Ketika pikiran penuh, kita mungkin membuka media sosial. Ketika lelah, kita memaksakan diri untuk tetap produktif. Ketika merasa kesepian, kita mencari validasi dari orang lain.
Ketika cemas, kita mencoba memikirkan semua kemungkinan agar merasa lebih siap. Bahkan ketika tubuh sebenarnya hanya membutuhkan tidur, makan yang cukup, udara segar, atau beberapa menit tanpa tuntutan, kita sering menganggap kebutuhan sederhana itu terlalu sepele.
Seolah-olah kenyamanan harus "diperjuangkan". Padahal, menurut psikologi, banyak bentuk ketenangan justru berasal dari hal-hal yang sangat sederhana: berhenti sejenak, menerima emosi, berada di lingkungan yang aman, terhubung dengan orang lain, melakukan aktivitas yang familiar, atau sekadar memberi tubuh kesempatan untuk beristirahat.
Lalu mengapa kita sering melewatkan cara-cara termudah tersebut? Jawabannya bukan karena kita bodoh atau tidak tahu cara merawat diri. Ada beberapa mekanisme psikologis yang membuat manusia cenderung mencari solusi yang lebih rumit, lebih intens, dan kadang justru melelahkan.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (11/9), terdapat tujuh alasannya.
1. Kita Mengira Sesuatu yang Sulit Akan Lebih Efektif
Salah satu alasan kita melewatkan kenyamanan sederhana adalah karena kita cenderung menganggap sesuatu yang membutuhkan lebih banyak usaha sebagai sesuatu yang lebih bernilai.
Ada semacam keyakinan tersembunyi:
"Kalau masalahku besar, solusinya juga harus besar."
Ketika sedang stres, misalnya, kita mungkin berpikir bahwa kita harus mengubah hidup secara drastis. Kita ingin membuat rutinitas baru, membaca banyak buku pengembangan diri, menyusun target, melakukan olahraga berat, mengatur ulang pekerjaan, atau mencari berbagai teknik untuk mengatasi stres.
Padahal, mungkin pada hari itu kita hanya membutuhkan tidur yang cukup.
Psikologi mengenal berbagai bentuk effort justification dan bias penilaian yang membuat manusia cenderung memberikan nilai lebih tinggi pada sesuatu yang terasa membutuhkan perjuangan. Kita mudah mengasosiasikan usaha dengan hasil.
Akibatnya, solusi sederhana terasa terlalu mudah untuk dipercaya.
Mandi air hangat?
"Ah, tidak mungkin masalahku selesai hanya dengan itu."
Tidur lebih awal?
"Besok juga pasti masih kepikiran."
Berjalan kaki sebentar?
"Kayaknya tidak ada gunanya."
Mengobrol dengan seseorang?
"Aku tidak mau merepotkan orang."
Kita akhirnya mencari sesuatu yang lebih kompleks.
Ironisnya, dalam keadaan kelelahan mental, kompleksitas justru dapat menjadi beban tambahan.
Kenyamanan tidak selalu membutuhkan perubahan besar
Bayangkan seseorang yang seharian bekerja di depan komputer. Bahunya tegang, matanya lelah, pikirannya penuh. Ia kemudian menghabiskan satu jam mencari video motivasi agar kembali produktif.
Padahal tubuhnya mungkin sedang mengirim pesan yang sangat sederhana:
"Berhenti sebentar."
Ini bukan berarti setiap masalah bisa diselesaikan dengan tidur, mandi, atau berjalan kaki. Masalah psikologis yang serius tentu membutuhkan penanganan yang lebih tepat.
Namun, untuk ketidaknyamanan sehari-hari, kita sering mengabaikan intervensi paling dasar karena menganggapnya terlalu sederhana.
Kadang-kadang, langkah pertama untuk merasa lebih baik bukanlah melakukan lebih banyak.
Melainkan mengurangi beban.
