← Beranda
9 Tahun Dikembangkan, Film Ibuku (My Mother) Tembus Kompetisi Utama Busan 2026
Abdul Rahman• Minggu, 13 September 2026 | 20.57 WIB
Film Ibuku (My Mother) dibintangi oleh aktris Christine Hakim. (istimewa)

 

JawaPos.com - Film Indonesia kembali mendapat panggung di salah satu festival film paling bergengsi di Asia. Ibuku (My Mother) karya sutradara Eddie Cahyono resmi terpilih dalam program Competition Busan International Film Festival (BIFF) ke-31.

Film produksi bersama Indonesia dan Jepang itu akan menjalani world premiere di Busan, Korea Selatan, yang akan berlangsung pada 6–15 Oktober 2026. Ibuku (My Mother) akan bersaing dengan 13 film lain dari berbagai negara Asia dalam program kompetisi utama.

Menariknya, perjalanan film tersebut menuju Busan bukanlah proses singkat. Gagasan Ibuku (My Mother) telah dikembangkan Eddie sejak 2015, sebelum akhirnya memasuki tahap produksi hampir satu dekade kemudian.

Film ini mengangkat kisah Sumiati yang diperankan Christine Hakim, seorang ibu yang berusaha menemui putrinya, Sri (Ayushita), yang mendekam di penjara Arab Saudi setelah divonis hukuman mati karena dituduh membunuh majikannya.

Baca Juga: Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka

Namun, film ini tidak sekadar berbicara tentang perjuangan seorang ibu menyelamatkan anak. Di balik perjalanan Sumiati, Eddie menyelipkan persoalan yang lebih luas mengenai pekerja migran, perempuan, relasi keluarga, luka masa lalu, hingga persoalan hak asasi manusia.

Berawal dari Busan, Kembali ke Busan

Ada lingkaran perjalanan yang menarik dalam proses lahirnya Ibuku (My Mother). Sebelas tahun lalu, proyek ini justru pertama kali mendapat perhatian di Busan.

Pada 2015, Eddie Cahyono membawa proyek tersebut ke Asian Project Market, salah satu ruang penting bagi pengembangan dan pendanaan proyek film di kawasan Asia. Ibuku (My Mother) kemudian meraih ARTE Kino International Award untuk pengembangan naskah.

Meski demikian, perjalanan menuju produksi masih panjang. Film tersebut baru mendapatkan lampu hijau pada 2024, ketika Tika Bravani bergabung sebagai produser melalui ANP Talenta Media.

Pada tahun yang sama, proyek Ibuku (My Mother) kembali dipresentasikan dalam sejumlah forum industri, termasuk JAFF Market dan Bangkok International Content Market. Dari forum-forum tersebut, film ini memperoleh pendanaan tambahan sekaligus penghargaan.

Bagi Tika, keterlibatannya dalam proyek ini memiliki makna personal. Sebelum duduk di kursi produser, ia lebih dikenal publik sebagai seorang aktris.

"Ibu itu sangat personal, tapi juga sangat universal buat semua orang," kata Tika.

Kisah tersebut membuat Tika merasa memiliki kedekatan emosional dengan materi film, terlebih cerita tentang ibu mengingatkannya pada sosok ibunya yang telah meninggal dunia.

Tika Bravani Belajar Menjadi Produser

Ibuku (My Mother) sekaligus menjadi proyek produksi pertama Tika Bravani. Peralihan dari aktris ke produser membuat pengalaman tersebut menjadi tantangan baru dalam perjalanan kariernya di industri perfilman.

Tika harus bekerja bersama Eddie Cahyono, sutradara yang dikenal antara lain melalui film Siti (2014) dan telah memiliki pengalaman panjang dalam ekosistem festival film internasional.

Perbedaan pengalaman tersebut justru menjadi ruang belajar bagi Tika. Ia mengaku banyak mendapat arahan dari Eddie selama proses produksi.

"Untungnya beliau juga berlatar belakang dosen, jadi beliau membimbing saya dengan sabar," ujar Tika.

Keterlibatan Christine Hakim juga menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan film ini. Sejak awal pengembangan proyek, Eddie sudah memiliki keinginan kuat agar karakter Sumiati dimainkan oleh Christine Hakim.

Keinginan tersebut bukan perkara mudah karena Christine memiliki jadwal produksi yang padat. Bahkan, pada periode yang sama, sang aktris senior disebut terlibat dalam tujuh produksi film lain.

