← Beranda
6 Kebiasaan Anak yang Dibesarkan oleh Orang Tua yang Memiliki Kesabaran Setipis Tisu
Vindi Rayinda AyudyaRabu, 9 September 2026 | 03.25 WIB
Ilustrasi orang tua yang tidak sabar menghadapi anak (magnific)

 

 

JawaPos.com -  Anak yang tumbuh dengan orang tua yang mudah kehilangan kesabaran bisa membawa kebiasaan tertentu hingga dewasa. Kenali 6 kebiasaan yang mungkin muncul tanpa disadari.

Setiap anak membutuhkan waktu untuk belajar, melakukan kesalahan, bertanya, dan memahami berbagai hal di sekitarnya. 

Namun, ketika proses tersebut sering disambut dengan keluhan, desahan panjang, teguran berulang, atau orang tua yang cepat kehilangan kesabaran, anak bisa belajar bahwa menjadi lambat, salah, atau membutuhkan bantuan adalah sesuatu yang merepotkan.

Dampaknya tidak selalu terlihat ketika anak masih kecil. Beberapa pola justru dapat terbawa hingga dewasa, terutama ketika ketidaksabaran orang tua menjadi pola yang berulang dalam kehidupan sehari-hari.

Dirangkum dari laman YourTango, artikel ini akan membahas sejumlah kebiasaan yang dapat berkembang pada anak yang terbiasa menghadapi orang tua dengan tingkat kesabaran yang rendah.

Namun perlu dipahami, pola tersebut bukan berarti pasti terjadi pada setiap anak. Kesabaran orang tua dapat dipengaruhi banyak hal, termasuk stres, kelelahan, kondisi lingkungan, dan kemampuan mengelola emosi. 

Namun, jika ketidaksabaran menjadi respons yang hampir selalu muncul, anak dapat menyesuaikan perilakunya untuk menghindari konflik.

Selengkapnya, inilah kebiasaan yang dapat berkembang pada anak yang terbiasa menghadapi orang tua dengan tingkat kesabaran yang rendah.

1. Terbiasa Terburu-buru karena Takut Dianggap Merepotkan

Salah satu kebiasaan yang mungkin muncul adalah selalu merasa harus cepat.

Anak yang sering melihat orang tua tidak sabar ketika dirinya membutuhkan waktu lebih lama untuk mengerjakan sesuatu dapat menangkap pesan bahwa kelambatan adalah masalah. 

Misalnya, ketika anak belajar memakai sepatu, mengerjakan pekerjaan rumah, menjawab pertanyaan, atau mencoba sesuatu yang baru, reaksi orang tua yang terburu-buru dapat membuat anak merasa harus segera menyelesaikannya.

Lama-kelamaan, terburu-buru bisa menjadi kebiasaan otomatis. Anak mungkin berusaha menyelesaikan sesuatu secepat mungkin bukan karena memang efisien, melainkan karena merasa tidak nyaman ketika harus meluangkan waktu.

Menurut pembahasan YourTango, pola ini dapat terbawa hingga dewasa. Seseorang mungkin terlihat sangat produktif karena selalu bergerak cepat, padahal di baliknya terdapat ketidaknyamanan ketika harus berhenti atau bersantai.

Bahkan, istirahat dapat terasa seperti membuang waktu. Mereka bisa merasa bersalah ketika tidak melakukan sesuatu dan terus berusaha menyelesaikan berbagai pekerjaan sekaligus.

Padahal, kemampuan memperlambat ritme ketika diperlukan merupakan bagian penting dari kehidupan yang sehat. Tidak semua hal harus selesai dengan segera, dan kesalahan tidak selalu berarti kegagalan.

2. Sulit Meminta Bantuan, Bahkan Saat Sudah Kewalahan

Anak pada dasarnya memang membutuhkan bantuan orang dewasa. Mereka belajar banyak hal melalui proses bertanya, mencoba, salah, kemudian mencoba lagi.

Namun, jika setiap kali meminta bantuan justru mendapatkan respons yang menunjukkan kejengkelan, anak dapat belajar untuk mengurus semuanya sendiri. Pada awalnya, perilaku tersebut mungkin terlihat sebagai bentuk kemandirian yang positif.

Masalahnya muncul ketika kemandirian berubah menjadi keyakinan bahwa dirinya tidak boleh membutuhkan orang lain.

