JawaPos.com — Keinginan menghubungi kembali teman lama kerap muncul ketika seseorang memasuki fase hidup yang lebih reflektif. Namun, meski teknologi membuat menemukan kembali teman masa lalu semakin mudah, keputusan untuk mengirim pesan atau sekadar menyapa tidak selalu terasa sederhana.
Ada harapan untuk kembali dekat, tetapi juga kekhawatiran bahwa hubungan tersebut tidak lagi sama. Melansir Psychology Today, Psikolog Frank McAndrew, Ph.D., menjelaskan bahwa keinginan menjalin kembali pertemanan lama dapat muncul karena beberapa alasan yang saling berkaitan.
Ia mengaku semakin tertarik mengetahui kabar orang-orang yang pernah dikenalnya ketika memasuki usia akhir 50-an dan 60-an. “Saya terkejut dengan keraguan yang terkadang saya rasakan ketika menghubungi teman lama,” tulis McAndrew.
Tiga Alasan Ingin Kembali Terhubung
Pertama, seseorang mungkin benar-benar ingin mengetahui kehidupan teman yang dahulu sangat berarti baginya. Ada rasa sayang yang masih tersisa dan harapan bahwa orang tersebut menjalani kehidupan dengan baik.
Kedua, menghubungi teman lama dapat menjadi cara untuk terhubung kembali dengan versi diri sendiri di masa muda. Orang-orang yang mengenal kita ketika masih muda dapat menghidupkan kembali kenangan tentang masa yang dianggap lebih penuh harapan, energi, atau kemungkinan. Percakapan semacam itu bahkan dapat memberikan energi positif, setidaknya untuk sementara.
Ketiga, keinginan tersebut dapat berkaitan dengan tahap perkembangan psikologis yang dikemukakan Erik Erikson. Pada usia lanjut, khususnya di atas 65 tahun dalam teorinya, seseorang menghadapi konflik antara integrity dan despair, yakni menilai apakah kehidupannya telah memberikan pencapaian, kepuasan, kebijaksanaan, dan kedamaian atau justru dipenuhi penyesalan.
Teman sekolah atau teman masa kecil dapat menjadi titik pembanding untuk menilai perjalanan tersebut. Melihat kehidupan, pencapaian profesional, dan tingkat kebahagiaan teman sebaya dapat membantu seseorang memahami posisi dirinya saat ini.
Tidak Selalu Berakhir Bahagia
Namun, rekonsiliasi juga memiliki risiko. Jika perpisahan terjadi karena konflik, menghubungi kembali dapat membuka peluang untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan, tetapi juga berpotensi menghidupkan kembali luka lama.
Bahkan hubungan yang berakhir secara alami belum tentu mudah dihidupkan kembali. Orang berubah, begitu pula nilai, pengalaman, dan pandangan hidup. McAndrew mencontohkan kemungkinan dua teman yang dahulu sangat dekat kini berada di sisi berlawanan dalam perdebatan politik.
Karena itu, menghubungi teman lama membutuhkan kepekaan. Terlebih jika orang tersebut pernah mengalami masa sulit, sementara kehidupan kita dari luar terlihat jauh lebih berhasil. Niat baik sekalipun dapat disalahartikan sebagai kesombongan atau rasa iba.
Pada akhirnya, menghidupkan kembali pertemanan lama bukan sekadar soal mengirim pesan. Sebelum melakukannya, seseorang perlu memahami alasan di balik keinginannya dan menyadari bahwa hubungan yang dulu terasa dekat mungkin tidak lagi memiliki bentuk yang sama.
Rekoneksi dapat membawa kebahagiaan, tetapi juga menuntut kesiapan menerima kemungkinan bahwa masa lalu memang sebaiknya tetap menjadi masa lalu.
***