JawaPos.com – Orang dengan IQ tinggi memiliki cara kerja otak berbeda yang memengaruhi hampir semua tindakan, termasuk cara mereka berkomunikasi sehari-hari.
Dalam psikologi, perbedaan itu tampak jelas pada etika chatting, yaitu cara seseorang menyusun kalimat ketika berkirim kabar lewat ponsel.
Sebagian pesan teks yang dianggap wajar oleh kebanyakan orang ternyata sering justru membuat orang cerdas enggan menekan tombol kirim.
Dilansir dari laman YourTango pada Minggu (11/10), berikut delapan pesan yang jarang sekali dikirim oleh mereka, lengkap dengan alasan psikologis yang masuk akal di baliknya.
1. Paragraf panjang yang bertele-tele
Notifikasi pesan yang ternyata berisi paragraf panjang sering menimbulkan rasa cemas sekaligus bingung bagi penerimanya, terlebih isinya jarang relevan.
Orang cerdas menghindari chat bertele-tele karena mereka menghargai komunikasi langsung, menyampaikan keperluan seperlunya tanpa berlebihan dan tanpa bersikap kasar.
Gaya yang ringkas itu mungkin terasa agak mendadak, tetapi banyak orang menyukainya karena isi pesan bisa terbaca dalam sekejap.
Pesan yang padat dan jelas membuat percakapan lebih efisien, sebab penerima tidak perlu menebak bagian mana yang penting ditanggapi.
2. Banyak pesan beruntun
Banyak orang mengirim pesan dengan gaya mengalir seperti arus pikiran, beberapa pesan beruntun, alih-alih merangkum semuanya dalam satu kiriman.
Orang cerdas berpikir berbeda dari kebanyakan orang, sehingga mereka tidak melakukan hal tersebut dan lebih dulu menyusun isi pesan.
Mereka tidak hanya menghindari paragraf panjang, tetapi juga tidak mengirim lima pesan sekaligus secara berturut-turut kepada lawan bicara mereka.
Meski mengobrol lewat chat terasa santai, kebiasaan berpikir yang tertata tetap terbawa secara alami tanpa perlu usaha dari mereka.
3. Ajakan bicara tanpa konteks
Pesan singkat seperti “Kita perlu bicara” tanpa keterangan apa pun sangat mengkhawatirkan dan membuat penerimanya langsung menebak-nebak maksud sebenarnya.
Reaksi emosional yang kuat akibat pesan tersebut membuat kalimat itu tidak disarankan, seperti dibahas dalam ulasan di Psychology Today.
Orang cerdas mampu menyusun kata dengan lebih halus sehingga tidak menimbulkan kepanikan pada lawan bicara yang membaca pesan mereka.
Mereka sadar bahwa kalimat yang samar dan menegangkan hanya akan memperburuk keadaan, bukan memperjelas persoalan yang sebenarnya ingin dibicarakan.
4. Salah memakai LOL
Banyak orang membubuhkan LOL di hampir setiap pesan, bahkan ketika tidak ada hal lucu yang sedang dibicarakan dalam obrolan.
Bagi kebanyakan orang, singkatan itu berfungsi memberi nuansa ringan pada nada tulisan, bukan tanda bahwa mereka benar-benar sedang tertawa.
Kebiasaan tersebut tidak salah, tetapi orang cerdas biasanya menghindarinya karena lebih suka mengatakan maksud apa adanya lalu melanjutkan pembicaraan.
Mereka menganggap tidak perlu memperhalus kata-kata dengan sesuatu yang dinilai tidak bermakna, sebab kejelasan dianggap lebih penting daripada basa-basi.
5. Balasan satu kata
Pada situasi tertentu, balasan satu kata sudah cukup, bahkan jawaban yang lebih panjang justru bisa terkesan janggal bagi penerimanya.
Namun ketika seseorang mengirim pesan panjang dan hanya dibalas dengan “OK”, suasana menjadi canggung serta kurang bersahabat bagi pengirimnya.
Orang cerdas tidak melakukannya, bukan karena terasa kurang hangat, melainkan karena pikiran mereka tidak bekerja dalam jawaban satu kata.
Mereka tidak menambah penjelasan yang tidak perlu, tetapi tidak meringkas gagasan besar menjadi satu suku kata yang kurang bermakna.
6. Terus mengirim pesan sampai dibalas
Tidak semua orang memegang ponsel, sehingga sebagian di antaranya wajar membutuhkan waktu lebih lama untuk membalas pesan yang masuk.
Sebagian orang justru menunjukkan kegigihan berlebihan dengan mengirim pesan berulang kali hingga mendapat jawaban yang sudah lama mereka tunggu.
Kecuali saat darurat, kebiasaan itu membuat seseorang tampak haus perhatian, dan orang cerdas tahu hal itu menjengkelkan sekaligus merugikan.
Mereka memilih bersabar meskipun sulit, karena kesabaran dinilai lebih efektif untuk mendapatkan tanggapan dari lawan bicara dalam jangka panjang.
7. Curhat berlebihan di tengah malam
Pesan yang mendalam dan dikirim larut malam bisa terasa lebih canggung daripada balasan satu kata bagi orang yang menerimanya.
Penerima pesan pun bingung harus berbuat apa terhadap pengakuan blak-blakan yang datang pukul dua dini hari tanpa peringatan sebelumnya.
Peneliti meyakini bahwa cara berpikir seseorang tidak sejernih biasanya pada tengah malam, sehingga rentan membuat keputusan yang kurang tepat.
Orang cerdas menyadari otaknya tidak bekerja maksimal pada jam itu, sehingga tidak mengambil risiko mengirim pesan kecuali benar-benar terpaksa.
8. Mengoreksi tata bahasa lawan bicara
Tidak ada yang sepenuhnya kebal dari salah ketik, meskipun pesan sudah diperiksa berkali-kali sebelum akhirnya dikirimkan kepada penerima pesan.
Kekeliruan kecil yang tidak mengubah makna pesan bukan masalah besar, sehingga tidak perlu dipermasalahkan oleh lawan bicara kita.
Alih-alih menjadi polisi tata bahasa, orang cerdas membiarkannya berlalu meski terganggu, dan tidak mempermalukan seseorang dengan menunjuk langsung kesalahannya.
Sikap tersebut membuat mereka tampak jauh lebih menyenangkan, sebagaimana ditunjukkan oleh sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal PLOS ONE.
***