← Beranda
Akademisi sebut Pelibatan Teknologi Jadi Kunci Kesuksesan Polri Tekan Risiko Kecelakaan Saat Mudik
Sabik Aji TaufanSabtu, 11 April 2026 | 06.30 WIB
Ilustrasi kepadatan lalu lintas di Gerbang Tol Warugunung saat arus mudik dan balik Lebaran 2026. (Humas Jasamarga Tol Sumo)

 

JawaPos.com — Guru Besar Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Albertus Wahyurudhanto menilai, Korlantas Polri telah menunjukan kinerja yang bagus dalam pengamanan mudik lebaran 2026. Hal itu terbukti dari angka kecelakaan yang turun dan kepuasan masyarakat cukup tinggi.

Dia beranggapan bahwa pelayanan yang baik kepada masyarakat turut menyumbang keberhasilan tersebut. Selain itu, Polri juga menjalankan fungsi penegakan hukum dan menjaga keamanan dengan baik.

“Bukan sekadar cepat, tapi yang utama adalah aman, selamat, dan masyarakat puas. Itu terlihat dari respons publik yang cenderung positif,” ujar Albertus, Jumat (10/4).

Ia menjelaskan, dalam perspektif good governance, keberhasilan suatu kebijakan sangat ditentukan oleh penerimaan masyarakat. Respons positif yang muncul selama periode mudik menjadi indikator bahwa strategi yang diterapkan berjalan efektif.

Baca Juga: Kasus Suami Ternyata Perempuan Berujung Saling Lapor, Rey Laporkan Intan ke Polres Batu  

Albertus menyampaikan, mudik di Indonesia membutuhkan rencana yang matang. Sebab melibatkan berbagai latar belakang warga, mulai dari sosial, budaya, dan agama.

“Kalau tidak dirancang dengan teknologi, hasilnya tidak akan maksimal. Ini yang patut diapresiasi,” jelasnya.

Selain itu, keberadaan posko mudik dan layanan terpadu juga dinilai berkontribusi besar terhadap kelancaran dan kenyamanan perjalanan. Ia menekankan bahwa pengelolaan arus mudik merupakan kerja bersama lintas sektor, dengan kepolisian sebagai leading sector di jalan raya.

“Ini kerja simultan. Ada dukungan kesehatan dan berbagai unsur lain yang memperkuat pelayanan di lapangan,” ungkapnya.

Albertus menekankan pentingnya Polri melaakukan adaptasi terhadap perkembangan teknologi dalam pengaturan lalu lintas. Sebab, pola perjalanan mudik warga juga mengalami perubahan. Hal ini didorong faktor perubahan perilaku masyarakat, seperti penggunaan GPS (Global Positioning System) dan sistem pembayaran non-tunai.

Oleh karena itu, masyarakat perlu diberikan literasi tentang pemanfaatan teknologi yang baik. Sehingga mereka tidak mengalami kesulitan saat melakukan pembayaran tol maupun menggunakan navigasi digital.

Di sisi lain, pendekatan berbasis data (data driven) yang diterapkan dalam pengambilan kebijakan dinilai sebagai langkah tepat. Meski begitu, ia menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan manusia dengan mempertimbangkan aspek kearifan.

“Data itu penting sebagai pendukung, tapi keputusan tetap di manusia,” pungkasnya.

EDITOR: Sabik Aji Taufan