, saudara-saudara sekalian. Uang ini semua beredar, Indonesia tambah kuat, Indonesia tambah sejahtera,” tutur Prabowo.

MBG Nyata di Akar Rumput 

Meski sejumlah kalangan menduding MBG sebagai program sekadar pencitraan dan dianggap tidak bermanfaat, sebuah realita baru mulai muncul dari lapangan. Lebih dari sekadar program biasa, masyarakat kini mulai melihat bagaimana program MBG ini bekerja di tingkat akar rumput.

Laporan Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) yang melakukan studi di beberapa daerah di Jawa Tengah seperti Cilacap, Semarang, Surakarta—melibatkan sekitar 1800 orang tua siswa penerima MBG— terdapat temuan yang menarik. 

Sebagian keluarga merasa pengeluaran harian mereka menjadi lebih ringan. Orang tua jadi lebih jarang menyiapkan bekal dan uang jajan anak juga mulai disesuaikan. 

"Dari data ini kelihatan kalau MBG memang ada yang butuh. Khususnya keluarga yang kurang mampu.” ujar Tokoh Pemuda dan Sekretaris Jenderal Asosiasi Pelaku Usaha Desa Seluruh Indonesia, Ahmad Alimudin mengutip hasil temuan RISED baru-baru ini.

Alimudin melihat dukungan mayoritas dari akar rumput, khususnya di daerah kota-kota kecil, sebagai penanda bahwa program MBG berdampak nyata bagi masyarakat.

Masih dalam data RISED, lebih dari 80 persen keluarga berpenghasilan rendah mendukung agar program MBG terus dilanjutkan. Alasan mereka fundamental: rasa tenang karena anaknya dipastikan makan di sekolah. 

Dengan begitu, mereka tidak lagi cemas. Selain itu, sekitar 8 dari 10 orang tua mengakui bahwa anak-anak mereka menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi dan jarang melewatkan waktu makan setelah program MBG berjalan di sekolah.

Selain di Jawa, potret MBG juga dirasakan di wilayah timur Indonesia. Di Sumba Barat Daya, salah satunya, Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Laura, Maria Dolorosa, menyampaikan kisah positif penerimaan MBG di sekolahnya. 

“Selama pelaksanaan Program MBG, saya melihat perubahan signifikan: anak-anak lebih antusias, lebih semangat hadir dan bertahan di kelas, mood lebih stabil terutama pada siswa grahita dan Down Syndrome. Selain itu, beban konsumsi asrama berkurang karena siswa sudah makan siang bergizi,” kata Maria.

Selain membantu intervensi gizi anak, Program MBG ikut mengangkat ekonomi warga yang bekerja di dapur MBG. 

“Kini saya sudah mampu membeli 20–50 kilogram beras, memenuhi kebutuhan sekolah anak, bahkan membeli sepeda motor dari hasil kerja,” kisah Kristina pekerja cuci ompreng di SPPG Watu Kawula.

Sebelumnya, Kristina hanya mengandalkan penghasilan suami yang bekerja serabutan dan berpenghasilan sekitar Rp50 ribu per hari. Dengan penghasilan tersebut, keluarga Kristina kesulitan bahkan hanya untuk membeli beras 1 kilogram.

EDITOR: Estu Suryowati