← Beranda
6 Alasan Mengapa Seseorang Benar-Benar Membutuhkan Tujuan untuk Hidup Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahMinggu, 13 September 2026 | 13.17 WIB
seseorang yang memiliki tujuan hidup. (Magnific)
 
 
JawaPos.com - Pernahkah kamu menjalani hari-hari yang sebenarnya baik-baik saja, tetapi tetap terasa kosong?

Tidak ada masalah besar. Kamu masih bisa bekerja, makan, tidur, bertemu orang lain, bahkan sesekali bersenang-senang. Namun, di balik semua aktivitas itu muncul sebuah pertanyaan yang sulit dijelaskan:

“Sebenarnya aku menjalani semua ini untuk apa?”

Pertanyaan tersebut bukan sekadar persoalan filosofis. Dalam psikologi, manusia memang memiliki kebutuhan untuk merasakan bahwa hidupnya memiliki arah, makna, dan sesuatu yang layak diperjuangkan.

Tujuan hidup tidak selalu berarti memiliki ambisi luar biasa seperti menjadi miliarder, terkenal, memiliki perusahaan besar, atau mencapai sesuatu yang diakui dunia. Tujuan bisa jauh lebih sederhana. Merawat keluarga, menjadi orang tua yang baik, membangun kehidupan yang tenang, membantu orang lain, mengembangkan kemampuan, menciptakan sesuatu, atau sekadar menjadi versi diri yang lebih baik juga dapat menjadi sumber tujuan.

Yang penting bukan seberapa besar tujuan tersebut menurut orang lain, melainkan seberapa bermakna tujuan itu bagi diri kita sendiri.

Lalu, mengapa manusia membutuhkan tujuan?

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (12/9), terdapat enam alasan yang dapat menjelaskannya dari sudut pandang psikologi.

1. Tujuan Memberikan Arah ketika Hidup Terasa Tidak Pasti

Salah satu fungsi paling penting dari tujuan adalah memberikan arah.

Hidup pada dasarnya penuh dengan ketidakpastian. Kita tidak selalu tahu apa yang akan terjadi besok. Kita tidak bisa mengendalikan pendapat orang lain, kondisi ekonomi, perubahan hubungan, kegagalan, kehilangan, maupun berbagai peristiwa yang datang tanpa peringatan.

Ketika seseorang tidak memiliki arah yang cukup jelas, ketidakpastian tersebut dapat terasa jauh lebih melelahkan.

Bayangkan seseorang yang bangun setiap pagi tanpa mengetahui apa yang sebenarnya ingin ia capai. Ia bekerja karena harus bekerja, makan karena lapar, bermain ponsel karena bosan, tidur karena hari sudah malam, lalu mengulangi semuanya keesokan harinya.

Secara fisik, ia mungkin menjalani kehidupan normal.

Namun secara psikologis, hidup dapat terasa seperti sekadar mengulang rutinitas tanpa mengetahui ke mana arahnya.

Tujuan membantu mengubah situasi tersebut.

Ketika seseorang memiliki sesuatu yang ingin dicapai, keputusan sehari-hari menjadi lebih mudah diarahkan. Ia dapat bertanya:

“Apakah tindakan ini mendekatkanku pada kehidupan yang ingin kubangun?”

Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi kompas.

Misalnya, seseorang memiliki tujuan untuk menjadi lebih sehat. Tujuan itu kemudian memengaruhi berbagai keputusan kecil: apakah ia perlu berolahraga, bagaimana mengatur makanan, kapan tidur, dan bagaimana mengelola stres.

Seseorang yang memiliki tujuan untuk membangun karier juga akan memiliki pertimbangan berbeda ketika memilih pekerjaan, mempelajari keterampilan, atau menggunakan waktunya.

Dengan demikian, tujuan tidak hanya berfungsi sebagai titik akhir, tetapi juga sebagai alat untuk menentukan arah.

Dalam psikologi motivasi, hal ini penting karena perilaku manusia tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang ingin dihindari, tetapi juga oleh apa yang ingin didekati.

Tanpa arah, kita mudah hidup berdasarkan dorongan sesaat.

Dengan arah, kita memiliki alasan untuk mengatakan:

“Tidak semua hal yang menyenangkan sekarang harus aku pilih, karena ada sesuatu yang lebih penting yang sedang ingin aku bangun.”

Inilah salah satu alasan mengapa seseorang dapat memiliki kehidupan yang sangat sibuk tetapi tetap merasa tersesat. Kesibukan tidak sama dengan arah.

Kita bisa melakukan banyak hal setiap hari tanpa benar-benar bergerak menuju kehidupan yang kita inginkan.

Tujuan membantu mengubah aktivitas menjadi perjalanan.

2. Tujuan Membuat Kita Lebih Mampu Bertahan Menghadapi Kesulitan

Hidup yang memiliki tujuan bukan berarti hidup tanpa masalah.

Justru sebaliknya, seseorang yang memiliki tujuan tetap akan mengalami kegagalan, kehilangan, penolakan, tekanan, dan masa-masa ketika semuanya terasa berat.

Namun, tujuan dapat memberikan sebuah alasan untuk terus bertahan.

Ketika seseorang mengalami kesulitan, salah satu pertanyaan yang muncul secara alami adalah:

“Untuk apa aku harus terus berusaha?”

Jika seseorang tidak memiliki jawaban apa pun, masalah kecil sekalipun dapat terasa sangat berat.

Sebaliknya, ketika ada sesuatu yang dianggap penting, penderitaan sering kali menjadi lebih mudah untuk ditoleransi.

Misalnya, seorang mahasiswa mungkin merasa lelah belajar berjam-jam. Namun ia mampu bertahan karena pendidikan tersebut berkaitan dengan kehidupan yang ingin ia bangun.

Seorang atlet mungkin harus berlatih ketika tubuhnya lelah. Seorang orang tua mungkin rela mengorbankan banyak kenyamanan demi anaknya. Seseorang yang sedang membangun bisnis mungkin harus menghadapi kegagalan berkali-kali karena ia memiliki visi yang ingin diwujudkan.

Tujuan memberikan konteks terhadap kesulitan.

Tanpa konteks, rasa sakit hanya terasa seperti rasa sakit.

Dengan konteks, seseorang dapat berkata:

“Ini memang sulit, tetapi ada sesuatu yang membuat perjuangan ini berarti.”

Konsep seperti ini memiliki hubungan dengan gagasan tentang meaning atau makna dalam psikologi eksistensial. Salah satu tokoh yang sangat terkenal dalam pembahasan ini adalah Viktor Frankl, yang menekankan pentingnya menemukan makna bahkan ketika seseorang menghadapi penderitaan.

Tentu, ini tidak berarti bahwa semua penderitaan harus dianggap baik atau bahwa seseorang harus mencari-cari makna dari setiap pengalaman buruk.

Penderitaan tetaplah penderitaan.

Namun, ketika seseorang memiliki sesuatu yang dianggap penting, ia memiliki alasan untuk tidak menyerah hanya karena keadaan sedang sulit.

Di sinilah tujuan dapat berperan sebagai sumber ketahanan psikologis.

Bukan karena tujuan membuat seseorang kebal terhadap rasa sakit, tetapi karena tujuan memberikan jawaban terhadap pertanyaan:

“Mengapa aku masih mau berusaha?”

3. Tujuan Membantu Kita Merasakan Bahwa Hidup Kita Memiliki Makna

Manusia tidak hanya membutuhkan kesenangan.

Ini adalah hal yang sering dilupakan dalam kehidupan modern.

Banyak orang mengira bahwa hidup yang baik adalah hidup yang sebisa mungkin bebas dari ketidaknyamanan. Akibatnya, ketika hidup terasa membosankan, mereka mencari hiburan baru: media sosial, video, permainan, belanja, perjalanan, makanan, atau berbagai bentuk stimulasi lainnya.

Semua itu tidak salah.

Kesenangan memang merupakan bagian penting dari kehidupan.

Namun, kesenangan dan makna bukanlah hal yang sama.

Seseorang dapat merasa senang tanpa merasa hidupnya bermakna.

Sebaliknya, seseorang dapat menjalani sesuatu yang sulit tetapi tetap merasa bahwa hidupnya sangat berarti.

Misalnya, merawat orang tua yang sakit mungkin melelahkan. Membesarkan anak juga melelahkan. Membangun karya membutuhkan waktu. Belajar bertahun-tahun membutuhkan disiplin.

Semua aktivitas tersebut dapat mengandung banyak ketidaknyamanan.

Namun, seseorang tetap melakukannya karena aktivitas tersebut terhubung dengan sesuatu yang lebih besar daripada kenyamanan sesaat.

Dalam psikologi positif, makna hidup sering dikaitkan dengan perasaan bahwa kehidupan seseorang memiliki nilai dan arah. Manusia ingin merasa bahwa keberadaannya tidak sekadar kumpulan kejadian yang terjadi secara acak.

Kita ingin merasa:

“Apa yang aku lakukan memiliki arti.”

Inilah mengapa seseorang yang memiliki banyak hiburan belum tentu merasa bahagia.

Ia mungkin tidak kekurangan kesenangan, tetapi kekurangan makna.

Dan ketika makna hilang, seseorang bisa mengalami apa yang sering digambarkan sebagai kehampaan eksistensial.

Kehampaan tersebut dapat muncul dalam bentuk:

merasa hidup berjalan begitu saja;
kehilangan semangat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai;
merasa tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan;
terus mencari sesuatu yang baru tetapi tidak pernah merasa puas;
merasa hidup hanya terdiri dari bekerja, membayar tagihan, tidur, lalu mengulanginya lagi;
atau memiliki banyak pencapaian tetapi tetap bertanya, “Setelah ini apa?”

Karena itu, tujuan hidup tidak harus membuat seseorang selalu bahagia.

Fungsi yang lebih penting adalah membantu seseorang merasa bahwa kehidupannya layak dijalani dan diarahkan pada sesuatu yang bernilai.

4. Tujuan Membantu Kita Mengatur Prioritas dan Mengambil Keputusan

Setiap hari manusia harus membuat banyak keputusan.

Apa yang harus dikerjakan?

Apa yang harus ditolak?

Dengan siapa kita menghabiskan waktu?

Apa yang harus dipelajari?

Apa yang harus dikorbankan?

Apa yang sebenarnya penting?

Tanpa prinsip atau tujuan yang cukup jelas, seseorang dapat mudah terjebak dalam hidup yang ditentukan oleh tekanan dari luar.

Ia melakukan sesuatu karena semua orang melakukannya.

Ia mengejar karier tertentu karena dianggap sukses.

Ia membeli sesuatu karena orang lain memilikinya.

Ia mempertahankan hubungan karena takut sendirian.

Ia memilih gaya hidup tertentu karena ingin mendapatkan pengakuan.

Masalahnya, manusia dapat mencapai sesuatu yang dianggap sukses oleh masyarakat tetapi tetap merasa tidak puas.

Mengapa?

Karena tujuan yang dicapai belum tentu tujuan yang benar-benar dimiliki oleh dirinya sendiri.

Dalam psikologi motivasi, perbedaan antara motivasi yang berasal dari diri sendiri dan motivasi yang terutama didorong oleh tekanan eksternal merupakan hal yang penting.

Seseorang mungkin belajar karena memang ingin menguasai suatu bidang.

Orang lain belajar karena takut dianggap bodoh.

Keduanya mungkin mendapatkan nilai bagus.

Tetapi pengalaman psikologisnya dapat sangat berbeda.

Tujuan yang lebih selaras dengan nilai pribadi cenderung membuat seseorang merasa lebih memiliki kendali terhadap hidupnya.

Tujuan juga membantu kita mengatakan “tidak”.

Misalnya, jika seseorang memiliki tujuan untuk membangun kehidupan yang sehat, ia mungkin lebih mudah menolak kebiasaan yang terus-menerus merusak kesehatannya.

Jika seseorang memiliki tujuan untuk mengembangkan karier, ia mungkin bersedia mengatakan tidak pada beberapa hiburan karena ingin menggunakan waktunya untuk belajar.

Jika seseorang sangat menghargai keluarga, ia mungkin menolak kesempatan tertentu yang mengharuskannya terus-menerus mengorbankan hubungan penting.

Jadi, tujuan bukan hanya tentang mengetahui apa yang ingin kita dapatkan.

Tujuan juga membantu kita mengetahui apa yang bersedia kita korbankan.

Setiap pilihan memiliki biaya.

Ketika kita tidak mengetahui apa yang penting, semua pilihan terasa sama pentingnya. Akibatnya, kita mudah kewalahan.

Tujuan memberikan hierarki.

Ia membantu kita membedakan antara:

“Ini penting.”

dan

“Ini hanya menarik untuk sementara.”

5. Tujuan Membuat Perkembangan Diri Terasa Lebih Nyata

Manusia memiliki kebutuhan psikologis untuk merasa mampu.

Kita ingin merasakan bahwa kita dapat mempelajari sesuatu, menjadi lebih baik, menyelesaikan masalah, dan memberikan pengaruh terhadap kehidupan kita sendiri.

Karena itu, memiliki tujuan dapat menciptakan pengalaman kemajuan.

Bayangkan seseorang yang ingin belajar bahasa baru.

Pada awalnya, ia mungkin hanya mampu memahami beberapa kata. Setelah beberapa bulan, ia mulai memahami kalimat sederhana. Setelah satu tahun, ia dapat berbicara dengan lebih lancar.

Perubahan tersebut memberikan sesuatu yang sangat penting secara psikologis:

perasaan bahwa dirinya berkembang.

Hal yang sama dapat terjadi dalam banyak bidang.

Seseorang dapat berkembang secara fisik melalui olahraga.

Berkembang secara intelektual melalui membaca.

Berkembang secara profesional melalui pekerjaan.

Berkembang secara emosional melalui refleksi dan hubungan yang sehat.

Berkembang secara sosial melalui pengalaman.

Tujuan membuat perubahan tersebut lebih mudah terlihat.

Tanpa tujuan, perkembangan sering kali terasa abstrak.

Kita mungkin sebenarnya sudah berubah banyak, tetapi tidak menyadarinya karena tidak memiliki sesuatu untuk dijadikan pembanding.

Sebaliknya, ketika memiliki tujuan, kita dapat melihat perjalanan:

dulu → sekarang → berikutnya.

Inilah mengapa tujuan yang baik seharusnya tidak hanya berorientasi pada hasil akhir.

Tujuan juga dapat menciptakan rasa kemajuan sepanjang perjalanan.

Misalnya, seseorang ingin menjadi penulis.

Tujuan akhirnya mungkin menerbitkan buku.

Namun, sebelum buku tersebut selesai, ada banyak pencapaian kecil:

menulis satu halaman,

menyelesaikan satu bab,

memperbaiki tulisan,

mendapatkan masukan,

belajar teknik baru,

dan akhirnya menyelesaikan naskah.

Setiap kemajuan kecil memberikan sinyal kepada otak bahwa usaha yang dilakukan menghasilkan perubahan.

Dan perasaan “aku sedang bergerak” sering kali jauh lebih sehat daripada perasaan “aku tidak ke mana-mana.”

6. Tujuan Membantu Kita Membangun Identitas dan Menjawab “Aku Ingin Menjadi Siapa?”

Alasan terakhir mungkin yang paling dalam.

Tujuan tidak hanya berbicara tentang apa yang ingin kita miliki.

Tujuan juga berbicara tentang siapa kita ingin menjadi.

Ini sangat penting karena identitas manusia tidak hanya dibentuk oleh masa lalu.

Identitas juga dibentuk oleh arah yang kita pilih untuk masa depan.

Misalnya, seseorang mungkin berkata:

“Aku ingin menjadi orang yang bisa diandalkan.”

“Aku ingin menjadi ayah yang hadir untuk anakku.”

“Aku ingin menjadi orang yang terus belajar.”

“Aku ingin menciptakan sesuatu yang bermanfaat.”

“Aku ingin menjadi manusia yang lebih sabar.”

Perhatikan bahwa pernyataan tersebut bukan sekadar target.

Itu adalah gambaran mengenai jenis manusia yang ingin seseorang menjadi.

Inilah mengapa tujuan yang paling kuat sering kali bukan hanya:

“Aku ingin mendapatkan X.”

tetapi:

“Aku ingin menjadi seseorang yang mampu melakukan X.”

Perbedaannya cukup besar.

Ketika tujuan hanya berorientasi pada hasil, motivasi dapat hilang setelah hasil tersebut tercapai.

Tetapi ketika tujuan berkaitan dengan identitas dan nilai, seseorang dapat terus berkembang bahkan setelah satu pencapaian selesai.

Misalnya, seseorang tidak hanya ingin “menurunkan berat badan”.

Ia ingin menjadi orang yang menjaga kesehatan.

Ia tidak hanya ingin “mendapatkan gelar”.

Ia ingin menjadi seseorang yang memiliki kemampuan dan pengetahuan tertentu.

Ia tidak hanya ingin “menghasilkan banyak uang”.

Ia ingin menjadi seseorang yang mandiri secara finansial dan mampu memberikan kehidupan yang baik bagi keluarganya.

Tujuan semacam ini memberikan kontinuitas.

Ketika satu target selesai, kehidupan tidak langsung terasa kosong karena masih ada identitas dan nilai yang ingin terus diwujudkan.

Jadi, Apakah Semua Orang Harus Memiliki Tujuan Hidup yang Besar?

Tidak.

Ini adalah bagian yang sangat penting.

Pembahasan tentang tujuan hidup terkadang justru menciptakan tekanan baru.

Seseorang melihat orang lain memiliki karier besar, bisnis sukses, karya luar biasa, atau ambisi yang sangat jelas. Kemudian ia berpikir:

“Kenapa aku tidak seperti mereka?”

Padahal, tujuan hidup tidak harus spektakuler.

Tujuan yang bermakna dapat sangat sederhana.

Mungkin tujuan seseorang adalah membangun keluarga yang sehat.

Mungkin ingin hidup mandiri.

Mungkin ingin menjadi guru yang memberikan pengaruh positif kepada muridnya.

Mungkin ingin merawat orang tua.

Mungkin ingin menciptakan karya.

Mungkin ingin hidup lebih tenang.

Mungkin ingin menjadi orang yang lebih baik daripada dirinya lima tahun yang lalu.

Tidak ada satu ukuran universal mengenai seberapa besar tujuan seseorang harus dibuat.

Yang jauh lebih penting adalah apakah tujuan tersebut selaras dengan nilai pribadi dan memberikan arah terhadap kehidupan.

Bahkan tujuan dapat berubah sepanjang hidup.

Apa yang penting ketika berusia 20 tahun belum tentu sama ketika berusia 40 tahun.

Seseorang mungkin dahulu mengejar prestasi, kemudian lebih menghargai keluarga.

Dahulu ingin mendapatkan pengakuan, kemudian lebih menginginkan ketenangan.

Dahulu mengejar uang, kemudian ingin menggunakan kemampuannya untuk membantu orang lain.

Perubahan tersebut bukan berarti seseorang gagal menemukan tujuan.

Justru, perubahan tujuan dapat menjadi bagian normal dari perkembangan manusia.

Tujuan Hidup Tidak Harus Ditemukan, Kadang Harus Dibangun

Ada satu kesalahpahaman yang sering muncul ketika membicarakan tujuan hidup.

Orang membayangkan bahwa suatu hari mereka akan tiba-tiba menemukan “tujuan sejati” mereka.

Seolah-olah ada satu jawaban tersembunyi yang harus ditemukan:

“Inilah alasan aku dilahirkan.”

Bagi sebagian orang, pengalaman tersebut mungkin terjadi.

Namun, bagi banyak orang, tujuan hidup lebih realistis dipahami sebagai sesuatu yang dibangun secara bertahap.

Kita mencoba sesuatu.

Kita gagal.

Kita menemukan sesuatu yang ternyata kita pedulikan.

Kita bertemu orang tertentu.

Kita mengalami kehilangan.

Kita belajar tentang diri sendiri.

Kita menyadari nilai yang sebenarnya penting.

Kemudian, perlahan-lahan, arah kehidupan mulai terbentuk.

Karena itu, seseorang tidak harus mengetahui tujuan hidupnya secara lengkap hari ini.

Cukup mengetahui:

“Apa yang penting bagiku sekarang?”

Dari sana, langkah berikutnya dapat muncul.

Tidak perlu mengetahui seluruh perjalanan untuk mulai berjalan.

Kesimpulan: Manusia Membutuhkan Arah, Bukan Kehidupan yang Sempurna

Pada akhirnya, psikologi tidak mengatakan bahwa setiap manusia harus memiliki satu misi besar yang luar biasa.

Yang lebih penting adalah memiliki rasa arah, makna, keterhubungan dengan nilai pribadi, dan sesuatu yang dianggap layak diperjuangkan.

Tujuan membantu kita menghadapi ketidakpastian.

Tujuan memberi alasan untuk bertahan ketika hidup menjadi sulit.

Tujuan membuat kehidupan terasa bermakna.

Tujuan membantu kita menentukan prioritas.

Tujuan memberikan pengalaman berkembang.

Dan tujuan membantu kita membentuk identitas tentang siapa yang ingin kita menjadi.

Mungkin karena itu, pertanyaan tentang tujuan hidup sebenarnya bukan hanya:

“Apa yang ingin aku capai?”

Pertanyaan yang lebih dalam adalah:

“Kehidupan seperti apa yang ingin aku bangun, dan orang seperti apa yang ingin aku menjadi?”

Kita tidak membutuhkan jawaban yang sempurna.

Kita hanya membutuhkan sebuah arah yang cukup berarti untuk membuat kita mau mengambil langkah berikutnya.

Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang berapa banyak hal yang berhasil kita dapatkan.

Hidup juga tentang ke mana kita memilih untuk membawa diri kita sendiri.***
EDITOR: Novia Tri Astuti