Orang yang stabil secara mental bukan berarti tidak pernah marah, sedih, kecewa, atau terluka. Mereka tetap merasakan emosi seperti manusia pada umumnya, tetapi cenderung memiliki kemampuan untuk menyadari apa yang sedang dirasakan tanpa langsung membiarkan emosi tersebut mengambil alih perilaku.
Seperti dirangkum dari laman YourTango, artikel ini akan membahas tiga emosi yang sering membuat seseorang kesulitan dalam kehidupan dan hubungan, sekaligus pentingnya memahami fungsi emosi daripada sekadar berusaha menekannya.
Berikut tiga emosi yang dapat menjadi gambaran bagaimana seseorang belajar mengelola dirinya secara lebih sehat.
1. Kemarahan
Marah sering dianggap sebagai emosi negatif yang harus segera dihilangkan. Padahal, kemarahan pada dasarnya dapat memberikan informasi bahwa ada sesuatu yang dianggap mengganggu, tidak adil, melanggar batasan, atau tidak sesuai dengan kebutuhan seseorang.
Menurut artikel YourTango, kemarahan yang sehat dapat berfungsi sebagai semacam sinyal bahwa seseorang perlu menetapkan batas. Dengan kata lain, marah tidak selalu berarti seseorang kehilangan kendali. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kemarahan tersebut diekspresikan.
Orang yang mampu mengatur kemarahan biasanya tidak langsung membalas ketika tersinggung. Mereka dapat mengambil jeda, memahami sumber kemarahan, kemudian menentukan respons yang lebih sesuai.
Misalnya, ketika seseorang diperlakukan tidak menghargai, respons impulsif mungkin berupa berteriak atau mengeluarkan kata-kata kasar. Sementara itu, respons yang lebih teratur bisa berupa mengatakan, “Saya tidak nyaman diperlakukan seperti itu. Tolong jangan ulangi lagi.”
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar.
Mengelola kemarahan bukan berarti membiarkan orang lain melewati batas. Justru, kemampuan mengatur marah memungkinkan seseorang mempertahankan batas dengan cara yang lebih jelas tanpa harus merusak hubungan.
Orang yang stabil secara emosional juga tidak perlu berpura-pura bahwa dirinya tidak marah. Mereka dapat mengakui, “Ya, saya sedang marah,” tanpa menjadikan kemarahan tersebut sebagai alasan untuk menyakiti orang lain.
2. Kesedihan
Kesedihan merupakan emosi lain yang sering kali berusaha disembunyikan. Banyak orang merasa harus segera terlihat baik-baik saja setelah mengalami kehilangan, kegagalan, penolakan, atau kekecewaan.
Padahal, tidak semua kesedihan harus segera dihilangkan.
YourTango menjelaskan bahwa kesedihan memiliki fungsi penting dalam proses seseorang menghadapi dan melepaskan rasa sakit. Menekan emosi tersebut terus-menerus bukan berarti masalah sudah selesai.
Orang yang mampu mengatur kesedihan bukan berarti mereka tidak pernah menangis. Sebaliknya, mereka dapat memberikan ruang kepada dirinya untuk merasakan apa yang sedang terjadi tanpa menganggap dirinya lemah hanya karena sedang sedih.
Misalnya, setelah mengalami kegagalan, seseorang mungkin membutuhkan waktu untuk kecewa sebelum kembali menyusun rencana. Ia tidak harus langsung mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Kemampuan menerima kesedihan juga membantu seseorang memahami kebutuhan dirinya. Apakah ia membutuhkan istirahat? Apakah ia perlu berbicara dengan seseorang? Apakah ada sesuatu yang perlu dilepaskan?
Ketika kesedihan dipahami sebagai bagian dari pengalaman manusia, seseorang tidak perlu menghabiskan terlalu banyak energi untuk melawannya.
Tentu, kesedihan yang berlangsung sangat lama atau sampai mengganggu kehidupan sehari-hari merupakan persoalan berbeda dan dapat membutuhkan bantuan profesional. Namun, merasakan sedih setelah mengalami sesuatu yang menyakitkan merupakan bagian yang wajar dari kehidupan.
3. Rasa Takut dan Emosi yang Membuat Tidak Nyaman
Dalam pembahasan mengenai regulasi emosi, kemampuan menghadapi perasaan yang tidak nyaman juga menjadi bagian penting dari kematangan emosional. Seseorang yang stabil bukanlah orang yang tidak pernah takut, cemas, atau merasa rentan.
Justru, ia mampu menyadari bahwa rasa tidak nyaman tidak selalu berarti dirinya berada dalam bahaya.
Pendekatan YourTango mengenai regulasi emosi menekankan bahwa semua emosi memiliki fungsi. Ketika seseorang terus berusaha memblokir atau menolak emosi yang tidak menyenangkan, ia juga dapat kehilangan kesempatan untuk memahami pesan yang dibawa oleh emosi tersebut.
Misalnya, rasa takut dapat membuat seseorang lebih berhati-hati. Kecemasan dapat mendorong seseorang mempersiapkan diri. Kekecewaan dapat membantu seseorang memahami apa yang sebenarnya penting bagi dirinya.
Orang yang stabil secara mental tidak otomatis mengikuti setiap emosi yang muncul. Mereka belajar membuat jarak antara “apa yang saya rasakan” dan “apa yang harus saya lakukan.”
Ini merupakan keterampilan yang sangat penting. Ketika merasa marah, seseorang tidak harus langsung mengirim pesan panjang. Ketika merasa takut, ia tidak selalu harus langsung menghindar. Ketika merasa sedih, ia tidak perlu berpura-pura bahagia.
Ada ruang di antara munculnya emosi dan tindakan yang dilakukan. Di ruang itulah seseorang dapat memilih respons yang lebih bijaksana.
Stabil Secara Mental Bukan Berarti Tidak Pernah Merasakan Emosi
Pada akhirnya, orang yang stabil secara mental bukanlah orang yang hidup tanpa emosi. Mereka tetap dapat marah, menangis, kecewa, takut, dan merasa terluka.
Perbedaannya terletak pada kemampuan untuk tidak membiarkan setiap emosi menentukan tindakan secara otomatis.
Kemarahan dapat menjadi sinyal untuk menetapkan batas. Kesedihan dapat menjadi ruang untuk memproses kehilangan dan rasa sakit. Sementara rasa takut atau emosi tidak nyaman dapat menjadi informasi yang membantu seseorang memahami apa yang sedang terjadi dalam dirinya.
Gagasan tersebut sejalan dengan pembahasan YourTango bahwa emosi bukan sesuatu yang harus selalu dianggap buruk atau ditekan. Yang lebih penting adalah memahami apa yang sedang dirasakan dan menemukan cara yang sehat untuk meresponsnya.
Jadi, jika hari ini kamu sedang marah, sedih, atau takut, jangan langsung menyimpulkan bahwa dirimu tidak stabil.
Kematangan emosional bukan tentang tidak merasakan apa-apa. Kematangan emosional adalah kemampuan untuk merasakan sesuatu tanpa membiarkan perasaan tersebut sepenuhnya mengendalikan hidupmu.
***