← Beranda
Visualisasi Hantu Penebok Akhirnya Muncul dalam Film The Bell: Panggilan untuk Mati
Abdul RahmanKamis, 30 April 2026 | 06.39 WIB
Jumpa pers film The Bell: Panggilan untuk Mati. (Abdul Rahman/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Film horor The Bell: Panggilan untuk Mati siap meramaikan industri perfilman Tanah Air dengan menghadirkan sosok hantu Penebok sebagai ikon horor baru yang berakar dari folklore lokal. Film hasil kolaborasi rumah produksi MBK Productions dan Sinemata Productions ini dijadwalkan akan tayang di bioskop Tanah Air mulai 7 Mei 2026.

Film The Bell: Panggilan untuk Mati menawarkan teror berbeda dengan mengangkat kekuatan mitos lokal yang masih jarang tereksplorasi di layar lebar. Kehadiran hantu Penebok sebagai sosok utama diharapkan mampu memberikan warna baru di tengah maraknya film horor Indonesia yang terus mendominasi pasar perfilman nasional.

Film ini tidak sekadar mengandalkan ketakutan instan, tetapi juga menghadirkan pengalaman horor yang memiliki akar budaya kuat. Melalui pendekatan cerita yang terinspirasi dari kepercayaan masyarakat, film ini membangun atmosfer mencekam yang terasa dekat dengan realitas sosial sekaligus memperkuat identitas cerita lokal di tengah arus globalisasi konten.

Secara garis besar, The Bell: Panggilan untuk Mati berkisah tentang sebuah lonceng keramat di Belitung yang dipercaya mampu mengurung roh-roh jahat. Namun, ketenangan tersebut berubah menjadi bencana ketika lonceng itu dicuri oleh sekelompok anak muda demi membuat konten viral di media sosial.

Baca Juga: Erin, Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan Kasus Penganiayaan

Tanpa mereka sadari, tindakan tersebut justru membebaskan Penebok, entitas mengerikan yang telah terkurung selama ratusan tahun. Teror pun mulai menghantui satu per satu pelaku pencurian, hingga akhirnya menyebar ke warga desa. Dalam situasi yang semakin mencekam, Danto dan Airin ikut terseret dalam rangkaian peristiwa penuh ancaman tersebut.

Sutradara Jay Sukmo menghadirkan pendekatan visual yang berbeda dalam film ini dengan menggunakan tiga aspek rasio gambar untuk membedakan setiap periode waktu dalam cerita. Teknik tersebut membuat perpindahan waktu terasa lebih jelas sekaligus memberikan pengalaman visual yang tidak biasa bagi penonton film horor Indonesia.

"Ada treatment yang mungkin belum ada di film horor lain, seperti penggunaan tiga frame aspek rasio yang berbeda untuk menggambarkan setiap periodenya,” ujar sang sutradara.

Menurut Jay Sukmo, dirinya ingin menghadirkan rasa takut yang lahir dari cerita dan situasi, bukan hanya dari kejutan semata. Ia menilai bahwa pendekatan naratif yang kuat akan membuat penonton lebih terlibat secara emosional dan merasakan ketegangan yang lebih mendalam sepanjang film berlangsung.

Aktor senior Mathias Muchus yang juga terlibat dalam film The Bell: Panggilan untuk Mati mengatakan bahwa film ini tidak hanya menghadirkan nuansa mencekam, tapi juga memperkenalkan kebudayaan lokal kepada masyarakat luas melalui medium film.

Baca Juga: Habib Mahdi Ancam Buka Aib Syekh Ahmad Al Misry Jika Lakukan Klarifikasi Lagi

"Bagi saya ini menarik karena horor yang dibangun bukan sekadar menakutkan, tapi memiliki akar budaya dan makna yang kuat. Sesuatu yang penting untuk dihadirkan agar penonton tidak hanya merasa takut, tapi juga memahami,” paparnya.

Selain menyuguhkan teror yang menegangkan, film ini juga mengangkat isu sosial yang dekat dengan kehidupan generasi saat ini. Fenomena obsesi terhadap viralitas dan konten sensasional menjadi salah satu pesan penting dalam cerita, sekaligus menjadi bahan renungan terkait kecenderungan sejumlah orang yang sering mengabaikan risiko demi mencari popularitas di dunia maya.

EDITOR: Abdul Rahman