← Beranda
Teknologi AI Masuk Dapur MBG: Upaya Baru Atasi Masalah Distribusi dan Keamanan Pangan
Rian AlfiantoSelasa, 21 April 2026 | 01.59 WIB
Ilustrasi Wamenkomdigi Nezar Patria mengecek MBG. (Istimewa).

 

JawaPos.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menjadi sorotan, terutama terkait persoalan klasik di lapangan, mulai dari kualitas dapur, distribusi makanan, hingga pengawasan yang belum merata. Hal tersebut tak jarang membuat siswa keracunan massal.

Di tengah polemik tersebut, pendekatan berbasis kecerdasan buatan (AI) mulai diuji sebagai solusi untuk memperbaiki tata kelola program dari hulu ke hilir.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, meninjau langsung implementasi MBG yang dijalankan oleh Grab–OVO baru-baru ini. Peninjauan dilakukan di sekolah penerima manfaat, dapur mitra UMKM, hingga pusat kendali atau Command Center berbasis AI.

Pendekatan ini menempatkan teknologi sebagai alat pengawasan terintegrasi, yang memantau proses penyediaan makanan secara real-time, dari dapur hingga diterima siswa.

Sistem tersebut dirancang untuk mengidentifikasi potensi risiko lebih dini, termasuk soal keamanan pangan dan keterlambatan distribusi yang selama ini kerap dikeluhkan.

Baca Juga: Harga Minyakita Belum Sesuai HET, Bapanas Ungkap Penyebabnya

“Pemanfaatan teknologi harus diarahkan untuk menjawab kebutuhan publik secara nyata. Dalam program seperti MBG, teknologi berperan penting bukan hanya untuk meningkatkan efisiensi, tetapi juga untuk memperkuat pengawasan, akuntabilitas, keamanan proses, serta mitigasi risiko secara lebih dini,” ujar Nezar.

Ia menambahkan, dari hasil peninjauan di berbagai titik, transformasi digital dinilai mampu mendorong tata kelola program yang lebih transparan dan terukur.

Menjawab Kelemahan Pengawasan Manual

Selama ini, pengawasan manual dinilai memiliki keterbatasan dalam menangkap dinamika operasional yang kompleks di lapangan. Dengan skema berbasis AI, pemantauan dilakukan secara terpusat melalui Command Center, yang terhubung dengan sistem digital di setiap tahapan distribusi.

Model ini memungkinkan adanya pelacakan proses secara menyeluruh, mulai dari kesiapan dapur UMKM, proses produksi, pengiriman, hingga umpan balik dari sekolah. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menutup celah penyimpangan sekaligus meningkatkan standar keamanan pangan.

Program teknologi AI untuk MBG dijalankan oleh Grab–OVO, merupakan inisiatif sektor swasta. Meski demikian, pendekatan yang digunakan berupaya menempatkan kontribusi swasta sebagai pelengkap program pemerintah, bukan pengganti.

Dalam implementasinya, program ini melibatkan berbagai organisasi seperti PP Muhammadiyah, GKMNU, hingga sejumlah yayasan sosial. Selain itu, UMKM lokal menjadi bagian penting dalam rantai pasok makanan.

Melalui sistem pendampingan berbasis teknologi, UMKM didorong untuk meningkatkan standar kebersihan dan operasional. Hal ini tidak hanya berdampak pada kualitas makanan, tetapi juga pada peningkatan kapasitas usaha mereka.

Baca Juga: Mentan Amran Pastikan Indonesia Stop Impor Solar Mulai 1 Juli 2026

Tirza Munusamy, Chief of Public Affairs Grab Indonesia, mengatakan, bagi Grab, keamanan pangan bukan sekadar standar, tapi soal tanggung jawab terhadap masa depan anak-anak.

Pendekatan berbasis AI juga dinilai membuka peluang inklusi yang lebih luas, termasuk bagi anak berkebutuhan khusus. Reda Manthovani menilai teknologi dapat memastikan standar layanan yang lebih konsisten.

“Melalui pemanfaatan pemantauan berbasis AI, kami dapat memastikan proses penyediaan makanan berjalan dengan standar keamanan pangan yang lebih aman, berkualitas dan transparan,” ujarnya.

Sejak diluncurkan pada September 2024, program ini diklaim telah menjangkau lebih dari 30 sekolah, termasuk sekolah khusus, dengan lebih dari 5.000 penerima manfaat. Sebanyak 25 lebih mitra UMKM dan kantin sekolah dilibatkan, bersama puluhan mitra pengemudi di 12 kota/kabupaten.

Meski skalanya masih terbatas, pendekatan berbasis AI ini menjadi eksperimen penting dalam menjawab tantangan MBG yang lebih luas. Ke depan, integrasi teknologi dengan sistem pengawasan pemerintah menjadi kunci agar solusi ini tidak berhenti pada proyek percontohan, melainkan bisa diadopsi secara nasional.

Di tengah kompleksitas distribusi dan pengawasan program MBG, pemanfaatan AI diyakini menawarkan satu hal yang selama ini sulit dicapai, visibilitas menyeluruh atas proses yang sebelumnya tersebar dan sulit dikendalikan.

Tantangannya kini adalah memastikan teknologi tersebut benar-benar adaptif, inklusif, dan dapat diimplementasikan secara luas.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan