JawaPos.com-Pertemuan Nasional Ikatan Keluarga Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (IKA PTKIN) se-Indonesia pada 23-25 April 2026 di Jakarta menghasilkan beberapa poin penting. Salah satunya rencana pelaksanaan Festival Dunia Baru Islam yang bakal diselenggarakan bertepatan dengan Tahun Baru 1448 Hijriah.
Ketua Umum (Ketum) IKA PTKIN se-Indonesia Idrus Marham menyampaikan hal itu saat diwawancarai oleh awak media pada Jumat malam (24/4). Menurut dia, dalam pertemuan nasional di Jakarta, organisasi yang dia pimpin sepakat membentuk forum yang diberi nama Forum Komunikasi Nasional IKA PTKIN se-Indonesia. Pengurus forum itu yang akan melaksanakan Festival Dunia Baru Islam.
”Salah satu kegiatan yang telah kami laporkan tadi kepada Pak Menteri Agama (Nasaruddin Umar) bahwa insya Allah pada Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, kami akan melakukan satu kegiatan yang untuk sementara kami beri nama Festival Dunia Baru Islam,” kata Idrus.
Melalui kegiatan tersebut, akan dimunculkan beberapa tema besar seperti Islam dan Transformasi Peradaban Dunia dan Islam Indonesia Merespons Tantangan. Tema-tema itu bakal dibahas bersama oleh cendekiawan dan tokoh-tokoh Islam dari berbagai belahan dunia. Mereka akan diundang bersama duta besar negara-negara Islam di Indonesia untuk hadir dalam Festival Dunia Baru Islam.
”Dan juga kami akan melakukan seminar nasional yang oleh pak menteri tadi mengarahkan akan lahirnya pemikiran-pemikiran yang konstruktif dalam rangka untuk bagaimana supaya masalah-masalah keumatan kebangsaan bisa kita selesaikan,” imbuhnya.
Yang tidak kalah penting, Idrus menyebutkan, dalam agenda tersebut bakal turut dibahas mengenai peran umat Islam dalam rangka mengkonsolidasikan kekuatan keumatan dan kebangsaan untuk persatuan dan kemajuan Indonesia. Festival tersebut, lanjut dia, akan dibarengi dengan kegiatan lain seperti Festival Kuliner Dunia Islam dan Busana Muslim Indonesia.
”Jadi, itu juga nanti akan kami lakukan beberapa kegiatan pada saat (penyelenggaraan Festival Dunia Baru Islam) itu, dan tentu kami sudah laporkan kepada pak menteri sebagai pembina forum. Juga melalui pak menteri nanti juga tentu akan kami minta supaya dilaporkan kepada bapak presiden,” harap Idrus.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memberikan dukungan atas ide-ide yang disampaikan oleh IKA PTKIN se-Indonesia. Menurut dia, situasi global saat ini memang menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempersiapkan diri sebagai episentrum peradaban dunia Islam di masa depan.
”Dalam situasi perang yang lahir adalah jenderal, tapi dalam situasi aman dan tenang yang lahir adalah profesor. Karena itu, situasi yang kita miliki sekarang ini, Indonesia sangat-sangat kondusif untuk melahirkan sebuah peradaban,” imbuhnya.
Nasaruddin yakin dan percaya, di tengah situasi global saat ini, Indonesia bisa memanfaatkannya dengan baik. Dia pun optimistis, tawaran yang disampaikan oleh Indonesia bisa diterima oleh semua pihak. Mengingat tawaran Islam Indonesia adalah Islam yang moderat. Sehingga tidak akan dan tidak mungkin menjadi ancaman bagi siapa pun.
”Kita sudah punya modal sosial untuk itu. Oleh karena itu, saya menganggap pertemuan seperti ini sangat penting, mensinergikan para alumni, para pengurus alumni untuk melakukan kegiatan bersama. Dan pada saatnya nanti pun juga kita akan lakukan sinergi dengan para rektor di bawah perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama,” bebernya.
Dia pun sepakat dengan Idrus, dalam pelaksanaan Festival Dunia Baru Islam, Indonesia bisa menghadirkan Festival Kuliner Dunia Islam, Festival Busana Muslim Indonesia, dan berbagai kegiatan lain yang terkait dengan kebudayaan dan kesenian Islam. Sehingga dunia akan melihat dan semakin dekat dengan peradaban Islam Indonesia.
Baca Juga: Festival Balon Udara Pekalongan dan Wonosobo 2026 Resmi Digelar, Kemenhub Berikan Catatan
”Kalau itu semuanya terwujud, maka insya Allah nilai tawar Indonesia itu akan semakin penting. Kenapa? Karena selain populasi umat Islamnya sangat besar, Islam yang ditawarkan itu adalah Islam moderat, tidak menjadi ancaman kepada negara-negara lain. Dan yang paling penting juga adalah kita berada pada posisi negara yang non-blok, tidak punya blok apa pun,” terang dia. (*)