JawaPos.com - Film horor Indonesia The Doll Ghawiah siap menghadirkan teror baru melalui sosok boneka menyeramkan yang dibuat dengan teknologi animatronik. Tak sekadar mengandalkan penampakan dan kejutan, film produksi Hitmaker Studios ini menawarkan boneka dengan detail visual dan ekspresi yang dirancang lebih kompleks untuk menciptakan pengalaman horor yang berbeda.
Sebagai prekuel dari semesta The Doll, film ini mengajak penonton menelusuri asal-usul teror yang selama ini menjadi bagian penting dari waralaba horor tersebut. Ceritanya membawa penonton ke masa lalu, ketika sebuah boneka bernama Ghawiah menjadi awal dari rangkaian kejadian mistis yang mengancam sebuah keluarga.
Produser Hitmaker Studios, Rocky Soraya, memberikan perhatian khusus pada pembuatan boneka Ghawiah. Boneka tersebut dipesan secara khusus dari Bali, sementara teknologi animatroniknya didatangkan dari Amerika Serikat. Proses penggarapan ini menelan biaya hingga miliaran rupiah.
"Soal budget kita nggak bisa spill angkanya pastinya. Tapi film ini bisa bikin tiga film standar," ujar Rocky Soraya di bilangan Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (16/10).
Baca Juga: Ruben Onsu Singgung Harga Diri di Mata Anak, Alasan Harus Laporkan Sarwendah
Investasi tersebut ditujukan untuk menghadirkan boneka dengan tampilan, kostum, dan kemampuan gerak yang lebih ekspresif dibandingkan boneka dalam film-film sebelumnya. Detail tersebut menjadi salah satu elemen penting untuk membangun teror yang terasa lebih nyata di layar lebar.
Guntur Soeharjanto Bangun Atmosfer Horor yang Berbeda
Dari sisi penyutradaraan, The Doll Ghawiah dipercayakan kepada Guntur Soeharjanto. Sang sutradara menghadirkan pendekatan sinematik yang menitikberatkan pada pembangunan atmosfer, sehingga ketegangan tidak hanya muncul ketika boneka memperlihatkan wujudnya.
Suasana mencekam dibangun melalui pengolahan visual dan situasi yang perlahan memunculkan rasa tidak nyaman. Dengan pendekatan tersebut, penonton diajak merasakan ancaman bahkan sebelum sosok Ghawiah benar-benar terlihat.
Film ini juga memadukan unsur horor, thriller, dan aksi. Perpaduan tersebut mencapai salah satu puncaknya dalam adegan pertarungan final yang digarap dalam skala besar.
Hitmaker Studios menyiapkan set rumah kaca berukuran besar untuk mendukung adegan klimaks tersebut. Set itu kemudian dihancurkan secara dramatis demi menghadirkan momen yang intens sekaligus memperkuat skala konflik dalam cerita.
Kombinasi penggunaan boneka animatronik, pembangunan set fisik, dan penggarapan atmosfer menjadi daya tarik tersendiri bagi film ini. Pendekatan tersebut juga memperlihatkan bagaimana efek praktis dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan pengalaman horor yang lebih meyakinkan.
Sinopsis Film The Doll Ghawiah
Cerita The Doll Ghawiah mengambil latar tahun 1988. Kisahnya berpusat pada pasangan suami istri Arya (Darius Sinathrya) dan Evi (Titi Kamal), yang memutuskan meninggalkan Jakarta dan pindah ke kawasan Babakan Siliwangi, Bandung.
Mereka membawa kedua anaknya, Gita (Aisyah Aqilah) dan Nala (Laura Moane), untuk memulai kehidupan baru setelah bisnis keluarga mengalami kebangkrutan. Kepindahan itu diharapkan menjadi kesempatan bagi keluarga tersebut untuk bangkit dan menemukan ketenangan.
Namun, harapan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Nala bertemu seorang anak misterius di dalam hutan. Pertemuan tersebut berujung pada pemberian sebuah boneka bernama Ghawiah.
Sejak boneka itu hadir, berbagai kejadian janggal mulai mengusik kehidupan keluarga Arya dan Evi. Rumah yang semula diharapkan menjadi tempat berlindung justru berubah menjadi ruang yang menyimpan ancaman tak kasatmata.
Nama Ghawiah sendiri dalam cerita ini dimaknai sebagai 'tersesat'. Boneka tersebut dikaitkan dengan jiwa-jiwa yang terluka, yang kemudian menjadi bagian dari rangkaian teror dalam kehidupan keluarga itu.
Petunjuk mengenai asal-usul teror mulai terungkap melalui Laras (Sara Wijayanto), seorang pelayan restoran setempat. Dari penuturannya, keluarga Arya mengetahui legenda tragis tentang Uci, seorang anak yang meninggal akibat kecelakaan tabrak lari di Jalan Siliwangi dua tahun sebelumnya.
Kisah Uci menjadi bagian penting dalam mengungkap misteri di balik boneka Ghawiah. Masa lalu yang kelam, pertemuan tak terduga di hutan, dan serangkaian peristiwa supranatural kemudian terhubung dalam kisah yang membawa keluarga Arya menghadapi ancaman semakin besar.
Tayang di Bioskop Mulai 29 Oktober 2026
The Doll Ghawiah dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026. Film ini direncanakan hadir dalam format IMAX untuk memberikan pengalaman visual dan audio yang lebih intens.
Baca Juga: Mental Ruben Onsu Terganggu dengan Unggahan Sarwendah Soal Rekaman Video Call
Format layar lebar tersebut dapat memperkuat atmosfer mencekam, terutama dalam adegan yang mengandalkan detail boneka, ruang gelap, serta rangkaian aksi berskala besar.