JawaPos.com - Anak yang dibesarkan oleh orang tua dengan emosi sulit diprediksi dapat membawa sejumlah kebiasaan hingga dewasa. Kenali 8 pola yang sering muncul.
Ya, tidak semua luka masa kecil terlihat jelas. Ada anak yang tumbuh dalam keluarga yang secara fisik terlihat baik-baik saja, tetapi harus terus menebak suasana hati orang tuanya sebelum berbicara, meminta sesuatu, atau menunjukkan perasaan.
Ketika emosi orang tua sulit diprediksi, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru dapat terasa seperti lingkungan yang harus terus diwaspadai.
Hari ini orang tua mungkin sangat hangat, tetapi keesokan harinya mudah marah, menarik diri, atau tidak merespons kebutuhan emosional anak.
Dalam kondisi seperti ini, anak dapat belajar berbagai cara untuk menyesuaikan diri.
Sebagian kebiasaan tersebut mungkin membantu mereka menghadapi masa kanak-kanak, tetapi dapat terbawa hingga kehidupan dewasa.
Dirangkum dari laman YourTango, artikel ini membahas bagaimana pola pengasuhan yang tidak konsisten secara emosional dapat berkaitan dengan sejumlah mekanisme koping yang terbawa sampai dewasa.
Namun penting dicatat, kebiasaan berikut bukan diagnosis dan tidak berarti setiap anak dengan pengalaman serupa pasti akan mengalaminya.
Kepribadian, lingkungan sosial, pengalaman hidup, dukungan dari orang lain, serta kemampuan seseorang untuk memproses pengalaman masa lalu juga berperan.
1. Jarang Meminta Bantuan kepada Orang Lain
Salah satu kebiasaan yang dapat terbentuk adalah terlalu terbiasa mengandalkan diri sendiri.
Anak yang tidak yakin apakah orang tuanya akan hadir ketika dibutuhkan mungkin belajar sejak dini bahwa meminta bantuan belum tentu menghasilkan respons yang dapat diandalkan.
Akibatnya, melakukan semuanya sendiri terasa lebih aman daripada berharap kepada orang lain.
Ketika dewasa, pola tersebut dapat terlihat sebagai kemandirian yang berlebihan.
Mereka mungkin tetap mengerjakan sesuatu meskipun sudah kewalahan, menolak bantuan pasangan, atau memilih diam ketika sedang menghadapi masalah.
Dari luar, sikap seperti ini sering terlihat positif. Orang lain mungkin menganggapnya kuat, mandiri, dan tidak merepotkan.
Namun, di baliknya bisa terdapat kesulitan untuk mempercayai bahwa orang lain akan benar-benar hadir ketika dibutuhkan.
YourTango menggambarkan pola tersebut sebagai bentuk hiper-independensi yang dapat berkembang ketika seseorang terbiasa memenuhi kebutuhannya sendiri karena pengalaman masa lalu.
Masalahnya, kehidupan dewasa membutuhkan hubungan timbal balik. Dalam persahabatan, keluarga, maupun hubungan romantis, seseorang tidak harus selalu menjadi pihak yang kuat.
Belajar mengatakan “Saya sedang membutuhkan bantuan” bukan tanda kelemahan.
Justru, kemampuan menerima dukungan dapat menjadi bagian dari hubungan yang sehat dan membantu seseorang tidak menghadapi seluruh beban hidup sendirian.
2. Menghindari Komitmen dan Kerentanan
Kebiasaan berikutnya adalah kesulitan membuka diri dalam hubungan.
Ketika seorang anak terbiasa menghadapi orang tua yang tidak konsisten, ia mungkin tumbuh dengan pertanyaan mengenai apakah orang lain benar-benar dapat dipercaya.
Pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara seseorang memandang kedekatan dan hubungan ketika dewasa.
YourTango menjelaskan bahwa pengalaman masa kecil yang negatif dapat berkaitan dengan cara seseorang membangun hubungan dan menghadapi kerentanan.
Seseorang dapat menjadi lebih cemas dalam hubungan atau justru mengambil jarak untuk melindungi dirinya.
Menariknya, orang yang melakukan hal ini belum tentu tidak menginginkan hubungan dekat.
Sebaliknya, mereka mungkin sangat mendambakan pasangan atau sahabat yang benar-benar memahami dirinya.
Namun, ketika hubungan mulai menjadi semakin dekat, muncul rasa takut yang sulit dijelaskan.
Membuka diri berarti memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengetahui bagian dirinya yang paling sensitif.
Bagi seseorang yang sejak kecil belajar bahwa kedekatan tidak selalu aman atau konsisten, hal tersebut dapat terasa menakutkan.
Akibatnya, ia mungkin menjaga jarak, menghindari pembicaraan serius, atau merasa lebih nyaman dalam hubungan yang tidak terlalu menuntut kedekatan emosional.
Pola tersebut bukan berarti seseorang tidak mampu mencintai. Bisa jadi, ia hanya membutuhkan pengalaman baru yang menunjukkan bahwa kedekatan dapat dibangun dengan aman, perlahan, dan tanpa kehilangan batas pribadi.
3. Terlalu Sering Memantau Suasana Hati Orang Lain
Pernah melihat seseorang yang seolah bisa mengetahui suasana hati orang lain hanya dari perubahan nada suara?
Kemampuan membaca situasi memang dapat menjadi bentuk kepekaan sosial. Namun, pada sebagian orang, kebiasaan tersebut berkembang karena sejak kecil mereka harus terus memantau emosi orang tua.
Ketika suasana rumah sulit diprediksi, anak mungkin belajar memperhatikan ekspresi wajah, suara, bahasa tubuh, bahkan cara seseorang berjalan.
Tujuannya bukan sekadar memahami orang lain, melainkan mengetahui apakah situasi sedang aman atau apakah ia perlu berhati-hati.
YourTango menggambarkan kondisi ini sebagai kewaspadaan berlebihan terhadap suasana hati orang lain.
Anak dapat terbiasa mengantisipasi kebutuhan dan emosi orang tua karena merasa hal tersebut memberi sedikit rasa kendali terhadap lingkungan yang tidak pasti.
Kebiasaan tersebut dapat terbawa ke masa dewasa. Ia mungkin memasuki ruangan dan langsung bertanya-tanya siapa yang sedang marah.
Ketika seseorang membalas pesan dengan singkat, pikirannya mulai mencari kemungkinan bahwa ia telah melakukan kesalahan.
Padahal, perubahan suasana hati orang lain tidak selalu berkaitan dengannya.
Belajar membedakan antara peka terhadap orang lain dan merasa bertanggung jawab atas emosi semua orang menjadi langkah penting.
Tidak setiap perubahan ekspresi membutuhkan tindakan, dan tidak setiap orang yang sedang bad mood membutuhkan seseorang untuk memperbaikinya.
4. Justru Memilih Pasangan yang Secara Emosional Jauh
Salah satu pola yang cukup menarik adalah kecenderungan memilih pasangan yang secara emosional tidak terlalu tersedia.
Secara logika, seseorang mungkin menginginkan pasangan yang perhatian, konsisten, dan terbuka.
Namun, hubungan yang terlalu sehat atau sangat dekat terkadang justru terasa asing bagi seseorang yang sejak kecil terbiasa menghadapi ketidakpastian emosional.
YourTango menjelaskan bahwa sebagian orang yang dibesarkan oleh orang tua yang tidak konsisten dapat mengulangi pola yang sudah dikenalnya dengan memilih pasangan yang juga cenderung menjaga jarak atau sulit memberikan keterhubungan emosional.
Hal tersebut tidak berarti seseorang secara sadar mencari hubungan yang menyakitkan.
Justru, pola yang familiar terkadang terasa lebih mudah dipahami. Jika sejak kecil ia terbiasa menunggu perhatian, menebak perasaan seseorang, atau merasa harus berusaha keras agar diperhatikan, dinamika tersebut mungkin terasa “normal”.
Sebaliknya, pasangan yang konsisten dan terbuka dapat menimbulkan rasa tidak nyaman karena belum pernah menjadi pengalaman yang akrab.
Inilah mengapa penting untuk menyadari bahwa familiar tidak selalu berarti sehat.
Hubungan yang tenang mungkin awalnya terasa membosankan bagi seseorang yang terbiasa dengan ketidakpastian.
Namun, seiring waktu, ia dapat belajar bahwa konsistensi, komunikasi, dan rasa aman justru merupakan fondasi hubungan yang sehat.
5. Menghindari Percakapan yang Rentan dan Mendalam
Ada orang yang sangat pandai membicarakan pekerjaan, film, olahraga, atau berbagai topik ringan, tetapi tiba-tiba menarik diri ketika pembicaraan mulai menyentuh perasaan.
Kebiasaan tersebut dapat muncul ketika seseorang tidak memiliki banyak kesempatan untuk belajar bagaimana membicarakan emosi secara aman ketika masih kecil.
Menurut sumber YourTango, anak yang tumbuh dengan orang tua yang tidak konsisten secara emosional dapat terbiasa menekan perasaannya demi menjaga suasana rumah tetap tenang.
Akibatnya, percakapan yang membutuhkan keterbukaan emosional dapat terasa asing atau mengancam ketika dewasa.
Ketika pasangan bertanya, “Apa yang sebenarnya kamu rasakan?”, ia mungkin menjawab, “Tidak apa-apa.”
Bukan selalu karena ia sengaja menyembunyikan sesuatu. Bisa saja ia memang kesulitan mengidentifikasi dan mengungkapkan apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.
Masalahnya, semakin sering percakapan emosional dihindari, semakin sulit seseorang membangun kebiasaan komunikasi terbuka.
Dalam hubungan jangka panjang, hal ini dapat menciptakan jarak. Pasangan mungkin merasa tidak dipercaya, sementara orang yang menghindar merasa semakin tertekan.
Belajar mengungkapkan perasaan tidak harus dilakukan sekaligus. Memulai dari kalimat sederhana seperti “Saya sebenarnya kecewa, tetapi saya belum tahu cara membicarakannya” sudah dapat menjadi langkah besar menuju komunikasi yang lebih sehat.
6. Mengabaikan Kebutuhan Diri Sendiri
Anak yang terbiasa menghadapi orang tua dengan emosi sulit diprediksi dapat belajar menempatkan kebutuhan dirinya di urutan terakhir.
Mereka mungkin berpikir bahwa suasana hati orang tua lebih penting daripada rasa lelah, kecewa, takut, atau marah yang sedang mereka alami.
Dalam beberapa kasus, anak bahkan dapat menyimpulkan bahwa dirinya bertanggung jawab atas masalah emosional orang tua.
YourTango mencatat bahwa pola tersebut dapat membuat seseorang tumbuh menjadi pribadi yang meragukan kebutuhannya sendiri, terlalu banyak meminta maaf, atau mengorbankan batas pribadi demi menjaga kedamaian kelompok.
Ketika dewasa, ia mungkin sulit mengatakan “tidak”. Teman meminta bantuan ketika ia sedang lelah, tetapi ia tetap menyanggupi.
Pasangan membutuhkan sesuatu, lalu kebutuhannya sendiri kembali dikesampingkan.
Awalnya, sikap tersebut mungkin terlihat sangat baik hati. Namun, jika dilakukan terus-menerus, seseorang dapat merasa kelelahan dan menyimpan kemarahan yang tidak pernah diungkapkan.
Kebutuhan pribadi bukanlah sesuatu yang egois. Memiliki batas, meminta waktu untuk beristirahat, atau mengatakan bahwa dirinya tidak sanggup bukan berarti tidak peduli kepada orang lain.
Justru, kemampuan memahami kebutuhan diri sendiri dapat membantu seseorang membangun hubungan yang lebih seimbang.
7. Memilih Mati Rasa Ketika Menghadapi Masa Sulit
Ketika menghadapi tekanan, tidak semua orang menangis atau mencari bantuan. Sebagian justru merasa tidak ingin merasakan apa pun.
Mereka mungkin tidur lebih banyak, terus bekerja, menonton sesuatu tanpa henti, sibuk dengan aktivitas tertentu, atau mengalihkan perhatian setiap kali emosi yang berat muncul.
YourTango menggambarkan kecenderungan ini sebagai memilih mati rasa secara emosional ketika situasi menjadi sulit.
