← Beranda
9 Pengalaman Masa Kecil yang Mengubah Anak Laki-Laki Paling Manis Menjadi Pria Rumit
Vindi Rayinda AyudyaSabtu, 12 September 2026 | 05.34 WIB
Ilustrasi pengalaman masa kecil yang membentuk pria menjadi rumit (magnific)

 

 

JawaPos.com - Tidak semua pria yang terlihat sulit, dingin, arogan, atau susah didekati memang memiliki sifat seperti itu sejak kecil. 

Sebagian dari mereka mungkin pernah menjadi anak laki-laki yang manis, sensitif, penuh perhatian, mudah tertawa, dan sangat menyayangi orang-orang di sekitarnya.

Namun, pengalaman tertentu selama masa kanak-kanak dapat mengubah cara seorang anak melihat dirinya sendiri dan orang lain. 

Penolakan, perundungan, tekanan mengenai maskulinitas, konflik orang tua, hingga kesulitan membangun pertemanan dapat meninggalkan pelajaran emosional yang terbawa sampai dewasa.

Informasi yang dirangkum dari laman YourTango ini, akan membahas bagaimana pengalaman masa kecil tertentu dapat memengaruhi cara seorang laki-laki menghadapi kerentanan, hubungan, emosi, dan dirinya sendiri ketika dewasa.

Perlu dipahami, pengalaman berikut tidak secara otomatis membuat seorang anak tumbuh menjadi pria yang sulit. 

Setiap orang memiliki karakter, lingkungan, dukungan sosial, serta kemampuan pemulihan yang berbeda.

Berikut sembilan pengalaman masa kecil yang patut diperhatikan.

1. Pernah Mengalami Penolakan dan Belajar Takut Menjadi Rentan

Penolakan merupakan bagian dari kehidupan yang hampir semua orang pernah rasakan. Namun, bagi seorang anak laki-laki yang sedang belajar memahami dirinya, pengalaman ditolak, terutama ketika mulai menyukai seseorang—dapat terasa sangat menyakitkan jika tidak mendapatkan pendampingan emosional yang tepat.

Masalahnya bukan semata-mata karena seseorang pernah ditolak. Yang lebih penting adalah bagaimana anak memahami pengalaman tersebut. Jika ia memperoleh dukungan, ia dapat belajar bahwa ditolak bukan berarti dirinya tidak berharga. Ia juga dapat memahami bahwa orang lain memiliki hak untuk mengatakan tidak dan keputusan tersebut perlu dihormati.

Sebaliknya, jika rasa kecewa justru ditertawakan atau dianggap sebagai tanda kelemahan, anak mungkin belajar menyembunyikan perasaannya. Ketika dewasa, pola tersebut berpotensi membuatnya sangat takut membuka diri karena khawatir kembali mengalami penolakan.

YourTango menjelaskan bahwa sebagian pria yang pernah mengalami penolakan dapat mengembangkan mekanisme perlindungan, seperti menghindari hubungan romantis atau bahkan mencari-cari kekurangan orang yang disukai agar mereka dapat menolak terlebih dahulu.

Padahal, keberanian untuk menerima kemungkinan ditolak merupakan bagian penting dari kedewasaan emosional.

Anak laki-laki perlu mengetahui bahwa merasa sedih karena ditolak bukan sesuatu yang memalukan. Ia tetap berharga meskipun seseorang tidak memilihnya.

2. Pernah Dirundung hingga Menyembunyikan Rasa Tidak Aman di Balik Kesombongan

Perundungan atau bullying dapat meninggalkan luka yang jauh lebih panjang daripada yang terlihat dari luar. Seorang anak yang sering diejek, dikucilkan, dijadikan bahan lelucon, atau dianggap terlalu sensitif dapat mulai mempertanyakan nilai dirinya sendiri.

Yang membuat pengalaman ini semakin rumit adalah ketika pelaku merupakan orang yang dianggap sebagai teman. Anak mungkin tidak memahami bahwa dirinya sedang diperlakukan secara tidak sehat. Ia tetap bertahan karena takut sendirian atau takut dianggap lemah.

Menurut YourTango, pengalaman seperti ini dapat membuat sebagian laki-laki membawa rasa tidak aman tersebut hingga dewasa. Salah satu bentuk pertahanannya dapat berupa sikap arogan, terlalu kritis, atau kebutuhan untuk membuktikan bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain.

Di balik sikap yang terlihat percaya diri, sebenarnya mungkin terdapat kebutuhan kuat untuk membuktikan bahwa dirinya cukup berharga.

Sayangnya, perilaku defensif tersebut justru dapat menciptakan masalah baru. Orang lain mungkin merasa tidak nyaman berada di dekatnya, sehingga hubungan pertemanan atau romantis menjadi sulit dipertahankan.