Namun, kesepakatan lama antara Eddie dan Christine untuk bekerja sama akhirnya terwujud melalui Ibuku (My Mother).

Selain Christine Hakim dan Ayushita, film ini turut menghadirkan aktor senior Landung Simatupang. Ayushita yang memerankan Sri juga disebut ikut memberikan dukungan kepada Tika selama menjalani pengalaman pertamanya sebagai produser.

Nekat Kembali ke Seluloid 16mm

Salah satu aspek paling menarik dari Ibuku (My Mother) terletak pada pilihan format gambarnya.

Di tengah dominasi teknologi digital dalam produksi film modern, Eddie Cahyono justru memilih menggunakan seluloid 16mm.

Keputusan tersebut membawa konsekuensi produksi yang tidak ringan. Kamera analog semakin sulit ditemukan, stok film harus dipesan jauh-jauh hari, biaya produksi menjadi lebih besar, sementara proses pengambilan gambar juga memiliki risiko teknis yang lebih tinggi dibandingkan sistem digital.

Namun bagi Eddie, pilihan tersebut bukan sekadar persoalan estetika.

"Kalau pakai digital, mendingan nggak usah dibuat," ujar Tika, menirukan sikap Eddie terhadap pilihan format film tersebut.

Seluloid 16mm dipilih untuk menerjemahkan gagasan tentang ingatan ke dalam bahasa visual. Memori manusia tidak selalu hadir secara utuh dan tajam. Ada bagian yang jelas, tetapi ada pula yang samar, terputus, bahkan terasa buram.

Pendekatan tersebut kemudian diterjemahkan Eddie melalui karakter visual film.

Tantangan lain muncul dalam proses pencucian dan pemrosesan film. Sebelum fasilitas pemrosesan film analog tersedia di Indonesia, produksi film dengan seluloid harus mengirim material ke negara seperti Jepang atau Taiwan.

Kondisi tersebut mulai berubah dengan hadirnya fasilitas pemrosesan film analog di Movie Studio Bali. Fasilitas tersebut dibuka tidak lama sebelum produksi Ibuku (My Mother) dimulai dan menjadi salah satu bagian penting yang memungkinkan film diproses di dalam negeri.

Ibuku (My Mother) menjadi salah satu film panjang pertama yang diproses secara penuh melalui fasilitas tersebut.

Christine Hakim dan Empat Film Indonesia di Busan

Keberhasilan Ibuku (My Mother) menembus Competition BIFF 2026 juga menjadi bagian dari kiprah sinema Indonesia yang cukup menonjol di Busan tahun ini.

Selain film Eddie Cahyono, Indonesia turut mengirim sejumlah karya lain ke BIFF 2026.

Laut Bercerita (The Sea Speaks His Name) karya Yosep Anggi Noen juga berkompetisi dalam program Competition. Sementara itu, Empat Musim Pertiwi karya Kamila Andini masuk program A Window on Asian Cinema.

Indonesia juga diwakili film pendek αLPα karya Dhiwangkara Seta.

Kehadiran Christine Hakim menjadi semakin menarik karena sang aktris tercatat membintangi tiga dari empat film Indonesia yang masuk seleksi BIFF tahun ini.

Dengan demikian, partisipasi Indonesia tidak hanya menunjukkan keberagaman karya, tetapi juga memperlihatkan konsistensi sejumlah sineas dan aktor Indonesia dalam menembus ruang sinema internasional.

BIFF 2026 sendiri memiliki arti khusus karena festival tersebut telah mendapatkan pengakuan sebagai festival berstatus A-list dari Federation Internationale des Associations de Producteurs de Films (FIAPF).

Status tersebut menempatkan Busan dalam jajaran festival film dunia yang memiliki pengakuan tertinggi dari organisasi internasional tersebut, bersama sejumlah festival besar seperti Cannes, Berlin, Venesia, Sundance, dan Toronto.

Bagi Tika Bravani, perjalanan Ibuku (My Mother) dari sebuah proyek yang dikembangkan sejak 2015 hingga akhirnya menjalani world premiere di Busan menjadi pengalaman penting dalam babak baru kariernya sebagai produser.

Kini, setelah melewati perjalanan panjang dan proses produksi yang penuh tantangan, film tersebut tinggal menunggu pertemuan pertamanya dengan penonton internasional.

Baca Juga: Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun

Tika berharap Ibuku (My Mother) dapat menemukan penonton yang tepat, terutama mereka yang bisa merasakan emosi dari kisah hubungan ibu dan anak yang menjadi jantung cerita.

EDITOR: Abdul Rahman