JawaPos.com - AUTOPSY: Dead Body Can Talk resmi tayang di bioskop seluruh Tanah Air mulai 3 September 2026. Film bergenre forensic thriller-horror ini menawarkan cerita yang berbeda dengan mengangkat kisah nyata tentang perjalanan dokter forensik perempuan bernama Sumy Hastry Purwanti.
Sebelum menyapa penonton di layar lebar, film yang disutradarai Ozan Ruz tersebut menggelar Gala Premiere di XXI Epicentrum, Jakarta, belum lama ini. Acara itu dihadiri lebih dari 1.300 tamu dari berbagai kalangan. Mulai dari media, aktor dan aktris, filmmaker, pejabat, influencer, hingga kalangan publik figur.
Sejumlah pemeran utama turut hadir dalam acara itu. Masayu Anastasia yang memerankan karakter dr. Hastry tampil bersama Riyuka Bunga, Rifnu Wikana, Ge Pamungkas, Nagra Pakusadewo, dan jajaran pemain lainnya.
Malam Gala Premiere juga diramaikan sejumlah nama publik figur di antaranya Baim Wong, Wulan Guritno, Asri Welas, Aming, Ummi Quary, Amanda Salmakhira, Daffa Ariq, dan Ranggi Pratama.
Baca Juga: DJ Katty Butterfly Tetap Dipaksa Tampil di Kelab Malam Bandung Padahal Kondisinya Drop
Angkat Kisah Nyata Dokter Forensik
Yang menjadi daya tarik utama film AUTOPSY: Dead Body Can Talk adalah sumber ceritanya. Film ini terinspirasi dari perjalanan Sumy Hastry Purwanti, dokter forensik perempuan yang telah puluhan tahun berkecimpung dalam dunia kedokteran forensik.
Cerita kemudian membawa penonton memasuki dunia yang relatif jarang menjadi fokus utama film Indonesia, yakni proses autopsi, pemeriksaan jenazah, investigasi forensik, hingga upaya mencari petunjuk dari bagian tubuh korban.
Dalam film tersebut, Masayu Anastasia dipercaya memerankan karakter yang terinspirasi dari sosok dr. Hastry. Lewat karakter tersebut, penonton diajak melihat bagaimana seorang dokter forensik bekerja ketika berhadapan dengan kasus kematian yang membutuhkan ketelitian dan pendekatan ilmiah.
Konsep tersebut menjadi dasar dari judul film, Dead Body Can Talk, yang menggambarkan gagasan bahwa jasad korban dapat memberikan petunjuk mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Keterlibatan dr. Sumy Hastry dalam proses peoduksi film juga menjadi salah satu aspek yang membedakan film AUTOPSY. Perspektif dari dunia kedokteran forensik digunakan untuk membantu menghadirkan gambaran profesi secara lebih dekat, sekaligus memperlihatkan sisi kemanusiaan di balik pekerjaan yang bersinggungan langsung dengan kematian.
Padukan Forensik dan Horor
Tidak hanya mengandalkan unsur investigasi, AUTOPSY: Dead Body Can Talk memadukan dunia forensik dengan ketegangan khas thriller dan atmosfer film horor.
Perpaduan tersebut membuat film ini tidak sekadar menghadirkan misteri tentang kematian, tetapi juga mencoba mengeksplorasi bagaimana bukti-bukti forensik dapat menjadi bagian penting dalam proses mengungkap sebuah kasus.
Pendekatan forensic thriller-horror sekaligus memperluas eksplorasi genre dalam perfilman Indonesia. Selama ini, cerita bertema forensik lebih sering ditempatkan sebagai bagian dari drama kriminal atau misteri, sementara AUTOPSY menjadikannya sebagai fondasi utama cerita.
Dari sisi produksi, film ini disutradarai Ozan Ruz. Sementara posisi Executive Producer diisi oleh AKBP H. Hidayatullah, S.H., S.I.K., Defri Saputra, serta AKBP Rina S.N. Tarigan, S.I.K., M.H. Adapun Marsa Moessa dan Faris Stanzah dipercaya sebagai Producer.
Baca Juga: DJ Katty Butterfly Dituntut Ganti Rugi Rp 146 Juta hingga Diancam Proses Hukum Buntut Batal Tampil
Setelah Gala Premiere yang berlangsung di Jakarta, AUTOPSY: Dead Body Can Talk kini memasuki tahap yang paling penting, yakni bertemu langsung dengan penonton di bioskop.
Film ini mulai tayang di bioskop Indonesia pada 3 September 2026, membawa cerita tentang dunia forensik, investigasi kematian, dan pencarian kebenaran melalui pendekatan thriller-horror.