← Beranda
5 Cara Menjaga Diri Saat Berhadapan dengan Orang yang Sering Memicu Stres
Rabbany WanadrianiSelasa, 15 September 2026 | 21.48 WIB
ilustrasi orang yang berdebat. Sumber foto: Freepik

JawaPos.com – Berinteraksi dengan orang lain merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Namun, tidak semua hubungan terasa menyenangkan. Ada kalanya seseorang justru membuat kita merasa lelah secara emosional, kesal, atau kehilangan ketenangan.

Sosok tersebut bisa ditemukan di berbagai lingkungan, mulai dari tempat kerja, pertemanan, hingga keluarga. Ada orang yang gemar memicu konflik, terus-menerus mengeluh, sulit menghargai batasan pribadi, atau memiliki sikap yang membuat orang di sekitarnya merasa tidak nyaman.

Jika berlangsung terus-menerus, interaksi semacam itu dapat menguras energi dan memengaruhi konsentrasi maupun suasana hati. Sayangnya, tidak semua situasi memungkinkan kita untuk langsung memutus hubungan atau menghindari orang tersebut.

Karena itu, yang bisa dilakukan adalah mengatur cara kita merespons situasi tersebut agar tidak semakin terbebani.

Baca Juga: Tak Sulit Dilakukan, 5 Tips Memilih Buah dan Sayur yang Masih Fresh

Dilansir dari Times of India, terdapat sejumlah pendekatan yang dapat membantu seseorang menghadapi orang yang memicu stres dengan lebih tenang dan bijaksana.

1. Coba Lihat Situasi dari Sudut Pandang Berbeda

Ketika seseorang mengatakan atau melakukan sesuatu yang membuat kesal, reaksi pertama biasanya adalah merasa tersinggung. Namun, tidak semua perilaku buruk seseorang selalu ditujukan secara pribadi kepada kita.

Sebelum langsung bereaksi, cobalah berhenti sejenak dan mempertimbangkan kemungkinan lain. Bisa saja orang tersebut sedang menghadapi persoalan yang memengaruhi cara mereka bersikap.

Mengubah sudut pandang tentu tidak otomatis membuat perilaku orang lain menjadi benar. Namun, cara ini dapat membantu mengurangi kecenderungan untuk mengambil semuanya secara personal.

2. Temukan Cara yang Paling Membantu Anda

Setiap orang memiliki cara berbeda dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan. Karena itu, tidak ada satu strategi yang pasti cocok untuk semua orang.

Dalam kondisi tertentu, memilih diam mungkin menjadi keputusan yang paling bijaksana. Pada situasi lain, menjaga jarak untuk sementara dapat membantu mengembalikan ketenangan.

Ada pula masalah yang memang perlu dibicarakan secara langsung. Jika demikian, sampaikan keberatan dengan tenang dan jelas tanpa memperbesar konflik.

Perhatikan respons apa yang membuat Anda lebih mampu mengendalikan stres. Setelah menemukan cara yang efektif, gunakan strategi tersebut ketika menghadapi situasi serupa.

3. Jadikan Pengalaman sebagai Bahan Evaluasi Diri

Menghadapi orang yang sulit memang dapat melelahkan. Namun, pengalaman tersebut juga bisa menjadi kesempatan untuk mengenali diri sendiri dengan lebih baik.

Misalnya, Anda dapat mengetahui batas toleransi, memahami hal-hal yang membuat emosi mudah terpancing, atau belajar bagaimana tetap tenang ketika berada dalam situasi penuh tekanan.

Alih-alih terus memikirkan perilaku orang lain, cobalah mengarahkan perhatian pada respons diri sendiri. Dengan begitu, pengalaman yang awalnya membuat frustrasi dapat menjadi pelajaran untuk menghadapi situasi serupa di masa depan.

4. Jangan Biarkan Pengalaman Buruk Membentuk Semua Penilaian

Ketika seseorang berkali-kali membuat kita kesal, sangat mudah muncul anggapan bahwa setiap interaksi dengannya pasti akan berakhir buruk.

Namun, pola pikir seperti itu justru dapat membuat kita semakin tegang bahkan sebelum percakapan dimulai.

Jika memungkinkan, berikan kesempatan untuk melihat setiap situasi berdasarkan konteksnya. Satu konflik tidak selalu harus menentukan bagaimana Anda memandang seluruh hubungan.

Tetap terbuka bukan berarti mengabaikan perilaku yang menyakiti atau membiarkan orang lain melewati batas. Hal tersebut lebih berkaitan dengan kemampuan memisahkan pengalaman masa lalu dari kondisi yang sedang terjadi.

5. Ingat Bahwa Anda Tetap Memiliki Pilihan

Saat tekanan semakin tinggi, seseorang terkadang merasa seolah-olah tidak mempunyai kendali atas keadaan. Padahal, masih ada sejumlah hal yang dapat dipilih.

Anda dapat menentukan bagaimana merespons, kapan harus berhenti berdebat, kapan perlu mengambil jarak, dan kapan harus menyampaikan batasan dengan tegas.

Coba ingat kembali pengalaman ketika Anda berhasil melewati situasi sulit sebelumnya. Mungkin Anda pernah berhasil menahan emosi, meninggalkan percakapan yang tidak sehat, atau memilih tidak menanggapi provokasi.

Mengingat keberhasilan tersebut dapat membantu membangun kembali rasa percaya diri ketika menghadapi situasi yang serupa.

Pada akhirnya, menghadapi orang yang membuat stres bukan selalu tentang mengubah perilaku mereka. Hal yang lebih mungkin dikendalikan adalah cara kita merespons, menetapkan batasan, dan menjaga kesehatan emosional diri sendiri.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho