← Beranda
Tak Andalkan Hantu, Film Hasut Hadirkan Teror Horor dari Suara Misterius
Nanda Prayoga• Selasa, 13 Oktober 2026 | 05.01 WIB
Konferensi pers Film Hasut. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Film horor Indonesia, Hasut, menghadirkan pendekatan berbeda dengan mengandalkan teror psikologis melalui permainan suara. Karya debut penyutradaraan Ilya Sigma ini tidak bertumpu pada penampakan atau unsur supernatural, melainkan membangun ketakutan dari sesuatu yang tidak terlihat dan memancing imajinasi penonton.

Film yang tengah tayang di bioskop tersebut mengangkat persoalan luka batin dan trauma masa lalu. Tema itu menjadi bagian penting dalam pendekatan kreatif Ilya yang selama ini dikenal sebagai penulis skenario berbagai film Indonesia.

Dalam Hasut, pengalaman traumatis digambarkan melalui empat karakter utama yang diperankan Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova. Keempat karakter tersebut membawa beban masa lalu yang belum terselesaikan ketika memasuki sebuah hutan dan mulai mendengar suara-suara yang sulit dipercaya.

Alih-alih memperlihatkan sosok menyeramkan secara langsung, Ilya membangun suasana mencekam melalui elemen audio. Permainan suara menjadi sumber teror utama yang dirancang untuk menciptakan rasa tidak nyaman sekaligus membuat penonton mempertanyakan apa yang sebenarnya mereka dengar.

“Secara personal, aku lebih takut sama sesuatu hal yang aku bayangkan daripada yang aku lihat secara visual atau tampak. Karena ketika suara itu ada ruang di kepala kita, di ruang itu kita membayangkan, seperti apa bentuknya atau dari mana asalnya?,” Ujar penulis dan sutradara Ilya Sigma dalam keterangannya, Senin (12/10).

Salah satu perangkat yang dimanfaatkan untuk membangun ketegangan dalam film ini adalah handy talkie (HT). Benda yang lazim digunakan dalam proses produksi film tersebut dieksplorasi sebagai medium penyampai suara misterius yang sumbernya tidak selalu dapat dikenali.

Ilya mengolah karakteristik suara HT, mulai dari noise, suara statik, hingga frekuensi yang terputus. Unsur-unsur tersebut dimanfaatkan untuk menciptakan ketidakpastian, sehingga penonton diajak menebak siapa yang berbicara dan seperti apa sosok di balik suara tersebut.

“Jadi HT itu menurut aku jadi medium yang sangat menarik. Karena kalau ada suara dari HT terkadang membuat aku berpikir, ‘Ini yang ngomong siapa ya?’ Dan biasanya dari suara-suara yang keluar itu kita sudah membayangkan bentuknya seperti apa,” jelas Ilya. 

Bagi Ilya, Hasut bukan sekadar pengalaman baru di balik kamera, tetapi juga menjadi ruang untuk menyampaikan refleksi personal. Perempuan yang telah berkecimpung di industri perfilman sejak 2010 itu sebelumnya lebih banyak dikenal melalui karya-karyanya sebagai penulis skenario.

Sejumlah film yang pernah melibatkan Ilya sebagai penulis di antaranya Catatan Harian Si Boy (2011), Rectoverso: Curhat Buat Sahabat (2013), Sundul Gan: The Story of Kaskus (2016), dan A Man Called Ahok (2018). Ia juga pernah menyutradarai film omnibus Pintu Harmonika (2013).

Selain berkarya di industri film, Ilya mendirikan Aksara Jiva, sebuah ruang kreatif reflektif yang memadukan aktivitas menulis, penyelidikan diri atau self-inquiry, serta penceritaan yang berorientasi pada pemulihan atau healing.

Pengalaman tersebut turut berkaitan dengan gagasan yang diangkat dalam Hasut. Menurut Ilya, seseorang terkadang terhambat untuk melakukan sesuatu karena terpengaruh suara dari luar yang akhirnya dianggap sebagai pemikirannya sendiri.

“Film ini juga menjadi refleksi bagiku secara personal. Aku sudah lama juga sebenarnya di industri film. Dan yang sering menghambat itu sebenarnya ketika hasutan itu masuk ke kepala kita dan kita yakin sekali itu suara kita sendiri. Padahal, itu hasutan-hasutan yang muncul dari luar dan bisa menghambat kita untuk memulai dan melakukan sesuatu. Seperti saat aku membuat film feature pertamaku, aku merasa sepertinya aku tidak perlu mendengarkan hasutan-hasutan itu semua,” ujar Ilya.

Film Hasut ditulis dan disutradarai oleh Ilya Sigma serta diproduksi Tuta Films. Putrama Tuta dan Siera Tamihardja bertindak sebagai produser, sedangkan Nick Musa menjadi ko-produser. Film ini dibintangi Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova, serta saat ini dapat disaksikan di bioskop.

EDITOR: Estu Suryowati