← Beranda
51,9 Persen Gen Z Rela Pangkas Anggaran Nongkrong demi Hobi Olah Raga
Dimas Choirul• Rabu, 23 September 2026 | 05.14 WIB
ilustrasi padel. (Pixel)

 

 

JawaPos.com - Tren gaya hidup sehat mendorong semakin banyak anak muda mengalokasikan anggaran untuk hobi olah raga.

Riset terbaru Amar Bank bertajuk "Sehat Fisik vs Sehat Dompet" terhadap 300 responden di Jabodetabek dan kota lainnya menunjukkan, 51,9 persen Gen Z rela memangkas anggaran nongkrong dan kopi demi membiayai hobi sehat tersebut.

Kondisi ini kontras dengan kelompok Milenial, di mana mayoritas 52 persen memilih disiplin pada batas anggaran dan memprioritaskan menunda hobi jika dana belum tersedia.

Di balik tingginya antusiasme berolah raga, riset ini juga memotret risiko finansial yang mengintai. Sebanyak 28,9 persen Gen Z menyisihkan lebih dari 10 persen pendapatan bulanan khusus untuk hobi olah raga. 

Bahkan, 10,6 persen di antaranya bersedia mengalokasikan di atas 20 persen gajinya hingga terpaksa mengorbankan tabungan.

Kerentanan finansial ini kian nyata saat melihat ketahanan dana darurat kedua kelompok. Sebanyak 29,8 persen Gen Z mengaku dana darurat mereka pernah bocor halus untuk membiayai hobi.

Sementara 34,2 persen Milenial berada dalam posisi rentan karena belum memiliki dana darurat yang memadai atau bergantung pada instrumen utang saat kondisi mendesak.

Menanggapi fenomena ini, Amar Bank sebagai bank digital yang mendorong financial health melalui teknologi, ikut mendampingi masyarakat agar dapat menyeimbangkan antara kebutuhan gaya hidup dengan kesehatan finansial.

"Kami percaya bahwa kesehatan fisik dan kesadaran finansial harus berjalan berdampingan," kata Marketing Head Amar Bank, Rosalinda Hoesin dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Selasa (22/9).

Untuk membantu Gen Z dan Milenial mengelola keuangan hobi secara bijak, perlu melakukan pendekatan lima solusi keuangan sehat.

Pertama, melalui pendekatan "Save Now, Spend Later, yaitu edukasi untuk memprioritaskan menabung ketimbang belanja impulsif. Kedua, patuhi rumus alokasi 10 persen - 15 persen untuk gaya hidup.

Ketiga, biasakan menghitung rasio pemakaiannya terlebih dahulu (Cost-per-Use).

"Menguji calon barang belanjaan dengan indikator pemakaian nyata dapat membantu membedakan secara objektif mana kebutuhan fungsional yang mendukung performa, dan mana yang sekadar dorongan emosional akibat tergiur tren media sosial (FOMO)," ujar Rosalinda.

Keempat, fondasi dana darurat minimal 3-6 kali pengeluaran bulanan. Kelima, gunakan pinjaman digital sebagai pendaan alternatif jika memang benar-benar butuh.

Melalui kombinasi edukasi yang terencana dan platform perbankan digital yang cerdas, Rosalinda berharap para pecinta olahraga dapat terus menjalankan hobi kesayangannya tanpa harus mengorbankan ketahanan finansial di masa depan.

"Gaya hidup sehat adalah investasi jangka panjang yang sangat baik, namun jangan sampai mengorbankan kesehatan finansial di masa depan," tutup Rosalinda.

EDITOR: Estu Suryowati