← Beranda
9 Ucapan Ciri Khas Orang dengan Kemampuan Berpikir Kritis Rendah Menurut Psikologi
Mohammad Maulana Iqbal• Jumat, 25 September 2026 | 16.56 WIB
Ucapan ciri khas orang dengan kemampuan berpikir kritis rendah menurut psikologi. (Magnific)

 

 

JawaPos.com - Psikologi menjelaskan bahwa orang dengan kemampuan berpikir kritis kuat mampu melihat gambaran besar tanpa terpengaruh perasaannya sendiri.

Kemampuan semacam ini ternyata semakin jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari saat ini.

Lemahnya kemampuan berpikir kritis tidak selalu berarti seseorang tidak pintar, namun membuat alur penalarannya dipertanyakan.

Dilansir dari laman YourTango pada Jumat (25/9), berikut sembilan ucapan ciri khas yang biasa diucapkan orang dengan kemampuan berpikir kritis yang rendah.

1. "Orang tidak mungkin berbohong soal itu"

Pemikir kritis biasanya bersikap layaknya penyelidik yang tidak langsung menerima informasi dari orang lain.

Mereka selalu ingin menggali lebih dalam agar tidak ada detail penting yang terlewatkan begitu saja.

Otak setiap orang cenderung memadatkan informasi agar lebih mudah dipahami dalam waktu singkat.

Namun orang tanpa kemampuan berpikir kritis merasa tidak perlu memverifikasi informasi sebelum menerimanya sebagai kebenaran.

2. "Mereka hanya benar atau salah"

Dunia sebenarnya penuh dengan nuansa yang tidak selalu terlihat oleh orang dengan penalaran lemah.

Mereka cenderung berpikir secara ekstrem dan menganggap segala sesuatu hanya benar atau salah tanpa ruang tengah.

Pola pikir ini dapat memengaruhi kemampuan mengenali ketika seseorang hanya menyampaikan sebagian kebenaran saja.

Jarang ada situasi yang benar-benar hanya memiliki satu jawaban benar dalam kehidupan nyata.

3. "Itu pasti benar karena aku melihatnya di internet"

Menganggap informasi benar hanya karena ditemukan di internet menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan.

Cara berpikir ini berisiko besar ketika teknologi mampu membuat gambar palsu terlihat sangat nyata.

Siapa pun juga dapat mengaku sebagai ahli tanpa memiliki kredensial yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Penyebaran informasi keliru biasanya terjadi karena memicu emosi kuat atau karena terus diulang berkali-kali.

4. "Tidak ada yang bisa mengubah pikiranku"

Banyak orang merasa akan terlihat lemah apabila mengubah pendiriannya sehingga memilih tetap bertahan.

Mereka lebih memilih berpegang pada keyakinan lama dibanding mempertimbangkan bukti baru yang muncul.

Mengubah pikiran memang membutuhkan usaha besar sehingga banyak orang menolak melakukannya sejak awal.

Hanya pemikir mendalam yang bersedia mempertanyakan keyakinannya sendiri meski prosesnya terasa tidak nyaman.

5. "Kamu boleh percaya apa pun yang kamu mau"

Kalimat ini terdengar sangat merendahkan meski disampaikan dengan nada yang tampak netral.

Ucapan ini sebenarnya berarti bahwa lawan bicara dianggap salah namun tidak perlu dipermasalahkan lebih jauh.

Penelitian menunjukkan bahwa banyak orang merasa dirinya lebih unggul secara moral meski tidak sepenuhnya menyadarinya.

Kondisi ini membuat mereka merasa kasihan terhadap orang lain yang dianggap memiliki keyakinan keliru.

6. "Tidak penting karena aku tahu aku benar"

Cukup aneh ketika seseorang dihadapkan pada bukti yang jelas namun tetap mengabaikannya sepenuhnya.

Sikap ini jauh lebih umum ditemukan pada orang yang tidak terbiasa berpikir secara kritis.

Banyak orang hanya menerima informasi yang mendukung keyakinan yang sudah dipegangnya sejak awal.

Orang yang bersedia berpikir lebih dalam mampu mengatasi kecenderungan tersebut meski terasa sulit dilakukan.

7. "Semua orang tidak mungkin salah"

Orang dengan penalaran lemah lebih rentan terjebak dalam pola pikir kelompok yang seragam.

Pola ini terjadi ketika sekelompok orang menyimpulkan hal sama hanya demi menjaga kesepakatan bersama.

Meski sesuatu terasa tidak masuk akal, mereka tetap menganggapnya benar karena banyak orang memercayainya.

Cara berpikir ini sulit dikenali oleh orang yang jarang berpikir mandiri demi diterima lingkungannya.

8. "Rasanya itu benar bagiku"

Cukup ironis ketika seseorang menyerukan bahwa fakta tidak peduli pada perasaan namun justru mengandalkan perasaannya.

Sikap ini menunjukkan bahwa penalaran mereka tidak berjalan pada tingkat yang sama dengan pemikir kritis.

Emosi memang cenderung lebih menonjol dibanding fakta sehingga sulit diabaikan oleh banyak orang.

Namun kecuali keputusan tersebut membutuhkan intuisi, mempertimbangkan bukti nyata tetap menjadi pilihan yang lebih baik.

9. "Jangan terlalu dipikirkan"

Sebagian orang memang terlalu banyak memikirkan sesuatu hingga kehilangan kejelasan dalam memandang suatu masalah.

Namun kalimat ini biasanya bukan ditujukan untuk kondisi tersebut oleh orang dengan penalaran lemah.

Mereka kemungkinan sadar bahwa pernyataannya mudah dibantah oleh orang yang berpikir lebih mendalam.

Kalimat ini menjadi cara melindungi diri, bukan bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental orang lain.

 

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti