← Beranda
Pernah Menangis Secara Tiba-Tiba? 7 Kondisi Ini Mungkin Jadi Penyebabnya
Rabbany WanadrianiJumat, 18 September 2026 | 22.54 WIB
ilustrasi orang yang menangis. Sumber foto: Freepik

JawaPos.com – Pernahkah air mata tiba-tiba mengalir meski Anda merasa tidak sedang menghadapi sesuatu yang menyedihkan?

Situasi seperti ini dapat membuat seseorang merasa heran, bingung, bahkan mempertanyakan alasan dirinya menangis. Padahal, munculnya air mata tidak selalu berkaitan dengan kesedihan yang sedang disadari.

Respons emosional dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, termasuk kondisi yang mungkin tidak langsung dikenali. Tekanan yang menumpuk, perubahan suasana hati, kecemasan, hingga faktor biologis tertentu dapat berperan dalam munculnya tangisan secara spontan.

Karena itu, menangis tanpa mengetahui penyebabnya bukan berarti benar-benar tidak ada pemicunya. Bisa saja tubuh dan pikiran sedang memberikan respons terhadap sesuatu yang belum disadari.

Baca Juga: Ternyata Bukan Cengeng, Pria yang Menangis Saat Film Sedih Bisa Punya 8 Sifat Positif Ini

Dilansir dari Verywell Health, terdapat sejumlah kondisi yang dapat membuat seseorang lebih mudah menangis atau mengalami tangisan secara tiba-tiba.

Berikut tujuh di antaranya:

1. Depresi

Depresi tidak selalu muncul dalam bentuk kesedihan yang terlihat jelas. Kondisi ini dapat berkembang secara perlahan dan memengaruhi suasana hati maupun aktivitas sehari-hari.

Perasaan hampa, kehilangan harapan, kelelahan, serta kesedihan yang berlangsung dalam waktu lama dapat membuat seseorang lebih mudah meneteskan air mata.

Dalam kondisi tertentu, tangisan dapat muncul secara spontan ketika beban emosional sudah terasa terlalu berat.

2. Kecemasan

Kecemasan dapat membuat seseorang terus-menerus dihantui rasa khawatir, takut, atau panik terhadap sesuatu yang dianggap mengancam.

Ketika perasaan tersebut menjadi sangat kuat, seseorang bisa merasa kewalahan. Akibatnya, menangis dapat menjadi salah satu bentuk respons emosional yang muncul, bahkan ketika pemicunya terlihat sepele bagi orang lain.

Kecemasan juga dapat disertai berbagai gejala fisik maupun pikiran yang terus berulang.

3. Stres dan Perasaan Kewalahan

Tekanan dalam kehidupan sehari-hari juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang mengendalikan emosinya. Ketika masalah pekerjaan, hubungan, keluarga, atau berbagai persoalan lain menumpuk, tubuh dan pikiran bisa mengalami kelelahan.

Menangis terkadang menjadi salah satu respons ketika ketegangan emosional sudah mencapai batas tertentu.

Jika seseorang terus memaksakan diri tanpa memberikan waktu untuk beristirahat, rasa lelah secara mental dapat semakin berat. Tangisan yang datang mendadak bisa menjadi salah satu tanda bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan jeda.

4. Perubahan Hormon

Fluktuasi hormon juga dapat memengaruhi suasana hati. Perubahan biologis tertentu dapat membuat seseorang menjadi lebih sensitif secara emosional dan lebih mudah menangis.

Kondisi tersebut, misalnya, dapat dialami selama menstruasi atau kehamilan. Perubahan hormon pada periode tertentu dapat memengaruhi emosi sehingga seseorang merasa lebih mudah tersentuh atau menangis dibandingkan biasanya.

Respons setiap orang tentu berbeda, sehingga tidak semua orang akan mengalami perubahan emosi dengan tingkat yang sama.

5. Afek Pseudobulbar

Afek pseudobulbar atau pseudobulbar affect merupakan kondisi neurologis yang dapat menyebabkan seseorang tertawa atau menangis secara tiba-tiba dan sulit dikendalikan.

Respons tersebut terkadang tidak sesuai dengan situasi atau perasaan yang sebenarnya sedang dialami.

Kondisi ini dapat berkaitan dengan cedera otak maupun gangguan tertentu yang memengaruhi bagian otak dalam mengatur respons emosional. Jika tangisan atau tawa yang tidak terkendali terjadi berulang kali, evaluasi medis dapat membantu mencari penyebabnya.

6. Efek Samping Obat

Tangisan atau perubahan emosi pada sebagian orang juga dapat berkaitan dengan penggunaan obat tertentu.

Respons tubuh terhadap obat berbeda-beda. Beberapa obat dapat memengaruhi suasana hati atau menyebabkan perubahan perilaku tertentu sebagai efek samping.

Karena itu, apabila seseorang mengalami perubahan emosi yang tidak biasa setelah mulai menggunakan obat, sebaiknya jangan langsung menghentikan obat sendiri. Konsultasikan keluhan tersebut kepada dokter atau tenaga kesehatan untuk mengetahui langkah yang tepat.

7. Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar merupakan kondisi yang ditandai oleh perubahan suasana hati yang signifikan, termasuk episode mania atau hipomania dan episode depresi.

Perubahan suasana hati tersebut dapat memengaruhi cara seseorang merasakan dan mengekspresikan emosinya. Pada fase tertentu, ledakan emosi atau tangisan dapat muncul sebagai bagian dari perubahan suasana hati yang dialami.

Namun, menangis sesekali tidak berarti seseorang mengalami gangguan bipolar. Diagnosis membutuhkan penilaian dari tenaga profesional berdasarkan pola gejala dan riwayat kondisi seseorang.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho