JawaPos.com - Bekerja dari rumah sering dianggap sebagai salah satu bentuk pekerjaan yang paling nyaman.
Tidak perlu menghadapi kemacetan, tidak harus terburu-buru mengejar transportasi, bahkan seseorang bisa menyelesaikan pekerjaannya sambil berada di rumah sendiri.
Namun, kenyamanan tersebut ternyata tidak selalu berarti tekanan kerja menjadi lebih rendah.
Bagi sebagian pekerja, bekerja dari rumah justru dapat menghadirkan persoalan mental dan emosional yang tidak selalu terlihat, mulai dari sulit membangun kedekatan dengan rekan kerja hingga kekhawatiran mengenai perkembangan karier.
Dirangkum dari laman YourTango, artikel ini akan membahas sejumlah faktor yang membuat pekerjaan jarak jauh tidak selalu terasa seringan yang dibayangkan. Ini 4 alasannya.
1. Lebih Sulit Membangun Kedekatan dengan Rekan Kerja
Salah satu alasan bekerja dari rumah dapat terasa lebih melelahkan secara mental adalah berkurangnya interaksi sosial dengan rekan kerja. Memang, pekerja remote tetap bisa mengikuti rapat virtual, membalas email, dan berkomunikasi melalui aplikasi pesan. Namun, sebagian besar komunikasi tersebut biasanya berfokus langsung pada pekerjaan.
Di kantor, hubungan profesional sering berkembang melalui interaksi kecil yang terjadi secara alami. Misalnya, mengobrol sebentar ketika mengambil kopi, bercanda sebelum rapat dimulai, bertanya mengenai keluarga rekan kerja, atau sekadar berbincang mengenai hal-hal di luar pekerjaan.
Interaksi sederhana semacam itu mungkin terlihat tidak penting, tetapi dapat membantu seseorang merasa menjadi bagian dari sebuah kelompok. Ketika bekerja dari rumah, kesempatan tersebut menjadi jauh lebih terbatas sehingga hubungan dengan rekan kerja dapat terasa lebih formal dan transaksional.
YourTango juga mengutip penelitian yang dipublikasikan di Nature Human Behaviour, yang menemukan bahwa ketika karyawan beralih ke pola kerja jarak jauh, mereka cenderung lebih sedikit berinteraksi dengan orang-orang dari departemen lain. Komunikasi juga lebih banyak berlangsung melalui email atau platform pesan dibandingkan percakapan langsung.
Dalam jangka panjang, kondisi ini pada sebagian orang dapat memunculkan rasa terisolasi. Bukan karena tidak memiliki rekan kerja, melainkan karena kurangnya hubungan sosial yang terasa dekat dan spontan.
2. Muncul Kekhawatiran Karier Akan Berjalan Lebih Lambat
Bekerja dari rumah juga dapat menimbulkan tekanan ketika seseorang mulai mempertanyakan masa depan kariernya. Pertanyaan seperti “Apakah atasan masih melihat kontribusi saya?”, “Apakah saya memiliki kesempatan mendapatkan promosi?” atau “Apakah rekan kerja di kantor lebih mudah mendapatkan perhatian manajemen?” dapat terus muncul di dalam pikiran.
Menurut sumber YourTango, pekerja remote dalam laporan yang dibahas memiliki kejelasan yang lebih rendah mengenai peluang perkembangan karier. Kondisi tersebut terutama dapat menjadi persoalan ketika dalam satu perusahaan terdapat karyawan yang bekerja dari kantor dan karyawan yang bekerja dari rumah.
Masalahnya bukan selalu karena pekerja remote memiliki performa lebih rendah. Sebaliknya, terkadang persoalan muncul karena kesempatan untuk membangun hubungan informal dengan atasan menjadi lebih sedikit.
Di kantor, seorang karyawan mungkin dapat berdiskusi secara spontan dengan manajer, mengikuti percakapan tertentu, atau sekadar terlihat aktif dalam lingkungan kerja. Sementara itu, pekerja remote lebih bergantung pada rapat terjadwal, pesan, email, dan sistem evaluasi formal.
Akibatnya, sebagian orang dapat merasa harus bekerja lebih keras untuk memastikan kontribusinya terlihat. Perasaan seperti selalu perlu membuktikan diri ini dapat menjadi sumber tekanan emosional.
Meski demikian, kondisi tersebut sangat bergantung pada budaya perusahaan. Perusahaan yang memang menerapkan sistem remote secara matang seharusnya memiliki mekanisme penilaian kinerja dan promosi yang tidak bergantung pada seberapa sering seseorang terlihat secara fisik di kantor.
3. Masalah Teknologi Harus Ditangani Sendiri
Gangguan teknologi mungkin terlihat seperti masalah kecil, tetapi ketika seseorang sedang mengejar tenggat waktu, persoalan tersebut dapat berubah menjadi sumber stres yang cukup besar.
Saat bekerja di kantor, karyawan biasanya memiliki akses lebih mudah terhadap tim IT atau perangkat cadangan. Ketika komputer bermasalah, jaringan terganggu, atau terdapat persoalan teknis tertentu, seseorang dapat meminta bantuan secara langsung kepada orang yang bertanggung jawab.
Situasinya berbeda ketika bekerja dari rumah. Ketika internet tiba-tiba mati, laptop bermasalah, aplikasi tidak dapat digunakan, atau perangkat mengalami gangguan, pekerja mungkin harus menyelesaikannya sendiri terlebih dahulu.
Persoalan menjadi semakin rumit karena pekerjaan remote memang sangat bergantung pada teknologi. Komunikasi dengan atasan, koordinasi dengan rekan kerja, pengiriman dokumen, rapat, hingga pelaporan pekerjaan semuanya dapat bergantung pada perangkat digital.
Ketika satu komponen mengalami gangguan, seluruh aktivitas kerja dapat ikut terhambat.
Tekanan kemudian tidak hanya berasal dari masalah teknis, tetapi juga dari kekhawatiran mengenai waktu. Seseorang mungkin mulai berpikir bahwa pekerjaan akan terlambat, atasan akan kecewa, atau target hari itu tidak tercapai.
Karena itu, bekerja dari rumah membutuhkan kesiapan teknis yang lebih baik. Memiliki koneksi internet cadangan, perangkat yang memadai, kontak bantuan teknis, serta prosedur ketika terjadi gangguan dapat membantu mengurangi tekanan yang tidak perlu.
4. Tekanan Mental Dapat Berdampak pada Kondisi Kesehatan
Alasan terakhir berkaitan dengan dampak stres yang berlangsung terus-menerus. YourTango mengutip laporan meQ yang mengaitkan tingkat stres akibat ketidakpastian dengan meningkatnya persoalan kecemasan. Dalam sumber tersebut, prevalensi gangguan kecemasan umum pada kelompok dengan tingkat stres ketidakpastian tinggi disebut mencapai 25 persen, dibandingkan 11 persen pada kelompok dengan tingkat stres yang lebih rendah.
YourTango juga menyebut analisis dari Integrated Benefits Institute yang menemukan bahwa pekerja remote dan hybrid dalam data tersebut memiliki angka depresi dan kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan pekerja on-site. Namun, angka-angka tersebut tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa bekerja dari rumah secara otomatis menyebabkan gangguan kesehatan mental.
Ada banyak faktor lain yang dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang, termasuk beban pekerjaan, kondisi keluarga, keuangan, kualitas hubungan sosial, karakter pekerjaan, serta dukungan dari perusahaan.
Meski begitu, temuan tersebut menunjukkan bahwa fleksibilitas bekerja dari rumah tidak selalu identik dengan kesejahteraan mental. Jika batas antara waktu kerja dan kehidupan pribadi semakin kabur, seseorang dapat merasa seolah-olah tidak pernah benar-benar meninggalkan pekerjaan.
Laptop berada di rumah, ruang kerja berada di rumah, dan pesan pekerjaan dapat masuk kapan saja. Tanpa batas yang jelas, waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat dapat berubah menjadi waktu untuk kembali memikirkan pekerjaan.
Bekerja dari Rumah Tidak Selalu Lebih Buruk
Pada akhirnya, bekerja dari rumah maupun bekerja di kantor memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. YourTango sendiri menekankan bahwa pekerjaan remote tetap memberikan banyak manfaat, tetapi manfaat tersebut tidak otomatis membuat semua orang terbebas dari stres.
Bagi sebagian orang, bekerja dari rumah justru memberikan ruang untuk berkonsentrasi, menghemat waktu perjalanan, memiliki jadwal yang lebih fleksibel, dan memperoleh keseimbangan hidup yang lebih baik. Namun, bagi orang lain, kurangnya interaksi sosial, ketidakjelasan perkembangan karier, persoalan teknologi, dan batas kerja yang kabur dapat menjadi sumber tekanan.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar “lebih baik bekerja dari rumah atau di kantor?”, melainkan “lingkungan kerja mana yang paling sesuai dengan kebutuhan, karakter pekerjaan, dan kondisi pribadi seseorang?”
Pada akhirnya, tempat kerja yang ideal adalah lingkungan yang memungkinkan seseorang tetap produktif tanpa harus mengorbankan kesehatan mental, hubungan sosial, maupun waktu istirahatnya.