← Beranda
'Buat Apa Jadi Baik kalau yang Jahat Selalu Menang?' Arda Hatna Beri Perspektif Lewat Single Terbaru
Abdul Rahman• Jumat, 11 September 2026 | 23.42 WIB
Musisi Arda Hatna. (istimewa)

 

JawaPos.com - Pertanyaan 'kenapa hidup terasa tidak adil' menjadi kegelisahan yang dituangkan Arda Hatna dalam karya terbarunya berjudul “Matematika Tuhan Berbeda”.

Lagu tersebut lahir dari perenungan tentang perjalanan hidup, terutama ketika usaha yang dilakukan seseorang belum menghasilkan sesuatu sesuai harapan.

Ada kalanya seseorang sudah bekerja keras tetapi rezeki terasa belum datang. Ada pula yang berusaha menjadi orang baik, namun justru menghadapi kekecewaan dan perlakuan yang menyakitkan.

Situasi semacam itu kerap membuat manusia mempertanyakan banyak hal. Mengapa doa belum terjawab? Mengapa jalan yang dipilih terasa semakin sulit? Dan, yang paling mendasar, mengapa Tuhan seolah memberikan hasil yang berbeda dari apa yang selama ini diperjuangkan?

Baca Juga: Dituduh Netizen Mau Lepas Tanggung Jawab Terhadap Anak, Ini Jawaban Audi Marissa

Lewat “Matematika Tuhan Berbeda”, Arda Hatna mengajak pendengar melihat persoalan tersebut dari sudut pandang lain.

Arda mengatakan, manusia memiliki keterbatasan dalam membaca perjalanan hidup. Apa yang terlihat sebagai kehilangan, kegagalan, atau keterlambatan belum tentu memiliki arti yang sama dalam perhitungan Tuhan.

“Saya membuat lagu ini bukan karena saya sudah menemukan semua jawaban tentang hidup. Justru karena saya masih belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa saya pahami," kata Arda Hatna.

"Kadang kita merasa sudah berusaha maksimal, tapi hasilnya belum sesuai harapan. Dari situ saya belajar bahwa mungkin bukan Tuhan yang salah menghitung, tetapi kita yang memakai rumus yang berbeda,” imbuhnya.

Pemikiran tersebut menjadi inti dari lagu “Matematika Tuhan Berbeda”. Arda mencoba menggambarkan bagaimana manusia sering menggunakan ukuran yang sangat terbatas untuk menilai sebuah peristiwa.

Kehilangan, misalnya, kerap langsung dianggap sebagai pengurangan. Penundaan dipandang sebagai kegagalan, sementara jalan hidup yang berliku dianggap sebagai tanda bahwa seseorang sedang berada di arah yang salah.

Padahal, bisa jadi ada alasan yang belum terlihat di balik setiap kejadian.

Kehilangan mungkin sedang membuka ruang untuk sesuatu yang baru. Penundaan bisa menjadi cara untuk menunggu waktu yang lebih tepat. Sementara kegagalan dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju sesuatu yang lebih bermakna.

Berangkat dari Kegelisahan tentang Hidup

“Matematika Tuhan Berbeda” tidak lahir dari posisi Arda sebagai seseorang yang mengaku telah menemukan seluruh jawaban kehidupan.

Sebaliknya, lagu tersebut justru menjadi refleksi atas proses belajar menerima bahwa tidak semua hal harus langsung dipahami.

Pertanyaan tentang arti kebaikan juga menjadi bagian penting dalam karya ini.

“Buat apa jadi baik? kalau yang jahat selalu menang” menjadi salah satu pertanyaan yang menggambarkan kegelisahan manusia ketika kebaikan seolah tidak memberikan hasil yang terlihat secara langsung.

Melalui lagu ini, Arda menawarkan perspektif bahwa kebaikan tidak selalu harus diukur dari hasil yang segera diterima.

Apa yang dilakukan seseorang hari ini mungkin belum memperlihatkan hasilnya. Namun, bukan berarti kebaikan tersebut kehilangan makna.

Pesan itu kemudian dirangkum dalam keyakinan bahwa setiap orang memiliki 'jatah' masing-masing dan setiap jatah tersebut tidak akan salah alamat.

Artwork Permainkan Perspektif

Pesan mengenai sudut pandang tersebut tidak hanya disampaikan melalui lirik, tetapi juga diterjemahkan Arda melalui artwork “Matematika Tuhan Berbeda”.

Foto yang digunakan sebenarnya memperlihatkan Arda dalam posisi berbaring di jalan yang berbatasan dengan laut. Namun, gambar tersebut kemudian diputar sehingga menciptakan ilusi seolah-olah Arda sedang berada di ketinggian. Permainan perspektif tersebut menjadi representasi visual dari gagasan utama lagu.

Apa yang terlihat oleh manusia belum tentu menggambarkan keseluruhan kenyataan. Dengan mengubah sudut pandang, sebuah situasi yang sebelumnya terlihat seperti masalah dapat memiliki makna berbeda.

Konsep tersebut membuat artwork tidak sekadar menjadi pelengkap perilisan lagu, tetapi ikut memperkuat pesan yang ingin disampaikan Arda.

Eksplorasi Cerita Manusia lewat Musik

Sebelum merilis “Matematika Tuhan Berbeda”, Arda Hatna telah menghadirkan sejumlah karya yang dekat dengan pengalaman sehari-hari. Di antaranya berjudul “Orang Tak Enakan”, “Belajar Jadi Bapak”, “Iya Iya Tidak Tidak”, dan “Tumbuh Bersama”.

Sebagai musisi independen, Arda konsisten mengeksplorasi cerita tentang manusia, mulai dari proses memahami diri sendiri, keluarga, hubungan, hingga berbagai fase dalam perjalanan hidup. Kecenderungan tersebut kembali terlihat dalam karya terbarunya.

Alih-alih menawarkan jawaban sederhana atas persoalan hidup, “Matematika Tuhan Berbeda” hadir sebagai teman bagi mereka yang sedang berada dalam fase penuh pertanyaan.

Lagu ini ditujukan bagi siapa pun yang merasa lelah setelah berjuang, kecewa karena harapan belum terwujud, merasa tertinggal dari orang lain, atau mulai kehilangan keyakinan terhadap perjalanan yang sedang dijalani.

Dibalut aransemen pop folk yang hangat dan lirik reflektif, Arda berusaha membuat lagu yang bukan hanya enak didengar, tetapi juga memiliki ruang untuk direnungkan.

Pada akhirnya, “Matematika Tuhan Berbeda” tidak berusaha menjawab seluruh pertanyaan tentang hidup. Lagu ini justru mengajak pendengar menerima kemungkinan bahwa manusia memang tidak selalu mampu memahami seluruh perhitungan di balik sebuah kejadian.

Sebab, apa yang hari ini terlihat sebagai kehilangan belum tentu benar-benar sebuah kehilangan. Apa yang terasa seperti keterlambatan belum tentu merupakan kegagalan.

Mungkin saja manusia hanya sedang melihat satu bagian kecil dari perhitungan yang jauh lebih besar. Dan dalam matematika Tuhan, hasil akhirnya bisa jadi memang berbeda dari rumus yang selama ini digunakan manusia.

EDITOR: Abdul Rahman