JawaPos.com - Perang yang pecah di Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat dan Israel disebut membawa dampak kepada kondisi keamanan Indonesia. Keadaan ini bisa mempengaruhi pasokan energi nasional hingga potensi polarisasi ideologi di dalam negeri.
Dosen Hubungan Internasional Binus University, Tia Mariatul Kibtiah mengatakan, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak masih tinggi. Sedangkan ketahanan cadangan energi nasional hanya berkisar 20 hari. Kondisi ini perlu menjadi perhatian.
"Rentetan eskalasi ini turut memicu kerawanan sosial di dalam negeri, ditandai dengan penetapan status siaga tiga oleh TNI guna mengantisipasi kemungkinan demonstrasi massal," kata Tia dalam diskusi virtual, Minggu (8/3).
Pada kesempatan yang sama, Dosen Ketahanan Nasional SPPB UI M. Syaroni Rofii menilai, kondisi di Timur Tengah merupakan perang asimetris. Ketegangan makro ini dipastikan akan menekan pasokan BBM nasional dan berdampak langsung pada kelangsungan sektor usaha mikro.
Baca Juga: Rusun Subsidi Meikarta Mulai Dibangun, Groundbreaking Dilakukan Hari Ini
"Di tengah minimnya peran PBB serta sikap China dan Rusia yang memilih memantau dari kejauhan, Indonesia disarankan mengambil jalur shuttle diplomacy untuk tampil sebagai aktor penengah strategis di kancah global," imbuhnya.
Sementara, Pengamat Terorisme M. Syauqillah menyoroti pergeseran bahaya konflik ke ruang digital yang memicu polarisasi masyarakat. Sentimen publik terpecah ke dalam berbagai narasi, mulai dari ajakan jihad, khilafah, isu akhir zaman, hingga polarisasi pro dan anti-Syiah.
Ancaman menjadi semakin nyata apabila kelompok teror mengeksploitasi secara massif sentimen tersebut . Lebih jauh lagi, memanasnya tensi konflik di media sosial turut memperbesar risiko munculnya lone actor atau pelaku teror tunggal yang teradikalisasi secara mandiri. Menghadapi potensi penyebaran propaganda ideologis di media sosial dan dampak ke ekonomi sosial.
"Strategi mitigasi yang komprehensif harus disiapkan untuk merespons dampak keamanan, politik, ekonomi dan fragmentasi sosial dengan mempertimbangkan level, mulai dari level rendah, moderat, tinggi, hingga ekstrem," pungkasnya.