← Beranda
6 Alasan Orang Berhenti Memikirkan Pendapat Orang Lain dan Memilih Hidup Sendiri Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSelasa, 8 September 2026 | 04.50 WIB
seseorang yang berhenti memedulikan orang lain. (Magnific)
 
 
JawaPos.com - Ada suatu fase dalam kehidupan ketika pendapat orang lain terasa sangat penting.


Kita memikirkan bagaimana orang melihat kita, apakah keputusan kita akan dianggap benar, apakah pilihan hidup kita akan mendapat persetujuan, bahkan terkadang kita mengubah keinginan sendiri hanya agar tidak mengecewakan orang lain.

Namun, pada sebagian orang, sesuatu perlahan berubah.

Mereka tidak lagi terlalu sibuk menjelaskan diri. Tidak selalu merasa perlu mendapatkan persetujuan. Mereka mulai berani mengatakan tidak, memilih jalan yang berbeda, mengejar sesuatu yang benar-benar mereka inginkan, dan menerima kenyataan bahwa tidak semua orang akan memahami keputusan mereka.

Dari luar, perubahan ini terkadang terlihat seperti seseorang yang menjadi cuek, keras kepala, atau tidak peduli pada lingkungan.

Padahal, menurut psikologi, tidak selalu demikian.

Dalam banyak kasus, berkurangnya ketergantungan pada penilaian orang lain justru dapat menjadi bagian dari proses perkembangan diri yang sehat. Seseorang mulai memahami bahwa hidupnya tidak mungkin sepenuhnya dibangun berdasarkan ekspektasi orang lain.

Tentu, ini bukan berarti seseorang benar-benar berhenti peduli terhadap orang lain. Manusia tetap membutuhkan hubungan sosial, penerimaan, dan rasa memiliki. Yang berubah adalah seberapa besar kendali yang diberikan kepada opini orang lain atas kehidupan dirinya.

Lalu, mengapa sebagian orang bisa sampai pada tahap tersebut?

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (7/9), terdapat enam alasannya.

1. Mereka mulai memahami bahwa tidak mungkin membuat semua orang menyukai dirinya

Salah satu perubahan terbesar terjadi ketika seseorang menyadari sebuah kenyataan sederhana:

Apa pun yang kita lakukan, akan selalu ada orang yang tidak setuju.

Ketika masih sangat bergantung pada penilaian sosial, seseorang mungkin berpikir bahwa dirinya harus menemukan cara agar semua orang menerima dirinya.

Ia berusaha menjadi orang yang menyenangkan.

Berbicara dengan cara yang aman.

Mengambil keputusan yang tidak menimbulkan kritik.

Menghindari perbedaan.

Bahkan terkadang menyembunyikan keinginan sendiri karena takut dianggap aneh.

Masalahnya, standar manusia berbeda-beda.

Apa yang dianggap baik oleh seseorang bisa dianggap buruk oleh orang lain. Keputusan yang menurut satu orang berani bisa dianggap ceroboh oleh orang lain. Pilihan hidup yang membuat seseorang bahagia bisa dianggap tidak masuk akal oleh lingkungan di sekitarnya.

Karena itu, mengejar penerimaan universal pada dasarnya merupakan tujuan yang hampir mustahil.

Seiring bertambahnya pengalaman, seseorang mungkin mulai menyadari bahwa penolakan sosial bukan selalu tanda bahwa dirinya melakukan sesuatu yang salah.

Kadang-kadang, itu hanya berarti dirinya memiliki nilai, tujuan, atau perspektif yang berbeda.

Kesadaran ini dapat mengurangi kebutuhan untuk terus-menerus mencari persetujuan.

Bukan berarti ia menjadi tidak peduli.

Ia hanya mulai berkata dalam hati:

"Tidak semua orang harus memahami pilihanku agar pilihanku tetap bermakna bagiku."

Ini merupakan perubahan psikologis yang cukup besar.

Sebab, selama seseorang percaya bahwa dirinya harus disukai semua orang, hidupnya akan sangat mudah dikendalikan oleh opini eksternal.

Hari ini ia bahagia karena dipuji.

Besok ia merasa buruk karena dikritik.

Lusa ia mengubah keputusan karena seseorang tidak menyetujuinya.

Ketika kebutuhan akan persetujuan mulai berkurang, pusat kendali kehidupan perlahan kembali kepada dirinya sendiri.

2. Mereka memiliki kebutuhan yang lebih kuat untuk hidup sesuai dengan nilai dirinya

Dalam psikologi, manusia tidak hanya membutuhkan rasa aman dan penerimaan. Kita juga memiliki kebutuhan untuk merasakan bahwa kita memiliki pilihan atas kehidupan kita sendiri.

Konsep ini berkaitan dengan autonomy, atau otonomi.

Otonomi berarti merasa bahwa tindakan yang kita lakukan merupakan pilihan yang berasal dari diri sendiri, bukan semata-mata karena tekanan orang lain.

Misalnya, seseorang memilih pekerjaan tertentu karena memang sesuai dengan nilai dan minatnya.

Ia mungkin tidak mendapatkan pengakuan besar dari orang lain, tetapi ia merasa keputusan tersebut adalah miliknya.

Sebaliknya, seseorang bisa memiliki pekerjaan yang terlihat sangat sukses dari luar, tetapi setiap hari merasa kosong karena pilihan tersebut sebenarnya dibuat demi memenuhi ekspektasi keluarga, pasangan, teman, atau masyarakat.

Di sinilah seseorang bisa mulai mengalami perubahan.

Setelah bertahun-tahun hidup berdasarkan pertanyaan:

"Apa yang orang lain harapkan dariku?"

Ia mulai menggantinya dengan:

"Apa yang sebenarnya penting bagiku?"

Pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar.

Seseorang mulai mengenali nilai-nilai pribadinya.

Apa yang ia anggap penting?

Kehidupan seperti apa yang ingin ia bangun?

Apa yang membuatnya merasa hidup?

Apa yang sebenarnya tidak lagi ingin ia toleransi?

Ketika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi lebih jelas, opini orang lain bisa kehilangan sebagian kekuatannya.

Bukan karena opini tersebut tidak berarti sama sekali, tetapi karena seseorang sudah mempunyai kompas internal.

Ia tidak lagi selalu membutuhkan orang lain untuk menunjukkan ke mana dirinya harus berjalan.

3. Pengalaman hidup membuat mereka lebih mengenal dirinya sendiri

Ada orang yang menjadi lebih tidak peduli terhadap penilaian sosial bukan karena sejak awal memiliki kepribadian yang sangat percaya diri.

Justru sebaliknya.

Mereka mungkin pernah terlalu memikirkan pendapat orang lain.

Pernah takut mengecewakan.

Pernah mengatakan "iya" ketika sebenarnya ingin mengatakan "tidak".

Pernah memilih sesuatu hanya karena takut dianggap gagal.

Pernah menghabiskan bertahun-tahun mencoba menjadi versi diri yang disukai orang lain.

Kemudian, pengalaman hidup membuat mereka lelah.

Mereka mulai melihat pola.

Misalnya, setiap kali berusaha menyenangkan semua orang, mereka justru kehilangan diri sendiri.

Setiap kali mengikuti ekspektasi orang lain, mereka merasa tidak puas.

Setiap kali takut terhadap kritik, mereka menunda keputusan yang sebenarnya ingin mereka ambil.

Dari pengalaman tersebut muncul sebuah pembelajaran:

"Aku tidak bisa terus menjalani hidup hanya untuk memenuhi harapan orang lain."

Dalam perkembangan psikologis, pengalaman dapat membantu seseorang membangun pemahaman diri yang lebih matang.

Ia mulai mengetahui siapa dirinya, apa batasannya, apa kekuatannya, sekaligus apa kelemahannya.

Dan semakin seseorang mengenal dirinya, semakin kecil kemungkinan ia membutuhkan orang lain untuk menentukan identitasnya.

Ia tidak lagi terlalu mudah terguncang oleh komentar seperti:

"Kok kamu berubah?"

"Kenapa kamu memilih seperti itu?"

"Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan melakukan itu."

Karena ia sudah memiliki jawaban internal mengenai alasan di balik pilihannya.

4. Mereka mulai memiliki locus of control yang lebih internal

Konsep lain yang relevan adalah locus of control.

Secara sederhana, konsep ini menggambarkan bagaimana seseorang memandang kendali terhadap kehidupannya.

Orang dengan kecenderungan internal locus of control lebih banyak melihat bahwa tindakan, pilihan, dan respons dirinya memiliki peran penting dalam menentukan kehidupannya.

Sementara seseorang yang sangat bergantung pada faktor eksternal cenderung merasa bahwa hidupnya lebih banyak ditentukan oleh keadaan, keberuntungan, atau penilaian orang lain.

Misalnya, seseorang dengan orientasi eksternal mungkin berpikir:

"Aku tidak bisa menjadi diriku sendiri karena orang-orang akan membicarakanku."

Sedangkan seseorang dengan orientasi yang lebih internal mungkin berpikir:

"Orang lain boleh berpendapat, tetapi aku yang akan menjalani konsekuensi dari keputusan ini."

Perbedaan cara berpikir tersebut sangat penting.

Sebab pada akhirnya, orang lain bisa memberikan pendapat, tetapi tidak selalu ikut menjalani kehidupan kita.

Mereka mungkin memberikan komentar mengenai pekerjaan yang kita pilih.

Namun, kitalah yang menjalaninya setiap pagi.

Mereka mungkin mengomentari hubungan yang kita jalani.

Namun, kitalah yang hidup di dalam hubungan tersebut.

Mereka mungkin menilai keputusan kita.

Namun, kitalah yang harus hidup dengan konsekuensinya.

Kesadaran semacam ini dapat membuat seseorang menjadi lebih selektif terhadap opini eksternal.

Ia tetap mendengarkan.

Tetapi tidak lagi otomatis mengikuti.

Ia mulai membedakan antara:

"Pendapat orang lain"

dan

"keputusan yang harus kuambil."

Itulah salah satu alasan mengapa orang yang semakin matang secara psikologis terkadang terlihat lebih sulit dipengaruhi.

Bukan karena mereka tidak mau mendengar.

Mereka hanya tidak lagi menyerahkan kemudi hidupnya kepada siapa pun.

5. Mereka menyadari bahwa terlalu banyak mencari validasi justru membuat hidup terasa melelahkan

Validasi sosial memang menyenangkan.

Dipuji membuat kita merasa dihargai.

Diterima membuat kita merasa aman.

Mendapatkan persetujuan membuat kita merasa bahwa keputusan kita benar.

Masalah muncul ketika validasi eksternal menjadi kebutuhan utama untuk merasa berharga.

Jika seseorang selalu membutuhkan orang lain untuk meyakinkan dirinya bahwa ia cukup baik, maka ketenangan emosionalnya akan sangat bergantung pada lingkungan.

Ketika mendapatkan pujian, ia merasa percaya diri.

Ketika mendapat kritik, kepercayaan dirinya runtuh.

Ketika unggahannya mendapatkan banyak respons, ia merasa dirinya bernilai.

Ketika tidak mendapatkan respons, ia mulai mempertanyakan dirinya.

Ketika orang lain menyetujui keputusannya, ia merasa tenang.

Ketika seseorang tidak setuju, ia merasa harus menjelaskan dirinya berkali-kali.

Siklus seperti ini bisa sangat melelahkan.

Pada titik tertentu, seseorang mungkin mulai menyadari bahwa ia tidak bisa terus hidup seperti itu.

Ia kemudian belajar membangun validasi internal.

Artinya, kemampuan untuk mengatakan:

"Aku tahu mengapa aku memilih ini."

"Aku tidak harus menjelaskan diriku kepada semua orang."

"Aku boleh melakukan kesalahan dan tetap menghargai diriku."

"Aku tidak harus mendapatkan tepuk tangan untuk mengetahui bahwa sesuatu penting bagiku."

Ini bukan berarti mengabaikan kritik.

Justru orang yang sehat secara psikologis tetap bisa menerima kritik yang konstruktif.

Perbedaannya adalah kritik tersebut tidak otomatis menjadi penentu harga dirinya.

Ia bisa mendengarkan kritik tanpa langsung menganggap:

"Berarti aku buruk."

Ia bisa berpikir:

"Apakah kritik ini memang ada benarnya? Kalau iya, apa yang bisa kupelajari?"

Kemampuan tersebut membuat seseorang lebih stabil secara emosional.

6. Mereka memahami bahwa hidup terlalu singkat untuk terus memainkan peran yang diinginkan orang lain

Alasan terakhir sering kali muncul setelah seseorang mengalami perubahan perspektif mengenai kehidupan.

Semakin bertambah usia dan pengalaman, seseorang bisa mulai memahami bahwa waktu sangat terbatas.

Ia mulai melihat bahwa hidup tidak bisa terus digunakan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain.

Tidak mungkin selamanya mengejar status agar terlihat sukses.

Tidak mungkin terus mempertahankan hubungan hanya karena takut terhadap komentar lingkungan.

Tidak mungkin selamanya menunda impian karena khawatir dianggap tidak realistis.

Tidak mungkin menjalani kehidupan yang sepenuhnya berdasarkan standar orang lain.

Pada titik tertentu, muncul pertanyaan:

"Kalau aku terus hidup seperti ini, apakah beberapa tahun lagi aku akan merasa puas dengan kehidupan yang kubangun?"

Pertanyaan tersebut dapat menjadi titik balik.

Seseorang mulai menyadari bahwa penilaian orang lain biasanya bersifat sementara.

Orang-orang mungkin membicarakan keputusan kita selama beberapa hari, minggu, atau bulan.

Setelah itu, mereka kembali sibuk dengan kehidupan masing-masing.

Sementara kita harus menjalani keputusan tersebut setiap hari.

Karena itu, sebagian orang akhirnya memilih kehidupan yang lebih autentik.

Bukan kehidupan yang sempurna.

Bukan kehidupan yang selalu mendapatkan persetujuan.

Tetapi kehidupan yang terasa lebih sesuai dengan dirinya.

Tetapi apakah "tidak peduli dengan pendapat orang lain" selalu sehat?

Tidak juga.

Ini bagian yang penting.

Menjadi lebih mandiri secara psikologis berbeda dengan menjadi sepenuhnya tidak peduli terhadap orang lain.

Jika seseorang benar-benar tidak mampu menerima masukan, selalu merasa dirinya paling benar, tidak mempertimbangkan dampak tindakannya terhadap orang lain, atau menggunakan kalimat "aku memang seperti ini" untuk membenarkan perilaku yang merugikan, itu bukanlah bentuk kematangan psikologis.

Kemandirian bukan berarti:

"Aku tidak peduli siapa pun."

Kemandirian yang lebih sehat justru terdengar seperti:

"Aku mendengarkan orang lain, tetapi aku tetap bertanggung jawab atas keputusan hidupku."

Ada perbedaan besar antara keduanya.

Orang yang matang masih bisa meminta nasihat.

Masih bisa mengakui kesalahan.

Masih bisa meminta maaf.

Masih mempertimbangkan perasaan orang lain.

Namun, ia tidak menjadikan persetujuan semua orang sebagai syarat untuk menjalani hidup.

Pada akhirnya, bukan berhenti peduli, tetapi memilih siapa yang pendapatnya layak didengarkan

Mungkin inilah bentuk kedewasaan yang sebenarnya.

Bukan ketika seseorang sampai pada titik:

"Aku tidak peduli dengan siapa pun."

Tetapi ketika ia sampai pada titik:

"Aku peduli, tetapi aku tidak akan kehilangan diriku hanya untuk mendapatkan persetujuan."

Ia mulai memahami bahwa tidak semua pendapat memiliki bobot yang sama.

Pendapat orang yang benar-benar mengenal dirinya mungkin layak dipertimbangkan.

Kritik dari seseorang yang memiliki pengalaman di bidang tertentu mungkin bermanfaat.

Nasihat dari orang yang memang menginginkan kebaikannya mungkin perlu didengarkan.

Tetapi komentar acak dari orang yang bahkan tidak mengetahui kehidupannya secara utuh tidak harus menjadi dasar untuk menentukan arah hidupnya.

Pada akhirnya, seseorang belajar menyaring.

Mana yang perlu didengarkan.

Mana yang perlu dipertimbangkan.

Mana yang cukup dihargai lalu dilepaskan.

Dan mungkin, di situlah seseorang mulai benar-benar memiliki kehidupannya sendiri.

Karena menjadi diri sendiri bukan berarti tidak pernah takut terhadap penilaian orang lain.

Terkadang kita tetap takut.

Tetap ragu.

Tetap merasa tidak nyaman ketika ada yang tidak menyukai kita.

Namun, kita tidak lagi membiarkan rasa takut tersebut menentukan seluruh pilihan hidup.

Kita mulai berani mengatakan:

"Orang lain boleh memiliki pendapat tentang hidupku. Tetapi aku tetap yang bertanggung jawab untuk menjalaninya."

Dan bagi sebagian orang, itulah salah satu bentuk kebebasan psikologis yang paling berharga.***
EDITOR: Novia Tri Astuti