Tidak sedikit orang yang merasa perlu menjaga citra. Mereka memikirkan bagaimana perkataan mereka diterima, apakah orang lain menyukai mereka, apakah penampilan mereka dianggap menarik, atau apakah keputusan yang mereka ambil akan mendapat persetujuan dari lingkungan.
Namun, ada juga orang yang tampaknya tidak terlalu memikirkan semua itu.
Mereka bisa berpakaian sesuai kenyamanan sendiri, mengatakan pendapat tanpa terlalu takut tidak disukai, memilih jalan hidup yang berbeda dari kebanyakan orang, dan tetap tenang meskipun mengetahui bahwa orang lain mungkin memiliki penilaian negatif terhadap mereka.
Apakah mereka benar-benar tidak peduli? Belum tentu. Dalam psikologi, sikap seperti ini bisa muncul dari berbagai alasan. Ada yang memang memiliki tingkat kebutuhan akan penerimaan sosial yang lebih rendah.
Ada yang sudah memiliki rasa aman dalam dirinya. Ada pula yang sebenarnya pernah sangat peduli terhadap penilaian orang lain, tetapi kemudian belajar melepaskan kebutuhan tersebut.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (11/10), terdapat tujuh alasan mengapa sebagian orang terlihat tidak peduli dengan bagaimana mereka dipandang oleh orang lain.
1. Mereka Memiliki Rasa Percaya Diri yang Lebih Stabil
Salah satu alasan paling umum adalah rasa percaya diri yang relatif stabil.
Orang yang memiliki penilaian positif terhadap dirinya sendiri biasanya tidak sepenuhnya menggantungkan harga dirinya pada pendapat orang lain. Mereka tetap bisa menerima kritik atau penolakan tanpa langsung menyimpulkan bahwa dirinya tidak berharga.
Misalnya, seseorang mengunggah sebuah karya dan mendapatkan komentar negatif. Orang dengan rasa percaya diri yang lebih stabil mungkin berpikir:
"Orang ini tidak menyukai karya saya. Itu tidak otomatis berarti saya adalah orang yang buruk atau tidak mampu."
Ini berbeda dengan seseorang yang harga dirinya sangat bergantung pada validasi eksternal. Kritik kecil dapat terasa seperti serangan terhadap identitas.
Ketika seseorang sudah memiliki dasar penerimaan diri yang cukup kuat, penilaian orang lain tetap bisa didengar, tetapi tidak selalu menjadi penentu utama bagaimana ia melihat dirinya.
Ia mungkin tetap ingin dihargai, tetapi tidak merasa harus disukai semua orang.
Inilah salah satu perbedaan penting.
Tidak peduli bukan berarti tidak memiliki perasaan.
Seseorang bisa merasa sedih ketika dikritik, tetapi tetap mampu melanjutkan hidup tanpa menghabiskan seluruh energinya untuk mendapatkan persetujuan orang lain.
2. Mereka Tidak Menjadikan Validasi Sosial sebagai Sumber Utama Kebahagiaan
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kita membutuhkan hubungan, penerimaan, dan rasa memiliki. Karena itu, keinginan untuk diterima sebenarnya bukan sesuatu yang aneh.
Namun, tingkat kebutuhan setiap orang terhadap validasi sosial berbeda.
Ada orang yang merasa sangat bahagia ketika dipuji, mendapatkan banyak perhatian, atau dianggap berhasil oleh orang lain. Sebaliknya, ada orang yang mendapatkan kepuasan terutama dari aktivitas yang mereka anggap bermakna secara pribadi.
Misalnya, seseorang memilih pekerjaan yang sederhana tetapi sesuai dengan nilai hidupnya. Orang lain mungkin menganggap pilihan itu kurang bergengsi.
Namun bagi dirinya, pekerjaan tersebut memberikan kebebasan, ketenangan, atau kesempatan untuk melakukan sesuatu yang ia sukai.
Ia tidak membutuhkan semua orang untuk memahami keputusannya.
Dalam psikologi, kondisi seperti ini berkaitan dengan motivasi intrinsik. Seseorang melakukan sesuatu karena aktivitas tersebut memiliki makna atau kepuasan bagi dirinya sendiri, bukan semata-mata karena penghargaan dari luar.
Orang seperti ini cenderung bertanya:
"Apakah pilihan ini sesuai dengan apa yang penting bagi saya?"
bukan hanya:
"Apa yang akan dipikirkan orang tentang saya?"
Perbedaan pertanyaan tersebut dapat mengubah cara seseorang menjalani hidup.
3. Mereka Sudah Menyadari Bahwa Pendapat Orang Lain Sangat Relatif
Orang yang semakin matang secara psikologis sering menyadari satu hal sederhana: penilaian manusia sangat subjektif.
Apa yang dianggap menarik oleh satu orang belum tentu menarik bagi orang lain.
Apa yang dianggap sukses oleh seseorang belum tentu dianggap sukses oleh orang lain.
Begitu juga dengan kepribadian, gaya hidup, pilihan karier, cara berpakaian, atau keputusan dalam hubungan.
Seseorang bisa melakukan hal yang sama dan mendapatkan dua reaksi yang bertolak belakang.
Satu orang mengatakan, "Kamu hebat."
Orang lain mengatakan, "Kamu terlalu berlebihan."
Jika seseorang mencoba membuat semua orang menyukainya, ia akan menghadapi tugas yang hampir mustahil.
Karena itu, sebagian orang akhirnya memahami bahwa hidup dengan tujuan mendapatkan persetujuan semua orang justru akan melelahkan.
Mereka mulai menerima bahwa akan selalu ada orang yang tidak menyukai mereka.
Dan itu bukan masalah yang harus selalu diperbaiki.
Kesadaran seperti ini dapat membuat seseorang menjadi lebih bebas secara psikologis.
Ia tetap mempertimbangkan konsekuensi sosial dari tindakannya, tetapi tidak lagi menjadikan setiap pendapat sebagai sesuatu yang harus dikendalikan.
4. Mereka Memiliki Locus of Control yang Lebih Internal
Dalam psikologi, terdapat konsep locus of control, yaitu cara seseorang memandang sumber kendali dalam hidupnya.
Secara sederhana, orang dengan locus of control yang lebih internal cenderung merasa bahwa banyak aspek penting dalam hidupnya dipengaruhi oleh pilihan, usaha, dan keputusan dirinya sendiri.
Sementara itu, seseorang yang sangat berorientasi pada penilaian eksternal mungkin lebih mudah merasa bahwa keberhasilan atau kegagalannya ditentukan oleh bagaimana orang lain melihat dirinya.
Orang dengan orientasi internal biasanya lebih fokus pada pertanyaan seperti:
Apa yang bisa saya lakukan?
Apakah keputusan ini sesuai dengan prinsip saya?
Apa yang ingin saya capai?
Apa yang dapat saya pelajari dari pengalaman ini?
Karena fokusnya berada pada hal-hal yang bisa dikendalikan, pendapat orang lain tidak selalu menjadi pusat perhatian.
Bukan berarti mereka sama sekali tidak memperhatikan lingkungan.
Mereka tetap dapat menerima saran, kritik, dan masukan.
Namun, keputusan akhirnya tidak otomatis diserahkan kepada opini publik.
Ada perbedaan antara mendengarkan pendapat orang lain dan membiarkan pendapat orang lain menentukan hidup kita.
5. Mereka Pernah Mengalami Fase Terlalu Peduli dan Akhirnya Belajar Melepaskannya
Menariknya, orang yang terlihat sangat tidak peduli terhadap penilaian sosial belum tentu sejak awal seperti itu.
Sebagian justru pernah menjadi orang yang sangat memikirkan pendapat orang lain.