YourTango menjelaskan bahwa anak yang terbiasa menghadapi orang tua tidak sabar dapat tumbuh menjadi pribadi yang enggan meminta pertolongan meskipun sebenarnya sudah sangat membutuhkan bantuan.

Saat dewasa, pola tersebut dapat terlihat dalam berbagai situasi. Mereka mungkin memilih bekerja sendirian ketika tugas sudah terlalu berat, menyimpan masalah pribadi tanpa bercerita, atau menolak bantuan pasangan karena merasa seharusnya mampu menyelesaikannya sendiri.

Di baliknya bukan selalu karena mereka terlalu kuat. Bisa jadi, sejak kecil mereka belajar bahwa meminta bantuan akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain.

Karena itu, mereka lebih memilih menahan beban sampai benar-benar kewalahan. Padahal, meminta bantuan pada waktu yang tepat bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari kemampuan membangun hubungan yang sehat.

3. Sering Meminta Maaf meski Tidak Melakukan Kesalahan

“Maaf” memang merupakan kata yang penting dalam hubungan. Namun, pada sebagian orang, meminta maaf bisa berubah menjadi respons otomatis setiap kali situasi terasa tegang.

Anak yang tumbuh bersama orang tua dengan kesabaran tipis mungkin belajar bahwa meminta maaf adalah cara tercepat untuk menghentikan ketegangan. Ketika orang tua mulai kesal, anak meminta maaf. Ketika suasana berubah menjadi tidak nyaman, anak kembali meminta maaf.

Lama-kelamaan, permintaan maaf tidak lagi berkaitan dengan kesalahan yang benar-benar dilakukan. Anak hanya ingin memastikan suasana kembali tenang.

YourTango menggambarkan kecenderungan ini sebagai bentuk pertahanan emosional. Seseorang dapat terbiasa mengambil kesalahan atau meminta maaf hanya untuk meredakan emosi orang lain.

Ketika dewasa, kebiasaan tersebut dapat muncul dalam hubungan pertemanan, pekerjaan, maupun percintaan. Mereka mungkin berkata “maaf” ketika mengajukan pertanyaan, menyampaikan pendapat, meminta bantuan, atau bahkan ketika orang lain sebenarnya yang melakukan kesalahan.

Jika berlangsung lama, seseorang dapat mulai merasa bahwa kebutuhan normalnya adalah sebuah gangguan.

Padahal, meminta maaf seharusnya dilakukan ketika memang ada sesuatu yang perlu diperbaiki, bukan sebagai kewajiban untuk menjaga suasana hati semua orang.

4. Sangat Peka Membaca Perubahan Suasana Hati Orang Lain

Anak yang hidup bersama orang tua yang mudah kehilangan kesabaran sering kali menjadi sangat peka terhadap perubahan suasana di rumah.

Mereka mungkin memperhatikan nada suara, ekspresi wajah, cara seseorang berjalan, suara pintu ditutup, bahkan perubahan kecil dalam cara orang tua berbicara. Semua itu menjadi semacam “sinyal” yang membantu mereka memperkirakan apakah suasana sedang aman atau mulai menegang.

Menurut YourTango, kemampuan membaca suasana tersebut dapat terbawa hingga dewasa. Apa yang dahulu membantu anak mengantisipasi kemarahan orang tua bisa berubah menjadi kebiasaan terus-menerus memantau emosi orang lain.

Dalam hubungan sosial, orang tersebut mungkin terlalu cepat menyadari ketika seseorang berubah sedikit lebih pendiam. Mereka kemudian mulai bertanya-tanya apakah telah melakukan kesalahan.

Masalahnya, perhatian yang terlalu besar terhadap perasaan orang lain dapat membuat seseorang lupa memeriksa kondisi dirinya sendiri.

Ia sibuk memastikan semua orang baik-baik saja, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya sedang lelah, kecewa, atau membutuhkan ruang.

Kemampuan memahami emosi orang lain sebenarnya merupakan hal yang baik. Namun, kemampuan tersebut perlu berjalan bersama kesadaran terhadap emosi dan kebutuhan diri sendiri.

5. Terlalu Lama Memikirkan Kesalahan Kecil

Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Bagi anak, kesalahan seharusnya menjadi bagian dari proses belajar.

Namun, ketika kesalahan sering mendapatkan respons tidak sabar atau kritik yang membuat anak merasa tertekan, mereka dapat mulai menganggap kesalahan sebagai sesuatu yang berbahaya.

