← Beranda
7 Alasan Mengapa Sebagian Orang Lebih Memercayai Hal-Hal yang Tidak Benar Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSelasa, 8 September 2026 | 13.06 WIB
seseorang yang memercayai hal yang tidak benar. (Magnific)
 
 
JawaPos.com - Pernahkah Anda bertemu seseorang yang tetap memercayai sebuah informasi meskipun bukti menunjukkan bahwa informasi tersebut keliru? Ketika diberikan fakta, penelitian, atau penjelasan yang lebih masuk akal, ia justru semakin yakin dengan keyakinannya.


Fenomena seperti ini sebenarnya cukup umum dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dapat mempercayai rumor, teori konspirasi, informasi kesehatan yang keliru, ramalan, stereotip, atau berita palsu bukan semata-mata karena ia tidak mampu berpikir logis. Dalam banyak kasus, ada proses psikologis yang membuat manusia lebih mudah menerima informasi tertentu dan lebih sulit melepaskan keyakinan yang sudah terbentuk.

Otak manusia tidak dirancang untuk memeriksa setiap informasi secara sempurna. Kita hidup di tengah begitu banyak informasi sehingga otak harus menggunakan jalan pintas mental agar dapat mengambil keputusan dengan cepat. Jalan pintas tersebut sangat berguna, tetapi terkadang juga membuat kita melakukan kesalahan dalam menilai kebenaran.

Lantas, mengapa sebagian orang bisa begitu kuat mempercayai sesuatu yang sebenarnya tidak benar?

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (7/9), terdapat tujuh alasan yang dapat membantu menjelaskannya.

1. Kita cenderung mencari informasi yang menguatkan keyakinan sendiri

Salah satu alasan paling penting adalah apa yang dalam psikologi dikenal sebagai confirmation bias atau bias konfirmasi.

Secara sederhana, bias konfirmasi adalah kecenderungan seseorang untuk lebih memperhatikan, mengingat, dan menerima informasi yang sesuai dengan keyakinannya, sementara informasi yang bertentangan cenderung diabaikan atau dianggap kurang meyakinkan.

Bayangkan seseorang sudah percaya bahwa suatu kelompok masyarakat tertentu selalu melakukan hal buruk. Ketika ia menemukan satu berita yang tampaknya mendukung pandangan tersebut, ia mungkin langsung menganggap berita itu sebagai bukti. Namun, ketika menemukan puluhan contoh yang bertentangan dengan keyakinannya, ia bisa saja menganggap contoh tersebut sebagai pengecualian.

Masalahnya bukan hanya seseorang mencari informasi yang mendukung pendapatnya. Ia juga dapat menilai informasi yang sama secara berbeda.

Informasi yang mendukung keyakinan terasa masuk akal. Informasi yang bertentangan terasa mencurigakan.

Inilah salah satu alasan mengapa dua orang dapat melihat fakta yang sama tetapi menarik kesimpulan yang sangat berbeda.

Media sosial dapat memperkuat kecenderungan ini. Algoritma platform digital sering kali menampilkan konten berdasarkan apa yang sebelumnya kita lihat, sukai, atau interaksikan. Akibatnya, seseorang dapat semakin sering berada dalam lingkungan informasi yang memiliki pandangan serupa dengannya.

Lama-kelamaan, sesuatu yang awalnya hanya sebuah pendapat dapat terasa seperti sebuah fakta karena terus-menerus muncul di lingkungan informasinya.

Intinya: ketika seseorang sudah memiliki keyakinan tertentu, otaknya tidak selalu bertanya, "Apakah ini benar?" Kadang pertanyaan yang muncul justru, "Apakah ini sesuai dengan apa yang sudah saya yakini?"

2. Keyakinan tertentu memberikan rasa aman dan kepastian

Manusia pada dasarnya tidak nyaman dengan ketidakpastian.

Kita ingin memahami apa yang sedang terjadi, mengapa sesuatu terjadi, dan apa yang mungkin terjadi selanjutnya. Ketika menghadapi situasi yang rumit atau tidak dapat diprediksi, otak cenderung mencari penjelasan yang membuat keadaan terasa lebih teratur.

Di sinilah keyakinan tertentu dapat memberikan rasa aman.

Misalnya, ketika seseorang menghadapi peristiwa buruk yang sulit dijelaskan, sebuah penjelasan sederhana bisa terasa lebih memuaskan daripada jawaban yang mengatakan, "Kita belum tahu."

Penjelasan yang salah tetapi sederhana terkadang terasa lebih nyaman daripada kenyataan yang kompleks dan penuh ketidakpastian.

Hal ini membantu menjelaskan mengapa manusia mudah tertarik pada cerita yang menawarkan jawaban pasti.

"Kejadian ini terjadi karena seseorang melakukan X."

"Masalah ini sebenarnya disebabkan oleh kelompok Y."

"Semua ini sudah direncanakan oleh pihak tertentu."

Penjelasan semacam itu memberikan struktur pada sesuatu yang sebenarnya mungkin memiliki banyak penyebab.

Dalam psikologi, kebutuhan untuk mengurangi ketidakpastian merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi cara manusia membentuk keyakinan.

Ironisnya, semakin kacau atau tidak pasti keadaan seseorang, semakin menarik sebuah cerita yang memberikan kepastian mutlak.

Karena itu, mempercayai sesuatu yang tidak benar tidak selalu berarti seseorang sengaja mengabaikan kenyataan. Terkadang keyakinan tersebut memenuhi kebutuhan psikologis untuk merasa bahwa dunia masih dapat dipahami dan dikendalikan.

3. Emosi dapat mengalahkan penilaian rasional

Manusia sering membayangkan dirinya sebagai makhluk yang mengambil keputusan berdasarkan logika. Kenyataannya, emosi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap cara kita menilai informasi.

Informasi yang menimbulkan rasa takut, marah, jijik, atau harapan dapat terasa lebih meyakinkan dibandingkan informasi yang netral.

Contohnya, sebuah berita yang mengatakan "ada bahaya besar yang mengancam keluarga Anda" kemungkinan akan menarik perhatian jauh lebih besar daripada artikel yang menjelaskan sebuah masalah secara tenang dan penuh nuansa.

Emosi meningkatkan perhatian.

Ketika seseorang merasa takut atau marah, ia juga dapat menjadi lebih cepat mengambil kesimpulan. Ia mungkin tidak memiliki cukup waktu atau keinginan untuk memeriksa sumber informasi secara mendalam.

Inilah sebabnya informasi yang sensasional sering kali lebih mudah menyebar.

Pesan yang membuat seseorang marah dapat segera dibagikan sebelum diperiksa kebenarannya. Cerita menakutkan dapat diteruskan kepada keluarga karena pengirim merasa sedang melindungi orang lain.

Dengan kata lain, seseorang tidak selalu menyebarkan informasi yang salah karena ingin menipu. Ia mungkin benar-benar percaya bahwa informasi tersebut benar dan merasa sedang melakukan sesuatu yang bermanfaat.

Emosi membuat informasi tertentu terasa penting. Dan sesuatu yang terasa penting sering kali dianggap benar tanpa pemeriksaan yang memadai.

4. Pengulangan membuat sesuatu terasa semakin benar

Ada fenomena psikologis yang dikenal sebagai illusory truth effect, yaitu kecenderungan seseorang untuk menilai sebuah pernyataan sebagai lebih benar setelah pernyataan tersebut berulang kali didengar atau dilihat.

Kalimat yang awalnya terdengar asing dapat mulai terasa familiar setelah muncul berkali-kali.

Masalahnya, otak dapat menggunakan rasa familiar sebagai salah satu petunjuk untuk menilai kebenaran.

Misalnya, seseorang pertama kali melihat sebuah klaim di internet dan merasa ragu. Beberapa hari kemudian, klaim yang sama muncul dalam video, unggahan media sosial, percakapan grup, dan komentar.

Akhirnya, orang tersebut mungkin berpikir:

"Saya sering mendengar hal ini. Berarti mungkin memang benar."

Padahal jumlah pengulangan bukanlah bukti kebenaran.

Sebuah informasi yang salah tetap salah meskipun diulang ribuan kali.

Fenomena ini menjadi semakin penting di era internet karena manusia menerima informasi yang sama dari berbagai saluran dalam waktu yang sangat singkat.

Bahkan, informasi yang sama dapat terlihat seperti berasal dari banyak sumber berbeda, padahal semuanya mungkin berasal dari satu sumber awal.

Karena itu, rasa familiar sebaiknya tidak disamakan dengan kebenaran.

Sesuatu bisa terasa benar hanya karena kita sudah terlalu sering mendengarnya.

5. Kita cenderung mempercayai orang dari kelompok sendiri

Manusia adalah makhluk sosial. Identitas kelompok memiliki pengaruh besar terhadap cara kita memandang dunia.

Kita biasanya lebih mudah mempercayai orang yang dianggap sebagai bagian dari kelompok kita: keluarga, teman, komunitas, organisasi, lingkungan sosial, atau kelompok dengan nilai dan pandangan yang sama.

Sebaliknya, informasi dari kelompok yang dianggap sebagai "orang luar" dapat dicurigai meskipun informasi tersebut sebenarnya lebih akurat.

Dalam psikologi sosial, kecenderungan seperti ini berkaitan dengan proses in-group dan out-group.

Ketika sebuah keyakinan sudah menjadi bagian dari identitas kelompok, mempertanyakan keyakinan tersebut dapat terasa jauh lebih sulit.

Mengapa?

Karena yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar fakta.

Identitas ikut dipertaruhkan.

Jika seseorang mengubah keyakinannya, ia mungkin merasa bahwa dirinya sedang meninggalkan kelompok atau mengakui bahwa kelompoknya selama ini salah.

Akibatnya, mempertahankan keyakinan dapat terasa lebih aman secara sosial daripada mengubahnya.

Ini juga menjelaskan mengapa fakta saja terkadang tidak cukup untuk mengubah pikiran seseorang.

Sebuah keyakinan mungkin memiliki fungsi sosial: membuat seseorang merasa diterima, memiliki komunitas, atau merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Ketika sebuah fakta mengancam fungsi tersebut, respons seseorang dapat menjadi sangat defensif.

6. Mengakui bahwa kita salah terasa tidak nyaman

Ada alasan lain yang sangat manusiawi: tidak ada orang yang suka merasa bahwa dirinya telah salah.

Bayangkan seseorang telah mempercayai sebuah klaim selama bertahun-tahun. Ia telah memberitahukannya kepada teman, membagikannya di media sosial, bahkan mungkin berdebat dengan orang lain untuk mempertahankannya.

Kemudian muncul bukti kuat bahwa keyakinan tersebut ternyata keliru.

Mengubah pendapat bukan sekadar mengganti sebuah informasi di kepala. Ia juga berarti menghadapi kenyataan bahwa sebelumnya kita mungkin telah salah.

Hal tersebut dapat menimbulkan ketidaknyamanan psikologis.

Dalam kondisi tertentu, seseorang justru dapat mencari alasan tambahan untuk mempertahankan keyakinannya.

Fenomena ini berkaitan dengan cognitive dissonance, yaitu ketidaknyamanan ketika seseorang memiliki pikiran, keyakinan, atau perilaku yang tidak selaras satu sama lain.

Misalnya:

"Saya adalah orang yang rasional."

"Saya sangat percaya pada informasi X."

"Informasi X ternyata terbukti salah."

Ketiga hal tersebut menciptakan ketegangan.

Salah satu cara untuk mengurangi ketegangan itu adalah mengubah keyakinan: "Ternyata saya salah."

Namun, cara lain adalah mempertahankan keyakinan dengan mencari alasan baru: "Penelitiannya pasti salah," "Media sengaja menyembunyikan fakta," atau "Ada pihak yang ingin membuat kita percaya bahwa informasi tersebut salah."

Dengan cara ini, seseorang dapat mempertahankan gambaran dirinya sebagai orang yang benar sekaligus mempertahankan keyakinannya.

Karena itu, mengoreksi seseorang tidak selalu sesederhana memberikan bukti.

Kadang-kadang kita juga harus memahami harga psikologis yang harus dibayar seseorang jika ia mengakui bahwa dirinya salah.

7. Otak menggunakan jalan pintas untuk mengambil keputusan

Alasan terakhir adalah sesuatu yang sangat mendasar: otak manusia memiliki kapasitas perhatian yang terbatas.

Bayangkan jika setiap hari kita harus memeriksa secara mendalam setiap informasi yang kita terima.

Berapa banyak sumber yang tersedia?

Siapa penulisnya?

Apa kepentingannya?

Apa bukti yang digunakan?

Apakah metodologinya benar?

Apakah ada penelitian lain yang bertentangan?

Apakah kesimpulannya masuk akal?

Jika semua informasi harus diperiksa dengan cara seperti itu, kita akan menghabiskan sebagian besar waktu hanya untuk mengevaluasi informasi.

Karena itu, otak menggunakan berbagai heuristik, yaitu aturan praktis atau jalan pintas mental untuk membuat penilaian dengan cepat.

Jalan pintas ini sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Masalahnya, jalan pintas tidak selalu menghasilkan keputusan yang benar.

Kita mungkin menganggap seseorang dapat dipercaya karena ia terlihat percaya diri. Kita mungkin menganggap informasi benar karena disampaikan dengan cara yang meyakinkan. Kita mungkin menganggap sebuah klaim valid karena banyak orang menyetujuinya.

Padahal, penampilan, jumlah orang yang percaya, dan rasa percaya diri pembicara bukanlah bukti bahwa sebuah klaim benar.

Di dunia modern, tantangannya semakin besar karena jumlah informasi yang harus diproses manusia jauh lebih banyak dibandingkan sebelumnya.

Kita bukan hanya menghadapi informasi dari keluarga dan lingkungan sekitar, tetapi juga berita, video, iklan, influencer, forum internet, podcast, dan media sosial.

Dalam kondisi seperti ini, kemampuan untuk berhenti sejenak dan mengevaluasi informasi menjadi semakin penting.

Jadi, Apakah Orang yang Memercayai Hal yang Salah Berarti Tidak Cerdas?

Tidak selalu.

Ini adalah bagian penting yang sering dilupakan ketika membahas misinformasi.

Seseorang yang mempercayai sebuah informasi yang salah belum tentu memiliki kecerdasan rendah. Bahkan, orang yang cerdas pun dapat terjebak dalam bias kognitif.

Kecerdasan dan kemampuan berpikir kritis bukan hal yang persis sama.

Seseorang mungkin sangat pintar dalam bidang tertentu tetapi tetap memiliki bias ketika berhadapan dengan informasi yang menyentuh identitas, emosi, atau kepentingan pribadinya.

Bahkan, kemampuan berpikir yang tinggi kadang dapat digunakan untuk membela keyakinan yang sudah dimiliki. Orang yang pandai berargumentasi bisa menjadi sangat mahir menemukan alasan untuk mempertahankan pendapatnya.

Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna bukanlah:

"Seberapa bodoh orang yang percaya informasi ini?"

Melainkan:

"Proses psikologis apa yang membuat informasi ini terasa benar bagi mereka?"

Pertanyaan kedua jauh lebih membantu karena memungkinkan kita memahami akar masalah tanpa merendahkan orang lain.

Bagaimana Cara Agar Kita Tidak Mudah Memercayai Informasi yang Salah?

Tidak ada manusia yang sepenuhnya bebas dari bias. Namun, kita dapat mengurangi kemungkinan tertipu dengan membangun kebiasaan berpikir yang lebih hati-hati.

Pertama, biasakan membedakan antara apa yang kita tahu, apa yang kita yakini, dan apa yang sebenarnya belum kita ketahui.

Kedua, ketika menemukan informasi yang sangat sesuai dengan pandangan kita, justru berhentilah sejenak. Tanyakan:

"Apakah saya percaya ini karena memang ada bukti, atau karena saya memang ingin ini benar?"

Ketiga, cari sumber yang berbeda. Jangan hanya mencari informasi yang mendukung posisi kita.

Keempat, perhatikan emosi. Jika sebuah informasi membuat kita sangat marah atau takut, jangan langsung membagikannya. Emosi yang kuat adalah alasan untuk memeriksa ulang, bukan alasan untuk terburu-buru percaya.

Kelima, jangan menjadikan pengulangan sebagai bukti. Fakta bahwa kita sudah mendengar sesuatu berkali-kali tidak membuatnya otomatis benar.

Dan yang tidak kalah penting, biasakan mengatakan:

"Saya belum tahu."

Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya membutuhkan kerendahan hati intelektual.

Tidak mengetahui sesuatu bukanlah kegagalan.

Justru, kesediaan mengakui bahwa kita belum tahu dapat menjadi perlindungan penting dari informasi yang menyesatkan.

Penutup

Manusia tidak mempercayai sesuatu hanya karena sesuatu itu benar. Kita juga dapat mempercayainya karena informasi tersebut terasa familiar, sesuai dengan keyakinan sebelumnya, memberikan rasa aman, diperkuat oleh kelompok sosial, atau membangkitkan emosi tertentu.

Itulah mengapa menghadapi informasi yang salah tidak cukup hanya dengan mengatakan, "Itu tidak benar."

Di balik sebuah keyakinan sering terdapat kebutuhan psikologis, identitas sosial, pengalaman pribadi, dan cara kerja otak yang sangat manusiawi.

Memahami mekanisme tersebut bukan berarti kita harus membenarkan informasi yang salah. Sebaliknya, pemahaman itu dapat membantu kita menjadi lebih kritis sekaligus lebih bijaksana ketika berhadapan dengan orang yang memiliki keyakinan berbeda.

Pada akhirnya, berpikir kritis bukan berarti selalu merasa diri kita benar.

Berpikir kritis berarti bersedia mempertanyakan keyakinan kita sendiri, terutama ketika kita sangat yakin bahwa kita tidak mungkin salah.***
EDITOR: Novia Tri Astuti