Namun, ada perbedaan antara menjaga keseimbangan dalam hubungan dan selalu menghitung apa yang sudah diberikan kepada pasangan.
Seseorang yang perhitungan dalam hubungan biasanya tidak sekadar memperhatikan apakah hubungan terasa adil. Ia dapat terlalu fokus pada siapa yang melakukan lebih banyak, siapa yang mengeluarkan lebih banyak uang, siapa yang lebih dulu menghubungi, atau siapa yang lebih banyak berkorban.
Dalam psikologi hubungan, kecenderungan seperti ini dapat berkaitan dengan cara seseorang memandang timbal balik, rasa aman, kepercayaan, kebutuhan akan kontrol, maupun pengalaman masa lalu. Karena itu, perilaku perhitungan tidak selalu berarti seseorang itu pelit atau tidak mencintai pasangannya.
Yang lebih penting adalah pola perilakunya.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (7/9), jika kamu melihat beberapa tanda berikut secara konsisten pada pasanganmu, mungkin ada kecenderungan bahwa ia memandang hubungan dengan cara yang sangat transaksional.
1. Dia sering mengingatkanmu tentang apa saja yang sudah dia lakukan untukmu
Pernahkah pasanganmu mengatakan sesuatu seperti:
"Aku kan sudah melakukan banyak hal buat kamu."
Atau:
"Kalau bukan karena aku, kamu mungkin tidak akan bisa seperti sekarang."
Sekilas, mengingat kontribusi dalam hubungan sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Setiap orang tentu ingin pengorbanannya dihargai.
Masalahnya muncul ketika kebaikan yang dilakukan selalu berubah menjadi semacam catatan utang emosional.
Misalnya, dia pernah menjemputmu beberapa kali. Ketika suatu hari kamu tidak bisa memenuhi keinginannya, dia langsung mengungkit semua bantuan yang pernah diberikan.
Atau dia pernah membelikan sesuatu untukmu, kemudian menjadikan pemberian tersebut sebagai alasan bahwa kamu seharusnya melakukan sesuatu untuknya.
Pola seperti ini menunjukkan bahwa seseorang mungkin tidak sepenuhnya melihat pemberian sebagai sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Di dalam pikirannya, sebuah tindakan bisa dianggap sebagai investasi yang harus mendapatkan balasan.
Dalam hubungan yang sehat, pasangan tetap boleh mengharapkan apresiasi. Tetapi apresiasi berbeda dengan tuntutan untuk membayar kembali setiap kebaikan.
Ada perbedaan besar antara:
"Aku senang ketika kamu menghargai apa yang aku lakukan."
dan:
"Aku sudah melakukan ini untukmu, jadi sekarang kamu wajib melakukan sesuatu untukku."
Kalimat kedua menunjukkan pola hubungan yang jauh lebih transaksional.
2. Dia sering menghitung siapa yang lebih banyak berkorban
Tanda kedua adalah kebiasaannya membandingkan kontribusi.
Siapa yang lebih sering membayar?
Siapa yang lebih sering menghubungi?
Siapa yang lebih banyak mengalah?
Siapa yang lebih sering datang menemui siapa?
Siapa yang lebih banyak membantu?
Memperhatikan keseimbangan dalam hubungan tentu wajar. Bahkan dalam hubungan jangka panjang, pembagian tanggung jawab memang perlu dibicarakan.
Namun, hubungan bisa menjadi melelahkan jika setiap interaksi selalu berubah menjadi pertandingan.
Misalnya, ketika kamu mengatakan bahwa kamu sudah berusaha keras untuk hubungan tersebut, dia langsung menjawab:
"Aku lebih banyak berkorban daripada kamu."
Ketika kamu mengeluhkan sesuatu, dia membalas dengan daftar kesalahan atau pengorbanannya.
Akhirnya, percakapan bukan lagi tentang menyelesaikan masalah, tetapi tentang siapa yang paling berjasa.
Orang dengan kecenderungan seperti ini mungkin memiliki kebutuhan yang kuat untuk merasa bahwa hubungan tersebut "adil". Sayangnya, definisi keadilan yang terlalu kaku dapat membuat hubungan terasa seperti pembukuan.
Padahal, dalam hubungan yang sehat, kontribusi tidak selalu bisa dihitung dengan angka.
Ada hari ketika kamu memberikan 80 persen dan pasanganmu hanya mampu memberikan 20 persen.
Di hari lain, mungkin justru sebaliknya.
Yang penting adalah apakah keduanya memiliki kemauan untuk saling mendukung dalam jangka panjang.
3. Dia sulit melakukan sesuatu untukmu jika tidak mendapatkan keuntungan langsung
Coba perhatikan bagaimana pasanganmu merespons ketika kamu membutuhkan bantuan yang sebenarnya tidak memberikan keuntungan apa pun untuk dirinya.
Apakah dia tetap bersedia membantu?
Atau dia terlebih dahulu bertanya:
"Aku dapat apa?"
Tentu saja tidak semua permintaan harus dipenuhi. Setiap orang berhak memiliki batasan. Menolak sesuatu juga bukan tanda seseorang perhitungan.
Yang perlu diperhatikan adalah motif yang berulang.
Orang yang sangat transaksional mungkin hanya mau memberikan sesuatu ketika ia tahu akan memperoleh sesuatu sebagai gantinya.
Contohnya, dia mau menemanimu karena setelah itu kalian akan pergi ke tempat yang dia sukai.
Dia mau membantu pekerjaanmu karena sebelumnya kamu sudah membantu pekerjaannya.
Dia memberikan perhatian lebih ketika dia sedang membutuhkan sesuatu darimu.
Sebaliknya, ketika kamu membutuhkan dukungan tetapi tidak ada keuntungan yang bisa dia dapatkan, dia tiba-tiba menjadi tidak tertarik.
Jika pola seperti ini terjadi terus-menerus, kamu mungkin mulai merasa bahwa kasih sayangnya memiliki "syarat dan ketentuan".
Hubungan akhirnya terasa seperti:
"Aku melakukan sesuatu untukmu karena kamu melakukan sesuatu untukku."
Padahal, kedekatan emosional tidak selalu bekerja seperti transaksi.
4. Dia membuatmu merasa bersalah ketika kamu tidak bisa membalas sesuatu
Ini adalah salah satu tanda yang cukup penting.
Bayangkan pasanganmu mentraktir makan malam. Beberapa hari kemudian kamu sedang tidak memiliki cukup uang untuk melakukan hal yang sama.
Alih-alih memahami kondisi tersebut, dia berkata:
"Waktu aku punya uang, aku selalu berusaha buat kamu. Tapi kamu begitu saja sama aku."
Kalimat seperti ini bisa membuat seseorang merasa bersalah.
Dalam jangka panjang, kamu mungkin mulai merasa bahwa setiap pemberian harus segera dibalas.
Masalahnya, rasa bersalah dapat membuat hubungan menjadi tidak seimbang.
Kamu tidak lagi memberikan sesuatu karena memang ingin memberikannya. Kamu melakukannya karena takut dianggap tidak menghargai pasangan.
Ada perbedaan antara mengungkapkan kebutuhan dan membuat pasangan merasa berutang secara emosional.
Pasangan yang sehat bisa mengatakan:
"Aku merasa kurang dihargai ketika usahaku tidak diperhatikan."
Sementara pasangan yang sangat perhitungan mungkin mengatakan:
"Aku sudah melakukan banyak hal untukmu, tapi kamu tidak pernah melakukan hal yang sama."
Yang pertama mengomunikasikan perasaan.
Yang kedua cenderung menggunakan kontribusi masa lalu sebagai alat untuk menekan pasangan.
5. Dia menganggap hubungan yang "adil" berarti semuanya harus dibalas secara setara
Dalam hubungan, keadilan memang penting.
Tetapi adil tidak selalu berarti sama persis.
Misalnya, ketika pasanganmu sedang sakit, mungkin kamu yang lebih banyak mengurusnya. Ketika nanti kamu sakit, dia mungkin akan melakukan hal yang sama.
Tidak ada kebutuhan untuk menghitung:
"Aku merawatmu selama tiga hari, berarti kamu harus merawatku selama tiga hari juga."
Begitu pula dengan waktu, perhatian, tenaga, dan uang.
Dua orang bisa memberikan kontribusi yang berbeda karena kondisi, kemampuan, dan kebutuhan mereka memang berbeda.
Orang yang sangat perhitungan mungkin kesulitan menerima konsep tersebut.
Baginya, hubungan yang ideal adalah ketika semuanya harus seimbang secara matematis.
Jika dia membayar Rp300.000 untuk makan, dia berharap kamu membayar jumlah yang sama.
Jika dia mengirim pesan lima kali, dia merasa kamu harus mengirim pesan lima kali.
Jika dia datang menemuimu dua kali, dia berharap kamu datang dua kali.
Tidak ada yang salah dengan membagi biaya atau tanggung jawab secara jelas. Bahkan untuk masalah finansial, transparansi sangat penting.
Namun, ketika prinsip tersebut dibawa ke setiap aspek hubungan, kedekatan bisa terasa kaku.
Hubungan bukan spreadsheet.
Tidak semua bentuk perhatian bisa diberi harga, jumlah, atau skor.
6. Dia terlihat sangat berbeda ketika merasa tidak mendapatkan apa yang dia inginkan
Tanda terakhir adalah perubahan sikap ketika "imbalan" yang diharapkan tidak datang.
Ketika keinginannya terpenuhi, dia mungkin sangat perhatian, hangat, dan romantis.
Namun ketika kamu mengatakan tidak, dia menjadi dingin.
Dia bisa tiba-tiba menarik diri, mengurangi perhatian, marah, menyindir, atau membuatmu merasa bahwa kamu sudah mengecewakannya.
Pola seperti ini patut diperhatikan karena dapat menunjukkan bahwa pemberian atau perhatian yang sebelumnya diberikan mungkin memiliki ekspektasi tersembunyi.
Contohnya:
Dia memberikan hadiah, tetapi kemudian kecewa besar karena kamu tidak memberikan hadiah yang menurutnya setara.
Dia sering mentraktir, tetapi kemudian menggunakan hal tersebut untuk mengontrol keputusanmu.
Dia selalu menawarkan bantuan, tetapi kemudian merasa berhak menentukan apa yang harus kamu lakukan.
Dalam situasi seperti ini, masalah sebenarnya mungkin bukan tentang uang atau pemberian.
Masalahnya adalah kontrol dan ekspektasi.
Jika kasih sayang seseorang berubah drastis setiap kali keinginannya tidak terpenuhi, hubungan tersebut dapat terasa seperti sistem hadiah dan hukuman.
Dan itu bisa membuat pasangan berjalan di atas kulit telur—selalu takut melakukan sesuatu yang membuatnya merasa "berutang".
Tetapi Apakah Orang yang Perhitungan Berarti Tidak Mencintaimu?
Belum tentu.
Ini bagian yang sangat penting.
Seseorang bisa memiliki kecenderungan perhitungan tanpa berarti bahwa dia sama sekali tidak mencintai pasangannya.
Ada orang yang tumbuh dalam lingkungan di mana segala sesuatu harus diperjuangkan. Ada yang pernah dimanfaatkan oleh orang lain. Ada yang memiliki pengalaman hubungan sebelumnya yang membuatnya sulit percaya. Ada pula yang memiliki pandangan kuat tentang keadilan dan pembagian tanggung jawab.
Karena itu, perilaku tersebut sebaiknya tidak langsung diberi label sebagai "toxic", "narsistik", atau gangguan psikologis tertentu.
Satu perilaku tidak cukup untuk mendiagnosis kepribadian seseorang.
