← Beranda
6 Kebiasaan yang Akan Muncul Saat Anak-anak Dibesarkan dengan Sedikit Belas Kasih
Vindi Rayinda Ayudya• Rabu, 9 September 2026 | 03.34 WIB
Ilustrasi anak yang kurang belas kasih dari orang tua (magnific)

 

 

JawaPos.com - Anak yang tumbuh dengan sedikit kasih sayang dari orang tua dapat membawa sejumlah kebiasaan hingga dewasa. Kenali 6 pola yang mungkin muncul tanpa disadari.

Ya, masa kanak-kanak merupakan periode ketika seseorang mulai belajar tentang cinta, rasa aman, kepercayaan, dan bagaimana memperlakukan dirinya sendiri. 

Bagi seorang anak, kasih sayang dari orang tua bukan hanya ditunjukkan melalui pelukan atau kata-kata lembut, tetapi juga melalui perhatian, dukungan, penerimaan, dan kehadiran emosional.

Ketika kebutuhan tersebut jarang terpenuhi, seorang anak dapat belajar beradaptasi dengan keadaan. Ia mungkin menjadi sangat mandiri, sulit percaya kepada orang lain, takut ditinggalkan, atau justru terus mencari perhatian dan kasih sayang di tempat lain.

Kebiasaan tersebut, terkadang tidak langsung terlihat sebagai dampak pengalaman masa kecil. Ketika sudah dewasa, seseorang mungkin menganggap dirinya memang seperti itu sejak awal, padahal sebagian pola tersebut dapat berkaitan dengan cara ia belajar mendapatkan rasa aman ketika masih kecil.

Seperti dirangkum dari laman YourTango, artikel ini akan membahas beberapa perilaku yang dapat berkembang ketika seseorang mengalami kekurangan kasih sayang pada masa kanak-kanak.

Berikut enam kebiasaan yang mungkin muncul ketika seorang anak tumbuh dengan sedikit belas kasih dan kehangatan emosional.

1. Terbiasa Mengandalkan Diri Sendiri, Bahkan Saat Membutuhkan Bantuan

Salah satu kebiasaan yang dapat muncul ketika seorang anak jarang mendapatkan dukungan emosional adalah terlalu terbiasa melakukan semuanya sendiri.

Pada masa kanak-kanak, anak seharusnya belajar bahwa ketika dirinya takut, sedih, bingung, atau mengalami masalah, ada orang dewasa yang dapat menjadi tempat untuk meminta bantuan. 

Jika pengalaman tersebut jarang terjadi, anak bisa mengambil kesimpulan bahwa mengandalkan orang lain bukanlah pilihan yang aman.

Akibatnya, kemandirian berkembang secara berlebihan. Ketika dewasa, seseorang mungkin sangat sulit mengatakan bahwa dirinya sedang membutuhkan bantuan. 

Ia tetap bekerja meskipun sudah kelelahan, menyelesaikan masalah sendirian, atau menolak tawaran bantuan karena merasa tidak ingin merepotkan orang lain.

Dari luar, perilaku tersebut terlihat seperti kekuatan. Ia dianggap mandiri, tangguh, dan tidak bergantung kepada siapa pun.

Namun, terdapat perbedaan antara mandiri karena mampu dan mandiri karena merasa tidak punya pilihan lain.

Orang yang tumbuh dengan sedikit kasih sayang terkadang bukan tidak membutuhkan orang lain. Ia hanya belum terbiasa merasakan bahwa kebutuhan emosionalnya akan diterima dengan aman.

YourTango juga mengaitkan kekurangan kasih sayang masa kecil dengan pola hubungan yang membuat seseorang sulit mendapatkan rasa aman dan kedekatan emosional.

Karena itu, belajar menerima bantuan bukan berarti kehilangan kemandirian. Justru, kemampuan berkata “Saya membutuhkan bantuan” merupakan bagian dari hubungan yang sehat.

2. Sulit Merasa Nyaman dalam Hubungan yang Tenang

Kebiasaan kedua mungkin terdengar mengejutkan: seseorang justru merasa tidak nyaman ketika berada dalam hubungan yang aman dan penuh perhatian.

Mengapa?

Jika sejak kecil seseorang terbiasa mendapatkan kasih sayang yang minim, hubungan yang penuh kehangatan bisa terasa asing. 

Ia mungkin lebih mengenal hubungan yang penuh ketidakpastian, perhatian yang tidak konsisten, atau kebutuhan untuk terus berusaha agar mendapatkan perhatian.

YourTango menyoroti bahwa orang yang tumbuh dalam lingkungan emosional yang kurang sehat dapat tertarik pada hubungan yang terasa menantang karena dinamika tersebut lebih familiar bagi mereka.

