← Beranda
Tujuh Seri Moto3 2026: Veda Ega Sudah Cetak Sejarah, Kini Berburu Status Rookie Terbaik
AntaraSelasa, 2 Juni 2026 | 02.51 WIB
Veda Ega Pratama saat menjalani sesi Moto3 Italia 2026 di Sirkuit Mugello. (Honda Team Asia)

 

 

JawaPos.com - Tujuh seri pertama Moto3 2026 menghadirkan gambaran lengkap tentang perjalanan seorang rookie di level tertinggi balap motor dunia. Ada catatan sejarah, podium, rekor, kecelakaan, hingga persaingan ketat yang membuat nama Veda Ega Pratama terus menjadi sorotan.

Pembalap 17 tahun asal Gunungkidul, Yogyakarta, itu datang ke Kejuaraan Dunia Moto3 dengan bekal prestasi mentereng dari Asia Talent Cup dan Red Bull Rookies Cup.

Namun, persaingan di Grand Prix menghadirkan tantangan berbeda yang menguji konsistensi serta kematangan seorang pembalap muda.

Sejak debut di GP Thailand pada 1 Maret lalu, Veda langsung menunjukkan bahwa dirinya layak berada di grid Moto3. Mengendarai Honda NSF250RW milik Honda Team Asia, ia finis kelima di Sirkuit Chang International Circuit, Buriram.

Hasil tersebut menjadi salah satu debut terbaik yang pernah dicatatkan pembalap pendatang baru dalam beberapa musim terakhir.

Momentum itu berlanjut ke GP Brasil. Di sana, Veda menorehkan sejarah yang selama ini belum pernah dicapai pembalap Indonesia. Finis ketiga membuatnya menjadi pembalap Indonesia pertama yang berhasil naik podium di ajang Grand Prix. Dalam dua seri awal saja, Veda sudah mengoleksi 27 poin dan menempati posisi ketiga klasemen sementara Moto3.

Namun, perjalanan musim perdananya tidak selalu berjalan mulus. GP Amerika Serikat di Austin menjadi titik balik pertama. Setelah kembali tampil impresif dalam kualifikasi dengan menempati posisi start keempat, Veda mengalami highside pada lap kelima dan gagal finis.

DNF pertama musim ini membuatnya kehilangan peluang meraih poin besar sekaligus turun dari posisi ketiga ke peringkat ketujuh klasemen.

Meski demikian, respons Veda setelah insiden tersebut menunjukkan kematangan yang mulai terbentuk. Di Jerez, Spanyol, ia hanya memulai balapan dari posisi ke-17. Alih-alih tenggelam di papan tengah, Veda mampu menyalip 11 pembalap dan finis keenam.

Tidak berhenti di situ, Veda juga mencatatkan rekor kecepatan tertinggi Moto3 dengan Honda NSF250RW. Catatan 222,2 km per jam yang dibukukannya melampaui rekor sebelumnya milik Daniel Holgado dan Adrian Fernandez yang sama-sama mencatat 221,3 km per jam.

Performa kompetitif kembali ditunjukkan saat GP Prancis di Le Mans. Menghadapi balapan basah pertamanya musim ini, Veda tampil tenang dan konsisten hingga finis keempat. Tambahan 13 poin membuatnya naik ke posisi lima klasemen sementara.

Tantangan berikutnya datang di Catalunya. Dominasi pembalap Spanyol membuat Veda kesulitan sepanjang sesi kualifikasi hingga harus memulai balapan dari posisi ke-20.

Namun, lagi-lagi ia memperlihatkan kemampuan bangkit saat balapan berlangsung. Delapan pembalap berhasil dilewati pada lap pertama dan akhirnya ia mengakhiri lomba di posisi kedelapan.

Mugello yang selama ini menjadi salah satu sirkuit favoritnya sempat memberi harapan besar. Veda pernah meraih dua kemenangan di sana ketika masih berkompetisi di Red Bull Rookies Cup. Akan tetapi, balapan Moto3 Italia berlangsung penuh drama.

Start dari posisi ke-13, Veda sempat merangsek ke posisi enam pada lap pertama dan bahkan menembus empat besar menjelang akhir lomba. Insiden yang melibatkan Maximo Quiles membuat ritmenya terganggu dan memaksanya turun ke posisi tujuh sebelum akhirnya finis kedelapan.

Hasil di Mugello membuat Veda tetap bertahan di peringkat kelima klasemen Moto3 dengan koleksi 66 poin. Angka tersebut memang masih terpaut jauh dari pemuncak klasemen Maximo Quiles yang sudah mengumpulkan 140 poin berkat enam kemenangan dari tujuh seri.

Namun, target yang lebih realistis saat ini berada di klasemen rookie. Persaingan kategori pendatang baru menjadi salah satu cerita menarik musim ini.

Brian Uriarte, rival lama Veda saat masih bertarung di Red Bull Rookies Cup 2025, kini memimpin klasemen rookie dengan 67 poin setelah meraih kemenangan di Mugello. Veda berada tepat di belakangnya dengan selisih satu poin saja. Sementara pembalap Malaysia Hakim Danish menempati posisi ketiga dengan 43 poin.

Tujuh seri pertama menunjukkan bahwa Veda belum menjadi pembalap yang mampu mendominasi Moto3 seperti yang dilakukan Quiles. Namun, ia berhasil membuktikan diri sebagai salah satu rookie paling kompetitif musim ini. Podium bersejarah, rekor kecepatan, serta konsistensi finis di zona poin menjadi fondasi penting dalam musim debutnya.

Perjalanan masih panjang. Sebanyak 13 seri tersisa akan menentukan apakah Veda mampu merebut status rookie terbaik musim ini, atau bahkan membuka peluang untuk masuk dalam perebutan posisi tiga besar klasemen akhir.

Baca Juga: Reaksi Veda Ega usai Finis Posisi 8 Moto3 Italia 2026

Yang pasti, dalam waktu kurang dari setengah musim, Veda sudah menghadirkan sejumlah momen yang mengubah peta sejarah balap motor Indonesia di level Grand Prix. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan