JawaPos.com – Penampilan band asal Amerika Serikat, The Strokes di festival musik akbar Coachella 2026 mendadak menjadi perbincangan global. Band yang digawangi Julian Casablancas (vokal), Nick Valensi (gitar), Albert Hammond Jr. (gitar), Nikolai Fraiture (bass), dan Fabrizio Moretti (drum) itu menutup set mereka dengan visual bernuansa politik yang menyinggung konflik di Timur Tengah.
Dalam penampilan akhir pekan kedua festival, The Strokes membawakan tembang penutup berjudul Oblivius, tembang yang terakhir kali mereka bawakan secara live pada 2016 silam.
Mereka membawakan lagu itu sembari menampilkan video montage yang memperlihatkan cuplikan kehancuran di Gaza dan Iran akibat serangan Israel dan Amerika Serikat.
Baca Juga: Jumlah Korban Tewas Akibat Agresi Israel di Gaza Capai 72.549 Orang
Visual tersebut disertai narasi kritik terhadap aksi militer yang terjadi di kawasan tersebut, memicu reaksi luas di media sosial dan publik internasional. Lirik pada reff lagu ini pun menyiratkan kondisi dunia yang saat ini sedang terpecah belah akibat perang yang tengah berkobar:
What side are you standing on?
What side you standing on?
What side are you standing on?
What side you standing on?
Di pihak mana kamu berdiri? Siapa yang kamu bela?
Tak ayal, video ini langsung dibanjiri pujian banyak orang. Netizen yang mengecam tindakan Israel dan Amerika Serikat, termasuk Indonesia, ramai-ramai menyanjung The Strokes atas aksi panggung mereka yang dinilai sangat berani tersebut.
Namun, aksi tersebut juga memicu perdebatan. Jika sebagian pihak menilai langkah The Strokes sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina, ada pula pihak lain menganggapnya sebagai tindakan politis yang sensitif dalam panggung hiburan global.
Penampilan The Strokes sendiri merupakan salah satu momen yang paling dinantikan di Coachella tahun ini. Mereka tampil di panggung utama pada akhir pekan kedua dengan membawakan sejumlah lagu hits seperti Last Nite, Reptilia, Someday, You Only Live Once, dan The Adults Are Talking. Mereka juga membawakan single terbaru mereka yang baru saja dirilis, Going Shopping.
Untuk diketahui, fenomena musisi yang menyuarakan isu Palestina di panggung internasional sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah artis dan band juga menggunakan konser sebagai medium ekspresi politik, terutama terkait konflik kemanusiaan.
Namun, skala eksposur Coachella sebagai salah satu festival musik terbesar di dunia membuat aksi The Strokes kali ini memiliki dampak yang jauh lebih luas. Bukan hanya di kalangan penggemar musik, tetapi juga dalam diskursus politik global.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi lanjutan dari The Strokes terkait kontroversi tersebut. Meski demikian, aksi mereka menegaskan bahwa panggung musik semakin sering menjadi ruang bagi ekspresi sikap sosial dan politik di era modern.