JawaPos.com-Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah memacu proyek ambisius Tambak Udang Terintegrasi Waingapu (Integrated Shrimp Farming/ISF) di Nusa Tenggara Timur. Proyek ini digadang-gadang akan menjadi model budidaya udang modern yang ramah lingkungan dengan nilai investasi mencapai Rp 7,2 triliun.
Proyek ini berlokasi di Desa Palakahembi dan Kelurahan Watumbaka, Sumba Timur. Selain produksi, proyek ini menjaga kelestarian ekosistem laut NTT melalui teknologi limbah yang canggih.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Tb Haeru Rahayu, menuturkan bahwa pihaknya mengadopsi praktik terbaik dunia internasional. Hal itu bertujuan agar teknologi yang digunakan ramah lingkungan.
"Berbagai benchmark kami pelajari, kelebihannya kami ambil, kelemahannya kami tinggalkan.Intake air laut diarahkan ke pompa reservoir, lalu ke tandon, sebelum masuk ke petakan tambak," ujarnya, Rabu (1/4).
Salah satu poin krusial dari proyek ini adalah keberadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) seluas 60 hektare. Fasilitas ini memastikan sisa produksi tidak merusak terumbu karang dan biota laut di sekitarnya.
Sistem IPAL tersebut dirancang menggunakan kombinasi mekanik, biologi, dan kimia. Hal itu dilakukan guna menjaga kualitas air secara maksimal. "IPAL ini saya lihat luar biasa besar, dengan pendekatan mekanik, biologi, dan bila diperlukan sedikit sentuhan kimia," kata Tb.
KKP memastikan pembangunan ini tidak membabat hutan lindung atau merusak kawasan konservasi. Proyek ini dibangun di lahan terbuka yang sebelumnya tidak produktif.
Selain lokasi yang strategis, praktik akuakultur berkelanjutan diterapkan melalui benih dan pakan bermutu tinggi. Penerapan biosekuriti ketat dan monitoring kualitas air serta penyakit juga berjalan berkala. Potensi pemakaian energi surya (EBT) juga dipertimbangkan untuk menekan biaya operasional. Selain itu, hal ini akan mengurangi emisi karbon pada tambak udang.
Target Produksi 52 Ribu Ton dan Serap Ribuan Pekerja
Dengan luas lahan mencapai 2.150 hektare, kawasan ISF Waingapu ini diproyeksikan menjadi lumbung udang nasional. Produksi diperkirakan mencapai 52.000 ton udang per tahun.
Proyek ini juga memberi angin segar bagi lapangan kerja lokal. Diperkirakan sebanyak 8.820 tenaga kerja terserap mulai masa konstruksi hingga operasional tambak.
Hingga akhir Maret 2026, progres lapangan memperlihatkan aktivitas alat berat membentuk petakan tambak. Pemerintah memakai metode design and build agar proyek tetap fleksibel dengan kondisi lapangan.
"Kalau lelang desain dilakukan di awal, fleksibilitas terbatas. Dengan rancang bangun, kami bisa mengawal dan menyesuaikan desain sesuai kebutuhan," imbuh Tb Haeru. Proyek strategis ini ditargetkan selesai dalam tiga tahun ke depan. Waingapu pun akan menjadi pusat industri udang modern di Indonesia Timur. (*)