← Beranda
10 Hal yang Sering Dilakukan Orang Tua hingga Anak Laki-Laki Tumbuh Jadi Pria Narsistik
Vindi Rayinda AyudyaSabtu, 12 September 2026 | 05.24 WIB
Ilustrasi anak laki-laki yang tumbuh jadi pria narsistik (magnific)

 

 

JawaPos.com - Anak laki-laki yang tumbuh menjadi pria dengan kecenderungan narsistik mungkin dipengaruhi pola pengasuhan tertentu. Kenali 10 kebiasaan orang tua yang perlu diwaspadai.

Seorang anak laki-laki bisa tumbuh menjadi pria yang selalu membutuhkan pujian, sulit mengakui kesalahan, merasa dirinya lebih istimewa daripada orang lain, atau kesulitan memahami perasaan orang di sekitarnya. 

Hal seperti ini sering muncul ketika seseorang berhadapan dengan perilaku narsistik dalam hubungan, keluarga, maupun lingkungan pekerjaan.

Kepribadian seseorang tentu tidak terbentuk hanya dari satu faktor. Pengalaman masa kecil, lingkungan sosial, karakter bawaan, hubungan dengan orang lain, serta berbagai pengalaman sepanjang hidup dapat berperan dalam perkembangan kepribadian seseorang.

Seperti dirangkum dari laman YourTango, inilah sejumlah pola pengasuhan yang menurut sumber dapat berkaitan dengan berkembangnya sifat seperti rasa berhak mendapatkan perlakuan khusus, kurangnya empati, dan kebutuhan berlebihan akan pengakuan.

Penting dicatat, daftar berikut bukan alat untuk mendiagnosis seseorang sebagai narsistik. Tidak semua anak yang mengalami pola pengasuhan tertentu akan tumbuh menjadi orang dewasa dengan gangguan kepribadian narsistik.

Namun, pola-pola ini dapat menjadi bahan refleksi bagi orang tua dalam membangun pengasuhan yang lebih sehat.

Selengkapnya, inilah 10 kebiasaan orang tua yang perlu diwaspadai dan berakibat menumbuhkan anak laki-laki yang narsistik.

1. Terlalu Sering Memuji Tanpa Mengajarkan Tanggung Jawab

Memberikan pujian kepada anak tentu bukan sesuatu yang buruk. Anak membutuhkan apresiasi agar mengetahui bahwa usaha, keberanian, dan proses belajar mereka dihargai. Namun, masalah dapat muncul ketika pujian diberikan secara berlebihan tanpa disertai pembelajaran mengenai tanggung jawab.

Misalnya, seorang anak terus-menerus diberi tahu bahwa dirinya paling hebat, paling pintar, atau selalu lebih baik daripada anak lain, tetapi tidak pernah diajarkan untuk mengakui kesalahan. Dalam kondisi seperti ini, anak dapat memperoleh pesan bahwa dirinya layak mendapatkan perlakuan istimewa hanya karena dirinya adalah dirinya.

Menurut sumber YourTango, pola tersebut dapat berkontribusi pada rasa berhak mendapatkan penghargaan tanpa harus menunjukkan tanggung jawab yang sepadan. Karena itu, orang tua disarankan tidak hanya memuji hasil, tetapi juga menghargai usaha, ketekunan, keberanian memperbaiki kesalahan, dan sikap baik kepada orang lain.

Anak juga perlu diberi kesempatan merasakan konsekuensi yang wajar dari tindakannya. Ketika orang tua selalu menyelesaikan masalah anak, ia kehilangan kesempatan belajar bertanggung jawab.

Dengan kata lain, pujian yang sehat bukan sekadar mengatakan, “Kamu hebat.” Lebih baik anak juga belajar memahami, “Kamu sudah berusaha keras, dan ketika melakukan kesalahan, kamu perlu memperbaikinya.”

2. Mengabaikan atau Menekan Emosinya

Anak laki-laki terkadang masih dibesarkan dengan anggapan bahwa mereka harus kuat, tidak boleh menangis, dan tidak seharusnya menunjukkan ketakutan. Kalimat seperti “jangan cengeng”, “anak laki-laki harus kuat”, atau “sudah, tidak usah menangis” mungkin terdengar sederhana, tetapi jika terus diulang dapat membuat anak belajar bahwa emosi tertentu tidak boleh ditampilkan.

YourTango menyoroti bahwa mengabaikan emosi anak laki-laki dapat membuat mereka kesulitan memahami dan mengelola perasaan ketika dewasa.