Mereka mungkin pernah takut ditolak, terlalu sering membandingkan diri, berusaha menyenangkan semua orang, atau terus-menerus memikirkan apakah dirinya cukup baik.
Namun, pengalaman hidup dapat mengubah perspektif seseorang.
Setelah mengalami beberapa kekecewaan, konflik, kegagalan, atau perubahan hubungan, seseorang mungkin menyadari bahwa berusaha mendapatkan persetujuan semua orang tidak pernah benar-benar berhasil.
Ia mungkin pernah membantu seseorang dan tetap dianggap tidak peduli.
Ia mungkin pernah berusaha menjadi orang yang baik dan tetap mendapatkan kritik.
Ia mungkin pernah mengikuti ekspektasi lingkungan tetapi ternyata tetap tidak merasa bahagia.
Dari sana muncul sebuah kesadaran:
"Saya tidak mungkin mengendalikan bagaimana semua orang melihat saya."
Kesadaran ini dapat menjadi titik balik.
Orang tersebut mulai memilih mana kritik yang layak dipertimbangkan dan mana yang cukup dibiarkan berlalu.
Dalam kondisi tertentu, sikap yang terlihat seperti "tidak peduli" sebenarnya merupakan hasil dari proses belajar yang panjang.
6. Mereka Lebih Memprioritaskan Nilai Pribadi daripada Ekspektasi Sosial
Sebagian orang memiliki prinsip hidup yang cukup jelas.
Mereka tahu apa yang penting bagi mereka.
Misalnya, seseorang sangat menghargai kebebasan. Orang lain mungkin lebih menghargai stabilitas. Ada yang mengutamakan keluarga. Ada yang mengejar kreativitas. Ada pula yang lebih memilih kehidupan sederhana daripada status sosial.
Ketika nilai pribadi seseorang semakin jelas, ia memiliki semacam kompas internal.
Ia tidak harus selalu bertanya kepada lingkungan sebelum membuat keputusan.
Contohnya, seseorang mungkin memilih untuk tidak mengikuti tren tertentu meskipun hampir semua temannya melakukannya.
Bukan karena ia ingin terlihat berbeda.
Ia hanya merasa bahwa hal tersebut tidak sesuai dengan dirinya.
Orang dengan orientasi nilai yang kuat biasanya lebih mampu mengatakan:
"Saya tahu bahwa pilihan ini mungkin tidak disukai semua orang, tetapi ini sesuai dengan apa yang saya anggap penting."
Ini adalah bentuk otonomi psikologis.
Seseorang tidak hidup sepenuhnya berdasarkan standar yang dibuat orang lain.
Namun, penting untuk membedakan antara otonomi dan sikap egois.
Tidak peduli terhadap penilaian orang lain bukan berarti bebas melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan perasaan dan hak orang lain.
Orang yang sehat secara psikologis masih dapat menghargai orang lain sambil mempertahankan batas dan prinsip pribadinya.
7. Mereka Memahami bahwa Tidak Ada Cara untuk Mengontrol Persepsi Orang Lain
Ini mungkin alasan yang paling sederhana sekaligus paling mendalam.
Kita tidak bisa sepenuhnya mengendalikan apa yang dipikirkan orang lain tentang kita.
Kita bisa berusaha bersikap baik.
Kita bisa menjelaskan maksud kita.
Kita bisa menjaga perilaku dan reputasi.
Tetapi setelah itu, bagaimana orang lain menafsirkan kita berada di luar kendali kita.
Seseorang bisa menganggap kita terlalu pendiam.
Orang lain menganggap kita sombong.
Seseorang menganggap kita terlalu ambisius.
Orang lain menganggap kita tidak punya tujuan.
Bahkan ketika kita tidak melakukan apa-apa, orang lain tetap bisa memiliki interpretasi tertentu tentang diri kita.
Kesadaran ini dapat membuat seseorang berhenti berusaha mengontrol persepsi semua orang.