2. Kita Terlalu Sibuk Mencari Alasan Mengapa Kita Merasa Tidak Nyaman
Ketika merasa buruk, manusia memiliki kecenderungan untuk mencari penjelasan.
"Kenapa aku begini?"
"Kenapa aku tidak bahagia?"
"Kenapa aku selalu overthinking?"
"Apakah ada yang salah denganku?"
"Apakah hidupku sebenarnya tidak sesuai dengan yang kuinginkan?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa berguna. Introspeksi membantu kita memahami diri sendiri.
Tetapi ada titik ketika introspeksi berubah menjadi rumination—memikirkan masalah berulang kali tanpa menghasilkan penyelesaian yang berarti.
Kita bukan lagi memahami emosi.
Kita sedang mengulanginya.
Misalnya, seseorang merasa sedih pada malam hari. Ia kemudian mengingat percakapan dengan seseorang beberapa bulan lalu. Ia menghubungkannya dengan pengalaman masa kecil. Kemudian ia memikirkan keputusan-keputusan yang pernah dibuat. Setelah itu, ia membayangkan masa depan.
Satu rasa sedih kecil berkembang menjadi perjalanan mental selama dua jam.
Padahal, mungkin yang sebenarnya ia perlukan adalah mengakui:
"Aku sedang sedih malam ini."
Tidak semua emosi membutuhkan analisis mendalam pada saat emosi tersebut muncul.
Tidak semua perasaan harus langsung dijelaskan
Ada perbedaan antara memahami emosi dan berusaha memecahkan emosi.
Sedih tidak selalu membutuhkan alasan yang sempurna.
Lelah tidak selalu berarti kita gagal.
Cemas tidak selalu berarti ada sesuatu yang buruk akan terjadi.
Kesepian tidak selalu berarti hidup kita salah arah.
Kadang tubuh dan pikiran hanya sedang mengalami sesuatu.
Kemampuan untuk mengatakan, "Aku merasa tidak nyaman, dan untuk sementara aku boleh merasakan ini," dapat menjadi bentuk regulasi emosi yang jauh lebih sehat daripada terus-menerus bertanya mengapa.
Kita sering mencari jawaban ketika yang kita butuhkan sebenarnya adalah ruang.
3. Kita Terbiasa Menganggap Istirahat sebagai Sesuatu yang Harus Diperoleh
Banyak orang tumbuh dengan gagasan bahwa istirahat adalah hadiah setelah semua pekerjaan selesai.
Selesaikan pekerjaan dulu.
Balas semua pesan dulu.
Rapikan semuanya dulu.
Capai target dulu.
Baru kemudian kita boleh beristirahat.
Masalahnya, "semuanya selesai" hampir tidak pernah terjadi.
Selalu ada email berikutnya.
Ada pekerjaan berikutnya.
Ada pesan yang belum dibalas.
Ada target baru.
Ada hal yang harus diperbaiki.
Akhirnya, istirahat terus ditunda.
Dalam budaya yang sangat menghargai produktivitas, kita bahkan dapat merasa bersalah ketika tidak melakukan sesuatu.
Kita berbaring di tempat tidur, tetapi pikiran berkata:
"Seharusnya aku melakukan sesuatu."
Kita menonton film, tetapi merasa:
"Waktu ini seharusnya bisa digunakan untuk belajar."
Kita mengambil cuti, tetapi tetap memikirkan pekerjaan.
Secara fisik kita berhenti.
Secara mental kita belum pulang.
Istirahat bukan kemalasan
Istirahat memiliki fungsi biologis dan psikologis. Tubuh membutuhkan kesempatan untuk memulihkan energi, sementara pikiran membutuhkan periode ketika tuntutan kognitif berkurang.
Karena itu, salah satu cara termudah untuk merasa lebih nyaman sebenarnya sangat sederhana:
berhenti sejenak tanpa harus membuktikan bahwa kita pantas berhenti.
Kita tidak harus mencapai titik kehancuran terlebih dahulu untuk mendapatkan hak beristirahat.
Anda tidak perlu "cukup lelah" untuk tidur.
Anda tidak perlu "cukup produktif" untuk mengambil jeda.
Anda tidak perlu menyelesaikan seluruh hidup sebelum memberikan diri sendiri waktu untuk bernapas.
4. Kita Sering Mencari Kenyamanan dari Hal yang Justru Membuat Otak Semakin Terstimulasi
Ini adalah salah satu paradoks kehidupan modern.
Ketika lelah, kita membuka media sosial.
Ketika bosan, kita membuka media sosial.
Ketika cemas, kita membuka media sosial.
Ketika ingin mengalihkan pikiran, kita membuka media sosial.
Masalahnya, stimulasi tidak selalu sama dengan kenyamanan.
Scrolling memberikan rangsangan baru terus-menerus. Ada informasi, video, komentar, berita, hiburan, perbandingan sosial, dan notifikasi.
Dalam jangka pendek, perhatian kita teralihkan.
Tetapi setelah beberapa waktu, pikiran justru bisa terasa lebih penuh.
Kita tadinya lelah karena pekerjaan.
Kemudian kita menambahkan ratusan potongan informasi baru ke dalam kepala.
Distraksi dan pemulihan bukan hal yang sama
Menonton video lucu bisa menyenangkan. Bermain gim bisa menghibur. Membaca media sosial bisa membuat kita merasa terhubung.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Namun, jika setiap kali merasa tidak nyaman kita langsung mencari stimulasi, kita mungkin tidak pernah benar-benar memberi kesempatan kepada sistem saraf untuk menurunkan intensitas.
Kadang kenyamanan justru datang dari sesuatu yang jauh lebih membosankan:
duduk tanpa membuka ponsel,
berjalan perlahan,
mendengarkan musik yang familiar,
melihat pemandangan,
merapikan ruangan,
membuat minuman hangat,
membaca beberapa halaman buku,
atau tidur.
Hal-hal tersebut mungkin tidak memberikan "ledakan" kesenangan.
Tetapi kenyamanan tidak selalu terasa seperti kegembiraan.
Kenyamanan sering kali terasa seperti tidak perlu melakukan apa-apa.
5. Kita Meremehkan Kekuatan Hal-Hal yang Familiar
Otak manusia sangat dipengaruhi oleh pengalaman yang familiar.
Itulah salah satu alasan mengapa kita sering merasa nyaman dengan tempat, suara, makanan, aroma, lagu, atau rutinitas tertentu yang sudah kita kenal.
Sebuah lagu lama bisa membuat kita merasa tenang tanpa kita tahu persis mengapa.
Makanan sederhana yang mengingatkan pada rumah bisa memberikan rasa aman.
Kamar yang sudah dikenal dapat terasa lebih nyaman dibanding tempat baru yang sebenarnya jauh lebih mewah.
Rutinitas kecil sebelum tidur dapat memberi sinyal bahwa hari sudah selesai.
Dalam psikologi, rasa familiar sering berkaitan dengan rasa dapat diprediksi. Dan prediktabilitas dapat membantu mengurangi ketidakpastian.
Ketika dunia terasa kacau, sesuatu yang familiar memberikan sedikit rasa:
"Aku tahu apa yang sedang terjadi."
Kita sering mengejar pengalaman baru ketika sebenarnya membutuhkan stabilitas
Ada saatnya pengalaman baru memang dibutuhkan.
Tetapi ketika sedang kewalahan, otak tidak selalu membutuhkan lebih banyak kebaruan.
Ia mungkin membutuhkan sesuatu yang sudah dikenal.
Itulah mengapa pada hari yang berat, kita sering kembali ke film yang sudah pernah ditonton, lagu lama, makanan favorit, atau percakapan dengan orang yang membuat kita merasa aman.
Kita tidak sedang kekurangan hiburan.
Kita mungkin sedang membutuhkan rasa familiar.
Dan rasa nyaman sering kali bukan sesuatu yang harus ditemukan.
Kadang ia adalah sesuatu yang sebenarnya sudah ada di sekitar kita.
6. Kita Mengira Harus Menyelesaikan Masalah Sebelum Boleh Merasa Tenang
Ini salah satu jebakan psikologis yang paling melelahkan.
Kita berkata kepada diri sendiri:
"Nanti aku akan tenang setelah masalah ini selesai."
"Nanti aku bahagia kalau pekerjaan ini selesai."
"Nanti aku bisa santai kalau keuangan sudah aman."
"Nanti aku bisa menikmati hidup kalau semuanya sudah beres."
Masalahnya, hidup hampir tidak pernah benar-benar "beres".
Satu masalah selesai, masalah lain muncul.
Target tercapai, muncul target berikutnya.
Satu ketidakpastian hilang, muncul ketidakpastian lain.
Jika kita hanya mengizinkan diri sendiri merasa nyaman ketika semua masalah sudah terselesaikan, kita membuat kenyamanan menjadi sesuatu yang hampir mustahil diperoleh.
Kita bisa merasa tidak nyaman dan tetap memiliki momen nyaman
Ini bukan berarti menyangkal masalah.
Seseorang dapat sedang mengalami persoalan hidup yang serius dan tetap menikmati secangkir kopi.
Seseorang dapat sedang mencari pekerjaan dan tetap tertawa bersama teman.
Seseorang dapat sedang menghadapi masa depan yang tidak pasti dan tetap menikmati matahari sore.
Dua hal dapat benar secara bersamaan:
"Hidupku sedang sulit."
dan
"Aku masih boleh merasakan sesuatu yang menyenangkan."
Kemampuan untuk membiarkan momen nyaman hadir di tengah ketidakpastian merupakan bentuk fleksibilitas psikologis.
Kita tidak harus menunggu kehidupan menjadi sempurna untuk memberikan diri sendiri sedikit ketenangan.
7. Kita Sering Lupa bahwa Kenyamanan Bisa Datang dari Hubungan, Bukan dari Diri Sendiri Saja
Manusia adalah makhluk sosial.
Ketika mengalami tekanan, kita sering mencoba menyelesaikannya sendirian.
Kita memendam.
Kita mengatakan, "Aku bisa mengatasinya."
Kita tidak ingin merepotkan siapa pun.
Kita takut dianggap lemah.
Akhirnya, kita mencari berbagai cara untuk menenangkan diri tanpa menyadari bahwa salah satu sumber kenyamanan paling kuat sebenarnya adalah hubungan dengan orang lain.
Tidak selalu membutuhkan nasihat.
Kadang kita hanya membutuhkan seseorang yang berkata:
"Aku mengerti."
"Aku di sini."
"Kalau mau cerita, aku dengarkan."
Atau bahkan sekadar duduk bersama tanpa membicarakan masalah.
Kehadiran sering lebih penting daripada solusi
Ketika seseorang sedang sedih, kita sering buru-buru mencari solusi.
"Harusnya kamu..."
"Coba lakukan..."
"Kalau aku jadi kamu..."
Padahal, terkadang orang tersebut tidak membutuhkan jawaban.
Ia membutuhkan pengalaman bahwa dirinya tidak sendirian.
Hubungan sosial yang aman dapat memberikan rasa diterima dan dipahami. Dan perasaan tersebut merupakan bagian penting dari kesejahteraan psikologis.
Ironisnya, ketika sedang membutuhkan koneksi, kita justru bisa menarik diri.
Kita berpikir:
"Aku tidak ingin membebani orang."
Padahal, hubungan yang sehat bukan hanya tentang berbagi kebahagiaan.
Ia juga tentang memiliki ruang untuk menjadi manusia ketika kita sedang tidak baik-baik saja.
Jadi, Apa Sebenarnya Cara Termudah untuk Merasa Nyaman?
Tidak ada satu cara yang berlaku untuk semua orang.
Tetapi jika kita memperhatikan tujuh alasan di atas, ada satu pola yang cukup jelas.
Kita sering mencari kenyamanan dengan menambahkan sesuatu:
lebih banyak hiburan,
lebih banyak informasi,
lebih banyak aktivitas,
lebih banyak pencapaian,
lebih banyak analisis,
lebih banyak distraksi.
Padahal, kenyamanan sering muncul ketika kita justru mengurangi sesuatu.
Mengurangi tuntutan.
Mengurangi stimulasi.
Mengurangi penilaian terhadap diri sendiri.
Mengurangi kebutuhan untuk segera menemukan jawaban.
Mengurangi tekanan untuk selalu produktif.
Mengurangi keharusan untuk terlihat baik-baik saja.
Dan dari sana, kita mungkin menemukan beberapa bentuk kenyamanan yang sangat sederhana.
Tidur.
Bernapas.
Makan.
Berjalan.
Mandi.
Berbicara dengan seseorang.
Mendengarkan musik.
Berada di tempat yang familiar.
Menyelesaikan satu hal kecil.
Atau bahkan tidak melakukan apa-apa untuk beberapa menit.
Kenyamanan Tidak Selalu Berarti Bahagia
Ada satu hal penting yang sering kita lupakan.
Merasa nyaman tidak sama dengan merasa bahagia.
Bahagia biasanya dikaitkan dengan emosi positif yang kuat.
Kenyamanan lebih lembut.
Ia bisa berupa rasa aman.
Rasa lega.
Rasa tidak harus terburu-buru.
Rasa diterima.
Rasa bahwa untuk beberapa saat kita tidak perlu memperbaiki apa pun.
Kenyamanan mungkin tidak membuat masalah hilang.
Tetapi ia dapat memberi kita energi untuk menghadapi masalah tersebut dengan kepala yang lebih jernih.
Itulah mengapa kita tidak selalu membutuhkan motivasi ketika sedang lelah.
Kadang kita membutuhkan pemulihan.
Kita tidak selalu membutuhkan jawaban ketika sedang bingung.
Kadang kita membutuhkan ruang.
Kita tidak selalu membutuhkan perubahan besar ketika sedang tertekan.
Kadang kita membutuhkan sesuatu yang familiar.
Penutup: Mungkin Kita Tidak Kekurangan Cara untuk Merasa Nyaman
Mungkin masalahnya bukan bahwa kita tidak tahu bagaimana cara merasa nyaman.
Mungkin kita terlalu sering mengabaikan cara-cara yang sederhana.
Kita menganggap tidur sebagai kemalasan.
Kita menganggap jeda sebagai pemborosan waktu.
Kita menganggap meminta ditemani sebagai kelemahan.
Kita menganggap aktivitas sederhana terlalu tidak produktif.
Kita menganggap perasaan harus segera dijelaskan.
Kita menganggap hidup harus dibereskan terlebih dahulu sebelum kita boleh tenang.
Padahal, menjadi manusia berarti tidak selalu berada dalam kondisi optimal.
Ada hari ketika kita produktif.
Ada hari ketika kita hanya mampu bertahan.
Ada hari ketika kita penuh energi.
Ada hari ketika kita membutuhkan tempat untuk berhenti.
Dan semuanya adalah bagian dari kehidupan.
Mungkin, lain kali ketika merasa tidak nyaman, kita tidak perlu langsung bertanya:
"Apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki hidupku?"
Cobalah bertanya dengan lebih sederhana:
"Apa yang sebenarnya sedang kubutuhkan sekarang?"
Mungkin jawabannya bukan sesuatu yang besar.
Mungkin Anda hanya perlu tidur.
Mungkin perlu makan.
Mungkin perlu keluar sebentar.
Mungkin perlu mematikan ponsel.
Mungkin perlu berbicara dengan seseorang.
Mungkin perlu menangis.
Atau mungkin, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Anda hanya perlu memberikan izin kepada diri sendiri untuk berhenti.
Karena terkadang, cara termudah untuk merasa nyaman bukanlah menemukan sesuatu yang baru.