Padahal, kemampuan mengenali emosi merupakan bagian penting dari perkembangan emosional. Anak perlu memahami bahwa marah, sedih, kecewa, takut, dan malu adalah pengalaman manusiawi. Yang perlu diajarkan bukan bagaimana menghilangkan emosi tersebut, tetapi bagaimana mengelolanya dengan cara yang tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Jika seorang anak terbiasa menyembunyikan emosi, ia mungkin tumbuh dengan keyakinan bahwa menunjukkan kerentanan adalah tanda kelemahan.

Dalam jangka panjang, hal tersebut dapat membuatnya sulit berkomunikasi secara terbuka dalam hubungan. Karena itu, orang tua sebaiknya membantu anak memberi nama pada emosinya, mendengarkan tanpa langsung menghakimi, serta mengajarkan cara mengekspresikan perasaan dengan sehat.

3. Menjadikan Anak sebagai Pusat Segala Sesuatu

Setiap anak tentu membutuhkan perhatian. Namun, ada perbedaan antara memberikan perhatian yang cukup dan membuat anak merasa bahwa seluruh dunia harus berputar di sekelilingnya.

Ketika seorang anak selalu mendapatkan apa yang diinginkan, jarang mendengar kata “tidak”, dan selalu menjadi prioritas dalam segala situasi, ia mungkin kesulitan memahami bahwa orang lain juga memiliki kebutuhan dan batasan.

YourTango mengaitkan pola tersebut dengan berkembangnya rasa berhak mendapatkan perlakuan khusus dan kecenderungan untuk mengutamakan diri sendiri.

Anak perlu mengetahui bahwa dirinya berharga, tetapi keberhargaan tersebut tidak berarti dirinya lebih penting daripada semua orang.

Orang tua dapat mulai mengajarkan konsep sederhana seperti menunggu giliran, berbagi, meminta maaf, menghormati privasi orang lain, dan memahami bahwa jawaban “tidak” bukan berarti dirinya tidak dicintai.

Batasan juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Anak yang terbiasa memiliki batasan yang sehat akan belajar bahwa kebutuhan dirinya penting, tetapi kebutuhan orang lain juga perlu dihormati.

Tujuannya bukan membuat anak merasa rendah diri. Sebaliknya, orang tua sedang membantu anak membangun rasa percaya diri yang tidak bergantung pada perasaan lebih unggul dibandingkan orang lain.

4. Menggunakan Rasa Malu sebagai Bentuk Disiplin

Mendisiplinkan anak memang diperlukan. Namun, mendisiplinkan perilaku berbeda dengan mempermalukan pribadi anak.

Ada perbedaan besar antara mengatakan, “Perbuatan itu tidak tepat, mari kita perbaiki,” dan mengatakan, “Kamu memang anak yang selalu membuat masalah.”

Kalimat kedua tidak lagi mengoreksi perilaku, tetapi menyerang identitas anak.

Pola disiplin yang menggunakan rasa malu dapat membuat anak mengembangkan cara tertentu untuk melindungi harga dirinya. Alih-alih belajar mengakui kesalahan, ia mungkin justru berusaha mempertahankan citra bahwa dirinya selalu benar.

YourTango memasukkan penggunaan rasa malu sebagai salah satu pola pengasuhan yang perlu diwaspadai dalam konteks perkembangan sifat narsistik.

Anak perlu mengetahui bahwa melakukan kesalahan tidak membuat dirinya menjadi manusia yang buruk. Kesalahan adalah kesempatan untuk belajar memperbaiki tindakan.

Orang tua dapat tetap tegas tanpa merendahkan. Konsekuensi tetap bisa diberikan, tetapi anak perlu memahami perilaku mana yang salah dan bagaimana memperbaikinya.

Dengan cara tersebut, disiplin tidak hanya bertujuan membuat anak patuh, tetapi juga membantu membangun rasa tanggung jawab dan kemampuan melakukan evaluasi diri.

5. Membuat Anak Merasa Harus Selalu Menjadi yang Terbaik

Dorongan untuk berprestasi dapat menjadi hal positif ketika diberikan secara sehat. Masalah muncul ketika anak merasa dirinya hanya akan dicintai atau dihargai jika berhasil menjadi yang terbaik.

Anak yang selalu dibandingkan dengan saudara, teman, atau anak lain mungkin belajar bahwa nilai dirinya bergantung pada pencapaian.

Misalnya, nilai sembilan dianggap kurang karena anak lain mendapat nilai sepuluh. Kemenangan dalam pertandingan tidak cukup karena orang tua langsung menanyakan mengapa anak tidak menjadi yang pertama. Bahkan keberhasilan pun akhirnya terasa seperti sesuatu yang tidak pernah cukup.

Tekanan semacam itu dapat membuat anak mengembangkan hubungan yang tidak sehat dengan kesuksesan. Ia mungkin sangat membutuhkan pengakuan karena pencapaian menjadi sumber utama harga dirinya.

Dalam konteks yang dibahas YourTango, orang tua perlu membedakan antara mendorong anak berkembang dan menanamkan keyakinan bahwa anak harus selalu unggul.

Anak perlu mengetahui bahwa dirinya tetap berharga ketika gagal. Justru kemampuan menerima kekalahan, belajar dari kritik, memperbaiki kesalahan, dan mencoba kembali merupakan fondasi penting bagi perkembangan psikologis yang lebih sehat.

6. Selalu Membenarkan Perilaku Anak

Ada orang tua yang merasa harus selalu membela anak, bahkan ketika anak jelas melakukan kesalahan. Mereka mungkin menyalahkan guru, teman, saudara, atau lingkungan agar anak tidak perlu menghadapi konsekuensi.

Sekilas, tindakan tersebut terlihat seperti bentuk perlindungan. Namun, jika dilakukan terus-menerus, anak dapat kehilangan kesempatan untuk belajar bertanggung jawab.

Anak perlu mengetahui bahwa orang tuanya berada di pihaknya, tetapi dukungan tidak harus berarti membenarkan semua tindakan.

Ketika anak berbuat salah, orang tua dapat mengatakan bahwa mereka tetap mencintainya sambil meminta anak memperbaiki kesalahan tersebut.

Pola pengasuhan seperti ini membantu anak memahami bahwa kasih sayang tidak bergantung pada kesempurnaan, sementara tanggung jawab tetap merupakan bagian dari kehidupan.

Dalam artikel YourTango, pentingnya mengajarkan tanggung jawab dan membiarkan anak menghadapi konsekuensi yang wajar ditekankan sebagai bagian dari pencegahan rasa berhak mendapatkan perlakuan khusus.

Anak yang terbiasa selalu dibela mungkin akan kesulitan ketika memasuki dunia dewasa yang tidak selalu memberikan perlakuan khusus.

Sebaliknya, anak yang belajar mengatakan “Saya salah” memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan kemampuan refleksi dan memperbaiki perilakunya.

7. Tidak Mengajarkan Empati kepada Orang Lain

Empati tidak selalu muncul begitu saja. Anak perlu belajar memahami bahwa orang lain juga memiliki perasaan, kebutuhan, dan pengalaman yang berbeda.

Jika perhatian orang tua hanya berpusat pada keinginan anak, ia mungkin tidak mendapatkan cukup kesempatan untuk mempertimbangkan dampak perilakunya terhadap orang lain.

Misalnya, ketika anak mengambil mainan milik temannya, orang tua bukan hanya perlu mengatakan bahwa anak harus mengembalikannya. Orang tua juga dapat membantu anak memahami bagaimana perasaan temannya ketika mainannya diambil tanpa izin.

Pembelajaran sederhana seperti ini membantu anak melihat situasi dari perspektif orang lain.

YourTango mengaitkan batasan, empati, dan kesadaran diri sebagai hal penting dalam membantu anak memahami kebutuhan dirinya sekaligus kebutuhan orang lain.

Empati juga bukan berarti anak harus selalu mengalah. Anak tetap boleh memiliki kebutuhan dan mempertahankan batasan.

Yang perlu dipelajari adalah keseimbangan: “Saya penting, tetapi orang lain juga penting.”

Kemampuan tersebut dapat menjadi fondasi hubungan sosial yang lebih sehat ketika anak beranjak dewasa, baik dalam pertemanan, pekerjaan, maupun hubungan romantis.

8. Memberikan Perlakuan Khusus Hanya karena Anak Dianggap Istimewa

Setiap anak memiliki keunikan. Namun, mengatakan bahwa anak istimewa secara terus-menerus tanpa mengajarkan kerendahan hati dapat menghasilkan pesan yang berbeda.

Anak mungkin mulai percaya bahwa dirinya memang pantas memperoleh perlakuan khusus dibandingkan orang lain.

Pola ini dapat muncul dalam bentuk sederhana. Misalnya, anak selalu mendapatkan pengecualian dari aturan keluarga, tidak perlu mengikuti tanggung jawab yang diberikan kepada saudara, atau selalu diprioritaskan meskipun kebutuhan anggota keluarga lain sama pentingnya.

Menurut artikel YourTango, keyakinan orang tua bahwa anak mereka lebih istimewa dan lebih berhak daripada orang lain merupakan salah satu faktor yang dikaitkan dengan berkembangnya sifat narsistik.

Karena itu, orang tua perlu berhati-hati membedakan antara menghargai keunikan anak dan menanamkan superioritas.

Anak boleh mengetahui bahwa dirinya berharga tanpa harus percaya bahwa dirinya lebih tinggi daripada orang lain.

Pujian yang lebih sehat dapat diarahkan pada kualitas konkret seperti ketekunan, kebaikan, keberanian meminta maaf, kemampuan bekerja sama, dan kemauan membantu orang lain.

Dengan begitu, anak belajar bahwa menjadi istimewa bukan berarti mendapatkan hak lebih banyak, melainkan memiliki kesempatan untuk memberikan sesuatu yang positif.

9. Menanamkan Perfeksionisme sebagai Standar Kehidupan

Tidak ada manusia yang sempurna. Namun, sebagian anak tumbuh dengan tekanan bahwa kesalahan sekecil apa pun merupakan sesuatu yang memalukan.

Orang tua mungkin bermaksud mendorong anak agar selalu memberikan yang terbaik. Akan tetapi, jika standar yang diberikan terlalu tinggi dan tidak realistis, anak dapat belajar bahwa kegagalan adalah sesuatu yang tidak dapat diterima.

YourTango menyoroti bahwa tuntutan kesempurnaan dapat berhubungan dengan rasa tidak aman, kesulitan mengatur emosi, serta tantangan dalam membangun hubungan yang sehat.

Anak yang selalu harus sempurna mungkin terlihat sangat berprestasi dari luar. Namun, di dalam dirinya dapat muncul ketakutan besar terhadap kegagalan dan penolakan.

Dalam beberapa situasi, kebutuhan mempertahankan citra sempurna juga dapat membuat seseorang sulit menerima kritik. Kritik terasa bukan sebagai masukan terhadap perilaku, melainkan ancaman terhadap harga diri.

Karena itu, orang tua perlu menunjukkan bahwa kesalahan adalah bagian normal dari proses belajar.

Anak dapat diajarkan untuk memiliki standar tinggi sekaligus memahami bahwa hasil yang tidak sempurna bukan akhir dari segalanya.

Berusaha menjadi lebih baik berbeda dengan harus selalu menjadi sempurna.

10. Memberikan Contoh Perilaku yang Terlalu Berpusat pada Diri Sendiri

Anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan orang tua, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari.

Jika orang tua sering menunjukkan perilaku egois, sulit meminta maaf, menyalahkan orang lain, merendahkan orang lain, atau selalu menuntut perhatian, anak dapat menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang normal.

YourTango menempatkan perilaku orang tua sebagai salah satu faktor penting karena anak mengamati dan meniru model yang mereka lihat di rumah. Ketika perilaku yang berpusat pada diri sendiri terus diperlihatkan, anak dapat belajar bahwa manipulasi, rasa berhak, atau mengutamakan diri sendiri merupakan cara yang wajar untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Karena itu, pendidikan karakter tidak cukup dilakukan melalui nasihat.

Orang tua juga perlu menunjukkan contoh secara langsung: meminta maaf ketika salah, mendengarkan orang lain, menghormati batasan, mengakui keberhasilan orang lain, dan tidak selalu membutuhkan posisi sebagai pihak yang paling benar.

Anak yang melihat orang tuanya mampu berkata, “Ayah tadi salah,” akan memperoleh pelajaran penting bahwa mengakui kesalahan bukan tanda kelemahan.

Justru, kemampuan bertanggung jawab terhadap diri sendiri dapat menjadi salah satu bentuk kekuatan emosional yang paling berharga.

Pola Asuh Bukan Vonis Masa Depan Anak

Sepuluh kebiasaan di atas bukan berarti setiap anak laki-laki yang mengalaminya pasti akan tumbuh menjadi pria narsistik. Kepribadian manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar pola pengasuhan tertentu, sehingga daftar ini sebaiknya digunakan sebagai bahan refleksi, bukan sebagai alat untuk memberi label kepada anak atau orang tua.

Yang dapat dipetik adalah pentingnya keseimbangan dalam pengasuhan. Anak perlu mendapatkan kasih sayang tanpa dimanjakan secara berlebihan, pujian tanpa ditanamkan rasa superioritas, disiplin tanpa dipermalukan, serta kebebasan tanpa kehilangan batasan.

Orang tua juga dapat membantu anak laki-laki memahami bahwa menangis bukan berarti lemah, meminta maaf bukan berarti kalah, menerima kritik bukan berarti tidak berharga, dan memperhatikan kebutuhan orang lain bukan berarti mengabaikan dirinya sendiri.

Pada akhirnya, tujuan pengasuhan bukan menciptakan anak yang selalu merasa paling hebat.

Tujuannya adalah membantu anak tumbuh menjadi orang dewasa yang memiliki rasa percaya diri sekaligus mampu bertanggung jawab, berempati, menghargai batasan, dan memperlakukan orang lain dengan baik.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti