← Beranda
May Day 2026: Dari Chicago ke Indonesia, Jejak Panjang Perjuangan Buruh dan Warisan Marsinah
Rian AlfiantoJumat, 1 Mei 2026 | 17.46 WIB
Ilustrasi Hari Buruh Internasional. (Gemini AI).

 

JawaPos.com - Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day kembali hadir sebagai momen refleksi bagi pekerja di seluruh dunia. Setiap tanggal 1 Mei, sejarah panjang perjuangan buruh kembali diingat, tentang tuntutan jam kerja yang manusiawi hingga hak atas upah yang layak.

Di Indonesia, perjalanan May Day tidak pernah sederhana. Ia tumbuh melalui berbagai fase sejarah, mulai dari masa kolonial, tekanan politik di era Orde Baru, hingga terbukanya ruang demokrasi pascareformasi.

Akar Sejarah: Dari Chicago ke Dunia

Sejarah Hari Buruh bermula dari gelombang aksi besar di Amerika Serikat pada 1 Mei 1886. Ratusan ribu pekerja melakukan mogok massal untuk menuntut pembatasan jam kerja menjadi delapan jam per hari.

Baca Juga: Harga Emas Antam Jumat, 1 Mei 2026: Naik Tipis Rp 30.000 Jadi Rp 2.799.000 Per Gram

Aksi tersebut memuncak dalam Haymarket Affair di Chicago, sebuah bentrokan antara buruh dan aparat yang menimbulkan korban jiwa. Peristiwa ini kemudian menjadi simbol perlawanan pekerja di tingkat global.

Tiga tahun setelah tragedi itu, Kongres Buruh Internasional di Paris pada 1889 menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional. Sejak saat itu, May Day diperingati di berbagai negara sebagai simbol solidaritas kelas pekerja.

Dinamika di Indonesia: Dari Larangan hingga Libur Nasional

Di Indonesia, peringatan Hari Buruh sudah dimulai sejak 1918 oleh kelompok buruh pada masa kolonial Belanda. Namun, pemerintah kolonial kala itu melarang kegiatan tersebut karena dianggap berpotensi mengganggu stabilitas.

Setelah kemerdekaan, Soekarno menetapkan 1 Mei sebagai hari yang memberi ruang bagi pekerja untuk tidak bekerja, melalui regulasi ketenagakerjaan yang berlaku saat itu.

Namun, situasi berubah pada era Orde Baru. Peringatan Hari Buruh dibatasi dan sering dikaitkan dengan ideologi tertentu, sehingga aktivitas buruh diawasi ketat.

Baru pada masa reformasi, kebebasan buruh kembali terbuka. Aksi turun ke jalan setiap 1 Mei menjadi pemandangan umum, dengan tuntutan yang terus bergema, mulai dari kenaikan upah, jaminan sosial, hingga perlindungan kerja.

Puncaknya, pada 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2013, yang mulai berlaku setahun kemudian.

Marsinah: Simbol Perlawanan yang Tak Terlupakan

Salah satu kisah paling kuat dalam sejarah buruh Indonesia adalah tentang Marsinah. Ia adalah buruh pabrik di Sidoarjo, Jawa Timur, yang aktif memperjuangkan hak pekerja, termasuk kenaikan upah sesuai ketentuan pemerintah.

Baca Juga: Ahmad Dhani Klaim Hak Asuh Anak Maia Estianty Tidak Dikabulkan, Begini Fakta Putusan Pengadilan

Pada Mei 1993, Marsinah terlibat dalam aksi buruh yang menuntut keadilan. Beberapa hari setelah itu, ia ditemukan meninggal dunia dengan tanda-tanda kekerasan.

Kasus ini mengguncang publik dan menjadi simbol kerasnya tekanan terhadap gerakan buruh pada masa itu. Hingga kini, Marsinah dikenang sebagai figur yang berani menyuarakan hak pekerja, meski harus menghadapi risiko besar.

May Day: Lebih dari Sekadar Peringatan

Hari Buruh Internasional bukan hanya tentang aksi demonstrasi tahunan. Ia adalah pengingat bahwa hak-hak pekerja yang dinikmati hari ini lahir dari perjuangan panjang dan tidak mudah.

Di Indonesia, kisah seperti Marsinah memperkuat makna tersebut. May Day menjadi ruang untuk mengenang, sekaligus melanjutkan perjuangan, agar kesejahteraan, perlindungan, dan keadilan bagi pekerja terus diperjuangkan.

Di tengah perubahan zaman dan tantangan dunia kerja modern, semangat 1 Mei tetap relevan: bahwa perjuangan buruh belum selesai, dan sejarah adalah pengingat untuk tidak berhenti bergerak.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan