← Beranda
Pasar Mobil Baru 'Menangis', Pasar Mobil Bekas masih Bisa Sedikit Bernapas
Rian AlfiantoJumat, 12 September 2025 | 06.03 WIB
Mobil-mobil bekas menunggu dipinang pemilik barunya (RianAlfianto/JawaPos.com)

 

JawaPos.com-Lesunya penjualan mobil baru di Indonesia sepanjang 2025 ternyata ikut menyeret pasar mobil bekas ke jurang yang sama.

Baca Juga: Penjualan Mobil Semester I 2025 Merosot, Gaikindo Siap Revisi Target Nasional 

Kondisi ekonomi nasional yang belum pulih membuat daya beli masyarakat menurun, sehingga baik industri otomotif maupun pedagang mobil second harus menghadapi kenyataan beratnya bisnis tahun ini.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan ritel mobil baru pada Agustus 2025 hanya mencapai 66.478 unit, naik tipis 5,7 perseb dibandingkan Juli. Namun jika dibandingkan Agustus 2024, pasar justru merosot tajam 13,4 persen.

Dari sisi wholesales, penjualan dari pabrikan ke dealer juga anjlok 19% secara tahunan. Sepanjang Januari–Agustus 2025, total wholesales hanya 500.951 unit, turun 10,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Gaikindo bahkan dikabarkan siap merevisi target penjualan tahunan yang semula 900 ribu unit, menyesuaikan dengan tren pasar yang melemah.

 

Mobil Bekas Tak Lebih Baik

Jika pasar mobil baru saja 'menangis', kondisi mobil bekas tidak lebih menggembirakan. Pedagang mobil second di Karawaci, Tangerang, Gerry Akio, mengaku penjualannya masih jauh dari kata normal.

“Tahun ini masih parah. Ya, meski nggak separah tahun kemarin, tahun ini masih belum ada harapan,” ujarnya. 

Pada Agustus–September 2025, ia hanya berhasil menjual empat unit mobil bekas, sementara bulan sebelumnya lebih buruk: dua unit saja. Padahal, dalam kondisi normal showroom miliknya bisa melepas hingga 100 unit mobil per tahun.

“Semester satu 2025 ini aja baru laku 25 mobil. Nggak tutup aja sudah Alhamdulillah. Yang penting duit muter, bisa bayar anak-anak sama sewa lapak,” kata Gerry.

Keluhan serupa datang dari Erwin, pedagang mobil bekas di kawasan Tangerang lainnya. Ia mengaku penjualan mobil bekas kini rata-rata hanya di segmen Rp100–200 juta, karena pedagang takut mengambil stok yang terlalu mahal.

“Ya kita kan modal belanja, dandanin, poles, salon. Kalau harga tinggi, bisa macet. Jadi cari yang lebih murah aja biar cepat muter,” ujarnya.

 

Daya Beli Jadi Faktor Utama

Baik Gerry maupun Erwin sepakat bahwa akar masalah dari lesunya penjualan mobil bekas adalah daya beli masyarakat yang melemah. Konsumen cenderung menahan uang, sementara mereka yang punya dana lebih juga memilih berhati-hati.

“Yang punya duit juga sama aja, nahan duitnya. Mau bagaimana? Kondisinya kaya gini,” tutur Erwin.

Kondisi pasar mobil bekas yang tertekan ini memperlihatkan bahwa perlambatan ekonomi tidak hanya membayangi sektor otomotif baru, tapi juga menyapu pasar sekunder. 

Dengan penjualan mobil baru dan bekas sama-sama melemah, industri otomotif Indonesia terpaksa menatap sisa 2025 dengan penuh kehati-hatian. (*)

 

EDITOR: Dinarsa Kurniawan