Ini menunjukkan bagaimana luka masa kecil terkadang tidak terlihat sebagai kesedihan. Pada sebagian orang, luka tersebut justru muncul dalam bentuk sikap keras, sombong, atau terlalu defensif.

3. Sering Dilarang Menangis hingga Kesedihan Berubah Menjadi Kemarahan

“Anak laki-laki tidak boleh menangis.” Kalimat seperti ini masih sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun mungkin dimaksudkan untuk mengajarkan ketangguhan, pesan yang terus diulang dapat membuat seorang anak menyimpulkan bahwa kesedihan adalah sesuatu yang memalukan.

Padahal, menangis merupakan salah satu cara manusia mengekspresikan emosi. Ketika anak tidak diberi ruang untuk memahami kesedihan, rasa takut, kecewa, atau sakit hati, emosi tersebut tidak serta-merta menghilang.

YourTango menjelaskan bahwa anak laki-laki yang terus diajarkan untuk menekan emosinya dapat membawa kebiasaan tersebut hingga dewasa. Ketika kesedihan dan kerentanan tidak memiliki ruang untuk diekspresikan, emosi dapat muncul melalui bentuk lain, termasuk kemarahan.

Inilah salah satu alasan mengapa seorang pria yang terlihat mudah marah belum tentu sedang marah karena masalah yang terjadi saat itu saja. Bisa saja ia tidak memiliki banyak pengalaman dalam mengidentifikasi dan mengomunikasikan emosi lain.

Tentu, hal ini tidak berarti setiap pria pemarah memiliki pengalaman masa kecil yang sama.

Namun, bagi orang tua, pelajarannya cukup penting: mengajarkan anak laki-laki untuk mengenali emosi bukan berarti membuatnya lemah. Justru, kemampuan mengatakan “aku sedih”, “aku takut”, atau “aku kecewa” dapat menjadi bekal penting untuk membangun hubungan yang sehat ketika dewasa.

4. Diajarkan bahwa Peduli Penampilan Bukan Hal yang “Maskulin”

Anak laki-laki juga dapat menerima berbagai pesan mengenai apa yang dianggap pantas atau tidak pantas dilakukan seorang pria. Salah satunya adalah anggapan bahwa memperhatikan pakaian, kebersihan, perawatan kulit, atau penampilan merupakan sesuatu yang terlalu feminin.

Padahal, menjaga kebersihan dan merawat diri tidak memiliki jenis kelamin.

Menurut pembahasan YourTango, ketika anak laki-laki terus menerima pesan bahwa laki-laki seharusnya tidak peduli dengan penampilan, ia dapat membawa pandangan tersebut sampai dewasa. Dalam beberapa kasus, hal itu bahkan dapat membuatnya menghakimi laki-laki lain yang lebih memperhatikan gaya berpakaian atau perawatan diri.

Masalah sebenarnya bukan apakah seseorang suka berpakaian sederhana atau mengikuti tren. Setiap orang memiliki preferensi berbeda.

Yang menjadi perhatian adalah ketika anak belajar bahwa minat tertentu menentukan apakah seseorang cukup “jantan” atau tidak.

Tekanan seperti ini dapat mempersempit ruang seorang anak untuk mengenal dirinya sendiri. Ia mungkin menolak sesuatu yang sebenarnya disukai hanya karena takut diejek.

Padahal, anak laki-laki seharusnya memiliki kesempatan untuk menemukan gaya, hobi, dan minatnya tanpa harus terus-menerus khawatir apakah semuanya sesuai dengan stereotip maskulinitas.

Menjadi pria tidak harus berarti menolak sisi diri yang lembut, kreatif, atau peduli terhadap penampilan.

5. Dipaksa Mengikuti Olahraga hingga Tidak Bebas Menentukan Minat

Olahraga memiliki banyak manfaat bagi anak. Aktivitas fisik dapat membantu kesehatan, disiplin, kerja sama, dan perkembangan sosial.

Namun, masalah dapat muncul ketika olahraga dipaksakan bukan karena anak menyukainya, melainkan karena orang tua menganggap olahraga tertentu sebagai simbol maskulinitas.

YourTango menyoroti pengalaman anak laki-laki yang didorong mengikuti olahraga karena dianggap lebih “jantan”, sementara minat lain yang dianggap kurang maskulin justru tidak mendapatkan ruang.

Seorang anak mungkin sebenarnya tertarik pada musik, menggambar, membaca, teater, memasak, atau aktivitas kreatif lainnya. Jika minat tersebut terus dianggap tidak sesuai dengan gambaran laki-laki ideal, anak dapat belajar bahwa sebagian dirinya harus disembunyikan.

Dampaknya tidak selalu langsung terlihat. Ketika dewasa, ia mungkin menjadi lebih kaku dalam memandang minat orang lain atau menganggap aktivitas tertentu tidak memiliki nilai hanya karena tidak sesuai dengan norma maskulinitas yang pernah diajarkan kepadanya.

Padahal, masa kanak-kanak seharusnya menjadi periode eksplorasi. Anak perlu diberi kesempatan mencoba berbagai aktivitas untuk mengetahui apa yang membuatnya bersemangat. Tidak semua anak laki-laki harus menjadi atlet, sama seperti tidak semua anak perempuan harus menyukai aktivitas tertentu.

Memberikan ruang eksplorasi dapat membantu anak tumbuh dengan identitas yang lebih autentik.

6. Memiliki Kesulitan Perhatian yang Tidak Dipahami sejak Kecil

Tidak semua anak laki-laki yang sulit diam atau berkonsentrasi memiliki ADHD. Namun, ketika seorang anak memang mengalami ADHD dan kondisinya tidak dipahami atau tidak mendapatkan dukungan yang tepat, pengalaman sehari-hari dapat menjadi sangat melelahkan.

Anak mungkin sering dimarahi karena tidak bisa duduk diam, lupa tugas, menyela pembicaraan, atau kesulitan mempertahankan perhatian. Tanpa penjelasan yang tepat, ia dapat mulai menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirinya.

YourTango membahas bagaimana ADHD yang tidak teridentifikasi dapat membuat sebagian anak laki-laki terus membandingkan dirinya dengan teman-temannya dan mempertanyakan mengapa mereka tidak dapat berperilaku seperti anak lain.

Jika pengalaman tersebut berlangsung lama, rasa percaya diri dapat ikut terpengaruh.

Ketika dewasa, seseorang mungkin membawa kebiasaan impulsif, kesulitan mengelola frustrasi, atau pola tertentu yang membuat orang lain kesulitan memahami dirinya.

Namun, penting untuk tidak menjadikan perilaku tersebut sebagai bukti bahwa seseorang pasti memiliki ADHD. Diagnosis hanya dapat dilakukan melalui evaluasi profesional.

Pelajaran pentingnya adalah anak membutuhkan lingkungan yang berusaha memahami kesulitannya, bukan hanya menghukumnya.

Ketika anak mendapatkan dukungan dan strategi yang tepat, ia memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami dirinya serta mengembangkan cara yang lebih efektif dalam menghadapi tantangan.

7. Sering Menyaksikan Orang Tua Bertengkar dan Menganggap Konflik sebagai Hal Normal

Rumah merupakan tempat pertama seorang anak belajar tentang hubungan. Anak tidak hanya memperhatikan bagaimana orang tua memperlakukannya, tetapi juga bagaimana kedua orang tuanya memperlakukan satu sama lain.

Jika seorang anak laki-laki sering melihat orang tua saling berteriak, merendahkan, menghina, atau memperlakukan pasangan dengan tidak hormat, ia dapat belajar bahwa konflik memang seharusnya berlangsung seperti itu.

YourTango menjelaskan bahwa anak dapat meniru pola interaksi yang mereka lihat di rumah. Seorang anak laki-laki yang terbiasa melihat salah satu orang tua merendahkan pasangannya mungkin membawa pola komunikasi tersebut ke dalam hubungan dewasanya.

Bukan berarti setiap anak dari keluarga yang sering bertengkar akan mengulangi perilaku tersebut. Sebagian justru tumbuh dengan tekad kuat untuk tidak menjadi seperti orang tuanya.

Namun, pengalaman awal tetap dapat memengaruhi apa yang dianggap “normal”.

Jika anak tidak pernah melihat contoh konflik yang sehat, ia mungkin tidak memiliki referensi tentang bagaimana menyampaikan ketidaksetujuan tanpa menghina, bagaimana meminta maaf, atau bagaimana menyelesaikan masalah tanpa merusak harga diri pasangan.

Karena itu, anak membutuhkan contoh bahwa pertengkaran tidak harus berubah menjadi penghinaan. Perbedaan pendapat dapat diselesaikan dengan komunikasi, batasan, dan rasa hormat.

8. Merasa Terisolasi dan Tidak Pernah Belajar Membangun Pertemanan Dekat

Pertemanan masa kecil bukan sekadar kegiatan bermain. Melalui hubungan dengan teman, seorang anak belajar berkomunikasi, bekerja sama, menyelesaikan konflik, meminta maaf, mempercayai orang lain, dan memahami batasan.

Ketika seorang anak laki-laki terus-menerus merasa dikucilkan atau tidak memiliki teman dekat, ia dapat kehilangan kesempatan untuk mempelajari keterampilan sosial tersebut.

YourTango menjelaskan bahwa pria yang mengalami isolasi sosial sejak kecil dapat menghadapi tantangan ketika mencoba membangun pertemanan di masa dewasa. Mereka mungkin tidak terbiasa mengambil inisiatif, membuka diri, atau mengungkapkan bahwa mereka ingin lebih dekat dengan seseorang.

Kesulitan tersebut kemudian dapat menjadi sebuah siklus.

Karena tidak terbiasa membangun hubungan, seseorang mungkin memilih mengisolasi diri. Ketika merasa kesepian, ia justru semakin sulit mengetahui bagaimana cara keluar dari kondisi tersebut.

Dalam beberapa kasus, seseorang yang akhirnya memiliki satu hubungan dekat dapat memberikan terlalu banyak beban emosional kepada orang tersebut karena tidak memiliki jaringan sosial yang lebih luas.

Inilah mengapa persahabatan anak laki-laki sebaiknya tidak dianggap remeh.

Orang tua dapat membantu dengan memberikan ruang bagi anak untuk bermain, berinteraksi, mengikuti kegiatan kelompok, dan belajar menyelesaikan konflik secara sehat.

9. Tidak Memiliki Teman Perempuan dan Tumbuh dengan Pandangan “Laki-Laki vs Perempuan”

Interaksi dengan teman sebaya dari berbagai gender dapat membantu anak memahami bahwa perempuan dan laki-laki sama-sama manusia dengan kepribadian, minat, kekuatan, kelemahan, dan perspektif yang beragam.

Namun, sebagian anak laki-laki tumbuh dalam lingkungan yang memisahkan pergaulan berdasarkan gender secara sangat kaku. Mereka mungkin memiliki banyak teman laki-laki tetapi hampir tidak pernah membangun pertemanan dengan anak perempuan.

Menurut YourTango, kurangnya pengalaman membangun persahabatan dengan perempuan dapat membuat sebagian laki-laki dewasa lebih sulit melihat perempuan sebagai individu dengan perspektif yang beragam. Dalam konteks tertentu, hal ini dapat memengaruhi cara mereka memperlakukan perempuan dalam hubungan sosial maupun profesional.

Persahabatan yang sehat dapat menjadi ruang belajar yang penting. Seorang anak laki-laki dapat memahami bahwa perempuan tidak harus selalu dipandang melalui hubungan romantis. Mereka bisa menjadi teman, rekan belajar, rekan kerja, atau sekadar seseorang yang memiliki pendapat berbeda.

Pemahaman seperti ini membantu mengurangi stereotip dan membuat interaksi sosial menjadi lebih natural.

Tentu, memiliki teman perempuan bukan satu-satunya faktor yang menentukan bagaimana seorang pria memperlakukan perempuan ketika dewasa.

Namun, memberikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi secara sehat dengan berbagai orang dapat memperluas cara pandangnya terhadap hubungan dan kehidupan sosial.

Anak yang “Sulit” Belum Tentu Selalu Seperti Itu

Seorang anak laki-laki yang tumbuh menjadi pria rumit bukan berarti sejak awal dirinya memang buruk. Terkadang, perilaku yang terlihat sulit dipahami dari luar merupakan hasil dari cara seseorang belajar melindungi dirinya setelah mengalami berbagai pengalaman.

Penolakan dapat membuatnya takut rentan. Bullying dapat membuatnya menyembunyikan rasa tidak aman. Larangan menangis dapat membuatnya kesulitan mengungkapkan kesedihan. Konflik keluarga dapat memengaruhi cara ia memahami hubungan. Sementara isolasi sosial dapat membuatnya tidak terbiasa membangun kedekatan.

Namun, masa kecil bukanlah vonis seumur hidup.

Manusia dapat belajar, berubah, mendapatkan dukungan, membangun hubungan yang lebih sehat, dan memahami kembali pengalaman masa lalunya. Bahkan pola yang sudah berlangsung bertahun-tahun tetap dapat diperbaiki ketika seseorang memiliki kesadaran dan kemauan untuk berkembang.

Karena itu, memahami pengalaman masa kecil bukan bertujuan mencari siapa yang harus disalahkan.

Justru, pemahaman tersebut dapat menjadi langkah pertama untuk melihat bahwa di balik seorang pria yang terlihat dingin, keras, atau sulit didekati, mungkin pernah ada seorang anak laki-laki yang hanya membutuhkan ruang untuk merasa aman, didengarkan, dan diterima apa adanya.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti