JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak dapat berubah seiring berjalannya waktu. Ketika anak memasuki usia dewasa, perbedaan pandangan, pengalaman masa lalu, atau persoalan yang belum terselesaikan terkadang membuat keduanya semakin berjarak.
Bagi orang tua, kondisi tersebut tentu tidak mudah diterima. Namun, hubungan yang renggang bukan selalu berarti tidak dapat diperbaiki. Selama kedua pihak masih memiliki ruang untuk berkomunikasi, kesempatan membangun kembali kepercayaan tetap terbuka.
Dalam proses tersebut, orang tua mungkin perlu mengesampingkan keinginan untuk langsung mendapatkan respons positif dari anak. Yang lebih penting adalah menunjukkan perubahan melalui sikap yang konsisten.
Dilansir dari Geediting, berikut lima langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk mencoba membangun kembali hubungan dengan anak yang telah dewasa.
Baca Juga: 6 Tanda Kamu Tanpa Sadar Berperan sebagai “Orang Tua” Saat Menjalani Hubungan Menurut Psikologi
1. Berani Mengakui Kesalahan
Memperbaiki hubungan dapat dimulai dengan keberanian melihat kembali kesalahan yang pernah dilakukan.
Tidak semua orang tua mudah mengucapkan permintaan maaf, terutama ketika merasa memiliki alasan atas tindakan mereka. Namun, bagi anak, pengakuan bahwa dirinya pernah terluka dapat menjadi hal yang sangat berarti.
Orang tua tidak harus memberikan pembelaan panjang. Kalimat sederhana yang menunjukkan penyesalan dan kesediaan bertanggung jawab terkadang justru lebih bermakna.
Mengakui kesalahan juga bukan berarti kehilangan wibawa sebagai orang tua. Sebaliknya, sikap tersebut dapat menunjukkan kedewasaan dan keterbukaan untuk memperbaiki hubungan.
2. Dengarkan Cerita Anak Tanpa Terburu-buru Membela Diri
Ketika hubungan sudah lama renggang, mungkin ada banyak hal yang selama ini dipendam oleh anak.
Jika mereka akhirnya bersedia bercerita, berikan kesempatan untuk menyampaikan pengalaman dan perasaannya sampai selesai. Hindari langsung memotong pembicaraan, menyangkal, atau menjelaskan mengapa keputusan orang tua pada masa lalu dianggap benar.
Ucapan seperti “Ayah atau Ibu melakukan itu demi kebaikanmu” mungkin dimaksudkan sebagai penjelasan, tetapi belum tentu membuat anak merasa dipahami.
Cobalah mendengarkan terlebih dahulu. Memahami sudut pandang anak tidak selalu berarti menyetujui semua pendapatnya, tetapi menunjukkan bahwa perasaannya dianggap penting.
3. Jangan Memaksakan Kedekatan
Hubungan yang sudah lama bermasalah membutuhkan proses. Karena itu, jangan berharap satu permintaan maaf atau satu pertemuan langsung menghapus semua luka.
Orang tua dapat memulainya melalui komunikasi sederhana. Menanyakan kabar, mengirim pesan singkat, atau mengajak bertemu secara santai bisa menjadi langkah awal.
Namun, berikan anak kesempatan menentukan seberapa jauh mereka ingin berkomunikasi. Jika respons yang diberikan masih dingin atau terbatas, jangan langsung menganggap usaha tersebut gagal.
Kepercayaan biasanya tumbuh melalui pengalaman positif yang dilakukan berulang kali. Konsistensi sikap jauh lebih penting daripada janji perubahan yang hanya disampaikan sekali.
4. Hormati Batasan yang Dibuat Anak
Ketika sudah dewasa, anak memiliki kehidupan, keputusan, dan ruang pribadi sendiri. Hal tersebut perlu dihormati, termasuk ketika mereka membutuhkan jarak.
Jika anak belum siap membicarakan persoalan tertentu, hindari memaksanya. Begitu pula ketika mereka membutuhkan waktu sebelum bertemu atau berbicara mengenai masalah masa lalu.
Menghormati batasan bukan berarti orang tua menyerah. Justru, hal tersebut dapat menunjukkan bahwa orang tua mulai memahami kebutuhan anak dan bersedia membangun pola hubungan yang lebih sehat.
Semakin anak merasa ruang pribadinya dihargai, semakin besar kemungkinan komunikasi dapat berkembang secara lebih nyaman.
5. Buktikan Perhatian Melalui Perbuatan
Permintaan maaf akan terasa lebih bermakna ketika diikuti perubahan dalam perilaku.
Perhatian tidak selalu harus ditunjukkan melalui pemberian materi atau tindakan besar. Mengingat hari ulang tahun, menanyakan kabar, mendengarkan ketika anak membutuhkan teman berbicara, atau sekadar menghormati keputusan mereka juga dapat menjadi bentuk kasih sayang.
Yang perlu diperhatikan adalah jangan menjadikan kebaikan tersebut sebagai alat untuk menuntut balasan.
Tujuannya bukan membuat anak merasa berutang kepada orang tua, melainkan menunjukkan bahwa hubungan tersebut masih memiliki tempat penting dalam kehidupan.