Ia lebih memilih mengontrol sesuatu yang memang berada dalam jangkauannya: perilakunya sendiri, keputusan yang dibuatnya, cara memperlakukan orang lain, serta bagaimana ia merespons situasi.
Pada titik tertentu, seseorang mungkin menyadari bahwa reputasi adalah sesuatu yang tidak pernah bisa dikendalikan sepenuhnya.
Yang bisa dikendalikan adalah integritas diri.
Tidak Peduli pada Penilaian Orang Lain Bukan Berarti Tidak Membutuhkan Orang Lain
Ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.
Orang yang tidak terlalu memikirkan bagaimana dirinya terlihat di mata orang lain bukan berarti tidak membutuhkan hubungan sosial.
Manusia tetap membutuhkan koneksi.
Kita tetap membutuhkan teman, keluarga, pasangan, komunitas, atau orang-orang yang dapat memberikan dukungan emosional.
Perbedaannya terletak pada seberapa besar seseorang menggantungkan harga dirinya pada penerimaan sosial.
Orang yang sehat secara psikologis biasanya mampu berada di tengah-tengah:
"Saya menghargai pendapatmu, tetapi saya tidak menyerahkan seluruh penilaian tentang diri saya kepadamu."
Itulah bentuk keseimbangan yang penting.
Tetapi, Apakah Sikap Tidak Peduli Selalu Sehat?
Tidak juga.
Ada perbedaan antara tidak bergantung pada validasi dan benar-benar tidak peduli terhadap dampak perilaku terhadap orang lain.
Misalnya, seseorang mungkin berkata:
"Saya tidak peduli apa kata orang."
Tetapi jika kalimat tersebut digunakan untuk membenarkan perilaku yang menyakiti orang lain, mengabaikan tanggung jawab, atau menolak semua kritik, itu bukan selalu tanda kesehatan psikologis.
Bisa jadi justru terdapat mekanisme pertahanan tertentu.
Orang yang benar-benar memiliki kepercayaan diri yang sehat biasanya tidak perlu membuktikan bahwa dirinya tidak peduli.
Ia cukup menjalani hidupnya.
Ia dapat menerima kritik tanpa merasa hancur.
Ia dapat mengakui kesalahan tanpa merasa harga dirinya runtuh.
Dan ia dapat berkata "tidak" tanpa harus merendahkan orang lain.
Dengan kata lain, ketidakpedulian yang sehat bukanlah ketidakpedulian terhadap semua hal.
Ia lebih dekat dengan kemampuan menentukan mana yang layak diperhatikan dan mana yang tidak.
Pada Akhirnya, Hidup Bukan Tentang Membuat Semua Orang Menyukai Kita
Semakin dewasa seseorang, semakin mungkin ia memahami bahwa hidup berdasarkan penilaian orang lain adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai.
Hari ini seseorang memuji kita.
Besok orang yang sama mungkin mengkritik kita.
Hari ini kita dianggap sukses.
Beberapa tahun kemudian standar kesuksesan orang lain mungkin berubah.
Jika identitas kita sepenuhnya bergantung pada opini eksternal, maka kita akan terus mengalami naik turun emosional mengikuti penilaian lingkungan.
Sebaliknya, ketika seseorang mulai mengenal dirinya sendiri, mengetahui nilai yang dianggap penting, dan menerima bahwa tidak semua orang akan menyukainya, ia mendapatkan ruang psikologis yang lebih besar untuk menjalani hidupnya.
Ia masih mendengarkan orang lain.
Ia masih bisa belajar dari kritik.
Ia masih menghargai hubungan.
Namun, ia tidak lagi merasa harus tampil sempurna di hadapan semua orang.
Mungkin pada akhirnya, menjadi dewasa bukan berarti kita benar-benar berhenti peduli terhadap apa yang orang lain pikirkan.
Melainkan kita belajar memilih pendapat siapa yang layak kita dengarkan.
Karena tidak semua suara harus menjadi kompas.