JawaPos.com - Susu yang selalu tersedia di kulkas, handuk bersih yang sudah disiapkan untuk digunakan, hingga jadwal ke dokter yang diatur agar tidak berbenturan dengan kesibukan lain.
Hal-hal kecil ini mungkin terlihat sepele, tetapi ada seseorang yang selalu mengingat dan memastikan semuanya terpenuhi.
Tanpa disadari, orang tersebut tidak hanya mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi juga terus memikirkan apa yang dibutuhkan keluarga, apa yang hampir habis, dan apa yang harus dipersiapkan berikutnya.
Inilah yang disebut beban mental rumah tangga (mental load), yaitu tanggung jawab untuk mengingat, merencanakan, dan mengatur berbagai kebutuhan keluarga, bahkan sebelum pekerjaan itu benar-benar dilakukan.
Alasan semuanya berjalan lancar dan sering kali usaha ini tidak terlihat. Padahal, terus-menerus memikirkan banyak hal sekaligus bisa melelahkan, baik secara fisik maupun emosional.
Itulah sebabnya, berbagi tanggung jawab rumah tangga bukan hanya soal membagi pekerjaan, tetapi juga tentang berbagi beban pikiran agar tidak ada satu orang yang harus mengurus semuanya sendirian.
Bila Anda merasa capek mengatur semuanya sendirian, kemungkinan besar Anda sedang memikul beban itu. Kabar baiknya, beban ini bisa dibagi.
Melansir dari laman YourTango pada Selasa (13/10), menyebut pekerjaan yang paling sering dianggap remeh dan menjadi beban mental dalam rumah tangga.
Pekerjaan yang dilakukan mulai dari mengatur jadwal, mengoordinasikan segalanya, mengisi ulang persediaan, memberi dukungan emosional dan memecahkan masalah.
Beban ini punya dampak nyata, dikaitkan dengan depresi, stres, kelelahan, dan relasi pasangan yang lebih buruk.
Beban mental ini terjadi dalam empat tahap, mengantisipasi, mengidentifikasi, memutuskan, dan memantau.
Dalam sebuah studi menyebutkan, perempuan lebih sering memikul tahap antisipasi dan pemantauan, bahkan untuk tugas yang secara resmi diserahkan kepada pasangan.
Berikut beberapa langkah yang dapat anda lakukan untuk mengurangi beban dalam rumah tangga:
1. Tuliskan semua yang tak terlihat
Buat daftar pekerjaan, termasuk yang biasanya hanya ada di kepala, agar pasangan atau keluarga tahu apa saja yang selama ini dikerjakan.
2. Bicarakan pembagian yang spesifik
Berdiskusi tentang tanggung jawab yang jelas adalah salah satu cara menyeimbangkan beban.
3. Serahkan tugas secara utuh
Jangan hanya meminta bantuan mengerjakan, berikan kepemilikan penuh atas satu tugas dan mulai dari mengingat hingga memastikan selesai.
4. Libatkan anak sesuai usia
Anak yang mulai mengerjakan tugas rumah sejak usia tiga sampai empat tahun cenderung lebih mandiri dan punya hubungan baik dengan orang sekitar.
5. Hargai satu sama lain
Ucapkan terima kasih pada pekerjaan yang sering luput, hal ini termasuk dukungan emosional yang dapat diberikan kepada pasangan.
Berbagi beban mental bukan soal siapa paling banyak bekerja, melainkan memastikan tak ada satu orang pun yang menopang rumah sendirian.