Kita berpikir, “Nanti kalau uang sudah cukup, saya akan tenang.” Nanti kalau pekerjaan sudah stabil, saya akan bahagia. Nanti kalau hubungan saya membaik, saya akan merasa damai. Nanti kalau semua rencana berjalan sesuai keinginan, barulah hidup saya terasa baik.
Namun kehidupan tidak bekerja seperti itu. Masalah akan selalu datang dalam bentuk yang berbeda. Ketika satu persoalan selesai, persoalan lain mungkin muncul. Ketika kondisi keuangan membaik, bisa saja muncul masalah kesehatan.
Ketika pekerjaan mulai stabil, mungkin hubungan dengan orang lain justru menghadapi ujian. Ketika kita merasa sudah memahami hidup, keadaan dapat berubah dan memaksa kita belajar lagi.
Karena itu, menjalani hidup yang baik bukan tentang menemukan kehidupan yang tidak memiliki masalah. Ini tentang menjadi seseorang yang tetap mampu menjalani hidup dengan baik meskipun masalah datang.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (11/9), psikologi modern banyak membahas kemampuan manusia untuk menghadapi tekanan, beradaptasi terhadap perubahan, membangun hubungan yang sehat, dan menemukan makna dalam kehidupan. Dari berbagai prinsip tersebut, ada lima kunci yang layak kita pegang.
Bukan karena kelima hal ini akan membuat hidup selalu mudah. Tetapi karena kelimanya dapat membantu kita menjadi lebih kuat ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan.
1. Terima Bahwa Tidak Semua Hal Bisa Kamu Kendalikan
Salah satu sumber penderitaan terbesar manusia adalah keinginan untuk mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendalinya.
Kita ingin semua orang memahami kita.
Kita ingin orang lain memperlakukan kita sesuai harapan.
Kita ingin masa depan berjalan sesuai rencana.
Kita ingin tidak pernah gagal.
Kita ingin tidak pernah kehilangan orang yang kita cintai.
Kita ingin tidak pernah mengalami kekecewaan.
Masalahnya, kehidupan tidak memberikan kendali sebesar itu kepada kita.
Kamu tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain pikirkan tentangmu.
Kamu tidak bisa mengendalikan bagaimana seseorang memperlakukanmu.
Kamu tidak bisa mengendalikan masa lalu.
Kamu tidak bisa memastikan bahwa semua rencanamu akan berhasil.
Dan kamu tidak bisa menjamin bahwa hidup akan selalu memberikan apa yang kamu inginkan.
Namun ada sesuatu yang masih bisa kamu kendalikan:
responsmu.
Kamu mungkin tidak bisa memilih masalah yang datang, tetapi kamu masih bisa memilih bagaimana menghadapinya.
Kamu mungkin tidak bisa mengubah perkataan seseorang, tetapi kamu bisa memilih apakah akan membiarkan perkataan itu menghancurkan harga dirimu.
Kamu mungkin tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kamu bisa menentukan apa yang akan kamu lakukan setelah belajar darinya.
Inilah salah satu prinsip penting dalam psikologi: membedakan antara sesuatu yang berada dalam kendali kita dan sesuatu yang berada di luar kendali kita.
Ketika kita terus-menerus berusaha mengontrol hal-hal yang tidak bisa dikontrol, energi mental kita akan terkuras.
Sebaliknya, ketika kita mulai mengarahkan perhatian kepada hal-hal yang memang dapat kita lakukan, kita mendapatkan kembali rasa kendali atas kehidupan.
Misalnya, kamu kehilangan pekerjaan.
Kamu tidak dapat memutar waktu dan menghapus keputusan perusahaan.
Tetapi kamu bisa memperbarui CV.
Kamu bisa belajar keterampilan baru.
Kamu bisa menghubungi orang-orang yang mungkin membuka peluang.
Kamu bisa mengatur pengeluaran.
Kamu bisa menjaga kesehatan.
Kamu bisa memilih untuk tidak menyerah.
Masalahnya mungkin tidak langsung hilang. Tetapi posisi mentalmu berubah.
Dari:
"Kenapa ini terjadi kepadaku?"
menjadi:
"Apa yang masih bisa kulakukan dari keadaan ini?"
Pertanyaan kedua jauh lebih memberdayakan.
Jadi ketika hidup terasa kacau, tanyakan kepada dirimu:
“Apa yang bisa saya kendalikan sekarang?”
Lalu fokuslah pada itu.
Tidak perlu menyelesaikan seluruh hidup dalam satu hari.
