← Beranda
6 Alasan Banyak Orang Tua Menganggap Memukul Anak Wajar, tetapi Tidak dengan Hewan Peliharaan
Irfan FerdiansyahMinggu, 13 September 2026 | 04.04 WIB
seseorang yang menganggap wajar memukul anak (Magnific/magnific)

 

 

JawaPos.com - Ada sebuah paradoks yang cukup sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Seseorang mungkin merasa sangat marah ketika melihat orang memukul anjing atau kucing. Ia menganggap tindakan tersebut kejam, tidak berperikemanusiaan, bahkan bisa menuntut agar pelakunya dihukum.

Namun, orang yang sama bisa saja menganggap memukul anak sebagai bagian dari “mendidik”, terutama ketika anak dianggap membangkang, sulit diatur, atau melakukan kesalahan.

Pertanyaannya kemudian: mengapa standar tersebut bisa berbeda? Jika memukul hewan dianggap sebagai kekerasan, mengapa memukul anak kadang masih dianggap sebagai disiplin?

Psikologi dapat membantu menjelaskan fenomena tersebut. Perbedaannya bukan karena anak “lebih pantas” dipukul daripada hewan, melainkan karena manusia memiliki sejumlah keyakinan, kebiasaan budaya, mekanisme pembenaran, dan pengalaman masa kecil yang dapat membuat kekerasan terhadap anak terlihat lebih normal.

Penting pula membedakan antara memahami mengapa suatu perilaku terjadi dan membenarkan perilaku tersebut. Menjelaskan alasan orang tua melakukan kekerasan bukan berarti mengatakan bahwa kekerasan tersebut benar.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (12/9), terdapat enam alasan psikologis yang dapat menjelaskan mengapa sebagian orang tua melihat pukulan terhadap anak sebagai hal yang wajar.

1. Memukul Anak Sering Diberi Label “Disiplin”, Bukan “Kekerasan”

Salah satu faktor paling penting adalah cara seseorang memberi nama pada perilaku.

Ketika seseorang memukul hewan peliharaan karena kesal, tindakan tersebut biasanya langsung disebut sebagai kekerasan atau penyiksaan.

Namun ketika orang tua memukul anak, tindakan yang sama bisa mendapatkan label berbeda:

“memberi pelajaran,”
“mendisiplinkan,”
“mendidik,”
“memberi efek jera,”
“supaya anak tahu aturan,” atau
“karena sayang.”

Secara psikologis, label tersebut dapat mengubah cara seseorang memandang perilakunya sendiri.

Ada perbedaan besar antara mengatakan:

“Saya memukul anak saya.”

dan:

“Saya sedang mendisiplinkan anak saya.”

Tindakan fisiknya mungkin sama, tetapi narasi mentalnya berbeda.

Manusia cenderung lebih mudah menerima perilaku yang sesuai dengan gambaran dirinya sebagai orang baik. Orang tua umumnya ingin melihat dirinya sebagai seseorang yang melindungi dan mendidik anak. Karena itu, ketika tindakan keras dilakukan dengan tujuan yang diyakini “baik”, orang tersebut dapat lebih mudah menganggap tindakannya sebagai bentuk tanggung jawab, bukan agresi.

Di sinilah mekanisme psikologis seperti rasionalisasi dapat berperan.

Rasionalisasi terjadi ketika seseorang memberikan alasan yang terdengar masuk akal untuk menjelaskan perilaku yang sebenarnya memiliki masalah atau bertentangan dengan nilai dirinya.

Misalnya:

“Saya memukul bukan karena benci. Saya melakukannya supaya dia menjadi anak baik.”

Kalimat tersebut mungkin terasa masuk akal bagi orang tua yang mempercayainya. Tetapi niat yang dianggap baik tidak otomatis membuat metode yang digunakan menjadi baik.

Ini juga menjelaskan mengapa diskusi mengenai hukuman fisik sering sulit. Orang yang mendukungnya mungkin tidak melihat dirinya sebagai seseorang yang melakukan kekerasan. Ia melihat dirinya sebagai orang tua yang sedang menjalankan kewajiban.

Sementara ketika melihat orang lain memukul hewan, tidak ada label “pendidikan” yang sama kuat. Akibatnya, perilaku tersebut lebih mudah dikenali sebagai kekerasan.

2. Anak Sering Dipandang Sebagai “Milik” atau “Tanggung Jawab” Orang Tua

Alasan kedua berkaitan dengan cara masyarakat memandang hubungan antara orang tua dan anak.

Dalam banyak budaya, termasuk masyarakat yang sangat menekankan hierarki keluarga, terdapat keyakinan bahwa orang tua memiliki otoritas yang sangat besar terhadap anak.

Anak dianggap harus:

patuh,
menghormati orang tua,
mengikuti aturan rumah,
tidak membantah,
dan menerima hukuman dari orang tua.

Masalahnya muncul ketika konsep otoritas bercampur dengan konsep kepemilikan.

Tanpa disadari, sebagian orang tua dapat berpikir:

“Ini anak saya. Saya yang bertanggung jawab terhadap dia. Jadi saya berhak melakukan apa pun untuk mendidiknya.”

Padahal, menjadi orang tua berarti memiliki tanggung jawab terhadap anak, bukan kepemilikan atas tubuh dan martabat anak.

Perbedaan ini sangat penting secara psikologis.

Hubungan orang tua-anak memang tidak setara. Orang tua memiliki lebih banyak kekuasaan karena anak bergantung pada mereka. Anak membutuhkan orang tua untuk makanan, tempat tinggal, keamanan, pendidikan, dan kebutuhan emosional.

Karena adanya ketimpangan kekuasaan tersebut, anak berada dalam posisi yang jauh lebih rentan.

Ketika kekuasaan digunakan untuk memukul, anak tidak hanya menerima rasa sakit fisik. Ia juga menerima pesan sosial:

“Orang yang memiliki kekuasaan atas saya boleh menggunakan tubuh saya ketika saya tidak melakukan apa yang dia inginkan.”

Sebaliknya, masyarakat modern semakin melihat hewan peliharaan sebagai makhluk yang berada dalam tanggung jawab manusia, bukan objek yang boleh disakiti sesuka hati.

Menariknya, konsep perlindungan dapat menjadi lebih kuat terhadap hewan peliharaan daripada terhadap anak dalam situasi tertentu.

Seseorang mungkin berpikir:

“Anjing itu tidak mengerti apa-apa. Jangan dipukul.”

Tetapi terhadap anak:

“Dia sebenarnya mengerti. Kalau tidak dihukum, nanti makin nakal.”

Di sini muncul perbedaan persepsi tentang status dan kebutuhan perlindungan.

3. Pengalaman Masa Kecil Dapat Membuat Kekerasan Terasa “Normal”

Salah satu penjelasan paling kuat dalam psikologi adalah normalisasi melalui pengalaman.

Banyak orang tua yang menggunakan hukuman fisik bukan karena mereka secara sadar ingin menyakiti anak, melainkan karena mereka sendiri tumbuh dalam lingkungan di mana pukulan dianggap bagian normal dari pengasuhan.

Mereka mungkin pernah mendengar:

“Dulu saya juga dipukul dan saya baik-baik saja.”

Atau:

“Orang tua saya dulu keras, tapi toh saya berhasil.”

Pengalaman tersebut dapat membentuk keyakinan bahwa hukuman fisik adalah bagian alami dari proses menjadi orang dewasa.

Ini berkaitan dengan proses pembelajaran sosial. Manusia belajar bukan hanya melalui pengalaman langsung, tetapi juga melalui pengamatan terhadap orang lain, terutama figur yang memiliki otoritas.

Anak belajar:

bagaimana orang tua menyelesaikan konflik,
bagaimana kemarahan diekspresikan,
bagaimana kesalahan dihukum,
dan bagaimana kekuasaan digunakan.

Jika seorang anak berkali-kali melihat bahwa kesalahan diselesaikan dengan pukulan, ia dapat belajar bahwa kekerasan merupakan respons yang normal terhadap perilaku yang tidak disukai.

Kemudian ketika dewasa dan menjadi orang tua, pola tersebut dapat muncul kembali.

Bukan berarti setiap orang yang pernah dipukul pasti akan memukul anaknya. Banyak orang justru memilih memutus siklus tersebut.

Namun, pengalaman masa kecil dapat membuat hukuman fisik terasa familiar.

Dan sesuatu yang familiar sering kali disalahartikan sebagai sesuatu yang normal.

Di sinilah terdapat perbedaan menarik dengan hewan peliharaan.

Seseorang mungkin tidak pernah tumbuh dengan pengalaman “anjing harus dipukul agar patuh”. Sebaliknya, ia mungkin sejak kecil diajarkan bahwa hewan peliharaan harus dirawat, diberi makan, dan dilindungi.

Akibatnya, ketika melihat hewan dipukul, respons emosionalnya bisa lebih spontan:

“Kasihan.”

Sedangkan ketika melihat anak dipukul, respons yang muncul mungkin:

“Anaknya pasti memang nakal.”

Interpretasi terhadap perilaku korban menjadi berbeda.

4. Anak Lebih Mudah Dipersepsikan sebagai “Bandel”, Sedangkan Hewan sebagai “Tidak Mengerti”

Ada faktor lain yang sangat penting: bagaimana manusia menafsirkan niat dan kemampuan memahami perilaku.

Ketika seekor anjing melakukan kesalahan, misalnya merusak sofa, buang air sembarangan, atau mencuri makanan, banyak pemilik akan berpikir:

“Dia tidak tahu.”

Atau:

“Dia memang anjing. Dia tidak memahami aturan seperti manusia.”

Karena perilaku tersebut dianggap berasal dari keterbatasan kemampuan, respons terhadap hewan cenderung lebih penuh toleransi.

Namun anak memiliki kemampuan kognitif yang berkembang secara bertahap. Ketika anak sudah mampu berbicara dan memahami aturan, orang dewasa mungkin mulai menganggap bahwa setiap pelanggaran merupakan keputusan sadar.

Contohnya:

“Saya sudah bilang jangan. Dia tetap melakukannya. Berarti dia sengaja.”

Masalahnya, perkembangan anak tidak sesederhana itu.

Kemampuan anak untuk:

mengendalikan impuls,
mengatur emosi,
memahami konsekuensi jangka panjang,
menunda keinginan,
dan mengontrol perilaku

masih berkembang selama masa kanak-kanak dan remaja.

Anak bisa saja mengetahui bahwa sesuatu dilarang tetapi tetap melakukannya karena kemampuan regulasi dirinya belum matang.

Misalnya, seorang anak tahu bahwa ia tidak boleh mengambil mainan saudaranya. Tetapi ketika melihat mainan tersebut, keinginannya mungkin lebih kuat daripada kemampuannya untuk menahan impuls.

Orang dewasa dapat melihatnya sebagai:

“Dia sengaja tidak menurut.”

Padahal secara perkembangan, situasinya bisa jauh lebih kompleks.

Inilah salah satu alasan mengapa mengharapkan kontrol diri orang dewasa dari anak dapat menghasilkan frustrasi.

Dan ketika frustrasi orang tua meningkat, hukuman fisik dapat muncul sebagai jalan pintas.

5. Memukul Memberikan Efek yang Cepat, Sehingga Terlihat “Berhasil”

Ini adalah salah satu jebakan psikologis yang paling kuat.

Bayangkan seorang anak berlari-lari di ruang tamu.

Orang tua berkali-kali berkata:

“Jangan lari.”

Anak tetap berlari.

Orang tua kemudian memukul atau memberikan hukuman fisik.

Anak langsung berhenti.

Orang tua mungkin menyimpulkan:

“Nah, kan. Kalau dinasihati tidak mempan. Sekali dipukul langsung diam.”

Dari sudut pandang perilaku, memang ada sesuatu yang terjadi: perilaku anak berubah dengan cepat.

Tetapi perubahan perilaku sesaat tidak sama dengan pembelajaran yang sehat.

Anak mungkin berhenti bukan karena memahami mengapa perilaku tersebut salah, tetapi karena takut terhadap konsekuensi.

Ada perbedaan antara:

“Saya tidak akan melakukan ini karena saya memahami alasannya.”

dan:

“Saya tidak akan melakukan ini karena takut dipukul.”

Yang kedua mungkin menghasilkan kepatuhan dalam jangka pendek, tetapi tidak selalu menghasilkan kemampuan regulasi diri atau pemahaman moral yang lebih baik.

Bahkan, jika pukulan secara konsisten berhasil membuat anak berhenti, orang tua juga dapat mengalami proses pembelajaran.

Orang tua belajar:

“Kalau saya sudah tidak tahu harus berbuat apa, memukul berhasil.”

Akibatnya, hukuman fisik dapat menjadi semakin mudah digunakan pada konflik berikutnya.

Terbentuklah sebuah lingkaran:

anak melakukan kesalahan → orang tua frustrasi → orang tua memukul → anak berhenti → orang tua merasa metode tersebut efektif → metode digunakan lagi.

Inilah salah satu alasan mengapa perilaku tertentu dapat bertahan meskipun sebenarnya memiliki konsekuensi negatif.

Efektivitas jangka pendek tidak otomatis menunjukkan bahwa sebuah metode baik untuk perkembangan anak.

6. Masyarakat Memiliki Standar Empati yang Berbeda terhadap Anak dan Hewan

Alasan terakhir berkaitan dengan empati dan norma sosial.

Empati manusia tidak selalu bekerja secara konsisten.

Kita cenderung lebih mudah berempati kepada makhluk yang kita anggap:

tidak berdaya,
tidak bersalah,
tidak memahami situasi,
atau tidak mampu membela diri.

Hewan peliharaan sering masuk ke kategori tersebut.

Anjing atau kucing yang dipukul terlihat kecil, tidak berdaya, dan tidak mampu menjelaskan dirinya. Hal tersebut dapat memicu respons emosional yang kuat.

Anak sebenarnya juga sangat bergantung pada orang dewasa. Tetapi dalam budaya tertentu, anak tidak selalu dipersepsikan terutama sebagai individu yang rentan.

Anak justru dapat dilihat sebagai:

“orang kecil yang harus belajar.”

Akibatnya, rasa kasihan dapat bercampur dengan tuntutan disiplin.

Ketika anak menangis setelah dipukul, sebagian orang tua mungkin tidak melihat tangisan tersebut sebagai tanda bahwa anak sedang terluka secara emosional.

Tangisan dapat ditafsirkan sebagai:

“Dia memang perlu belajar.”

Bahkan ada kondisi ketika penderitaan anak dianggap sebagai bagian dari pendidikan:

“Biar kapok.”

Ini menunjukkan bagaimana norma sosial dapat membentuk interpretasi terhadap penderitaan.

Jika suatu masyarakat sejak lama menganggap hukuman fisik sebagai bentuk pendidikan, rasa sakit anak dapat dipersepsikan sebagai “konsekuensi”, bukan sebagai masalah.

Sementara itu, memukul hewan mungkin sudah memiliki label sosial yang jauh lebih jelas sebagai tindakan kejam.

Dengan kata lain, bukan berarti manusia secara biologis memiliki dua standar empati yang berbeda terhadap anak dan hewan.

Sebagian perbedaan tersebut dapat terbentuk melalui pendidikan, budaya, pengalaman keluarga, dan norma sosial.

Mengapa Kontradiksi Ini Penting untuk Dibicarakan?

Membandingkan perlakuan terhadap anak dan hewan sebenarnya bukan untuk mengatakan bahwa keduanya harus diperlakukan dengan cara yang identik.

Anak dan hewan memiliki kebutuhan, kemampuan kognitif, serta hubungan sosial yang berbeda.

Namun perbandingan tersebut dapat membantu kita mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar:

Mengapa rasa sakit dianggap dapat diterima ketika diberikan kepada anak, tetapi tidak ketika diberikan kepada hewan?

Pertanyaan tersebut membantu kita melihat bahwa istilah seperti “disiplin” tidak boleh membuat kita berhenti mengevaluasi tindakan yang dilakukan.

Orang tua tentu membutuhkan cara untuk mengajarkan batasan kepada anak. Anak membutuhkan struktur, aturan, konsekuensi, dan bimbingan.

Tetapi disiplin tidak harus identik dengan rasa sakit.

Orang tua dapat menggunakan pendekatan seperti:

aturan yang jelas,
konsekuensi yang konsisten,
penguatan perilaku positif,
komunikasi mengenai akibat suatu tindakan,
pemberian pilihan yang terbatas,
pengurangan hak istimewa secara proporsional,
time-out atau jeda yang sesuai usia,
serta membantu anak memahami dan mengelola emosinya.

Pendekatan tersebut memang tidak selalu memberikan hasil dalam hitungan detik.

Namun tujuan pengasuhan bukan sekadar membuat anak diam saat ini.

Tujuan yang lebih besar adalah membantu anak berkembang menjadi seseorang yang mampu:

mengatur dirinya sendiri,
memahami konsekuensi,
menghormati orang lain,
menyelesaikan konflik,
dan melakukan hal yang benar bahkan ketika tidak ada orang tua yang mengawasi.
“Saya Dulu Dipukul dan Baik-Baik Saja”

Kalimat ini sangat umum muncul dalam pembicaraan mengenai hukuman fisik.

Masalah dengan argumen tersebut adalah adanya bias survivorship atau kecenderungan melihat orang-orang yang tampaknya baik-baik saja dan mengabaikan mereka yang mengalami dampak berbeda.

Seseorang mungkin memang pernah dipukul ketika kecil dan kemudian tumbuh menjadi orang dewasa yang merasa baik-baik saja.

Tetapi pengalaman individual tersebut tidak membuktikan bahwa memukul anak merupakan metode pengasuhan yang optimal.

Analogi sederhananya:

Seseorang dapat mengatakan:

“Saya dulu sering berkendara tanpa sabuk pengaman dan tidak pernah mengalami kecelakaan.”

Itu tidak membuktikan bahwa sabuk pengaman tidak berguna.

Demikian pula, seseorang yang tidak merasa terdampak oleh hukuman fisik tidak membuktikan bahwa hukuman fisik merupakan metode pendidikan yang aman atau diperlukan.

Yang lebih penting adalah melihat pola secara keseluruhan, bukan hanya satu pengalaman individu.

Memahami Orang Tua Bukan Berarti Membenarkan Kekerasan

Ada satu hal yang juga penting.

Ketika membahas mengapa orang tua memukul anak, kita tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa semua orang tua yang melakukannya adalah “orang jahat”.

Sebagian mungkin:

dibesarkan dengan pola yang sama,
tidak memiliki contoh pengasuhan alternatif,
mengalami stres berat,
kesulitan mengendalikan amarah,
percaya bahwa hukuman fisik efektif,
atau tidak menyadari dampaknya terhadap perkembangan anak.

Memahami faktor tersebut dapat membantu kita memutus siklus, bukan mencari pembenaran.

Justru ketika kita memahami bagaimana kekerasan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, kita memiliki peluang lebih besar untuk menghentikannya.

Orang tua dapat mengatakan:

“Dulu saya dipukul ketika melakukan kesalahan. Tetapi saya tidak harus melakukan hal yang sama kepada anak saya.”

Itulah bentuk refleksi yang penting dalam pengasuhan.

Kesimpulan

Mengapa sebagian orang menganggap memukul anak sebagai sesuatu yang wajar tetapi memukul hewan peliharaan sebagai tindakan kejam?

Menurut perspektif psikologi, setidaknya ada beberapa faktor yang dapat menjelaskannya:

Pukulan terhadap anak sering diberi label “disiplin”, bukan kekerasan.
Otoritas orang tua dapat berubah menjadi perasaan bahwa orang tua memiliki hak atas anak.
Pengalaman masa kecil dapat membuat hukuman fisik terasa normal dan familiar.
Perilaku anak lebih mudah dianggap sebagai pembangkangan yang disengaja dibandingkan perilaku hewan.
Pukulan memberikan perubahan perilaku yang cepat sehingga tampak efektif bagi orang tua.
Norma sosial membentuk standar empati yang berbeda terhadap anak dan hewan.

Namun ada perbedaan penting antara menjelaskan suatu perilaku dan membenarkannya.

Bahwa sebagian orang tua menganggap memukul sebagai bentuk disiplin tidak berarti memukul merupakan cara terbaik untuk mendidik anak.

Justru pertanyaan yang lebih sehat bukan:

“Apakah anak pantas dipukul ketika melakukan kesalahan?”

melainkan:

“Keterampilan apa yang sebenarnya ingin kita ajarkan kepada anak, dan apakah cara kita mendisiplinkannya membantu anak mempelajari keterampilan tersebut?”

Jika tujuannya adalah membentuk anak yang mampu mengendalikan diri, memahami konsekuensi, berempati, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, maka orang tua juga perlu menunjukkan bahwa kekuatan tidak harus digunakan untuk menyelesaikan masalah.

Anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan orang tua, tetapi juga dari cara orang tua menggunakan kekuasaan ketika sedang marah.

Dan mungkin di situlah letak pelajaran terbesar dari perbandingan antara anak dan hewan peliharaan: ketika kita mampu merasa bahwa makhluk yang lebih lemah harus dilindungi dari kekerasan, kita juga perlu bertanya apakah prinsip perlindungan yang sama seharusnya berlaku kepada anak yang sepenuhnya bergantung kepada kita.***
EDITOR: Novia Tri Astuti