Akibatnya, saat dewasa mereka mungkin terlalu lama memikirkan kesalahan kecil.

YourTango memberikan gambaran bahwa orang yang tumbuh dalam situasi seperti ini dapat terus menganalisis kesalahan setelah situasinya sebenarnya sudah selesai. Mereka mungkin membaca ulang pesan berkali-kali, memikirkan kembali percakapan, atau terus bertanya-tanya apakah telah mengatakan sesuatu yang salah.

Pola tersebut dapat membuat seseorang menjadi sangat berhati-hati. Mereka ingin memastikan semuanya sempurna karena kesempurnaan terasa lebih aman daripada melakukan kesalahan.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa melelahkan. Waktu dan energi mental habis bukan untuk memperbaiki masalah, tetapi untuk mengulang kejadian yang sebenarnya sudah berlalu.

Padahal, melakukan kesalahan tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang tidak kompeten. Kesalahan dapat menjadi informasi yang membantu seseorang mengetahui apa yang perlu diperbaiki.

Belajar menerima ketidaksempurnaan menjadi langkah penting agar pengalaman masa kecil tidak terus menentukan cara seseorang menilai dirinya sendiri.

6. Justru Merasa Tidak Nyaman Ketika Dipertemukan dengan Orang yang Sabar

Ini mungkin menjadi kebiasaan yang paling mengejutkan.

Ketika seseorang sejak kecil terbiasa menghadapi orang tua yang mudah kesal, kesabaran dari orang lain justru dapat terasa asing. Mereka mungkin merasa bingung ketika seseorang tidak marah karena dirinya membutuhkan waktu lebih lama, melakukan kesalahan, atau mengajukan terlalu banyak pertanyaan.

YourTango mencatat bahwa orang yang terbiasa dengan ketidaksabaran dapat membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri ketika berhadapan dengan orang yang benar-benar sabar.

Misalnya, seorang pasangan mengatakan, “Tidak apa-apa, kamu pikirkan dulu,” tetapi orang tersebut justru merasa cemas dan buru-buru memberikan jawaban. Atau ketika melakukan kesalahan kecil, ia langsung meminta maaf meskipun lawan bicaranya tidak mempermasalahkannya.

Hal ini menunjukkan bahwa rasa aman emosional terkadang perlu dipelajari.

Seseorang mungkin tahu secara logika bahwa dirinya tidak sedang dimarahi, tetapi tubuh dan pikirannya masih terbiasa menunggu reaksi negatif.

Kabar baiknya, pola tersebut bukan hukuman seumur hidup. Dengan pengalaman hubungan yang sehat, komunikasi yang terbuka, dan kesempatan untuk memahami emosi sendiri, seseorang dapat belajar bahwa dirinya tidak harus selalu terburu-buru untuk mendapatkan penerimaan.

Ketidaksabaran Orang Tua Tidak Harus Menjadi Pola Seumur Hidup

Anak-anak belajar bukan hanya dari nasihat yang diberikan orang tua, tetapi juga dari bagaimana orang tua merespons kesalahan, pertanyaan, kebutuhan, dan emosi mereka.

Orang tua yang sesekali kehilangan kesabaran tentu tidak otomatis membuat anak mengalami berbagai kebiasaan di atas. Parenting merupakan proses yang melelahkan, dan orang dewasa pun memiliki batas emosi. Yang perlu diperhatikan adalah ketika ketidaksabaran menjadi pola yang terus berulang dan membuat anak merasa harus selalu berhati-hati.

Enam kebiasaan tersebut yaitu terburu-buru, sulit meminta bantuan, terlalu sering meminta maaf, membaca suasana hati orang lain, terus memikirkan kesalahan, hingga merasa asing dengan kesabaran, dapat menjadi cara seorang anak beradaptasi terhadap lingkungan yang dianggap tidak mudah diprediksi.

Namun, masa kecil bukanlah vonis terhadap masa depan. Seseorang tetap dapat membangun cara berkomunikasi, hubungan, dan pola pengelolaan emosi yang lebih sehat ketika dewasa.

Pada akhirnya, kesabaran bukan berarti orang tua tidak pernah merasa lelah atau marah. Kesabaran berarti memberi anak kesempatan untuk belajar tanpa membuat mereka merasa bahwa menjadi dirinya sendiri adalah sebuah beban.

 
 
***
EDITOR: Novia Tri Astuti