Cukup lakukan hal yang memang berada dalam jangkauanmu hari ini.
2. Jangan Jadikan Kegagalan Sebagai Identitas
Semua orang pernah gagal.
Namun tidak semua orang mampu memandang kegagalan dengan cara yang sehat.
Ada orang yang gagal sekali lalu berkata:
"Saya memang bodoh."
Ada yang ditolak sekali lalu berpikir:
"Tidak ada yang akan pernah menerima saya."
Ada yang bisnisnya gagal lalu menyimpulkan:
"Saya memang tidak cocok menjadi orang sukses."
Di sinilah kita sering melakukan kesalahan psikologis.
Kita mengubah sebuah peristiwa menjadi identitas diri.
Padahal kedua hal tersebut berbeda.
Gagal dalam sesuatu tidak berarti kamu adalah seorang yang gagal.
Ditolak seseorang tidak berarti kamu tidak layak dicintai.
Kehilangan pekerjaan tidak berarti kamu tidak berguna.
Melakukan kesalahan tidak berarti kamu adalah manusia yang buruk.
Kegagalan adalah informasi.
Ia memberi tahu kita bahwa cara tertentu tidak berhasil.
Dan terkadang, kegagalan bahkan menunjukkan sesuatu yang perlu diperbaiki sebelum kita melangkah lebih jauh.
Cara kita menjelaskan kegagalan kepada diri sendiri sangat penting.
Bayangkan dua orang mengalami kegagalan yang sama.
Orang pertama berkata:
"Saya gagal. Berarti saya memang tidak mampu."
Orang kedua berkata:
"Saya gagal kali ini. Berarti ada sesuatu yang harus saya pelajari dan perbaiki."
Peristiwa yang mereka alami sama.
Tetapi makna yang mereka berikan berbeda.
Dan makna tersebut dapat memengaruhi bagaimana mereka bertindak setelahnya.
Inilah mengapa pola pikir bertumbuh sering dianggap penting dalam menghadapi tantangan. Kita tidak melihat kemampuan sebagai sesuatu yang sepenuhnya tetap. Kita memahami bahwa sebagian kemampuan dapat berkembang melalui latihan, pengalaman, strategi, dan pembelajaran.
Bukan berarti kita harus selalu berpikir positif secara berlebihan.
Kamu tidak perlu mengatakan:
"Kegagalanku luar biasa! Aku bahagia gagal!"
Tidak.
Kamu boleh kecewa.
Kamu boleh sedih.
Kamu boleh marah.
Kamu boleh mengakui bahwa kegagalan itu menyakitkan.
Tetapi jangan berhenti di sana.
Setelah mengakui rasa sakitnya, tanyakan:
“Apa yang bisa saya pelajari dari ini?”
Karena terkadang pertanyaan yang tepat tidak menghilangkan luka, tetapi membantu kita menemukan arah setelah terluka.
3. Rawat Hubungan dengan Orang yang Benar-Benar Berarti
Manusia bukan makhluk yang dirancang untuk hidup sepenuhnya sendirian.
Kita membutuhkan hubungan.
Kita membutuhkan rasa terhubung.
Kita membutuhkan seseorang yang bisa diajak berbicara ketika hidup terasa berat.
Kita membutuhkan tempat di mana kita tidak harus selalu terlihat kuat.
Dan penelitian psikologi selama bertahun-tahun menunjukkan betapa pentingnya hubungan sosial yang berkualitas bagi kesejahteraan manusia.
Namun ada perbedaan besar antara memiliki banyak orang di sekitar kita dan memiliki hubungan yang bermakna.
Kamu bisa memiliki ratusan teman di media sosial dan tetap merasa kesepian.
Sebaliknya, kamu mungkin hanya memiliki beberapa orang dekat tetapi merasa sangat dipahami dan diterima.
Karena yang kita butuhkan bukan sekadar jumlah hubungan.
Kita membutuhkan kualitas hubungan.
Maka jangan terlalu sibuk mengejar pengakuan dari semua orang sampai lupa menghargai orang-orang yang benar-benar hadir dalam hidupmu.
Hubungi orang yang kamu sayangi.
Tanyakan bagaimana keadaan mereka.
Dengarkan tanpa selalu ingin memberikan nasihat.
Hadirlah ketika mereka membutuhkanmu.
Dan jangan takut meminta bantuan ketika kamu sendiri sedang kesulitan.
Ada anggapan bahwa menjadi kuat berarti mampu melakukan semuanya sendirian.
Padahal meminta bantuan bukan selalu tanda kelemahan.
Terkadang justru dibutuhkan keberanian untuk berkata:
"Aku sedang tidak baik-baik saja."
Kamu tidak harus menceritakan seluruh masalahmu kepada semua orang.
Pilih orang yang aman.
Orang yang bisa menghargai ceritamu.
Orang yang tidak menggunakan kelemahanmu untuk menyerangmu.
Orang yang mampu mendengarkan.
Dan pada saat yang sama, jadilah orang seperti itu bagi orang lain.
Karena kehidupan yang baik bukan hanya tentang bagaimana orang lain memperlakukan kita.
Tetapi juga tentang bagaimana kita hadir dalam kehidupan orang lain.
4. Belajar Berdamai dengan Perasaan, Bukan Terus-Menerus Melawannya
Banyak orang menghabiskan energi untuk melawan perasaan mereka sendiri.
Ketika sedih, mereka berkata:
"Saya tidak boleh sedih."
Ketika takut:
"Saya harus berhenti takut."
Ketika kecewa:
"Saya tidak boleh merasakan ini."
Ketika marah:
"Saya harus segera menghilangkannya."
Padahal emosi adalah bagian normal dari pengalaman manusia.
Kamu tidak harus menyukai semua perasaan yang muncul.
Tetapi kamu bisa belajar untuk mengakuinya.
Ada perbedaan antara:
“Saya sedang merasa sedih.”
dan
“Saya adalah orang yang menyedihkan.”
Ada perbedaan antara:
“Saya sedang takut.”
dan
“Saya adalah orang yang lemah.”
Emosi adalah pengalaman.
Emosi bukan selalu identitas.
Dan emosi juga bukan selalu perintah yang harus langsung kita ikuti.
Ketika kamu marah, kamu tidak harus langsung mengirim pesan kasar.
Ketika kamu takut, kamu tidak harus langsung menyerah.
Ketika kamu sedih, kamu tidak harus membuat keputusan besar.
Berikan ruang untuk perasaan tersebut.
Tarik napas.
Berhenti sejenak.
Amati apa yang terjadi dalam dirimu.
Tanyakan:
“Apa sebenarnya yang sedang saya rasakan?”
Kemudian:
“Apa yang mungkin menyebabkan perasaan ini?”
Dan:
“Respons seperti apa yang paling sesuai dengan nilai yang ingin saya jalani?”
Ini jauh lebih sehat daripada bertindak secara impulsif terhadap setiap emosi.
Kamu tidak harus menghilangkan semua emosi negatif agar bisa hidup dengan baik.
Tujuan kesehatan psikologis bukan menjadi manusia yang selalu bahagia.
Tujuannya adalah memiliki kemampuan untuk mengalami berbagai emosi tanpa kehilangan kendali atas hidup kita.
Kamu boleh sedih dan tetap menjalani hari.
Kamu boleh takut dan tetap melangkah.
Kamu boleh kecewa dan tetap memilih menjadi orang yang baik.
Kamu boleh mengalami hari yang buruk tanpa menyimpulkan bahwa seluruh hidupmu buruk.
5. Miliki Sesuatu yang Membuat Hidupmu Bermakna
Pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan kenyamanan.
Kita juga membutuhkan makna.
Seseorang bisa memiliki uang, pekerjaan bagus, rumah nyaman, dan berbagai fasilitas, tetapi tetap merasa kosong apabila tidak mengetahui untuk apa semua itu dijalani.
Makna tidak selalu berarti sesuatu yang besar.
Kamu tidak harus mengubah dunia.
Makna bisa ditemukan dalam hal-hal sederhana.
Membangun keluarga yang hangat.
Menjadi orang tua yang hadir.
Membantu orang lain.
Menciptakan karya.
Mengembangkan kemampuan.
Merawat orang yang kita cintai.
Belajar sesuatu yang kita sukai.
Menjalani pekerjaan dengan penuh tanggung jawab.
Memberikan manfaat meskipun hanya kepada beberapa orang.
Yang penting adalah memiliki alasan yang membuatmu merasa:
“Hidup saya layak dijalani.”
Dan menariknya, makna sering kali muncul bukan ketika hidup mudah, tetapi ketika kita melakukan sesuatu yang bernilai meskipun keadaan sulit.
Misalnya, seseorang tetap merawat keluarganya meskipun sedang mengalami masa berat.
Seseorang tetap belajar meskipun berkali-kali gagal.
Seseorang tetap membantu orang lain meskipun dirinya sendiri tidak memiliki kehidupan yang sempurna.
Di situlah kita menemukan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kesenangan.
