Namun, ada perbedaan antara memiliki standar dan terlalu memilih pasangan.
Ketika seseorang terlalu banyak mencari kesempurnaan, proses berkencan bisa berubah menjadi semacam proses seleksi yang melelahkan. Sedikit kekurangan langsung dianggap sebagai tanda bahwa seseorang tidak cocok. Perbedaan kecil dibesar-besarkan. Bahkan, orang yang sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi pasangan yang baik bisa ditolak hanya karena tidak memenuhi daftar kriteria yang sangat panjang.
Dalam psikologi, kecenderungan seperti ini dapat berkaitan dengan beberapa hal, mulai dari perfeksionisme, ketakutan terhadap keputusan yang salah, pengalaman buruk dalam hubungan sebelumnya, hingga kecenderungan mencari kepastian sebelum memberikan kesempatan kepada orang lain.
Menariknya, menjadi lebih terbuka dalam berkencan bukan berarti kamu harus menurunkan standar atau menerima perlakuan yang tidak sehat. Justru, tujuannya adalah membedakan mana standar yang benar-benar penting dan mana preferensi yang sebenarnya masih bisa dinegosiasikan.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (25/9), jika kamu merasa selama ini terlalu cepat mengatakan "tidak cocok", berikut tujuh cara yang bisa membantu.
1. Bedakan standar utama dengan preferensi pribadi
Salah satu langkah pertama yang penting adalah mengetahui apa yang benar-benar kamu butuhkan dalam sebuah hubungan.
Tidak semua kriteria memiliki bobot yang sama.
Misalnya, kejujuran, rasa hormat, kesediaan berkomunikasi, dan kesamaan nilai hidup mungkin jauh lebih penting untuk keberlangsungan hubungan dibandingkan tinggi badan, gaya berpakaian, jenis pekerjaan, atau selera musik.
Masalahnya, ketika seseorang membuat terlalu banyak daftar persyaratan, semua hal tersebut bisa terasa sama penting.
Cobalah membaginya menjadi tiga kelompok.
Pertama, kebutuhan mendasar.
Ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan keamanan emosional, nilai hidup, dan kualitas hubungan. Contohnya adalah kejujuran, rasa hormat, tanggung jawab, dan kemampuan menyelesaikan konflik secara sehat.
Kedua, preferensi.
Ini adalah hal-hal yang kamu sukai, tetapi sebenarnya tidak menentukan apakah hubungan dapat berjalan dengan baik. Misalnya tipe kepribadian tertentu, hobi, penampilan, atau profesi.
Ketiga, bonus.
Ini adalah kualitas yang menyenangkan jika ada, tetapi tidak perlu menjadi syarat.
Dengan membedakan ketiganya, kamu tidak perlu menghapus standar. Kamu hanya perlu memastikan bahwa preferensi tidak menyamar sebagai kebutuhan.
Pertanyaan sederhana yang bisa kamu tanyakan kepada diri sendiri adalah:
"Kalau orang ini tidak memenuhi kriteria ini, apakah hubungan tersebut benar-benar menjadi tidak sehat, atau hanya tidak sesuai dengan bayanganku?"
Pertanyaan tersebut dapat membantu mengurangi kecenderungan menolak seseorang hanya karena mereka tidak sesuai dengan gambaran ideal yang sudah ada di kepala.
2. Jangan menilai seseorang hanya dari kesan pertama
Kesan pertama memang penting, tetapi tidak selalu memberikan gambaran lengkap tentang seseorang.
Saat kencan pertama, seseorang mungkin merasa gugup, canggung, terlalu banyak bicara, atau justru terlalu pendiam. Kondisi tersebut belum tentu mencerminkan kepribadian mereka secara keseluruhan.
Jika kamu terlalu mengandalkan kesan pertama, kamu berisiko membuat kesimpulan yang terlalu cepat.
Misalnya, seseorang tidak terlalu pandai mengobrol pada pertemuan pertama. Kamu langsung berpikir bahwa dia membosankan.
Padahal, mungkin saja dia sedang gugup.
Atau seseorang memiliki gaya komunikasi yang berbeda denganmu. Kamu langsung menganggapnya tidak cocok, meskipun sebenarnya dia menunjukkan perhatian, rasa hormat, dan ketertarikan yang konsisten.
Dalam psikologi, manusia memang cenderung mencari pola dan membuat penilaian berdasarkan informasi yang terbatas. Karena itu, memberi sedikit ruang untuk mengenal seseorang secara bertahap dapat membantu menghasilkan penilaian yang lebih realistis.
Bukan berarti kamu harus terus berkencan dengan seseorang yang sejak awal membuatmu merasa tidak nyaman.
Namun, jika tidak ada tanda bahaya yang jelas, kamu bisa memberikan kesempatan untuk melihat apakah kesan awal tersebut benar-benar menggambarkan dirinya.
Terkadang, ketertarikan tidak selalu muncul dalam bentuk "langsung merasa cocok".
Ada hubungan yang berkembang perlahan setelah dua orang mulai memahami karakter masing-masing.
3. Perhatikan apakah kamu sedang mencari pasangan atau mencari manusia sempurna
Ini mungkin salah satu pertanyaan paling penting untuk direnungkan.
Apakah kamu sedang mencari pasangan yang cocok?
Atau sebenarnya kamu sedang mencari seseorang yang hampir tidak memiliki kekurangan?
Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna. Setiap orang membawa kebiasaan, kelemahan, pengalaman, dan cara berpikir yang berbeda.
Jika standar yang digunakan adalah "harus memenuhi hampir semuanya", kemungkinan besar proses berkencan akan berubah menjadi pencarian tanpa akhir.
Perfeksionisme dalam hubungan dapat membuat seseorang terlalu fokus pada kekurangan kecil.
Alih-alih bertanya:
"Apakah kami bisa membangun hubungan yang sehat?"
orang tersebut mungkin lebih sering bertanya:
"Apakah dia sudah sesuai dengan semua yang aku bayangkan?"
Kedua pertanyaan tersebut terdengar mirip, tetapi sebenarnya sangat berbeda.
Pertanyaan pertama berfokus pada kecocokan nyata.
Pertanyaan kedua berfokus pada kesempurnaan ideal.
Cobalah mengingat bahwa pasangan yang baik bukan berarti seseorang yang tidak memiliki kekurangan. Pasangan yang baik adalah seseorang yang memiliki kualitas yang sesuai dengan nilai-nilai pentingmu dan mampu membangun hubungan secara sehat bersamamu.
Dengan perspektif seperti ini, kamu bisa menjadi lebih realistis tanpa harus mengabaikan kebutuhanmu sendiri.
4. Beri kesempatan pada orang yang "berbeda" dari tipe idealmu
Banyak orang memiliki tipe pasangan tertentu.
Mungkin kamu menyukai orang yang sangat percaya diri, humoris, berpendidikan tinggi, ekstrover, atau memiliki gaya tertentu.
Memiliki preferensi seperti itu merupakan hal yang wajar.
Namun, masalah dapat muncul ketika "tipe ideal" menjadi satu-satunya bentuk orang yang dianggap layak untuk didekati.
Padahal, hubungan yang sehat tidak selalu datang dari seseorang yang terlihat persis seperti bayangan kita.
Seseorang yang awalnya bukan tipe idealmu mungkin ternyata memiliki kualitas yang sangat kamu butuhkan dalam hubungan.
Misalnya, kamu terbiasa tertarik pada orang yang sangat ekspresif. Kemudian kamu bertemu seseorang yang lebih tenang. Pada awalnya, kamu mungkin menganggapnya kurang menarik.
Setelah mengenalnya lebih jauh, ternyata dia memiliki kemampuan mendengarkan yang baik, stabil secara emosional, bertanggung jawab, dan mampu berkomunikasi ketika ada masalah.
Jika kamu langsung menolaknya hanya karena dia tidak sesuai dengan "tipe", kamu mungkin tidak pernah mengetahui potensi hubungan tersebut.
Karena itu, sesekali tanyakan:
"Apakah aku benar-benar tidak cocok dengannya, atau dia hanya berbeda dari tipe yang biasanya menarik perhatianku?"
Pertanyaan tersebut dapat membantu membedakan ketidakcocokan yang nyata dari sekadar ketidakbiasaan.
5. Berhenti menganggap setiap kekurangan sebagai tanda bahaya
Dalam beberapa situasi, kewaspadaan memang diperlukan.
Perilaku manipulatif, kekerasan, penghinaan, kebohongan berulang, kontrol berlebihan, atau pelanggaran batas pribadi tidak seharusnya dianggap sebagai "kekurangan kecil".
Namun, tidak semua kekurangan merupakan tanda bahaya.
Ada perbedaan antara red flag dan human imperfection.
Seseorang yang sesekali gugup ketika berbicara bukan berarti memiliki masalah serius.
Seseorang yang memiliki hobi berbeda bukan berarti tidak cocok.
Seseorang yang membutuhkan waktu untuk membuka diri bukan otomatis tidak memiliki ketertarikan.
Seseorang yang pernah membuat kesalahan kecil dalam komunikasi juga belum tentu merupakan pasangan yang buruk.
Yang perlu diperhatikan adalah pola perilaku.
Daripada menilai seseorang berdasarkan satu kejadian, lihat bagaimana dia bertindak secara konsisten.
Apakah dia mampu meminta maaf?
Apakah dia mau mendengarkan?
Apakah dia menghormati batasanmu?
Apakah dia berusaha memperbaiki kesalahan?
Apakah komunikasi menjadi lebih baik setelah kalian membicarakan masalah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering kali memberikan informasi yang lebih berguna dibandingkan sekadar mencari kesempurnaan.
6. Periksa apakah ketelitianmu sebenarnya berasal dari rasa takut
Terkadang, perilaku terlalu memilih bukan hanya tentang standar.
Di baliknya bisa terdapat rasa takut.
Takut salah memilih.
Takut disakiti.
Takut menyesal.
Takut membuang waktu.
Takut kehilangan kesempatan mendapatkan seseorang yang "lebih baik".
Akibatnya, seseorang terus mencari alasan untuk tidak melanjutkan hubungan.
Begitu menemukan satu kekurangan, muncul rasa lega:
"Untung aku tidak memilih dia."
Masalahnya, pola seperti ini bisa membuat seseorang merasa aman karena tidak mengambil risiko, tetapi sekaligus membuatnya sulit membangun kedekatan yang nyata.
Hubungan memang mengandung ketidakpastian.
Tidak ada cara untuk mengetahui sejak awal apakah seseorang benar-benar akan menjadi pasangan jangka panjang.
Karena itu, proses berkencan membutuhkan kemampuan untuk menoleransi sedikit ketidakpastian.
Cobalah bertanya kepada diri sendiri:
"Aku menolak orang ini karena memang tidak cocok, atau karena aku takut mengambil risiko emosional?"
Jika jawabannya adalah ketakutan, mungkin masalahnya bukan orang tersebut.
Mungkin ada bagian dalam dirimu yang sedang berusaha melindungi diri dari kemungkinan terluka.
Menyadari hal ini tidak berarti kamu harus memaksakan hubungan. Kesadaran tersebut hanya membantu agar keputusanmu tidak sepenuhnya dikendalikan oleh rasa takut.
7. Nilai hubungan berdasarkan bagaimana perasaanmu saat bersama dia, bukan hanya daftar kriterianya
Daftar kriteria dapat membantu, tetapi hubungan manusia tidak bisa sepenuhnya dinilai seperti daftar belanja.
Pada akhirnya, ada pengalaman emosional yang juga perlu diperhatikan.
Bagaimana perasaanmu ketika bersama orang tersebut?
Apakah kamu merasa dihargai?
Apakah kamu bisa menjadi dirimu sendiri?
Apakah percakapan terasa aman?
Apakah kamu bisa menyampaikan pendapat tanpa takut diremehkan?
Apakah dia menghormati batasanmu?
Apakah kalian dapat membicarakan perbedaan?
Apakah kamu merasa ada ruang bagi kedua orang untuk berkembang?
Pertanyaan seperti ini sering kali lebih bermakna daripada sekadar memeriksa apakah seseorang memenuhi seluruh kriteria ideal.
Tentu saja, perasaan nyaman saja tidak cukup untuk menentukan kualitas sebuah hubungan. Ketertarikan dan kenyamanan perlu berjalan bersama rasa hormat, kesesuaian nilai, komunikasi yang sehat, dan perilaku yang dapat dipercaya.
Namun, memperhatikan pengalaman nyata ketika bersama seseorang dapat membantu mengimbangi kecenderungan terlalu banyak menganalisis.
Terlalu memilih bukan berarti kamu harus menurunkan standar
Hal penting yang perlu dipahami adalah: mengurangi sikap terlalu memilih tidak sama dengan menurunkan standar.
Kamu tetap boleh memiliki batasan.
Kamu tetap boleh menolak seseorang yang tidak menghargaimu.
Kamu tetap boleh mengakhiri hubungan yang tidak sehat.
Kamu tetap boleh mencari pasangan yang memiliki nilai hidup yang sesuai.
Yang perlu dihindari adalah ketika standar tersebut berubah menjadi tuntutan kesempurnaan.
Ada perbedaan antara:
"Aku membutuhkan pasangan yang menghormati batasanku."
dan
"Pasanganku harus selalu mengatakan dan melakukan hal yang tepat tanpa pernah membuat kesalahan."
Yang pertama merupakan kebutuhan yang masuk akal.
Yang kedua hampir mustahil dipenuhi karena manusia tidak sempurna.
Karena itu, tujuan dalam berkencan bukan mencari seseorang yang memenuhi setiap detail dalam daftar ideal. Tujuannya adalah mengenali apakah ada dasar yang cukup kuat untuk membangun hubungan yang saling menghargai dan sehat.
Penutup
Memilih pasangan merupakan keputusan yang penting, sehingga wajar jika seseorang ingin berhati-hati. Namun, kehati-hatian dapat berubah menjadi terlalu banyak mencari kekurangan ketika kita mulai mengharapkan kesempurnaan atau menggunakan standar yang terlalu sempit.
Jika kamu ingin menghindari perilaku terlalu memilih saat berkencan, mulailah dengan membedakan kebutuhan dari preferensi, jangan terlalu cepat menilai dari kesan pertama, dan berikan kesempatan untuk mengenal seseorang secara lebih utuh.
Perhatikan pula apakah kamu sedang mencari pasangan yang cocok atau manusia yang sempurna. Jangan langsung menganggap setiap kekurangan sebagai tanda bahaya, dan cobalah memahami apakah keputusanmu dipengaruhi oleh ketakutan.
Pada akhirnya, berkencan bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna.
Berkencan adalah proses untuk mengetahui apakah dua orang dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing dapat membangun hubungan yang saling menghormati, aman, dan sesuai dengan nilai-nilai yang mereka anggap penting.