JawaPos.com - Kesalahan kecil dalam pemilihan kata saat wawancara kerja dapat berakibat fatal dan menggagalkan peluang diterima, meski pelamar telah menyiapkan resume terbaik.
Tim rekrutmen (HRD) sering kali menilai kedewasaan emosional, kemampuan beradaptasi, serta profesionalisme kandidat justru dari frasa atau kalimat yang diucapkan secara tidak sadar.
Dikutip dari Your Tango, para pakar karier dan psikolog mengidentifikasi beberapa ungkapan kunci yang memicu sinyal bahaya (red flag) bagi manajer perekrutan.
Menguasai seni berkomunikasi secara konstruktif dan berfokus pada potensi masa depan menjadi kunci utama memikat calon pemberi kerja.
Baca Juga: Nggak Ribet Lagi, Kendaraan Terblokir ETLE Bisa Langsung Bayar di Samsat
Berikut adalah enam jenis kalimat dan kata yang wajib dihindari saat menjalani wawancara kerja demi menjaga peluang kelulusan.
1. Komentar Negatif Terhadap Mantan Atasan
Mengungkapkan kekesalan pada mantan bos atau lingkungan kerja lama merupakan kesalahan fatal.
Pelatih karier Lisa Petsinis menegaskan, calon pemberi kerja tidak memiliki konteks lengkap mengenai dinamika perselisihan di perusahaan terdahulu.
Mencaci mantan manajer hanya akan membuat kandidat terkesan sulit diajak bekerja sama, toksik, dan enggan mengambil tanggung jawab pribadi.
HRD berpotensi menganggap pelamar sebagai figur yang menimbulkan masalah di masa depan.
Alasan kepindahan sebaiknya disampaikan secara elegan dengan berfokus pada pengembangan karier.
Tegaskan pencapaian yang telah diraih di tempat lama dan sampaikan keinginan mencari lingkungan baru yang lebih mendukung pertumbuhan profesional.
2. Penggunaan Kata Pengisi (Filler Words) Berlebihan
Gumam seperti "um", "uh", "ah", atau "oh" yang muncul berulang kali saat menjawab pertanyaan menunjukkan tingkat kegugupan serta kurangnya persiapan.
Baca Juga: 341 Korban Kecelakaan akibat Lawan Arus, Polda Metro Jaya Perkuat Pengawasan
Petsinis menjelaskan, kata tersebut memecah fokus pewawancara dan memberi kesan kurang menguasai materi.
Latihan berbicara secara konsisten menjadi kunci utama mengikis kebiasaan ini. Pelamar disarankan membaca draf jawaban secara lantang di depan cermin atau merekam video diri sendiri untuk mengevaluasi intonasi dan artikulasi.
Simulasi wawancara bersama teman, mentor, atau konsultan karier juga efektif memberikan umpan balik objektif.
Persiapan matang akan meningkatkan rasa percaya diri sehingga jawaban dapat disampaikan secara tenang dan lugas.
3. Menyangkal atau Meremehkan Kelemahan Diri
Saat menanyakan kelemahan terbesar, pewawancara sebenarnya sedang menguji tingkat kesadaran diri (self-awareness), kejujuran, dan kemauan belajar. Menjawab dengan lelucon seperti "Saya tidak punya kelemahan" justru terkesan arogan dan tidak realistis.
Bercanda tidak pada tempatnya atau menghindari pertanyaan ini dapat menurunkan kredibilitas di mata HRD.
Manajer perekrutan lebih menyukai kandidat yang mampu mengenali kekurangannya secara objektif.
Sampaikan satu area keterampilan yang sedang ditingkatkan beserta langkah nyata yang telah dilakukan untuk membenahinya. Pendekatan ini menunjukkan kepribadian yang rendah hati, jujur, serta berorientasi pada solusi.
4. Mengklaim Diri Sebagai "Perfeksionis"
Banyak pelamar menganggap mengaku sebagai seorang "perfeksionis" adalah cara cerdas memuji diri sendiri. Namun, konselor Larry Michel mengungkapkan bahwa bagi manajer perekrutan, frasa ini menjadi red flag terkait efisiensi kerja.
HRD umumnya menilai sosok perfeksionis cenderung lambat menyelesaikan tugas, sulit mendelegasikan pekerjaan, dan terhambat detail-detail kecil yang tidak krusial. Klaim ini sering dipersepsikan sebagai ketidakmampuan mengelola manajemen waktu.
Baca Juga: Unik! Kota Ini Sahkan Aturan Batasi 'Screen Time' Maksimal 2 Jam Sehari
Daripada menggunakan label tersebut, jelaskan secara detail bagaimana standar kualitas kerja dijaga. Ceritakan proses verifikasi data atau penyusunan sistem kerja yang efisien untuk meminimalkan risiko kesalahan.
5. Ungkapan Emosi Negatif Terhadap Pengalaman Kerja Lama
Menggunakan ungkapan emosional tajam seperti "Saya benci bekerja di sana" dapat merusak atmosfer wawancara. Terapis Gloria Brame memperingatkan bahwa kalimat negatif akan langsung mengubah persepsi pewawancara terhadap etika kerja kandidat.
Mengungkapkan kebencian secara terbuka mengindikasikan kurangnya kedewasaan emosional dan ketidakmampuan beradaptasi. Pihak HRD dapat mengkhawatirkan munculnya drama emosional serupa di lingkungan kantor yang baru.
Beban emosi masa lalu sebaiknya disingkirkan dan percakapan dialihkan pada hal-hal positif. Tekankan antusiasme terhadap visi perusahaan yang dilamar serta kontribusi nyata yang ingin diberikan jika diterima.
6. Penggunaan Jargon dan Istilah Teknis Berlebihan
Menggunakan bahasa korporat atau jargon teknis yang rumit tidak otomatis membuat pelamar terlihat cerdas. Profesor Brit Brogaard menyarankan agar kandidat menyederhanakan bahasa teknis saat menjelaskan pencapaian masa lalu.
Tim HRD atau manajer perekrutan tidak selalu memiliki latar belakang teknis yang mendalam di bidang tertentu. Mengasumsikan mereka memahami seluruh singkatan dan istilah abstrak hanya menciptakan jarak komunikasi.
Gunakan bahasa yang jernih, kontekstual, dan mudah dicerna tanpa mengurangi bobot pencapaian. Kemampuan menjelaskan konsep rumit dengan bahasa sederhana justru menjadi bukti penguasaan materi yang tinggi.