Kesenangan bisa datang dan pergi.
Tetapi makna dapat memberi kita alasan untuk tetap berjalan.
Maka tanyakan kepada dirimu:
“Saya ingin menjadi orang seperti apa?”
Bukan hanya:
"Saya ingin memiliki apa?"
Karena kehidupan yang baik tidak hanya dibangun dari pencapaian.
Ia juga dibangun dari karakter.
Dari nilai.
Dari hubungan.
Dari cara kita memperlakukan orang lain.
Dan dari pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari.
Jadi, Apa yang Harus Dilakukan Ketika Hidup Benar-Benar Sulit?
Akan ada masa ketika kelima prinsip di atas terasa sangat sulit dilakukan.
Ada hari ketika kamu tahu bahwa kamu harus menerima keadaan, tetapi hatimu masih menolak.
Ada hari ketika kamu tahu kegagalan adalah bagian dari proses, tetapi tetap terasa menyakitkan.
Ada hari ketika kamu tahu harus berbicara dengan orang lain, tetapi kamu bahkan tidak memiliki energi untuk menjelaskan apa yang terjadi.
Ada hari ketika kamu tahu hidup memiliki makna, tetapi kamu sedang terlalu lelah untuk melihatnya.
Dan itu tidak membuatmu gagal.
Menjadi kuat bukan berarti selalu mampu menjalankan semuanya dengan sempurna.
Kadang-kadang menjadi kuat hanya berarti tidak membuat keputusan permanen ketika sedang mengalami emosi sementara.
Kadang-kadang menjadi kuat berarti tidur lebih awal.
Kadang-kadang berarti meminta bantuan.
Kadang-kadang berarti berhenti sejenak.
Kadang-kadang berarti mengakui:
"Hari ini berat. Besok saya coba lagi."
Kita sering mengira perubahan besar harus dimulai dengan tindakan besar.
Padahal kehidupan dibangun dari tindakan kecil yang dilakukan berulang kali.
Satu percakapan yang jujur.
Satu kebiasaan yang lebih sehat.
Satu keputusan untuk tidak menyerah.
Satu jam belajar.
Satu permintaan maaf.
Satu batasan yang sehat.
Satu langkah kecil menuju sesuatu yang penting.
Kemudian satu langkah lagi.
Dan satu lagi.
Pada Akhirnya, Hidup yang Baik Bukan Hidup yang Sempurna
Mungkin kamu tidak akan pernah memiliki kehidupan yang sepenuhnya bebas dari masalah.
Tidak ada yang benar-benar mendapat jaminan seperti itu.
Kamu akan mengalami kehilangan.
Kamu akan mengalami penolakan.
Kamu akan melakukan kesalahan.
Kamu akan bertemu orang yang mengecewakanmu.
Rencana akan gagal.
Keadaan akan berubah.
Dan terkadang, kamu akan merasa tidak tahu harus melakukan apa.
Tetapi semua itu tidak berarti kamu tidak bisa memiliki kehidupan yang baik.
Kamu tetap bisa memilih untuk menjaga hal-hal yang penting.
Kamu tetap bisa belajar.
Kamu tetap bisa mencintai.
Kamu tetap bisa membangun hubungan yang sehat.
Kamu tetap bisa menemukan makna.
Dan kamu tetap bisa bangkit setelah jatuh.
Jadi, jika suatu hari hidup terasa berat, ingatlah lima hal ini:
Pertama, fokus pada apa yang bisa kamu kendalikan.
Kedua, jangan jadikan kegagalan sebagai identitas dirimu.
Ketiga, rawat hubungan dengan orang-orang yang benar-benar berarti.
Keempat, izinkan dirimu merasakan emosi tanpa membiarkan emosi mengendalikan seluruh hidupmu.
Kelima, miliki sesuatu yang membuat hidupmu bermakna.
Mungkin kelima hal itu tidak akan menghapus semua masalah.
Tetapi mungkin memang bukan itu tujuannya.
Karena tujuan hidup yang baik bukan membuat kita kebal terhadap masalah.
Tujuannya adalah membuat kita cukup kuat, cukup sadar, dan cukup fleksibel untuk tetap menjalani hidup dengan baik ketika masalah itu datang.
Pada akhirnya, kita tidak bisa memilih semua hal yang terjadi dalam hidup.
Tetapi setiap hari kita masih memiliki kesempatan untuk memilih bagaimana kita meresponsnya.
Dan terkadang, kehidupan yang lebih baik tidak dimulai ketika masalah kita hilang.