Yang jauh lebih penting adalah melihat pola secara keseluruhan.
Apakah dia bisa diajak berdiskusi?
Apakah dia mau mendengarkan sudut pandangmu?
Apakah dia bisa mengakui ketika dirinya berlebihan?
Apakah dia bersedia memperbaiki perilakunya?
Atau justru setiap kali kamu membicarakan masalah, dia memutarbalikkan keadaan dan membuatmu merasa bersalah?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih informatif daripada sekadar menghitung berapa kali dia mentraktir atau berapa banyak hadiah yang pernah diberikan.
Perhitungan Tidak Sama dengan Bijak Mengelola Keuangan
Ada satu hal lagi yang sering disalahpahami.
Pasangan yang berhati-hati terhadap uang belum tentu perhitungan.
Seseorang mungkin memilih membagi tagihan karena kondisi finansialnya terbatas. Dia mungkin tidak suka meminjamkan uang. Dia mungkin ingin membuat anggaran bersama sebelum tinggal bersama.
Semua itu bisa menjadi bentuk tanggung jawab.
Perhitungan menjadi masalah ketika uang atau kontribusi digunakan untuk mengukur nilai pasangan atau mengontrol pasangan.
Contohnya:
"Karena aku yang lebih banyak membayar, aku yang paling berhak mengambil keputusan."
Ini bukan sekadar pengelolaan keuangan.
Ini sudah menyentuh persoalan kekuasaan dalam hubungan.
Hubungan yang sehat memungkinkan pasangan membicarakan uang secara terbuka tanpa menjadikan uang sebagai alat untuk mendominasi satu sama lain.
Coba Perhatikan Bagaimana Perasaanmu Setelah Berinteraksi Dengannya
Selain melihat perilaku pasangan, perhatikan juga pengalaman emosionalmu sendiri.
Apakah kamu sering merasa seperti sedang berutang?
Apakah kamu takut menerima bantuan karena khawatir suatu hari bantuan itu akan diungkit?
Apakah kamu merasa harus selalu membalas kebaikannya dengan jumlah yang sama?
Apakah kamu merasa bersalah ketika tidak mampu melakukan sesuatu untuknya?
Apakah kamu merasa harus terus membuktikan bahwa kamu juga berkontribusi?
Jika jawabannya sering "iya", mungkin ada dinamika hubungan yang perlu dibicarakan.
Bukan berarti pasanganmu pasti orang yang buruk.
Tetapi mungkin ada pola yang membuat hubungan terasa lebih transaksional daripada emosional.
Hubungan Sehat Bukan Tentang Siapa yang Menang
Pada akhirnya, hubungan bukan kompetisi untuk menentukan siapa yang paling banyak memberi.
Ada masa ketika satu orang lebih banyak memberi karena pasangannya sedang kesulitan.
Ada masa ketika seseorang lebih membutuhkan perhatian.
Ada masa ketika salah satu pihak memiliki kondisi finansial yang lebih baik.
Ada masa ketika salah satu orang membutuhkan lebih banyak dukungan emosional.
Keseimbangan yang sehat bukan berarti 50:50 setiap hari.
Kadang-kadang mungkin 80:20.
Kadang 30:70.
Yang penting adalah dalam jangka panjang keduanya merasa dihargai, didukung, dan tidak dimanfaatkan.
Jadi, jika kamu melihat enam tanda di atas pada pasanganmu, jangan buru-buru mengambil kesimpulan bahwa dia tidak mencintaimu.
Perhatikan pola, komunikasikan apa yang kamu rasakan, dan lihat bagaimana reaksinya ketika kamu menyampaikan batasan.
Karena salah satu indikator hubungan yang sehat bukanlah seberapa banyak seseorang memberi.
Melainkan apakah seseorang bisa memberi tanpa menjadikan pemberiannya sebagai alat untuk mengendalikan pasangannya.
Dan pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukan:
"Siapa yang lebih banyak berkorban dalam hubungan ini?"
Tetapi: