← Beranda
Bukan Hanya Dirut KAI, Pengamat Minta DPR Juga Ikut Tanggung Jawab Atas Insiden KRL-KA Argo Bromo Anggrek
R. Nurul Fitriana PutriKamis, 30 April 2026 | 05.11 WIB
Menhub Dudy Purwagandhi (kanan) dan Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menjadi penumpang pertama proses uji coba operasional KRL, Rabu (29/4). (Ryandi Zahdomo/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Desakan dari sejumlah pihak agar Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin mundur pasca tabrakan Kereta Rel Listrik (KRL) dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur mencuat. Salah satunya seperti disampaikan Anggota Komisi VI DPR RI Firnando Ganinduto.

Pengamat Kebijakan Publik Media Wahyudi Askar menilai desakan mundur itu tidak akan menyelesaikan persoalan, jika hanya berhenti pada pergantian figur semata.

Menurut Media Wahyudi Askar, desakan dirut KAI agar mundur dari jabatannya memang terlihat sebagai langkah tegas. Namun, dari perspektif kebijakan publik, hal itu hanya bentuk shortcut accountability atau pertanggungjawaban instan yang tidak menyentuh akar persoalan.

’’Meminta dirut KAI mundur, ya memang kelihatan tegas. Tapi kalau seandainya kita lihat dari persepktif kebijakan itu shortcut countabiliity, karena hanya mengorbankan satu figur, tanpa menyentuh akar masalah,” ujar Media kepada JawaPos.com, Rabu (29/4).

Lebih lanjut Direktur Keadilan Fiskal di Center of Economic and Law Studies (CELIOS) itu  juga mengungkapkan, persoalan kecelakaan kereta bukan semata kesalahan manajemen operator, melainkan masalah sistemik yang melibatkan banyak pihak.

Bahkan, sambungnya, DPR juga memiliki tanggung jawab karena terlibat dalam penentuan alokasi anggaran sektor transportasi publik. ’’Jadi kalau kita runut lagi masalahnya, ini sangat sistemik sebetulnya. Dan, justru yang paling bertanggung jawab salah satunya juga adalah DPR. Jadi alih alih hanya dirut KAI yang mundur, semua anggota DPR yang terlibat pada penentuan anggaran juga harusnya mundur,” tegasnya.

Media juga mengatakan kecelakaan maut di Bekasi Timur itu menjadi bukti masih lemahnya sistem keselamatan perkeretaapian. Mulai dari teknologi persinyalan yang dinilai usang, keterbatasan sumber daya manusia, hingga minimnya infrastruktur pendukung seperti underpass di sejumlah titik rawan.

Ia juga menyinggung besaran subsidi KRL yang dinilai masih sangat kecil dibandingkan dengan anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG). Tak hanya DPR, kata Media, bila membicarakan terkait anggaran, maka Kementerian Keuangan (Kemenkeu) juga harus ikut bertanggung jawab.

"KRL itu hanya disubsidi sektiar Rp 1,7 triliun per tahun. Dan itu hanya sekitar 1 hari MBG. Dan itu sangat kecil sekali. Jadi ada underinvestment," ujarnya. "Dan yang bertanggung jawab untuk underinvestment itu satu adalah pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Keuangan, kenapa itu bisa terjadi. Yang kedua adalah DPR, jadi mereka juga harus bertanggung jawab,’’ lanjut dia.

Meski demikian, Wahyudi menegaskan pimpinan KAI tetap harus bertanggung jawab atas insiden yang terjadi. Namun, ia mengingatkan publik agar tidak hanya fokus pada satu sosok, sementara persoalan besar di baliknya diabaikan.  “Saya paham Dirut KAI tentu harus bertanggung jawab. Tapi kita harus membongkar masalah ini dalam konteks yang lebih besar, yakni kegagalan tata kelola transportasi publik kita,” katanya.

Baca Juga: Melayat Korban Kecelakaan Kereta Bekasi: Menhub Dudy Pastikan Santunan, PT KAI Siapkan Beasiswa Pendidikan

Dia pun mengkritik arah belanja negara yang dinilai lebih banyak terserap ke proyek-proyek prestisius, sementara layanan publik yang langsung dirasakan masyarakat justru kurang mendapat prioritas. "Banyak uang negara justru lari bukan pada layanan publik yang bermanfaat untuk masyarakat, tapi justru lari ke project-project prestisius yang sangat inefisien penggunaan anggarannya," tukasnya. 

Dony Oskaria Inspeksi Pelayanan KA Jarak Jauh

Sementara itu, Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) Dony Oskaria melakukan inspeksi pelayanan kereta api (KA) jarak jauh. Inspeksi itu dilakukan saat dia sengaja menumpangi KA menuju Cilacap pada Rabu pagi (29/4).

Dilansir dari akun instagram BP BUMN, dalam perjalanan menuju Cilacap itu mantan Wakil Menteri BUMN itu ditemani Wakil Kepala BP BUMN Aminuddin Ma'ruf. Dia meninjau langsung berbagai fasilitas di dalam kereta.

"Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan kenyamanan setiap penumpang terjaga sepanjang perjalanan," demikian keterangan dalam unggahan resmi Instagram BP BUMN.

Dalam kunjungan ke Cilacap, Dony Oskaria menegaskan komitmen BP BUMN bersama PT KAI (Persero) untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan menjamin keselamatan perjalanan kereta di seluruh Indonesia.

"BP BUMN bersama KAI berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan menjamin keselamatan perjalanan kereta api di seluruh Indonesia," tulis akun resmi tersebut.

Langkah kerja mantan Wakil Dirut PT Garuda Indonesia itu menuai respons positif dari warganet. Banyak yang berharap agar inspeksi serupa juga dilakukan ke moda transportasi umum lainnya yang dikelola BUMN. 

EDITOR: Dinarsa Kurniawan