Dalam kehidupan dewasa, pola ini dapat terlihat ketika seseorang menganggap pasangan yang baik sebagai “terlalu membosankan”.

Sebaliknya, orang yang sulit ditebak, sering menjauh, atau membutuhkan banyak usaha justru terasa lebih menarik.

Bukan karena ia sengaja memilih hubungan yang tidak sehat. Bisa jadi, otaknya telah terbiasa menghubungkan cinta dengan perjuangan mendapatkan perhatian.

Padahal, hubungan yang sehat tidak seharusnya membuat seseorang terus bertanya apakah dirinya dicintai.

Rasa aman mungkin terasa kurang dramatis, tetapi justru dapat menjadi tanda hubungan yang lebih stabil. Ketika seseorang mulai memahami pola tersebut, ia dapat belajar bahwa ketenangan bukan berarti tidak ada cinta.

Kadang-kadang, ketenangan adalah bentuk cinta yang belum pernah ia kenali sebelumnya.

3. Terus Mencari Pengakuan dari Orang Lain

Anak yang jarang mendapatkan pujian, perhatian, atau penghargaan dari orang tua dapat tumbuh dengan pertanyaan yang terus terbawa hingga dewasa: “Apakah saya cukup baik?”

Pertanyaan tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk. Seseorang mungkin membutuhkan pujian dari pasangan, teman, atasan, atau orang-orang di sekitarnya. 

Ketika mendapatkan apresiasi, ia merasa lega untuk sementara waktu. Namun, ketika perhatian tersebut berkurang, rasa tidak aman dapat muncul kembali.

Kondisi ini membuat validasi eksternal terasa sangat penting. Prestasi pun dapat menjadi cara untuk membuktikan diri. 

Seseorang bekerja keras, mengejar kesuksesan, berusaha tampil sempurna, atau terus membantu orang lain dengan harapan dirinya akan dianggap berharga.

YourTango mengaitkan kekurangan kasih sayang masa kecil dengan rendahnya rasa berharga pada diri dan kecenderungan memilih hubungan yang tidak sehat karena seseorang merasa tidak pantas mendapatkan yang lebih baik.

Padahal, nilai seseorang tidak seharusnya ditentukan oleh seberapa sering orang lain memberikan pujian.

Memiliki prestasi tentu menyenangkan. Mendapatkan apresiasi juga merupakan hal yang wajar. Namun, seseorang tetap berharga ketika sedang gagal, tidak produktif, atau tidak mendapatkan perhatian.

Salah satu bentuk kedewasaan emosional adalah mulai membangun validasi dari dalam diri.

Alih-alih selalu bertanya, “Apakah orang lain menyukaiku?”, seseorang perlahan dapat belajar bertanya, “Apakah saya menghargai diri saya sendiri?”

4. Terlalu Takut Menjalani Hidup Sendirian

Ketika seorang anak tumbuh dengan sedikit kasih sayang, rasa takut kehilangan hubungan dapat menjadi sangat kuat.

Pada masa dewasa, ketakutan tersebut bisa berubah menjadi keengganan untuk sendirian. 

Seseorang mungkin bertahan dalam hubungan yang tidak membuatnya bahagia karena menganggap memiliki pasangan tetap lebih baik daripada tidak memiliki siapa pun.

YourTango secara khusus membahas rasa takut sendirian sebagai salah satu pola yang dapat muncul pada orang yang mengalami kekurangan kasih sayang ketika kecil. 

Ketakutan tersebut dapat membuat seseorang menerima hubungan yang sebenarnya tidak sehat hanya demi menghindari kesepian.

Masalahnya, berada bersama seseorang tidak selalu berarti tidak merasa kesepian.

Seseorang dapat memiliki pasangan, tinggal bersama, bahkan menjalani kehidupan sehari-hari bersama, tetapi tetap merasa tidak dipahami atau dicintai.

Karena itu, kemampuan menikmati kesendirian merupakan bagian penting dari kesehatan emosional.

Sendiri bukan berarti tidak dicintai. Tidak memiliki pasangan untuk sementara waktu juga bukan berarti seseorang gagal menjalani kehidupan.

Ketika seseorang mampu merasa nyaman dengan dirinya sendiri, keputusan dalam hubungan biasanya menjadi lebih sehat. 

Ia tidak lagi bertahan hanya karena takut kehilangan, tetapi memilih seseorang karena hubungan tersebut memang memberikan rasa aman, penghargaan, dan kebahagiaan.

5. Berusaha Keras untuk Mendapatkan Cinta

Anak yang tidak mendapatkan kasih sayang secara konsisten dapat belajar bahwa cinta adalah sesuatu yang harus diperjuangkan atau diperoleh melalui prestasi.

