← Beranda
Pekerja Migran Indonesia Bangun Kepercayaan Diri Lewat Pendidikan dan Komunitas
Rizky Ahmad FauziMinggu, 8 Maret 2026 | 18.51 WIB
Momentum Hari Perempuan Internasional 2026 menjadi ruang refleksi bagi banyak perempuan, termasuk pekerja migran Indonesia. (Dok. IST)

 

JawaPos.com – Momentum Hari Perempuan Internasional 2026 menjadi ruang refleksi bagi banyak perempuan, termasuk pekerja migran Indonesia. Melalui pendidikan keuangan, pembelajaran sebaya, serta dukungan komunitas, sejumlah pekerja migran kini melangkah lebih percaya diri dalam merencanakan masa depan.

Organisasi pemberdayaan perempuan Aidha menghadirkan kisah tiga pekerja migran Indonesia yang terpilih melalui proses community vetting di platform Campaign for Good. Kampanye tersebut menekankan pentingnya pendidikan finansial, pembelajaran sebaya (peer learning), serta dukungan komunitas sebagai fondasi membangun kemandirian perempuan.

Melalui pelatihan terstruktur, kegiatan storytelling, dan partisipasi komunitas, program ini membuka ruang aman bagi para perempuan untuk merefleksikan perjalanan hidup mereka. Di saat yang sama, mereka juga mengasah keterampilan baru dan saling memberi dukungan menghadapi tantangan serupa.

Baca Juga: Radja Nainggolan Tolak Juventus! Dinilai Punya Banyak Kontroversi, Sakit Hati Karena Penalti

Kampanye #BersamaBerdaya

Diluncurkan pada Desember 2025, kampanye #BersamaBerdaya menghadirkan tiga pekerja migran Indonesia sebagai Duta Berdaya, yakni mentor sebaya yang berbagi pengalaman kepada komunitas.

Para Duta Berdaya menerima dukungan hibah, pelatihan storytelling serta komunikasi digital, dan kesempatan membagikan pengalaman melalui platform yang dikurasi komunitas.

Program tersebut dirancang untuk mendorong perempuan mengembangkan potensi, menumbuhkan kepemimpinan praktis, serta saling menyemangati dalam menghadapi tantangan hidup.

Tiga Kisah Perempuan Tangguh

Salah satu Duta Berdaya, Fitria Hendrawati, harus mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga ketika ayahnya jatuh sakit. Ia menanggung kebutuhan anak, orang tua, hingga keluarga besar.

Dengan pengalaman kerja dan kemampuan bahasa Inggris yang terbatas, Fitria memutuskan bekerja di luar negeri. Keputusan tersebut diambil demi membangun kembali stabilitas ekonomi keluarga.

Melalui program pelatihan Aidha, ia perlahan meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, memperkuat kepemimpinan, serta belajar membuat keputusan keuangan yang lebih bijak.

“Tidak ada hasil yang instan, semuanya membutuhkan waktu dan proses,” ujarnya.

Kisah lain datang dari Siti Mujiati, seorang ibu tunggal dengan dua anak. Setelah meninggalkan pekerjaan pabrik yang tak lagi mencukupi kebutuhan hidup, ia memutuskan bekerja di luar negeri.

Berpisah dengan anak-anak menjadi tantangan terberat. Namun Siti menjadikan pengalaman tersebut sebagai proses belajar yang membentuk dirinya lebih sabar, empatik, dan disiplin.

“Dengan keberanian dan pendidikan, saya bisa bangkit dan mengubah bukan hanya hidup saya, tetapi juga masa depan anak-anak saya,” kata Siti.

Melalui perencanaan keuangan yang disiplin, Siti berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana, membangun dana darurat, serta membantu kedua putrinya memperoleh kesempatan bekerja di luar negeri.

Sementara itu, Nur Bayani menghadapi ujian berbeda. Setelah bertahun-tahun menabung dari hasil kerja di luar negeri, ia mengalami penipuan yang membuat seluruh tabungannya hilang.

Peristiwa tersebut sempat menjadi pukulan berat. Namun Nur memilih memulai kembali dari awal.

Melalui berbagai program Aidha, ia memperdalam pemahaman keuangan, meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, serta mempelajari keterampilan bisnis.

“Sekarang kemampuan bahasa Inggris saya lebih baik. Saya juga belajar keterampilan bisnis. Setiap tantangan hidup saya hadapi dengan bekal yang saya pelajari,” ungkapnya.

Kini, Nur aktif berbagi pengalaman kepada sesama pekerja migran agar kegagalan dapat menjadi batu loncatan menuju stabilitas dan kepercayaan diri.

Melalui kampanye #BersamaBerdaya, Aidha menegaskan komitmennya mendukung pekerja migran melalui keterampilan praktis, peningkatan kepercayaan diri, serta jaringan komunitas.

Sebagai bagian dari upaya memperluas akses, Aidha juga membuka kelas pendidikan keuangan dalam bahasa Indonesia bagi pekerja migran Indonesia di Singapura.

Program tersebut diharapkan membantu lebih banyak perempuan memahami pengelolaan keuangan, meningkatkan ketahanan hidup, serta merencanakan masa depan yang lebih baik.

Aidha sendiri merupakan organisasi berbasis di Singapura yang berfokus pada pemberdayaan pekerja migran domestik dan perempuan berpenghasilan rendah.

Sejak 2006, organisasi ini menyediakan pelatihan pengelolaan keuangan, literasi digital, komunikasi, hingga kewirausahaan bagi ribuan perempuan.

Melalui berbagai program tersebut, Aidha berupaya membantu perempuan membangun kepercayaan diri sekaligus ketahanan finansial dalam jangka panjang.

Baca Juga: F1: George Russell Serasa Mengendarai Go-Kart, Mercedes Kuasai Pole GP Australia

EDITOR: Hendra