Jika sejak kecil seseorang belajar menyembunyikan emosi daripada memprosesnya, menghindari perasaan dapat terasa lebih aman daripada menghadapinya.
Pada awalnya, mengalihkan perhatian memang dapat membantu seseorang melewati momen yang sangat berat.
Namun, jika menjadi satu-satunya cara menghadapi masalah, emosi yang belum diproses dapat terus menumpuk.
Akibatnya, seseorang mungkin tidak benar-benar tahu apa yang sedang dirasakan.
Ia hanya tahu bahwa dirinya lelah, ingin menyendiri, atau tidak ingin membicarakan apa pun.
Kedewasaan emosional bukan berarti harus selalu membicarakan semua masalah. Setiap orang memiliki hak untuk mengambil jeda.
Namun, penting membedakan antara mengambil waktu untuk menenangkan diri dengan terus-menerus menghindari emosi.
Jika seseorang merasa kesulitan memproses pengalaman masa lalu atau kondisi tersebut sangat mengganggu kehidupan sehari-hari, berbicara dengan profesional kesehatan mental dapat menjadi salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan.
8. Bekerja Terlalu Keras untuk Membuktikan Diri
Kebiasaan terakhir adalah dorongan kuat untuk terus membuktikan bahwa dirinya layak dihargai.
Anak yang merasa harus berjuang mendapatkan perhatian atau penerimaan mungkin membawa kebutuhan tersebut hingga dewasa.
Ia ingin menjadi sempurna, bekerja lebih keras, selalu menyenangkan orang lain, atau terus mengejar pencapaian.
Menurut YourTango, sebagian orang dengan pengalaman pengasuhan seperti ini dapat menghubungkan harga dirinya dengan kemampuan untuk membuktikan bahwa dirinya pantas mendapatkan perhatian, penghargaan, atau kasih sayang.
Akibatnya, keberhasilan tidak selalu membuatnya merasa cukup.
Setelah mencapai satu target, muncul target berikutnya. Setelah mendapatkan pujian, ia membutuhkan pencapaian lain untuk kembali merasa berharga.
Dalam dunia kerja, pola tersebut dapat terlihat sebagai perfeksionisme. Dalam hubungan sosial, seseorang mungkin terus berusaha menjadi orang yang paling membantu agar dirinya dibutuhkan.
Padahal, nilai seseorang tidak seharusnya bergantung sepenuhnya pada produktivitas.
Berhasil adalah hal yang baik. Bekerja keras juga merupakan kualitas positif. Namun, seseorang tetap berharga ketika sedang gagal, beristirahat, meminta bantuan, atau tidak menghasilkan apa pun.
Menyadari hal tersebut dapat menjadi bagian penting dari proses membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri.
Tidak Semua Kebiasaan Masa Kecil Harus Dibawa Selamanya
Delapan kebiasaan di atas menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil dapat memengaruhi cara seseorang menghadapi hubungan, emosi, kebutuhan pribadi, dan tekanan ketika dewasa. Namun, pengalaman masa lalu bukanlah vonis seumur hidup.
Seseorang dapat belajar meminta bantuan setelah bertahun-tahun terbiasa mandiri. Ia juga dapat belajar mengatakan “tidak”, membuka diri secara perlahan, memilih hubungan yang lebih sehat, serta memahami bahwa emosi tidak harus selalu disembunyikan.
Namun yang paling penting adalah mengenali pola tersebut tanpa menyalahkan diri sendiri.
Banyak kebiasaan yang terbentuk ketika seseorang masih kecil pada awalnya merupakan cara untuk beradaptasi dengan situasi yang ia hadapi.
Ketika sudah dewasa dan berada dalam lingkungan yang lebih aman, kebiasaan itu dapat ditinjau kembali dan diubah secara bertahap.
Pada akhirnya, menjadi dewasa bukan hanya tentang meninggalkan rumah atau mampu mengurus diri sendiri.
Kedewasaan juga berarti belajar menciptakan rasa aman di dalam diri, membangun hubungan yang saling mendukung, serta memahami bahwa seseorang tidak harus terus-menerus berjuang untuk mendapatkan hak dasar berupa perhatian, penghargaan, dan kasih sayang.
***