JawaPos.com – Makanan yang dikonsumsi sehari-hari tidak hanya berpengaruh terhadap berat badan dan kesehatan tubuh secara umum, tetapi juga dapat berkaitan dengan kondisi otak.
Pola makan yang beragam dan kaya zat gizi membantu memenuhi kebutuhan tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi, termasuk kemampuan berpikir, konsentrasi, serta daya ingat.
Sebaliknya, terlalu sering mengonsumsi makanan atau minuman dengan kandungan gula, lemak tidak sehat, maupun bahan tertentu dalam jumlah tinggi dapat berdampak kurang baik apabila menjadi bagian dominan dari pola makan.
Karena itu, penting untuk memperhatikan jenis sekaligus jumlah makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Baca Juga: Uya Kuya Geram Melihat Wanita Ditendang Pria Saat Sedang Antre Membeli Makanan
Dilansir English Jagran, berikut lima jenis makanan dan minuman yang perlu dibatasi karena disebut dapat memberikan dampak kurang baik terhadap kesehatan otak jika dikonsumsi secara berlebihan.
1. Minuman Manis
Minuman dengan kandungan gula tinggi, termasuk minuman yang kaya fruktosa, menjadi salah satu jenis asupan yang perlu diperhatikan.
Asupan gula berlebihan dapat memengaruhi kesehatan metabolisme tubuh. Sejumlah penelitian juga telah mengaitkan konsumsi gula berlebih dengan proses peradangan dan gangguan metabolik yang pada akhirnya dapat berhubungan dengan kesehatan otak.
Minuman manis juga cenderung membuat seseorang mengonsumsi gula dalam jumlah besar tanpa merasa kenyang. Karena itu, membatasi konsumsi minuman tinggi gula dapat menjadi bagian dari pola makan yang lebih sehat.
2. Makanan Goreng dan Olahan
Gorengan dan makanan olahan sering kali mengandung kalori, garam, serta lemak dalam jumlah cukup tinggi. Beberapa produk makanan olahan juga memiliki tambahan bahan lain untuk meningkatkan rasa atau memperpanjang masa simpan.
Jika dikonsumsi terlalu sering dan menggantikan makanan yang lebih bergizi, pola tersebut dapat berdampak pada kesehatan secara keseluruhan, termasuk faktor-faktor yang berkaitan dengan fungsi otak.
Karena itu, makanan yang digoreng atau sangat diproses sebaiknya tidak menjadi pilihan utama dalam menu sehari-hari.
3. Makanan yang Mengandung Lemak Trans
Lemak trans merupakan jenis lemak yang perlu dibatasi. Kandungan ini dapat ditemukan pada sebagian makanan olahan, makanan yang digoreng, serta beberapa produk kemasan, meski jumlahnya berbeda-beda tergantung proses pembuatannya.
Asupan lemak trans yang tinggi diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan, terutama pada sistem kardiovaskular. Kesehatan pembuluh darah sendiri memiliki kaitan penting dengan fungsi otak.
Karena itu, memperhatikan label kandungan makanan dan membatasi produk yang mengandung lemak trans merupakan langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga pola makan tetap sehat.
4. Karbohidrat Olahan
Roti putih, kue, biskuit, dan berbagai camilan manis termasuk contoh makanan yang dapat mengandung karbohidrat olahan.
Jenis makanan ini lebih cepat dicerna dibandingkan sumber karbohidrat yang lebih kaya serat. Akibatnya, kadar gula darah dapat mengalami kenaikan yang relatif cepat, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah besar.
Pola makan yang lebih banyak mengutamakan sumber karbohidrat utuh dan kaya serat dapat menjadi alternatif. Contohnya adalah biji-bijian utuh, sayuran, buah, serta sumber makanan lain yang minim proses pengolahan.
5. Pemanis Buatan
Pemanis buatan seperti aspartam dan sukralosa juga kerap menjadi bahan perdebatan dalam pembahasan mengenai kesehatan otak.
Sejumlah penelitian mengamati kemungkinan hubungan antara konsumsi pemanis tertentu dengan berbagai aspek kesehatan, termasuk fungsi metabolisme dan sistem saraf. Namun, dampaknya tidak bisa disamaratakan untuk semua jenis pemanis maupun semua orang.
Karena itu, bukan berarti seluruh produk dengan pemanis buatan otomatis berbahaya bagi otak. Yang lebih penting adalah memperhatikan jumlah dan frekuensi konsumsinya serta tidak menjadikan makanan atau minuman berpemanis sebagai bagian dominan dari pola makan.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan otak tidak cukup hanya dengan menghindari satu atau dua jenis makanan. Pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, tidur yang cukup, serta kebiasaan hidup lainnya juga berperan dalam menjaga kesehatan tubuh dan fungsi otak.