JawaPos.com - Trolley Problem atau trolley dilemma adalah sebuah eksperimen klasik yang dikembangkan oleh Filsuf Philippa Foot pada tahun 1967. Dalam eksperimen ini, kita akan diajak berpikir mana yang terbaik untuk kita atau orang banyak.
Bayangkan kita sedang berdiri di samping rel kereta. Dari kejauhan ada serangkaian kereta sedang meluncur ke arah lima orang, tapi tidak seorang pun bisa mendengar kereta tersebut.
Karena kita dekat dengan rel kereta, kita bisa mengalihkan kereta itu ke jalur rel lain. Tapi di jalur lain pun ada satu orang di rel tersebut yang sama tidak menyadari keberadaan kereta.
Di sini kita diajak berpikir, apakah kita akan menarik tuas rem kereta untuk menyelamatkan lima orang tersebut atau membiarkannya agar satu orang tetap aman.
Baca Juga: Sinopsis Film Hidden Figures (2016): Mengenal Tiga Sosok Perempuan Hebat dalam Sejarah NASA
Topik diskusi ini sering digunakan untuk mengajak banyak orang memikirkan pilihan apa yang terbaik untuk kita atau orang-orang di sekitar kita.
Ryland Grace (Ryan Gosling) adalah satu-satunya anggota kru yang terbangun dan masih hidup di dalam pesawat luar angkasanya. Dua anggota lainnya tidak selamat karena suatu kesalahan, sehingga mereka meninggal dalam tidur mereka.
Akan tetapi, Grace terbangun tanpa ingatan apa pun. Ia masih bisa berpikir, berhitung, dan mengenal sains karena ia adalah seorang ilmuwan. Tapi ia sama sekali tidak ingat bagaimana ia bisa ada di pesawat tersebut dan apa tujuan perjalanannya.
Untungnya, perlahan-lahan ia dapat mengingat sedikit demi sedikit. Ia ingat bahwa ia adalah guru IPA di sebuah SMP dan sebelumnya ia adalah ahli biologi molekuler.
Ia ingat bahwa para peneliti mulai menyadari bahwa Matahari, pusat tata surya kita, mulai meredam. Mereka juga menemukan sebuah garis infra merah yang tersambung antara Matahari dan Venus, garis ini dinamai Garis Petrova.
Hal yang membuat cahaya Matahari meredam ini adalah sebuah mikroorganisme berwarna hitam. Para peneliti memberinya nama astrofage, yang berarti "pemakan Matahari" dalam bahasa Yunani. Dan mereka menyadari bahwa jumlah mikroorganisme ini makin meningkat dan menutupi Matahari.
Apabila tidak dihentikan, Bumi akan mengalami pendinginan global dalam waktu tiga puluh tahun.
Eva Stratt (Sandra Huller), seorang agen pemerintah, ingin merekrut para peneliti terbaik di seluruh dunia untuk mempelajari astrofage ini.
Salah satunya adalah Grace, yang segera menemukan fakta bahwa satu sel astrofage sendiri dapat menembus radiasi elektromagnetik dan berkembang biak dengan bantuan karbon dioksida di Venus serta tenaga dari Matahari.
Mengetahui penemuan ini, Eva memberi tahu Grace bahwa seluruh negara telah berdiskusi dan hendak melaksanakan sebuah misi Proyek Hail Mary. Sebuah misi bunuh diri ke satu-satunya bintang yang tidak termakan, Tau Ceti.
Para pemerintah berhasil mengumpulkan lima orang yang bersedia menjadi awak kru menuju Tau Ceti ini. Seorang kapten, teknisi, ilmuwan dan beberapa cadangan lain.
Berkat temuan Grace dan para peneliti lainnya, mereka berhasil mengembangbiakkan astrofage yang mereka miliki dan menjadikannya bahan bakar pesawat menuju Tau Ceti. Sayangnya mereka tidak dapat mengira seberapa kuat tenaga yang didapatkan dari astrofage ini, sampai tempat penelitian mereka meledak dan memakan nyawa para peneliti yang hendak dikirim ke Tau Ceti.
Eva terpaksa mengirimkan Grace sebagai pilihan terakhir mereka. Tentunya Grace menolak mentah-mentah, mengetahui bahwa misi ini adalah misi bunuh diri. Sehingga mereka mengirim Grace secara paksa.
Grace dibius secara paksa, sedangkan dua awak lainnya sudah bersiap diri. Mungkin karena dosis bius yang berbeda ini menyelamatkan Grace, sedangkan kedua awak lainnya meninggal dalam tidur mereka.
Setelah mengingat semua itu, Grace bertemu dengan sebuah kapal alien yang memarkirkan diri berdekatan dengan Hail Mary. Anehnya, pesawat itu terbuat dari xenon dan dinahkodai oleh alien berwujud seperti batu. Dan ternyata, Grace dan alien ini memiliki misi yang sama.
Film 'Project Hail Mary' (2026) adalah adaptasi dari novel fiksi sains dengan judul yang sama oleh Andy Weir, penulis 'The Martian'.
Melalui film ini kita diajak memikirkan kepentingan umat manusia di Bumi dengan harus merelakan beberapa orang hebat. Mungkin terdengar egois, tapi itulah dilema kemanusiaan yang harus kita pikirkan setiap saat.
Kita juga diajak belajar bersosialisasi dengan orang, atau makhluk, baru yang mungkin dapat membantu kita berkembang lebih baik lagi.
Film ini memiliki hasil editing dan efek yang sangat bagus, sehingga membuat para penontonnya merasa seperti sedang berada di luar angkasa pula. Selain itu, penulisan dialognya sangat bagus, sehingga setiap guyonannya dapat dimengerti oleh semua penonton.
Film ini baru saja dirilis pada Maret 2026 ini, namun telah memenangkan banyak sekali penghargaan. Seperti Best Drama dan Best Fantasy/Adventure di Penghargaan Golden Trailer 2026, serta Truly Moving Picture Award 2026.
Film ini mendapatkan skor 8.2/10 di IMDb dan 94% Tomatometer di Rotten Tomatoes.