JawaPos.com - Guruh Soekarnoputra tutup usia pada Sabtu, 26 September 2026, pukul 04.16 WIB di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta di usia 73 tahun.
Semasa hidupnya, putra bungsu Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno itu lebih dikenal banyak orang sebagai seorang seniman ketimbang politisi, jalan yang diambil oleh sang ayah dan kakak perempuannya, Megawati Soekarnoputri.
Jika ingin memahami dan menyelami pemikiran Guruh sebagai seniman, ada satu karya yang rasanya tidak mungkin dilewati: Guruh Gipsy.
Guruh Gypsy merupakan sebuah album musik yang lahir dari kolaborasi Guruh Soekarnoputra dengan kelompok band Gipsy yang dirilis pada 20 Maret 1977.
Album ini hanya terdiri dari enam komposisi utama. Namun, enam track ini kemudian menjelma menjadi salah satu artefak terpenting dalam sejarah musik Indonesia.
Pada 2007 silam, majalah Rolling Stone Indonesia menempatkan Guruh Gipsy di posisi kedua dalam daftar 150 album Indonesia terbaik sepanjang masa.
Salah satu track-nya yang berjudul Indonesia Maharddhika kemudian masuk daftar 150 lagu Indonesia terbaik versi majalah yang sama di edisi dua tahun kemudian.
Merujuk pada Arsip Nasional Republik Indonesia, tercatat bahwa setelah kembali dari Belanda pada 1974, Guruh kemudian mengembangkan eksperimen musik yang mempertemukan gamelan Bali dengan musik Barat.
Eksperimen inilah yang kemudian berujung pada lahirnya Guruh Gipsy.
Baca Juga: Guruh Soekarnoputra Akan Dimakamkan di Samping Ibunya, Fatmawati
Guruh Bertemu Gipsy
Ada alasan mengapa Guruh memilih mengontak Gipsy untuk merealisasikan untaian nada yang berbunyi dengan begitu berisik di dalam kepalanya.
Gipsy bukanlah band sembarangan.
Kelompok musik ini punya sejarah sejak eksis di periode 1960-an. Mengalami banyak pergantian personel, anggota Gipsy yang terlibat dalam proyek Guruh terdiri dari Keenan Nasution, Chrisye, Roni Harahap, Oding Nasution, dan Abadi Soesman.
Guruh berperan sebagai penulis lagu dan memainkan piano dan berbagai instrumen gamelan.
Sementara pada porsi Gipsy, Chrisye mengisi vokal dan bass, Keenan drum dan vokal, Roni piano dan organ, Oding gitar, dan Abadi membawa warna synthesizer.
Di tahun tersebut, Guruh Gipsy jelas menjadi album yang sangat unik karena merupakan hasil pemikiran dan pertemuan dua kutub musik yang sangat berbeda.
Guruh, yang punya obsesi dan kecintaan besar pada kebudayaan dan musik Indonesia, bertumbuk dengan Gipsy yang begitu kental dengan pengaruh progressive rock Barat.
Enam track yang lahir dalam Guruh Gipsy bukan cuma lagu-lagu rock dengan suara gamelan. Album ini adalah bahasa musik baru yang kelak menginspirasi musisi-musisi masa dengan dengan cetak biru yang sama.
Bahkan hingga sekarang, album tersebut masih terasa begitu aneh di telinga banyak orang. Namun, justru di situlah keistimewaan album ini.
Baca Juga: Kenang Figur Guruh Soekarnoputra, Ganjar: Anak Bung Karno tapi Bukan Manusia Politik
5.000 Keping Kaset yang Menjadi Cult Classic
Proses penggarapan Guruh Gipsy tidak sebentar dan melelahkan. Memulai rekaman perdana pada Juli 1975 di Tri Angkasa Music Laboratory, album ini rampung 16 bulan kemudian di November 1976.
Dari jangka waktu itu, lahir enam komposisi berjudul Indonesia Maharddhika, Chopin Larung, Barong Gundah, Janger 1897 Saka, Geger Gelgel dan Smaradhana.
Namun, di beberapa katalog khusus, album ini memiliki tujuh track dengan lagu tambahan berjudul Sekar Ginotan.
Semuanya digubah dengan komposisi yang begitu rumit, bahkan hingga titik tertentu terdengar terlalu aneh untuk telinga penikmat musik kasual.
Bisa ditebak, album ini tidak mencetak kesuksesan komersial. Arsip Nasional mencatat album ini hanya dicetak sekitar 5.000 keping kaset pada masa awalnya.
Tetapi setelah waktu berjalan, reputasi Guruh Gipsy justru kian membesar. Album ini menjadi cult classic di kalangan pecinta musik, khususnya penikmat progressive rock, jazz dan fusion.
Lantaran rilisan fisik aslinya sangat sedikit, kaset original Guruh Gipsy pun menjadi salah satu barang paling langka dan paling mahal yang diburu oleh para kolektor musik domestik maupun mancanegara.
Jika ingin menarik jauh ke belakang, tepatnya saat pengerjaan album ini berjalan, prosesnya jelas jauh lebih sulit ketimbang era modern saat ini.
Di tahun 1975 hingga 1976, Guruh Gipsy dibuat di tengah keterbatasan teknologi. Perlu diingat, mereka tidak punya komputer canggih untuk melakukan editing sesuka hati.
Tidak ada DAW. Tidak ada plugin. Tidak ada AI. Semuanya murni sentuhan manusia.
Berpulang ke pangkuan Sang Khalik, Guruh mungkin akan lebih banyak dikenal sebagai anak Soekarno. Namanya akan selalu dibayangi oleh Megawati.
Namun, terlalu dangkal rasanya untuk mengabadikan sosok Guruh tanpa mengenal karya-karyanya dan sumbangsihnya untuk musik Indonesia.
Lewat tangan dinginnya, Guruh bisa dibilang berhasil membuat musik Indonesia menjadi lebih modern tanpa harus berhenti menjadi Indonesia lewat Guruh Gipsy.
Guruh Gipsy merupakan pengejawantahan utuh dari musik Indonesia modern yang tidak kehilangan identitas.
Dan, mungkin, inilah warisan Guruh Soekarnoputra yang paling besar untuk negeri ini.