JawaPos.com -Duta Besar (Dubes) Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Abdulla Salem Aldhaheri mengingatkan, bahwa dampak perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS)-Israel tidak hanya dirasakan negara-negara di kawasan Timur Tengah saja. Efeknya akan terasa secara global.
Efek ini bukan terkait serangan rudal secara langsung, tapi terhadap kondisi ekonomi. Karena, terganggunya rantai pasok dan lonjakan harga energi.
“Dan, saya perlu mengatakan, Indonesia tidak kebal pada kondisi ini,” ujarnya dalam temu media di kediamannya di Jakarta, (10/4).
Hal ini lantaran, 20 persen suplai minyak dunia dan 20 persen perdagangan LNG global masuk melalui Selat Hormuz. Di mana, 80-90 persen dari ekspor tersebut menuju ke Asia.
“Artinya, gangguan di kawasan kami akan berdampak pada pasar global,” sambungnya.
Saat ini bahkan, kata dia, kenaikan harga di banyak sektor sudah mulai terlihat. Mulai dari kenaikan harga bahan bakar, biaya pengiriman, biaya transportasi, hingga kenaikan harga barang.
Karenanya, gencatan senjata selama dua minggu yang telah disepakati Iran dan AS harus dimanfaatkan untuk mendorong solusi damai yang permanen. Dia menekankan, bahwa UEA bersama negara-negara Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) dan Yordania konsisten mendorong deeskalasi melalui jalur diplomasi, termasuk seruan gencatan senjata.
“Kami sangat berharap ini menjadi momentum yang tepat untuk membahas langkah ke depan, membahas perdamaian dan stabilitas. Kami berharap dalam dua pekan ke depan akan tercapai hasil yang baik,” tuturnya.
Sebab, selain berdampak pada perekonomian, perang yang terjadi juga telah menimbulkan korban. Baik luka maupun meninggal dunia.
Hal ini pula yang membuat pihaknya tidak melakukan serangan balasan terhadap Iran, meski UEA sempat menjadi target serangan. Ia menilai, tindakan balasan militer justru berpotensi memperburuk situasi yang sudah memanas. Pernyataan ini sekaligus membantah tuduhan yang menyebut UEA ikut terlibat dalam eskalasi konflik di Timur Tengah.
Seperti diketahui, Iran memang menyerang beberapa pangkalan militer AS dan Israel yang berada di negara-negara di kawasan Timur Tengah. Termasuk, yang berada di UEA.
“Kami meyakini bahwa kepemimpinan tidak diukur dari eskalasi, akan tetapi dari kemampuan untuk mencegah meluasnya konflik,” jelasnya.
Dari data internal UEA, per tanggal 7 April 2026, sistem pertahanan udara UEA telah berhasil mendeteksi dan mencegat serangan 520 rudal balistik, 26 rudal jelajah, dan 2.221 drone ke wilayahnya. Meski begitu, puing-puing dari senjata-senjata yang telah berhasil dicegat tersebut jatuh di kawasan sipil. Hal ini mengakibatkan 13 warga sipil meninggal dunia, 217 orang luka-luka, serta kerusakan pada infrastruktur vital seperti bandara, pelabuhan, fasilitas energi, dan kawasan permukiman.
Di tengah gempuran tersebut, Abdulla memastikan negaranya tetap aman hingga saat ini. Sistem pertahanan pun terus siaga. “Saya menegaskan bahwa Uni Emirat Arab tetap aman dan stabil. Institusi kami beroperasi secara penuh dan 200 lebih warga negara asing tetap dalam kondisi aman dan harmonis,” pungkasnya.