Jika perhatian orang tua hanya muncul ketika anak mendapatkan nilai bagus, berperilaku sesuai keinginan, atau berhasil memenuhi ekspektasi tertentu, anak dapat menyimpulkan bahwa dirinya harus melakukan sesuatu agar layak mendapatkan kasih sayang.

Pola ini dapat terbawa hingga dewasa. Ia mungkin menjadi pasangan yang selalu berusaha menyenangkan orang lain. 

Ia memberikan terlalu banyak, selalu tersedia, sulit mengatakan tidak, dan merasa bersalah ketika tidak dapat memenuhi kebutuhan orang lain.

Pada permukaan, perilaku tersebut terlihat sangat perhatian. Namun, jika motivasinya adalah ketakutan bahwa orang lain akan pergi ketika dirinya berhenti memberi, hubungan tersebut dapat menjadi melelahkan.

YourTango membahas bagaimana kekurangan kasih sayang dapat berkaitan dengan kecenderungan mencari hubungan tertentu untuk memenuhi kebutuhan emosional yang belum terpenuhi sejak masa lalu.

Kasih sayang yang sehat tidak seharusnya menjadi hadiah setelah seseorang memenuhi syarat tertentu.

Seseorang tidak harus sempurna agar layak dicintai. Memahami hal tersebut dapat membantu seseorang berhenti mengejar cinta melalui pengorbanan berlebihan dan mulai membangun hubungan yang didasarkan pada timbal balik.

6. Sulit Mempercayai Bahwa Dirinya Layak Dicintai

Kebiasaan terakhir mungkin merupakan yang paling dalam: meragukan kelayakan diri untuk mendapatkan cinta.

Seorang anak yang jarang mendapatkan kehangatan dari orang tua tidak selalu mampu memahami bahwa masalah tersebut berasal dari keterbatasan orang dewasa di sekitarnya. Anak sering kali melihat dirinya sendiri sebagai penyebab.

Ia dapat berpikir, “Mungkin aku memang tidak cukup baik.” Keyakinan tersebut kemudian dapat terbawa hingga dewasa.

Ketika ada seseorang yang mencintainya dengan tulus, ia mungkin merasa curiga. Ketika menerima pujian, ia merasa tidak nyaman. Bahkan ketika mendapatkan pasangan yang baik, muncul pikiran bahwa suatu hari orang tersebut akan meninggalkannya.

YourTango menyoroti bahwa pengalaman kekurangan kasih sayang dapat berpengaruh terhadap cara seseorang menilai dirinya sendiri dan memilih hubungan ketika dewasa.

Padahal, kurangnya kasih sayang yang diterima ketika kecil bukan bukti bahwa seseorang tidak layak dicintai.

Anak tidak bertanggung jawab atas kemampuan orang tuanya dalam menunjukkan kasih sayang.

Kesadaran ini dapat menjadi titik awal untuk membangun kembali hubungan dengan diri sendiri. Seseorang dapat belajar menerima pujian tanpa meragukannya, menetapkan batas, memilih pasangan yang menghargainya, dan berhenti menganggap perlakuan buruk sebagai sesuatu yang pantas diterima.

Sedikit Kasih Sayang di Masa Kecil Bukan Berarti Masa Depan Harus Sama

Enam kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa kurangnya belas kasih dan kehangatan pada masa kanak-kanak dapat meninggalkan pola tertentu dalam cara seseorang menjalani hubungan ketika dewasa. Namun, pengalaman masa kecil bukanlah vonis seumur hidup.

Seseorang tetap dapat belajar membangun rasa percaya, menerima kasih sayang, menikmati kesendirian, menetapkan batas, dan memahami bahwa dirinya berharga tanpa harus membuktikan apa pun kepada orang lain.

Yang terpenting adalah mengenali pola tersebut tanpa menyalahkan diri sendiri.

Banyak kebiasaan yang terbentuk sejak kecil pada awalnya merupakan cara seorang anak beradaptasi dengan lingkungan yang ia miliki. Ketika dewasa, lingkungan dan pilihan hidupnya dapat berubah.

Pada akhirnya, kasih sayang bukan hanya sesuatu yang diterima dari orang lain. Seseorang juga dapat belajar memberikan belas kasih kepada dirinya sendiri—dengan menerima kekurangan, menghargai kebutuhan emosional, dan memilih hubungan yang membuatnya merasa aman.

Sebab, masa kecil mungkin menjelaskan mengapa seseorang belajar mencintai dengan cara tertentu, tetapi masa lalu tidak harus menentukan bagaimana ia akan dicintai dan mencintai sepanjang hidupnya.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti